1001 For 1 First Love

1001 For 1 First Love
Album Kesekian



Rai dan Vania telah mengobrak-abrik seluruh penjuru rumah kemarin siang, ketika rumah kosong. Rai sengaja menyuruh bik Inah berbelanja untuk membuat pangsit di supermarket yang jauh dari rumah. Vania menggeleng-geleng setelah dia menyidak kamar bik Inah dan seluk beluk dapur. Rai juga telah menyidak semua ruangan kecuali satu, kamar orang tuanya. Ketika bunda tidak ada di rumah, kamarnya akan selalu terkunci.


“Hanya dua kemungkinan Rai. Surat itu ada di kamar nyokap elo atau udah musnah karena dibakar atau ditempat penampungan sampah sekarang,” kata Vania ketika mereka berjalan di koridor sekolah membicarakan hasil penyelidikan mereka kemarin. Rai mengangguk setuju.


“Masalahnya, gue lagi marahan sama bunda. Gue gak bisa dengan mudah masuk dan menggeledah isi kamarnya. Bisa-bisa bunda curiga,” kali ini Vania yang mengangguk setuju. “Tapi, gue akan masuk. Gue gak puas sebelum menggeledah isi kamar bunda. Gue akan cari cara,” kata Rai memberi tahu.


Semenjak Rai mengetahui nama dan sedikit cerita mengenai anak laki-laki dalam mimpinya, sejak itu pula dia tidak lagi bermimpi tentang kejadian sepuluh tahun lalu.


Bahkan Rai telah mencoba untuk membuatnya bermimpi yang sama agar bisa mendapatkan lebih banyak petunjuk, meskipun hasilnya nihil. Yang ada saat bangun pagi kepalanya terasa pening.


Semenjak pertengakaran di meja makan dengan bunda, hubungan Rai dan bunda tak kunjung membaik. Ketika mereka makan bersama terasa suasana tegang dan kaku. Obrolanpun terasa hambar.


“Kalau elo gak akur sama nyokap lo, mana bisa ke kamarnya dengan bebas,” kata Vania saat mengetahui bahwa seminggu ini Rai belum juga berhasil masuk ke dalam kamar bunda.


“Iya juga sih.”


“Jangan jadi anak durhaka. Seenggaknya elo minta maaf atas kesalahan lo sama nyokap. Lo juga jangan diem dan nyuekin gitu aja. Kalau elo akur sama nyokap, selain gak dosa, bisa masuk kamarnya dengan aman, tentu aja sedikit demi sedikit kalau elo rayu, nyokap lo bakalan cerita semuanya,” nasehat Vania.


“Iya, iya gue tahu. Tumben juga elo bisa ngomong soal dosa,” ledek Rai. Vania merengut cuek.


“Hai girls,” sapa Zac dan Sam secara bersamaan. Rona muka Rai berubah ceria, berbeda dengan Vania yang tampak langsung menenggelamkan wajahnya menghindari Sam. Rai menyikut rusuk Vania.


“Dosa nyuekin orang yang suka sama elo,” bisik Rai sambil cekikikan. Vania memberenggut kesal.



“Van, gue ke kantin dulu sama Zac ya!” teriak Rai yang tengah berjalan menuju lorong penghubung kantin dan kelass\-kelas.



“Rai..tunggu..” Vania akan mengejar, tetapi dihadapannya Sam sudah duduk dan tersenyum manis.



“Emm...ada apa ya kak?” tanya Vania tersenyum memaksa.



“Gak pa\-pa. Gue lagi pengen lihat wajah elo aja,” jawab Sam enteng. Gubrak.


Vania memutar mata tak mengerti. Ia duduk di salah satu bangku istirahat yang ada di lorong sekolah diikuti oleh Sam.


“Emm..kak Sam gak istirahat ke kantin gitu?” tanya Vania dengan maksud mengusir.



Vania menelan ludah. Lama-lama nih orang mengerikan. Bisa-bisa wajah gue beneran ditelan, kayak di film thriller. Pikir Vania.


“Van..gue maen lagi ke rumah elo ya?” pinta Sam.



“HAH?!Jangan.. eh..Em..gimana ya, gue lagi jarang di rumah. Lagian di rumah lagi sibuk banyak acara.” Vania beralasan.



“Lho, kalau di rumah elo ada acara, kenapa malah elo jarang di rumah bukannya bantuin nyokap elo? gue kan bisa bantu\-bantu disana. Mungkin butuh tenaga tambahan,” tawar Sam.


Vania terdiam. Kejadian Sam berkunjung di rumahnya sabtu kemarin telah membuatnya pusing tujuh keliling. Gimana enggak? Sam berhasil mengambil hati kedua orang tuanya.


Dia mengalahkan sang papa dalam bermain catur, meskipun sang papa yang agak galak dan pecinta catur sedikit kesal dikalahkan, tapi beliau mengakui kehebatan dan sangat menyukai Sam.


Ditambah lagi Sam menyogok mamanya dengan pem-pek Palembang kesukaan sang mama. Lebih tidak disangka lagi, Sam bisa momong anak kecil. Ketiga adik Vania sangat menyukainya, dan selalu nempel.


Bahkan sebelum pulang semua orang harus membujuk adiknya yang berusia empat tahun agar tidak menangis ditinggal Sam. Hal itu tentu saja membuka peluang besar bagi Sam untuk mendekatinya dengan dukungan keluarga yang sangat merestui mereka. Padahal Vania mati-matian menghindarinya.


“Gue kangen nih ma adek-adek elo yang lucu-lucu. Pokoknya entar gue kesana ya.”


“Tapi kak, gue entar gak bisa. Gak ada di rumah.” Vania kesal.


“Gak pa-pa. Gue pengen ke rumah elo aja.”


Vania mendengus jengkel. Nih orang pengen dijitak rasanya. Ia membuang muka dihadapan Sam dan memasang tampang terjutek.


“Van..kenapa ya kalau gue lihat elo kadang cantik, kadang gak begitu cantik,” cerocos Sam. Vania mendelik kaget dan marah.


Whatt??!!.Gue kadang cantik, kadang jelek gitu maksudnya? enak aja cewek paling cantik dan paling populer dihina kayak gitu? emang elo pikir, elo siapa? Hello... semua cowok ngantri buat gue dengan semua kecantikan dan kelebihan gue, elo orang yang datang gak diundang kaya jelangkung, selalu ganggu hidup gue, tiba-tiba ngomong kurang ajar kayak gitu. Resek nih orang.


Gerutu Vania dalam hati. Dia akan memarahi Sam, tapi Sam terlanjur bilang, “Emang gue suka sama elo karena elo cantik dan cewek nyaris sempurna, semua cowok pasti berpikiran seperti itu. Tapi, meskipun elo gak cantik gue juga tetap sayang dan suka sama elo. Gue tahu elo itu cewek yang gak luarnya aja cantik, tapi hati elo juga. Yah, kayak lagunya cherrybelle. You’re beautiful. Cantik dari hatimu.”


Huwek. Vania ingin muntah rasanya mendengar gombalan Sam. Dan sepertinya si cowok yang katanya macho itu penggemar girl band Indonesia yang lagi naik daun.



“Van, gue gak akan nembak elo, sebelum elo punya sedikit perasaan suka sama gue. Jadi, gue akan setia menunggu dan elo harus setia nunggu gue tembak. Oke. Gue balik dulu yah cantik.”


Vania bahkan belum berkomentar apa-apa. Speechless. Sam langsung saja pergi setelah mengatakan beberapa kalimat yang membuat Vania shock terpaku ditempatnya. Dia sempat mengacak-acak rambut Vania hingga sedikit berantakan. Kepala Vania terasa pusing karena stress menghadapi penggemar satunya tersebut.