
Senin 02.30
“Hhh…..” Rai kembali terjaga dari tidurnya dengan ngos-ngosan.
Keringat mengucur deras di tubuhnya. Dia menoleh ke arah jam dinding, masih sangat pagi. Seperti biasa dia mencari gelasnya, tapi kosong. Rai keluar kamar menuju dapur. Rupanya bibik sedang membuat teh hangat.
“Kok bangun non?”
“Haus, Bik,” jawabnya singkat dan meneguk air putih dingin yang menyegarkan itu.
Rai berniat untuk tidak langsung kembali ke kamar. Dia duduk di depan bibik yang menyeduh teh sambil memperhatikan bik Inah dengan seksama.
“Emm…..bik, Rai punya temen deket gak?” sebuah pertanyaan yang tanpa disadari meluncur begitu saja dari bibirnya. Bik Inah menghentikan jemarinya yang memegang sendok dalam mengaduk teh.
“Lho temen deketnya non kan banyak, ada non Vania, mas Zac….”
“Bukan bik….maksud aku temen deket sewaktu aku masih kecil. Umur lima sampai sembilan tahun gitu.”
Bibik mengerutkan kening dan berpikir, hingga garis-garis usia yang menghiasi wajahnya nampak semakin jelas. Untuk beberapa detik, Rai menahan napas menanti jawaban bibik dengan penasaran.
“Aduh non, bibik ya lupa. Itu sudah lama sekali. Lagi pula masa’saya ingat semua teman non Rai.”
Rai menghela napas panjang kecewa. “Ya udahlah bik, makasih,” ujarnya dan beranjak kembali ke kamar.
Tentu saja, mana mungkin bibik yang berusia enam puluh tujuh tahun itu bisa mengingat semua temannya, apalagi itu teman kecilnya. Dia saja tak mampu mengingat, wajarlah jika bibik juga tak ingat. Pikirnya.
Rai rebahan diatas ranjang, berusaha memejamkan mata berpikir sejenak mencerna arti dibalik mimpinya. Rai tetap tidak bisa memejamkan mata. Hatinya gelisah, ada semacam hewan besar yang menggeliat-geliat didalam perutnya sehingga bergejolak resah.
Akibat kegelisahan panjang itu, di pagi buta menjelang subuh yang berkisar sejam lagi, Rai mengobrak-abrik isi lemari di ruang keluarga. Mencari album dan nomor telepon.
Dia hanya menemukan album keluarga. Tak sadar Rai terlalu asyik mencermati foto-foto jadul hingga ia lupa tujuan utamanya. Foto pernikahan bunda-papa, fotonya yang balita, dan terdapat sebuah foto ketika ulang tahun yang ke enam, memakai gaun cinderella disertai sepatu kaca mengkilap indah. Sangat lucu dan cantik sekali, pikirnya. Ia senyum-senyum sendiri melihat dirinya dalam versi mini.
Sungguh menyenangkan mereview kehidupan semasa kecil. Jemari Rai menelusuri foto yang terpampang semua temannya disana. Rai mengerutkan kening berusaha mengenali satu-persatu kawan-kawannya.
Namun sayang, ia lupa sekali dengan mereka.
“Rai….apa-apaan ini?” bunda terpekik kaget melihat album-album berceceran di lantai dan lampu ruang keluarga yang menyala terang, saat akan menuju ke dapur.
“Ah, bunda. Rai Cuma pengen lihat-lihat album kenangan aja.”
“Ya, tapi apa harus sepagi ini? Seperti gak ada kerjaan lain saja kamu ini.” Bunda menatap curiga dengan kening berkerut, sehingga wajah terlihat semakin lelah akibat lembur dengan begadang.
“Emm…bunda, Rai masuk kamar dulu ya…siap-siap berangkat sekolah biar gak telat,” Rai beralasan, kemudian menaiki tangga menuju kamarnya.. Rai menempel foto ulang tahunnya di meja rias.
***
“Pagi sayang...’’ sapa Zac yang sedari tadi menunggunya di depan kelas.
“Napa sih akhir-akhir ini sahabat gue tiap pagi, mentari lagi anget-angetnya malah nona Raisya kusut kayak buntelan benang.’’
“Gue gak tahan lagi, Van. Udah seminggu lebih tiap tengah malam gue kebangun gara-gara mimpi yang gak jelas dan sama. Kayaknya benar kata elo, gue di jampi-jampi sama tuh anak cowok dalam mimpi gue.”
“Hahaha….ada-ada aja lo. Kan gue udah bilang, lo selidiki semua teman atau kerabat yang berhubungan sama elo.”
“Lo, bisa Bantu gak?”
“Oh…with pleasure, missus. Asal ulangan Fisika kali ini gue nyontek penuh.”
“Lho, emang ada ulangan ya? oh God...gue gak tahu dan gue semalam gak belajar sama sekali.”
“Gimana sih Rai? gue nyontek sapa donk?elo aja gak belajar apalagi gue.” Vania menampakkan wajah lebih gelisah dan gugup daripada Rai.
Ia tidak pernah bisa belajar maksimal karena selalu direpotkan menjaga adik-adiknya yang masih kecil di rumah.
Sesaat kemudian guru fisika yang mendapat julukan si Mr. Giant memasuki kelas dengan tampang garang dan senyum menakutkan melihat kegelisahan murid-muridnya menghadapi kertas soal.
Mr. Giant guru tergalak di sekolah dengan sepatu boot koboi mengkilap. Tubuhnya tinggi besar, perutnya membuncit, alisnya tebal,pipinya bergelambir dengan leher nyaris tak terlihat saking gemuknya, sedangkan matanya hanya sebesar kelereng, berewokan dan kepalanya bulat kecil.
Untuk alasan itulah dipanggil Mr. Giant yang sebenarnya bernama pak Somat dan itu mengingatkan Vania akan paman Vernon di Harry Potter.
Mr. Giant melotot tajam setiap kali ada gerakan yang mencurigakan, meskipun hanya gerakan Niko yang meregangkan otot punggungnya.
“Jangan banyak gerak Niko,” tegur Mr. Giant. Sekejap Niko langsung membungkuk meghadapi kertas keramatnya.
Soal yang diberikan pun sangat acak, jangankan tipe 2 soal, Mr. Giant sanggup memberikan soal ulangan harian bertipe 5 jenis layaknya Ujian Nasional, demi meminimalisir tingkat kecurangan siswa.
Itu terlalu berlebihan bagi mereka. Jangankan menyontek dengan soal yang sama, pengawasan Mr. Giant saja cukup membuat mereka tak berkutik.
Hampir semua teman sekelas Rai nampak gelisah mengerjakan soal. Vania-teman sebangkunya saja, sedari tadi tak bisa diam berdecak sambil menggumamkan sesuatu tak jelas. Rai mendengar seolah Vania mengumpat dan menyumpahi guru killer tersebut. Rai ingin membantu mengerjakan soal Vania, tapi meskipun mereka sebangku, Mr. Giant bisa melihat gerakan sedikit saja.
Bahkan kontak mata yang terasa aneh, Mr. Giant akan tahu. Vania menduga, Mr. Giant juga bisa mendengar kontak batin setiap anak, karena punya indera keenam atau semacam ilmu kebatinan.
“Makanya, lain kali belajar Vania. Jangan Cuma nyalon dan gerutu saja,” ledek Mr. Giant, membuat yang lain menahan tawa. Benar kan! Mr. Giant pasti punya indera keenam.
Vania memberengut kesal. Bukan karena ia ketahuan akan menyontek atau tidak bisa mengerjakan soal ulangan Fisika. Akan tetapi, karena tuduhan Mr. Giant yang dia menunjukkan hanya bisa ke salon sepanjang hari saja. Padahal faktanya ia sibuk mengurus adik-adiknya.
Ia memang cantik dan seringkali bersolek, atau terlihat seperti bintang berpendar mengalahkan sinar matahari di sekolah.
Namun, semua itu karena anugrah dirinya yang memang cantik bak model ditambah sedikit polesan. Bukan berarti karena dirinya berlebihan dalam merawat diri hingga melakukan filler hidung, chubbyliner, sulam alis, sulam bibir, injeksi whitening, botox sana-sini hingga operasi plastik.
***