1001 For 1 First Love

1001 For 1 First Love
Kabar Buruk



Tak jauh dari mall tersebut terdapat sebuah apotik. Dalam mobil Vania mengobati luka Sam. Rai dan Zac berada diluar. Dua toko dari apotik itu berada, terdapat sebuah toko hiasan keramik. Rai mengerutkan kening, nama tokonya sama persis dengan kepunyaan tante Rieke. Rai mencoba masuk kedalam toko tersebut diikuti Zac.


 


“Cari apa mbak?” tanya si penjaga toko.


“Eh, mau tanya. Pemilik toko ini bu Rieke ya?” tanya Rai. si penjaga toko mengerutkan kening.


“Bukan. Ini punya Cik Meilan. Mbak salah orang,” jawab penjaga toko dengan logat bahasa jawa yang sangat kental.


“Eh, bisa minta tolong panggilkan pemilik toko ini?” pinta Rai.


 


Penjaga toko nampak cemberut, tapi dia memanggilkan majikannya juga. Seorang wanita berusia tiga puluhan bermata sipit, tubuhnya kurus putih, tersenyum ramah pada Rai dan Zac. Orang tionghoa itu sangat keibuan. Wajahnya cantik khas Cina.


 


“Ada apa ya?” tanyanya menggunakan bahasa indonesia yang kurang fasih.


“Apa ini benar-benar toko anda?” tanya Rai. si penjaga toko nampak tersinggung. Tapi majikannya malah tersenyum.


“Iya. Ini toko baru saya beli enam bulan lalu dan memang belum sempat ganti papan reklame,” jawabnya.


“Beli dari siapa?” jantung Rai semakin berdebar cemas.


“Dari ibu Rieke. Katanya buat biaya pengobatan anaknya. Padahal ini toko punya potensi bagus,” cerita cik Meilan.


 


“Biaya pengobatan anaknya?” Rai mengulang kalimat cik Meilan seolah tak percaya. Dia semakin berharap cemas.


“Iya. Anaknya sudah lama sakit.”


 


“Rumahnya dimana sekarang?” Rai penasaran.


“Wah gak tahu saya. Tapi, saya pernah menjenguk anaknya sekalian melunasi nih toko.”


“Rumah sakit mana?”


“Rumah Dr. Soetomo. Anaknya bu Rieke terkena kanker darah.. apa namanya yah oh itu leukimia.”


Jleb. Jantung Rai serasa berhenti berdetak. Bibirnya gemetar.


 


“Iya. Kasihan bu Rieke janda terlilit utang juga, sekarang anak satu-satunya sakit keras,” sahut cik Meilan.


Wajah Sam sudah dibalut dengan kasa. Dan sedari tadi mereka bercanda sambil menunggu Rai dan Zac, meskipun Vania masih sedih dan menyayangkan barang-barang berharganya. Rai tak kuasa menahan tubuhnya yang terasa berat. Dia terjatuh pingsan. Zac menggendong Rai masuk ke mobil.


“Rai, kenapa?” tanya Vania cemas minta penjelasan Zac.


 


“Kita pulang ke rumah dulu aja pak. Sepertinya Rai kecapean,” kata Zac ditujukan pada pak Bantul.


 


Vania dan Zac duduk ditengah memangku tubuh Rai. Vania berusaha menyadarkan Rai dari pingsannya.


***


Rai dewasa berjalan di sebuah taman yang nampak asing. Ada sesosok pria berusia sembilan belas tahun berwajah tampan duduk sambil membuat bangau kertas. Wajahnya bersinar dan tubuhnya nampak sehat tak seperti orang sakit. Rai mendekat.


 


“Kak Tegar,” sapa Rai. yang dipanggil tak menyauti. Hanya mendongak, tersenyum kemudian memberi tanda pada Rai untuk duduk.


 


Rai memperhatikan apa yang dilakukan Tegar. Rai berkaca-kaca menatap wajah Tegar. Jadi, seperti ini wajah teman kecilnya, cinta pertamanya dan orang yang sempat menghilang dalam memorinya. Tegar menatap Rai.


 


“Jangan menangis,” ucap Tegar. “Sebentar lagi semuanya akan jelas. Semuanya akan berakhir. Kamu harus menjalani kehidupan lebih baik dengan orang-orang terdekatmu sekarang,” lanjut Tegar. Rai menggeleng.


“Rai ingin bersama-sama lagi dengan kakak. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat buat Rai berpisah dengan kakak.” Rai mulai terisak seperti anak kecil.


 


Tegar mengusap air mata di pipi Rai. Dia sedikit kaget saat Tegar menyentuh pipinya. Tangan Tegar begitu dingin. Terlalu dingin malah.


 


“Jangan menangis Rai. Jangan bersedih. Ada orang didekat kamu yang bisa menggantikan aku dengan lebih baik. Kamu harus hidup sebagaimana mestinya.”


“Aku gak bisa pisah sama kakak lagi. Aku sayang sama kakak. Aku gak mau ninggalin ataupun ngelupain kakak.”


“Bisa. Kamu pasti bisa. Aku gak nyuruh kamu buat ngelupain aku. Tetap ingat aku dalam memori kamu. tapi, jadikan aku sebagai penjaga di memori kamu itu saja sudah lebih dari cukup. Dan biarkan orang lain yang menjaga kamu dan hatimu dari luar.” Tegar melepaskan tangan dinginnya. Dia memberikan sebuah bangau kertas berwarna emas.


“Masih ingat dengan ini?” tanya Tegar. Rai mengangguk dan memperhatikan bangau kertas emas di telapak tangannya.


 


Seketika bangau kertas emas itu bergerak-gerak seolah hidup dan kemudian terbang meninggalkan telapak tangan Rai. Gadis itu terhenyak melepas bangau kertas tersebut, iapun menoleh ke arah Tegar. Namun, Tegar juga ikut menghilang bersamaan dengan terbangnya sang bangau kertas.