
Rai memergoki bik Inah yang sedang menaruh album-album di gudang. Akan tetapi dia diam saja dan mengintip dibalik celah pintu belakang. Vania mengerutkan kening curiga. Rupanya bibik juga tahu sesuatu tapi tidak mengatakannnya. Bisik Rai dalam hati.
Malam hari saat semua terlelap tidur dan sisa-sisa hujan sore tadi masih membekas, Rai terus-terusan gelisah dengan album foto yang ada di gudang. Dia harus segera mengambilnya sebelum bibik atau Bunda membuangnya lebih jauh atau bahkan dibakar.
Dilihatnya jam dinding. Pukul 23.30. hampir jam dua belas malam. Dia sedikit takut untuk ke gudang tengah malam seperti itu. Akan tetapi hatinya terusik terus menerus. Dengan nekat dan tekad, Rai mengambil senter berjalan turun menuju gudang belakang rumah.
Pintu gudang digembok. Rai mendengus kesal. Ia merapatkan jaket akibat hawa dingin tengah malam. Dia mencari-cari kunci gudang di lemari pajangan ruang tamu, tapi tak ada.
Dia jarang ke gudang dan dia tidak tahu letak kunci gudang tersebut. Rai mondar-mandir kebingungan berpikir sekiranya kunci tersebut diletakkan. Ah, pasti bibik yang menyimpannya. Kan, hampir semua kunci pintu dipegang bibik. Pikir Rai.
Dia menuju kamar pembantu. Pintu kamar bibik terbuka separoh. Rupanya bibik sedang berada di kamar mandi. Rai masuk mengendap-endap. Dengan sedikit ketakutan, seperti maling yang mencoba memasuki rumah korban. Rai melihat kunci gudang yang tergeletak di meja sebelah tempat tidur bik Inah. Dia segera meraihnya.
“Non?” tegur bik Inah. Rai menahan napas terkejut saat membalikkan badan, bik Inah tengah memergokinya.
“Eh bibik.” Rai ketakutan dan lututnya gemetar.
“Ada apa non?” bik Inah tampak curiga. Tidak biasanya Rai ke kamarnya tengah malam begini.
“Emm...anu.. Rai lapar bik. Bisa buatkan mie instan pakai telor? tadi Rai cari\-cari bibik, makanya Rai kesini.” Rai menggigit bibirnya menahan rasa gugup dalam suaranya.
“Oh, kirain ada apa. Ya sudah ayo sini bibik buatkan.” bik Inah mengajak Rai ke dapur.
Kunci gudang dimasukkan dalam saku piyama. Ia mengikuti langkah bik Inah ke dapur. Pada akhirnya terpaksa dia harus makan mie instan meskipun tidak lapar dan harus menunggu bik Inah masuk ke kamarnya serta memastikan tidur.
Pukul 01.30 dini hari. Rintik hujan kembali turun dari langit. Suhu udara mencapai titik teramat dingin, keheningan menyerbak dan yang terdengar hanya suara detak jarum jam beserta jangkrik di rerumputan halaman belakang rumah.
Dengan menahan rasa takut, Rai memberanikan diri untuk membuka pintu gudang. Gudang yang tak berlampu itu membuat Rai semakin deg-degan. Dia menarik napas panjang menenangkan dirinya. Senter kecilnya tak mampu menerangi seluruh ruangan. Rai meraba-raba dengan panduan senter, mencari-cari dimana kresek hitam pembungkus album-album tersebut dibuang.
Hampir setengah jam Rai mencari-cari sampai ia nyaris menjerit akibat tikus yang berlari melewati kakinya, akhirnya dia temukan juga kresek hitam yang berada di pojokan gudang. Rai merogoh kresek besar tersebut dan mengambil beberapa album foto. Masih bermodalkan cahaya dari senter, dia menelusuri album masa kecilnya dan langsung saja merobek beberapa lembar foto album.
Setelah dirasa cukup, Rai merapikan kembali kresek hitam itu. Ia berniat cepat-cepat meninggalkan gudang itu. Saat akan berbalik untuk kembali Rai menyenggol sesuatu. Dilihatnya dengan senter, sebuah toples kaca berbentuk setengah bulat. Isi dari toples tersebut adalah ratusan kertas yang berbentuk.
Rai akan mengambilnya tetapi terdengar suara dan lampu ruang keluarga yang dinyalakan dari dalam rumah. Dengan tergopoh-gopoh Rai melangkahkan kakinya keluar gudang dan masuk kembali menuju kamar.
***
Rai merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan tubuh lusuh dan muka coreng moreng akibat debu dari gudang. Keringatnya mengucur membasahi baju. Anehnya hawa dingin diluar dan AC tak membuat suhu tubuhnya kedinginan akibat perubahan suhu yang begitu mendadak tadi. Dengan ngos-ngosan Rai memejamkan mata. Sungguh benar-benar melelahkan baginya. Dia duduk dan mengambil beberapa foto yang telah diambil.
Foto yang ada adalah ketika ulang tahunnya yang ke tujuh. Ada foto dia berdua dengan seorang anak laki-laki dalam mimpinya. Kali ini wajahnya tidak terlalu buram. Meskipun terlihat sedikit luntur akibat air, akan tetapi masih bisa dilihat. Anak laki-laki berusia sembilan tahun itu berperawakan kurus, tinggi, matanya sayu tapi nampak bersinar, senyum manis diantara dua lesung pipinya.
Rai akhirnya ingat bahwa anak laki-laki dalam foto itu adalah anak laki-laki yang ada pada mimpinya. Sama persis. Dia meraih foto yang ditempelkan di kaca rias ketika ulang tahunnya yang ke lima. Dilihat satu persatu wajah teman-temannya, dan dicocokkkan dengan wajah anak yang berada di foto ultah. Ternyata tidak ada. Rai menerka bahwa anak itu pasti temannya ketika dia berusia SD.
Dia mencoba mengingat-ingat anak laki-laki tersebut, baik nama maupun kenangan tentangnya. Semakin diingat, kepalanya semakin pusing dan terasa mual. Tidak biasanya Rai seperti ini. Dia melirik jam dinding. Pukul 03.00 dini hari. Setidaknya tiga jam lagi dia harus bersiap-siap untuk sekolah. Rai meletakan foto-foto tersebut di laci meja. Dan dia mengistirahatkan matanya sementara.