1001 For 1 First Love

1001 For 1 First Love
Tabir Rasa



“Jadi, sebenarnya perasaan elo saat ini gimana sama si Zac?” tanya Vania hati-hati.


Siang itu di cafe langganan mereka, selepas pulang sekolah, Rai menceritakan semua yang terjadi padanya. Vania hanya menjadi pendengar saat Rai bercerita sambil terisak-isak. Dia tahu bahwa selama beberapa hari ini pasti sangat berat bagi Rai untuk menahan dan menyimpan semua masalahnya.


Rai telah menyeka ujung-ujung matanya. Sebenarnya, dia begitu benci dengan kondisinya yang akhir-akhir ini begitu lemah dan gampang menangis. Seolah tak bisa mengontrol dirinya sendiri, dia tak bisa lepas dari nama Tegar yang menguasai hati dan jiwanya.


“Rai...apa.. elo masih sayang sama Zac?” Vania mengganti kalimat tanya dengan lebih spesifik.


Rai terdiam. Dia meletakkan dagu ke tangannya yang berada di atas meja. Pandangan Rai melihat ke arah jalanan raya dibalik kaca cafe.


“Rai..” Vania mengulangi. Rai menelan ludahnya.



“Iya. Gue masih sayang sama dia,” jawab Rai masih menerawang.



“Trus, kenapa elo putus?”



“Gue gak bisa melibatkan Zac dalam hal ini. Apalagi perasaan gue saat ini terombang\-ambing. Gue kembali jatuh cinta sama kak Tegar, meskipun mungkin dia hanya cinta monyet dan kanak\-kanak gue. Ada tabir rahasia setelah kak Tegar pergi dari Jakarta.


Gue gak tahu itu apa, seolah feeling gue mengatakan bahwa dengan bertemu dengan kak Tegar, rahasia yang disembunyikan bunda dan orang-orang akan terkuak. Sebenarnya.. saat ini gue sayang sama mereka berdua.”


“Rai... masalahnya adalah, Tegar udah gak ngirim surat lagi ke elo selama beberapa tahun. Seolah itu membuktikan dia telah menghilang. Gimana elo bisa jatuh cinta sama orang yang gak elo tahu keadaan dan wajahnya sekarang? bisa aja itu Cuma khayalan elo, atau lo kebawa perasaan aja.”


Brakk. Rai menggebrak meja emosional. Vania nyaris terlonjak saking kagetnya.


“Van! Gue bukan orang sinting yang kayak disinetron bermain dengan imajinasinya dan jatuh cinta sama orang khayalannya. Kalau memang kak Tegar gak ada, gak mungkin bunda bisa tahu tentang dia. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan dan itu berhubungan dengannya.” Rai tampak marah. Vania terdiam, sedikit menyesal dengan ucapan yang tidak membantu Rai.



“Oke. Kalau gitu sekarang apa yang elo mau lakuin?” tanya Vania dengan nada rendah berusaha mengelus dada menahan rasa takut dan sakit hati akibat bentakan sahabatnya.



“Gue akan ke Surabaya. Itu yang harus gue lakuin.”



“Baiklah. Kapan?”



“Mungkin saat liburan sekolah.”



“Gue bantu.”



“Apa?” Rai belum paham dengan ucapan Vania.



“Iya, gue temenin elo ke Surabaya.”



“Tapi Van, gue gak minta..”



“Cukup. Gue gak bisa biarin elo sendirian ke Surabaya. Gimanapun juga itu kota asing, dan juga luas. Elo gak bakal sehari dua hari ketemu langsung dengan Tegar.”


Rai nampak berpikir. Sebenarnya dia tidak ingin merepotkan Vania terlalu jauh.



“Makasih ya, Van.” Rai sumringah. Vania ikut tersenyum senang bisa membantu.



“Iya... eh, ntar siang bisa temeni gue ke mall? mau cari kado buat nyokap gue, bentar lagi ultah,” pinta Vania. Rai mengangguk semangat.


***


Rai dan Vania telah mengelilingi tiga lantai mall sekaligus, tapi belum menemukan barang yang cocok.


“Trus elo mau kasih apaan sih sebenarnya Van?” tanya Rai penasaran dan dia merasa capek telah berkeliling tanpa hasil dengan wedges dua belas senti yang dikenakannya.



“Emm..gimana ya. Gue gak tahu mau kasih apaan. Pokoknya ada barang yang bagus dan menurut gue cocok ya itu gue ambil.”



“Aduh...Van....sulit mau cari sesuatu yang gak ada petunjuknya.” Rai mengibaskan tangan, kelelahan dan sedikit merasa gerah. Vania tersenyum memelas.



“Kita cari makan dulu kalau gitu,” ajak Vania. Mereka menuju food court terdekat. Ketika akan duduk, Vania menunjuk seseorang.



“Rai...itu kan Keyla,” kata Vania.


Rai menyipitkan mata melihat lebih jelas. Keyla sedang makan di sudut food court bersama dengan kedua orang tuanya. Sesaat kemudian mereka berdiri dan akan beranjak dari meja. Sosok ayah yang terlihat tak asing bagi Rai.


“Oh itu..papanya Keyla. Eh Rai, kayaknya gue pernah tahu papanya Keyla deh,” kata Vania. Rai masih mematung membisu. Tubuhnya terasa sulit digerakkan akibat shock.



“Kayaknya mirip banget sama....eh, bukannya itu bokap elo. Bukannya itu papa elo, om Arga ya? Sejak kapan Keyla jadi adik elo. Apa jangan\-jangan bokap lo poligami ya Rai?”cerocos Vania secara ngawur padahal Cuma guyonan semata.


Lidah Rai terasa kelu, sehingga membuatnya diam seribu bahasa. Keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya. Kepalanya terasa berputar hebat, Rai tak mampu mengendalikan keseimbangan tubuhnya yang benar-benar tak imbang. Hingga akhirnya dia merasa tubuhnya terjatuh, lalu semua menjadi gelap.


***


Raisya kecil tersenyum puas melihat Bangau dari kertas lipat yang berhasil dibuatnya setelah berminggu-minggu. Dia harus membuat setumpuk penuh limbah kertas yang pada akhirnya berada di tong sampah. Tak lama kemudian, Tegar menyodorkan stoples kaca yang berisi puluhan Bangau kertas.


“Nih, masukin origami buatanmu. Punyamu jadi pelengkap yang ke seratus.”


Gadis berumur tujuh tahun itu dengan penuh semangat meletakkan origaminya. Bangau kertas itu nampak berbeda dengan yang lainnya, karena terbuat dari kertas kuning emas.


Jadi, terlihat sangat menyolok dan berkilat-kilat. Bangau-bangau kertas itu tak sekedar berwarna-warni dari kertas lipat, tapi terdapat tulisan-tulisan berupa keinginan, harapan dan cita-cita serta impian-impian mereka berdua sebelum kemudian dilipat menjadi bentuk bangau.


“Tegar…waktunya berangkat,” teriak seorang wanita bertubuh kurus dengan wajah teduh dan senyum ramah menghangatkan. Wanita itu berdiri tepat di sebelah bunda. Tegar mengangguk dari kejauhan tempatnya bermain.


“Kak Tegar mau kemana?” tanya Raisya dengan gelisah pada anak laki-laki berumur sembilan tahun dihadapannya. Raut mukanya mulai berubah dari ceria menjadi muram dan sedikit merengek.


Tegar menunduk sejenak menimbang-nimbang apakah akan berkata jujur atau tidak, namun kemudian iapun mendongak, “Rai… setelah kematian papa, kami berdua harus kembali ke Surabaya. Di sini, mama tidak punya pekerjaan. Kami akan memulai hidup baru. Aku harus pergi dari Jakarta Rai. Kami akan pergi,” jelas Tegar.


Rai panggilan akrab Raisya Arganita mulai berkaca-kaca. Bibirnya manyun kebawah, dan apa yang dirasakannya benar-benar terjadi.


“Trus…Rai main sama siapa? Siapa yang ajari Rai bikin origami bangau lagi? Rai belum bisa nulis dengan lancar, Kak. Siapa yang akan menuliskan cita-cita kita dibangau kertas itu? Siapa yang ngejagain Rai dari anak-anak nakal di kompleks sebelah?” Rai mulai terisak, tak sanggup menahan ingus yang meleleh diiringi ujung-ujung bibirnya yang mulai mengkerut.


“Nih…untuk kamu,” Tegar memberikan stoples isi bangau kertas. “Supaya kamu gak sendiri dan kesepian, kamu harus terus belajar membuat origami yang banyak dan menulis impian-impian kamu sebelum melipatnya. Terusin sampai seribu ya…” lanjut Tegar memberi hadiah kecil penghiburan untuk Rai.


Ia menepuk-nepuk bahu gadis kecil itu agar berhenti menangis dan ia sendiri sebenarnya bingung serta sedih harus pergi dari Jakarta.


“Gak mau!! Kak Tegar jahat….jahat…” teriak Rai sambil berlari masuk ke dalam rumah.