
Raisya kecil tersenyum puas melihat Bangau dari kertas lipat yang berhasil dibuatnya setelah berminggu-minggu. Dia harus membuat setumpuk penuh limbah kertas yang pada akhirnya berada di tong sampah. Tak lama kemudian, seorang bocah laki-laki menyodorkan stoples kaca yang berisi puluhan Bangau kertas.
"Nih, masukin origami buatanmu. Punyamu jadi pelengkap yang ke seratus.”
Gadis berumur tujuh tahun itu dengan penuh semangat meletakkan origaminya. Bangau kertas itu nampak berbeda dengan yang lain, karena terbuat dari kertas kuning emas. Jadi, terlihat sangat menyolok dan berkilat-kilat.
Bangau-bangau kertas itu tak sekedar berwarna-warni dari kertas lipat, tapi terdapat tulisan-tulisan berupa keinginan, harapan dan cita-cita serta impian-impian mereka berdua sebelum kemudian dilipat menjadi bentuk bangau.
"Tegar…waktunya berangkat,” teriak seorang wanita bertubuh kurus dengan wajah teduh dan senyum ramah menghangatkan. Wanita itu berdiri tepat di sebelah bunda. Bocah lelaki bernama Tegar mengangguk dari kejauhan tempatnya bermain.
“Kak Tegar mau kemana?” tanya Raisya gelisah pada anak laki-laki berumur sembilan tahun dihadapannya. Air mukanya berubah dari ceria menjadi muram dan sedikit butiran-butiran di ujung-ujung matanya menggantung.
Tegar menunduk sejenak menimbang-nimbang apakah akan berkata jujur atau tidak, namun kemudian iapun mendongak, “Rai… setelah kematian papa, kami berdua harus kembali ke Surabaya. Di sini, mama tidak punya pekerjaan. Kami akan memulai hidup baru. Aku harus pergi dari Jakarta Rai. Kami akan pergi,” jelas Tegar.
Rai panggilan akrab Raisya Arganita tak kuasa menahan beban berat bulir-bulir di pelupuk matanya yang menggantung semakin besar. Bibirnya manyun kebawah, dan apa yang dirasakannya benar-benar terjadi.
“Trus…Rai main sama siapa? Siapa yang ajari Rai bikin origami bangau lagi? Rai belum bisa nulis dengan lancar, Kak. Siapa yang akan menuliskan cita-cita kita dibangau kertas itu? Siapa yang ngejagain Rai dari anak-anak nakal di kompleks sebelah?” Rai mulai terisak, tak sanggup menahan ingus yang meleleh diiringi ujung-ujung bibirnya yang mulai mengkerut bergetar.
“Nih…untuk kamu,” Tegar memberikan stoples isi bangau kertas. “Supaya kamu gak sendiri dan kesepian, kamu harus terus belajar membuat origami yang banyak dan menulis impian-impian kamu sebelum melipatnya. Terusin sampai seribu ya…” lanjut Tegar memberi hadiah kecil penghiburan untuk Rai.
Ia menepuk-nepuk bahu gadis kecil itu agar berhenti menangis dan ia sendiri sebenarnya bingung serta sedih harus pergi dari Jakarta.
“Gak mau!! Kak Tegar jahat….jahat…” teriak Rai sambil berlari masuk ke dalam rumah.
***
“Hhh….” seorang gadis berusia tujuh belas tahun terjaga dari tidur panjangnya.
Mengerjapkan mata sejenak dan mengusap peluh serta air mata di wajah. Ia melirik jam dinding 05.30, masih sangat pagi dan mentari belum mengintip perlahan dari bayang-bayang gordennya.
Rai meraih gelas berisi air diatas meja sebelah tempat tidurnya. Meneguk dengan sangat rakus, tapi ia belum puas dengan seteguk saja. AC menyala dengan suhu 24 derajat. Seharusnya cukup dingin. Namun entahlah, ia merasa gerah, kepanasan dan dehidrasi luar biasa.
Rai keluar kamar menuruni tangga menuju dapur mencari air dingin dalam kulkas tipe dua pintu besar, yang cukup dimasuki orang dewasa jika rak-raknya diambil. Sebuah teko kaca bersisi setengah gelas air dituangkan ke dalam gelasnya yang kosong.
Setelah dirasa cukup menyegarkan tenggorokannya, ia berjalan menuju pintu terbuka dari dapur yang menghubungkan dengan halaman belakang rumah.
Seolah mengembalikan pensieve sepuluh tahun lalu tepat di halaman belakang rumahnya, rumput hijau yang subur karena selalu dirawat dengan baik oleh bik Inah, pohon-pohon cemara yang ditanam dipojok tembok menjadi peneduh serta tempat jemuran yang diletakkan di salah satu sudut halaman.
Rai merasakan dirinya bermain-main di halaman belakang rumah sekitar delapan-sepuluh tahun yang lalu. Suara jerit riang anak-anak usia sekolah dasar, derap langkah ringan kaki kecil yang berlari-lari. Rai memejamkan mata, merasakan sisa nafas subuh yang membekas.
Embun-embun di atas hamparan rumput hijau itu masih sama menyejukkannya setiap hari. Kicauan nyaring burung-burung kecil, yang entah sampai saat ini Rai tidak tahu nama burung itu, ia hanya tahu burung-burung itu biasanya ditangkap, diwarnai dan dijual murah ke anak-anak SD.
Terkurung dalam sangkar kecil. Padahal, langit pagi begitu menyenangkan. Tak aneh jika burung-burung itu saling berucap salam menyambut pagi.
Rai mulai terbiasa menghirup udara pagi. Dengan begitu ia bisa menjernihkan pikirannya. Namun, acapkali bayangan-bayangan masa lalu dan masa kanak-kanak tiba-tiba terlintas begitu saja. Samar-samar dan ia mencoba mengingat moment-moment penting semasa ia kecil.
Masa kecil?
Hampir tiap pagi dalam seminggu terakhir ini diwaktu yang sama, Rai melamun di halaman belakang. Yang kemudian pada akhirnya selalu merengut kesal dengan kehadiran bibik ketika membuang sampah. Tanpa banyak bicara Rai masuk ke dalam rumah.
***
“Bunda senang kamu bangun pagi-pagi kalau untuk olahraga. Bukannya bengong ngeliatin halaman belakang,” kata Bunda saat sarapan.
“Bibik udah cerita tentang kelakuan kamu akhir-akhir ini,” lanjutnya. Rai mengunyah makanan dengan perasaan sebal bercampur malu.
“Kamu sedang mikir apa sih sayang?” tanya Bunda cemas, merasa gadis remajanya butuh perhatian. Rai cepat-cepat menyruput susu coklatnya.
“Bunda…Rai berangkat dulu ya…,” pamitnya sambil mencium tangan dan mengecup pipi kanan sang bunda. Selalu saja, Rai menghindar dari pertanyaan-pertanyaan.
Mengalihkan perhatian dan ‘nyelonong’ pergi. Bunda menggelengkan kepala dengan sikap acuh putrinya belakangan ini. Iapun menyadari bahwa itu semua akibat sibuknya mengurusi pekerjaan hingga perhatian terhadap anak semata wayangnya terabaikan.
***
“Hai Rai….” sapa seorang cowok yang berdiri di depan kelasnya saat melihat Raisya berjalan dari lorong menuju kelas.
Rai menjawab dengan senyum simpul. Zac panggilan akrab kekasih Rai mengikuti langkah ringannya memasuki kelas. Rai melempar tas sekolah dan duduk sambil mendengus.
“Napa lo non?” tanya Vania teman sebangkunya.
Rai tidak menjawab. Bahkan dia tidak menggubris pujaan hatinya itu. Rai masih sibuk dengan pikirannya sejak pagi tadi, sambil melamun dia memainkan segelintir rambut ombaknya. Wajah Rai yang putih pucat semakin tak berwarna. Bibir kecilnya komat-kamit tak jelas diikuti alis tebalnya yang mengkerut.
“Lagi datang bulan non?” tanya Vania sekali lagi menegur Rai yang sedari tadi terdiam.
“Rai…nanti malam nonton yuk?” ajak Zac penuh harap dengan semangat. Cowok jangkung itu kini telah duduk tepat di depan Rai. Meminjam bangku kosong milik teman Rai yang belum datang.
“Hh…iya dech. Gue juga lagi suntuk.” Rai mengangguk setuju berubah senang dan senyum merekah pada bibir tipis Zac menanggapi ceweknya.
Bel masuk berbunyi beberapa menit setelah mereka bertiga ngbrol tentang film terbaru di bioskop. Zac berpamitan dan segera kembali menuju kelasnya.
“Napa sih lo? Diajak ngomong diem aja. Giliran diajak nonton ma Zac aja langsung ‘nyerocos’,” gerutu Vania.
“Sori, akhir-akhir ini emang gue lagi gak bisa konsen. Bawaannya ngelamun, mikir gak jelaslah. Begitu Zac ajak nonton, gue langsung mau…yah seenggaknya ngusir pikiran gue yang gak jelas and galau itu,” perjelas Rai sambil tertawa.
“Iya deh percaya yang baru jadian beberapa bulan. Masih anget-angetnya pacaran hahaha....”
“Apaan sih!” Rai menyodok rusuk Vania dan tersipu malu.
Vania benar.
Ia memang sedang hangat-hangatnya dirudung asmara dengan Zac. Apalagi nanti malam mereka akan nonton berdua. Ah, membayangkan dan menantikannya saja sudah membuat hatinya ingin meledak dan tak henti-hentinya senyum tanpa sebab.