
#Pencarian Hari ketiga
Rai membuka jendela kamar demi mendapatkan sinar mentari pagi di Surabaya.
Dia melihat-lihat ke arah langit yang nampak cerah. Ia berharap tak hujan hari ini, agar semuanya lancar. Rai teringat dengan peristiwa semalam, dia segera membuang jauh-jauh kejadian tersebut dalam benaknya. Rai menghirup rakus udara pagi. Dia harus sehat, semangat dan gembira pagi ini. Rai memegangi stoples berisi seribu bangau kertas tersebut.
Dia mengambil salah satu yang berwarna emas. Ia tersenyum tipis.
Rai menutup mata sejenak, kalau benar seribu bangau ini bisa terbang ke awan dan mengabulkan sebuah keinginan seperti mitos yang didengungkan Tegar sewaktu mereka kecil, maka Rai hanya berharap hari ini dia segera mendapatkan petunjuk.
Dia berharap segera mengakhiri pencarian melelahkan itu dan menemukan Tegar serta keluarganya. Dia hanya ingin bertemu Tegar, sosok yang amat dirindukan selama sepuluh tahun mereka berpisah. Isi impian-impiannya yang ke sembilan ratus adalah impian-impian untuk Tegar dan impian mereka bersama.
Akan tetapi, Keempat remaja itu sarapan dalam diam. Mata Rai masih sembab akibat menangis semalam. Zac jadi agak murung. Sam tak banyak bicara merasa bersalah dengan kejadian kemarin. Vania kebingungan dengan kondisi teman-temannya. Dia berharap pak Bantul membantu banyak nantinya, agar mereka segera kembali ke Jakarta.
Bahkan di dalam mobil, mereka masih tampak terdiam. Zac duduk disebelah sopir. Rai memilih duduk di belakang seorang diri. Sedangkan ditengah, Sam dan Vania tampak saling berantem dengan duduk berjauhan dan membuang muka ke arah jendela mobil. Sekitar satu jam akhirnya mereka tiba di salah satu mall Surabaya.
“Nah, ini tempatnya Non,” kata pak Bantul.
“Kalau gak salah tante Rieke punya toko disini,” sahut Rai dari belakang.
“Ya udah, kita masuk sini aja. Mungkin mereka kenal,” kata Sam.
“Elo punya fotonya tante Rieke gak Rai?” tanya Vania.
“Gak ada. Tapi kata bunda, tante Rieke punya toko vas bunga keramik.”
“Kita berpencar aja supaya lebih gampang dan juga lebih cepat.”
“Ya udah, berdua aja. Gue ma Sam. Elo ma Zac ya Rai,” sahut Vania cepat.
Sebenarnya Vania ogah dengan Sam, tapi karena kejadian semalam, Vania berusaha mengakurkan kembali hubungan Rai dan Zac. Setidaknya jika cowok-cewek bisa saling melindungi nantinya. Selama berjalan melewati parkiran menuju mall tua tersebut, Sam tampak sumringah.
Hampir dua jam mereka berkeliling blok, mencari info tentang tante Rieke tapi banyak yang tidak tahu. Rai nampak kelelahan, dia hampir terhuyung pingsan. Zac segera memapahnya untuk duduk. Rai sedikit memijat kepalanya yang pusing dan terasa mual.
“Kamu gak pa-pa?” tanya Zac khawatir.
“Gak pa-pa kok. Cuma agak pusing,” jawab Rai. sepertinya dia belum sembuh benar dari sakitnya. Perjalanan selama dua hari kemarin membuatnya kelelahan.
“Aku belikan minum dulu ya,” kata Zac. Rai akan menolak, tapi Zac keburu pergi. Tak lama kemudian dia kembali membawa sebotol air mineral. Walaupun tak haus, Rai meminum air tersebut untuk menghargai Zac.
“Hmm..mau cari kemana lagi ya? hasilnya nihil gini.” Rai setengah putus asa.
“Tenang Rai. Nanti pasti kita bisa menemukan mereka,” hibur Zac sambil memegang pundak Rai. Deg. Jantung Rai berdegup kencang. Dia tersenyum lemah pada Zac.
***
“Gue ke toilet dulu ya,” kata Vania.
Sam mengangguk lalu sambil menunggu Vania, dia melihat-lihat gerai dekat toilet. Tak lama kemudian Sam mendengar jeritan keras Vania. Sam segera berlari menuju toilet wanita. Sam mendobrak masuk, ada dua orang wanita bertubuh kekar menodong Vania dengan pisau. Tak ada pengunjung lain selain mereka. Satu wanita menodong Vania, dan satunya lagi mengobrak-abrik isi tasnya.
“Hei!!” bentak Sam.
Kedua wanita kekar tersebut tampak terkejut kepergok merampok orang. Wanita yang menodong Vania memberi isyarat pada rekan satunya untuk segera keluar. Si wanita kekar yang mengobrak-abrik isi tas Vania sudah menggenggam i-pad, ponsel, serta dompet Vania. Secepat kilat, wanita kekar itu kabur dan berhasil mendorong Sam yang menghalangi mereka. Wanita penodong, mendorong Vania hingga membentur tembok.
Dia sempat bergelut dengan Sam. Tubuhnya yang kekar, atletis dan jago karate itu membuat Sam kewalahan. Sam mendapat sedikit sabetan pisau di pipi kirinya dan tonjokan keras diperut. Vania menjerit ketakutan. Kedua perampok wanita itu berhasil kabur membawa barang berharga miliknya. Banyak orang mengerumuni mereka. Sam menahan rasa sakit di perut dan memegangi pipi kirinya yang mengucur darah segar.
“Sam..!!” teriak Vania histeris. Dia memegang muka Sam.
“Elo gak pa-pa?” Vania nampak khawatir, dan dia setengah menangis. Sam mengangguk dan tersenyum memberi jawaban. Vania memapah Sam berjalan keluar mencari tempat duduk.
“Wajah elo kena pisau. Berdarah..” suara Vania bergetar dan matanya berkaca-kaca.
Tangan kanannya penuh darah dari pipi kiri Sam. Dia berusaha menghentikan perdarahan di pipi Sam. Karena tak ada perban, Vania melepas bando kain kesukaannya untuk menutupi luka Sam.
“Wah, tangan elo jadi kotor kena darah gue. Ini bandonya juga gak pa-pa gue pake?” kata Sam meringis kesakitan. Vania melepaskan tangannya dari pipi Sam. Dia menunduk dan terisak.
“Van..” Sam nampak bingung.
“Elo **** banget sih. Udah tahu mereka bawa pisau, masih nekat aja. Wajah elo jadinya kayak gini gara-gara gue,” kata Vania disela-sela isak tangisnya.
“Gue minta maaf gak bisa nyelametin barang-barang elo. Dan bikin elo kebentur tembok,” ujar Sam. “Kepala elo gak kenapa\-napa kan?” lanjutnya. Vania menggeleng.
“Kenapa elo masih mikirin barang-barang gue? elo aja udah mau celaka. Gimana kalau tadi bukan kena wajah? Gimana kalau kena yang lainnya?” Vania menatap Sam tak percaya dengan penuh kecemasan.
“Gue gak peduli kalau gue celaka. Gue gak mungkin biarin cewek yang gue sayang terluka. Dan itu pasti yang dilakukan semua cowok buat ngelindungi cewek yang disayangi. Tapi, gue belum bisa sepenuhnya ngelindungi elo tadi. Gue minta maaf ya. Lain kali gue akan lebih menjaga elo. Masalah luka kecil ini, gak ada artinya dibandingkan jika muka cantik elo yang kegores.” Sam mengatakan itu sambil memegang kedua pipi Vania yang memerah akibat menangis.
Vania terdiam. Dia menelan ludah. Bisa-bisanya cowok yang selama ini mengganggu kesehariannya, yang bukan cowoknya, melindungi dia seperti pahlawan.
Vania tak kuasa menahan rasa haru, dia langsung memeluk Sam dan menangis di bahu cowok tersebut. Sam agak bingung, tapi dia merasa lega. Dan tersenyum.
“Kalian gak pa-pa?” tanya Zac tiba-tiba dengan napas ngos-ngosan. Rai berlari-lari kecil mengikuti Zac. Vania mengusap pipinya.
“Gue dengar dari orang-orang ada keributan di toilet wanita. Dua orang yang ciri-cirinya sama seperti kalian. Gue sama Rai jadinya khawatir, apalagi ponsel Vania gak aktif. Makanya kita langsung kesini,” cerita Zac.
“Vania... ya ampun kak Sam..” pekik Rai.
“Vania habis kerampokan. Ponsel, i\-pad dan dompetnya dibawa kabur. Ini tadi sempat berkelahi dikit,” terang Sam.
“Pantesan, nomor elo gak aktif. Ya ampun, entar gue ganti semua ya. Maaf gara\-gara gue elo kena musibah,” kata Rai merasa bersalah.
“Gak pa-pa Rai. ini lagi apes aja. Eh, kita langsung ke mobil aja ya, cari apotik. Buat ngobati lukanya Sam,” ujar Vania. Mereka mengangguk setuju.