1001 For 1 First Love

1001 For 1 First Love
Adik Kecilku



“Rai...” sapa Vania hati-hati ketika memasuki kamarnya.


Rai tak menyauti Vania. Kakinya ditekuk dan dia bersendekap dalam keadaan mata yang sembab. Vania mendekati sahabatnya itu. Baru dua hari kemarin dijenguk, kini tubuh Rai nampak lebih kurus dan pucat. Rai tak menyentuh makanan dan obatnya.


Setelah mendengar penjelasan dari bik Inah tentang keadaan Rai, dan Vania juga mendesak mengenai rahasia yang disembunyikan, akhirnya Vania telah mengetahui segalanya. Dia paham betul bagaimana perasaan sahabat baiknya itu.


Vania duduk di atas ranjang Rai. Sepertinya Rai tak kuasa untuk menahan, sehingga dia langsung memeluk Vania sambil menangis. Air mata Vania ikut meleleh, prihatin atas kondisi sahabatnya dan juga suasana yang begitu emosional.


“Sabar ya Rai. Gue disini buat elo. Gue akan terus mendukung elo,” kata Vania menghibur sambil mengelus rambut Rai. setelah cukup lama menangis dalam pelukan Vania, Rai melepaskan pelukannya. Dia mengusap ujung\-ujung mata yang masih membanjir.



“Van, elo bisa bantu gue?” tanya Rai penuh harap. Vania menjawab dengan anggukan.



“Tolong elo pergi ke kamar gue, ambilin semua barang\-barang gue yang ada dalam brankas dibalik lukisan. Semuanya, jangan ada yang tersisa.” Rai masih terisak.



“Buat apa?” tanya Vania heran.



“Udah. Elo bawa aja. Kalau ditanya, bilang aja elo mau ngambil barang\-barang kesayangan gue dikamar.”


Vania mengangguk meskipun tak mengerti dengan barang apa saja yang ada dalam brankas tersebut.


Keesokan harinya sebelum Vania pergi ke rumah sakit, dia mampir ke rumah Rai terlebih dahulu. Hanya ada bik Inah. Karena rupanya bunda sedang menjaga Rai di rumah sakit.


Setelah menggeledah kamar Rai, akhirnya Vania bisa menemukan surat-surat Tegar bersama beberapa foto dan juga stoples kaca berisi origami berbentuk bangau.


***


“Kak Raisya...” teriak Keyla saat masuk bersama tante Maya.


Tante Maya menenteng keranjang berisi buah segar. Rai sempat terkejut dengan orang yang menjenguknya. Tapi dia sangat senang dengan kehadiran Keyla.


“Keyla... kok tahu kakak disini?” tanya Rai. Keyla sudah naik di ranjang Rai dan duduk dihadapannya. Tante Maya menaruh buah, kemudian dia menunduk diam.


“Kan waktu kakak pingsan, Keyla tahu dan ikut ngantarkan kakak kesini sama mama dan papa,” cerita Keyla.


“Oh..” Rai tersenyum kecil mengingat kejadian terakhir sebelum ia pingsan. Rai melirik sesaat tante Maya. Mama\-papa ya? Terasa menyakitkan mendengar itu.



“Apa kakak sudah sembuh? kok kakak gak pulang masih disini?” tanya Keyla.



“Iya bentar lagi kakak pasti pulang.”



“Sewaktu kakak di ruang I\-C\-U Keyla gak bisa berhenti nangis karena takut kakak kenapa\-napa.”



“Oh ya ?” Rai bertanya takjub.



“Iya. Tanya aja sama mama kalau gak percaya. Iya kan, Ma?” tanya Keyla pada tante Maya yang dari tadi berdiri dan membisu. Tante Maya tampak gelagapan. Dia hanya mengangguk menjawab Keyla.



“Keyla sayang banget sama kakak. Kakak jangan sakit lagi ya,” pinta Keyla penuh harap.


Rai mengangguk lalu memeluk Keyla.


Bagaimanapun juga Keyla adalah adiknya. Untuk alasan itulah mengapa Rai begitu menyayangi dan jatuh cinta kepada Keyla sejak pertama kali bertemu. Karena mereka saudara-seayah. Ada ikatan batin yang sedarah dalam diri mereka.


Bagaimanapun juga, meski dia membenci perceraian itu, meski dia tak menyukai istri baru papanya, Keyla tidak tahu apa-apa. Keyla datang seperti malaikat yang berusaha memberikan kebahagiaan pada keluarganya. Keyla tak berdosa. Dan sampai kapanpun, Keyla adalah adiknya.


“Keyla bisa bantu kakak?” Rai melepaskan pelukannya. Keyla mengangguk penuh semangat.



“Tolong panggilkan suster yang ada di resepsionis ya. Kakak butuh bantuan suster.” Rai membuat alasan agar Keyla meninggalkannya berdua saja dengan tante Maya. Karena sebenarnya memanggil suster cukup memencet tombol merah dekat ranjangnya.


Tante Maya tampak kikuk dan pasrah berdua dengan anak tirinya. Rai menatap lekat-lekat wajah istri sang papa. Dia menarik napas mencoba mengontrol emosi.


“Tante, bisa kupasin jeruk buat aku?” pinta Rai memecah kesunyian. Tante Maya terkejut, tapi dia langsung menuruti permintaan Rai. disela\-sela tante Maya mengupas jeruk Rai mulai pembicaraan.



“Sudah berapa lama tante menikah dengan papa?” Rai membuka obrolan. Terbersit dalam benaknya bahwa mungkin saja tante Maya perebut suami orang.



“De..lapan tahun,” jawab tante Maya gugup. Rai mendengus. Itu artinya dua tahun setelah perceraian dan kecelakaan terjadi.



“Apa..tante juga tahu mengenai amnesia aku?”


Tante Maya mengangguk, tapi buru-buru menambahkan dengan suara bergetar, “Tapi, setelah itu tante tidak tahu seperti apa perkembangan kamu. tante juga benar-benar gak kenal kamu sewaktu di cafe. Tante hanya tahu foto kecil kamu saja. Tahu-tahu kamu sudah sebesar ini.”


Rai mengangguk paham. Tak ada kebohongan dalam cerita tante Maya. Ia membuang pikiran tentang tante Maya jauh-jauh. Masa bodoh dengan alasan perceraian orang tuanya.


Mungkin selama ini tante Maya juga merasa tertekan dan tersiksa batinnya karena harus bersembunyi sebagai istri papa. Demi menutupi perceraian kedua orang tuanya, bunda bertindak masih sebagai istri sah papa.


Mungkin saja ada kecemburuan dan sakit hati terlintas dalam benak tante Maya, tapi dia telah berbaik hati dengan menerima kondisi Rai dan sang papa untuk terlihat sebagai keluarga utuh selama delapan tahun.


Tak lama kemudian Keyla datang bersama suster.


“Ada apa mbak?”



“Infus saya sudah habis sus,” jawab Rai. Suster mengangguk paham.



“Keyla, waktunya pulang ya. Kak Rai mau istirahat,” ajak tante Maya melirik jam dinding.



“Yah..mama...” Keyla mengeluh.



“Besok Keyla bisa jenguk kak Rai lagi kok. Kalau kak Rai udah sembuh, kakak akan main\-main di rumah Keyla. Gimana?” kata Rai.



“Beneran kakak mau main di rumah Keyla?”



“Kalau...mamanya Keyla mengijinkan. Kakak akan main kesana,” jawab Rai sambil melirik tante Maya. Keyla menatap mamanya dengan memohon.



“Ah, iya tentu aja. Pintu rumah terbuka untuk kak Rai,” sahut tante Maya sambil tersenyum. Setelah mencium dan memeluk Rai, Keyla beranjak pergi keluar.



“Tante..” panggil Rai sebelum tante Maya membuka pintu.


Tante Maya menghentikan langkahnya, tapi dia tak berbalik maupun menoleh ke arah Rai. Jantungnya berdegup kencang diliputi rasa takut dan bersalah. “Tolong jaga papa baik-baik ya,” kata Rai dengan penuh ketegaran.


Semacam es yang tiba-tiba mencair dan menyiram hati tante Maya.


Perasaan lega sekaligus senang tak terduga. Tante Maya menoleh dan tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Dia mengangguk pelan.