1001 For 1 First Love

1001 For 1 First Love
Break



Rai bangun dengan mata sembab. Rupanya dia menangis dalam tidur. Kepalanya terasa berat. Rai melirik jam dinding. Hampir jam delapan malam. Terdengar suara klakson mobil dari arah luar. Tak berapa lama bik Inah memanggil Rai karena ada tamu.


Malam ini adalah malam minggu, Zac mengajak Rai makan malam di cafe langganan mereka. Rai tampak muram, dia tak begitu selera dengan makanannya. Kalau bukan karena bunda yang memaksa Rai untuk keluar dengan Zac, Rai juga enggan untuk keluar rumah meskipun sebenarnya dia sendiri yang mengajak pergi Zac saat di sekolah.



“Kenapa? Gak suka sama makanannya?” tanya Zac yang melihat Rai hanya mengaduk\-aduk makanan dengan garpu. Padahal itu adalah spagetti kesukaan Rai. Rai hanya menggeleng malas. Pertanyaan yang membosankan.



“Trus kenapa makanannya gak dimakan sayang ...?” Zac merendahkan suaranya dengan lembut.



“Lagi gak mood makan aja,” ketus Rai.



“Kenapa sih akhir\-akhir ini bawaan kamu selalu gak mood? lagi maleslah. Ada apa sih? aku tanya kenapa, kamu gak mau cerita.” Zac tampak mulai kesal.



“Kalau elo gak suka sama sikap gue ya udah.” Rai menaikkan nada suaranya. Sekejap Zac tampak kaget. Untuk pertama kalinya dia melihat Rai semarah ini, apalagi dengan menggunakan kata elo dan gue di depannya.



“Rai...aku ini cowok kamu. Kalau kamu memang ada masalah, setidaknya kamu cerita mungkin aku bisa bantu.” Zac mencoba lebih bersabar.



“Udahlah Zac. Gue udah males banget. Lebih baik kita pulang sekarang.” Rai membereskan tasnya. Zac memegangi tangan Rai mencoba menahan.



“Rai..gimanapun juga aku cowok kamu. Kamu gak bisa marah\-marah gak jelas kayak gini. Biarkan aku bantu kamu. Aku butuh penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi?”


Rai menangkis tangannya dari cengkeraman Zac.


“Elo emang cowok gue, emang pacar pertama gue. Tapi bukan berarti elo cinta pertama gue. Bukan berarti elo bisa nguasai diri gue dan ngontrol gue seenaknya. Sekarang lebih baik kita putus,” kata Rai nyaris berteriak, hingga membuat orang\-orang di cafe menoleh ke arah mereka.


Zac semakin shock dan ia terpaku pada tempatnya, tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa melihat kepergian Rai. Zac semakin bingung dengan sikap Rai yang aneh dan tergolong kasar.


Apalagi status media sosial Rai akhir-akhir ini dipenuhi kegalauan. Ia juga tak mengerti kenapa Rai bisa begitu mudah dan cepat melontarkan kata-kata putus. Apa maksud dari menguasai dan mengontrol Rai seenaknya? Padahal Zac bertanya baik-baik.


Lalu, apa maksud dari bahwa dia bukan cinta pertamanya? Apa ada cowok lain di hati Rai saat ini? Zac dipenuhi dengan prasangka yang bercampur aduk.


***


Dalam taksi tanpa sadar air mata Rai luruh. Dia terisak. Langit bergemuruh ikut bergejolak seperti hatinya. Dia sangat menyesal mengatakan hal kasar dan minta putus dari Zac, kekasih yang benar-benar sayang disayanginya. Entah setan apa yang saat itu merasukinya. Tapi, dia tak sanggup untuk kembali menghampiri Zac. Semua sudah terlanjur.


Dia sendiri bingung dengan pikirannya yang kacau dan hati yang tak menentu. Ia tak sanggup membagi cinta dan hatinya untuk dua orang sekaligus, itu takkan adil bagi Zac maupun Tegar. Saat ini seolah dia terhipnotis oleh sebuah surat sehingga membuatnya mampu menyakiti perasaan kekasihnya sendiri. Rai mematikan ponsel setelah mendapat banyak pesan dari Zac.


Sopir taksi melirik Rai dari spion. Dia menawarkan tisu kotak kepada Rai. Rai yang masih terisak meraihnya dan menggumamkan terima kasih. Rai bertekad akan pergi ke Surabaya menemui Tegar.


Sahabat kecil yang dipercaya sebagai cinta pertamanya. Dia harus menemukan Tegar meski harus menelusuri Surabaya dan isinya. Dia harus menemui Tegar dan menyatakan semua perasaannya, dan meminta maaf atas kesalahannya yang tak pernah membalas surat-surat Tegar.


***


Rai meminta diturunkan di depan rumah nomor 12/A. Ia keluar dari taksi dan membiarkan tubuhnya terbasahi oleh sisa gerimis yang masih awet turun. Ia memandang rumah yang berlampu redup itu.


Rumah itu, dulunya tak pernah menarik perhatiannya karena bertipe sama dengan rumahnya dan rumah-rumah tetangganya yang bergaya blok A Mediterania. Kini ia sadar bahwa dahulu kala, kisah kecilnya berawal dari rumah ini dan ia sering bermain kesini. Ia lebih sering dan betah berada di rumah ini ketimbang rumahnya sendiri.


“Lho Raisya, kenapa hujan-hujanan malam gini?” tegur seorang bapak-bapak keluar dari rumah yang dipandanginya.


Raisya tersadar. Ia menggeleng dengan senyum lemah. Penghuninya telah berganti. Bapak-bapak pemilik rumah segera mengambil payung berwarna kuning dan meminjamkannya kepada Rai.


“Cepat pulang nanti kamu sakit,” katanya. Rai berterima kasih. Ia berjalan perlahan menuju rumahnya. Gerimis masih menemani langkah kakinya menuju rumah. Dan entah mengapa, rasanya perjalanan menuju rumah begitu jauh.


***


Rai masuk rumah dengan tubuh setengah basah kuyup. Ternyata, di ruang tamu Zac telah lebih dulu sampai di rumahnya. Bunda terlihat cemas.


“Rai...kamu kemana saja? Kenapa hujan\-hujanan seperti ini?” tanya bunda. “Zac minta maaf buat kamu menunggu lama di cafe dan gak tahu kalau kamu marah lalu pulang duluan naik taksi. Dia kesini mengira kamu sudah sampai duluan,” ujar bunda.


Raut muka Zac juga ikut cemas. Ternyata Zac tidak memberi tahu yang sesungguhnya pada bunda. Baik sekali Zac, menutupi kesalahan Rai. Tapi, Rai sudah terlalu jauh melangkah.


Dia tak bisa berhenti memikirkan Tegar dan berbalik kembali pada Zac, dia harus membongkar misteri selanjutnya dari surat-surat Tegar, dan alasan kenapa sang bunda begitu membenci Tegar hingga surat-surat itu tak sampai ke tangannya. Hatinya terasa sakit, melihat Zac yang tak tahu apa-apa harus menjadi korban keegoisannya.


“Bunda.. Rai benar\-benar capek. Rai mau istirahat,” jawab Rai dengan mata sembab.


Dia berlalu begitu saja tanpa menoleh sedikitpun ke arah Zac.


Bunda tak bisa mencegahnya. Rai terlihat sangat letih. Ia melangkah naik ke atas tangga, akan tetapi tiba-tiba kepalanya terasa pening dan ia ambruk tak kuasa menahan tubuh yang kehilangan energi.


Bunda menjerit terkejut. Zac segera menggendong Rai ke dalam kamar selagi bunda menghubungi dokter.


Setelah bik Inah mengganti pakaian Rai yang basah, Zac kembali masuk. Ia duduk di sebelah ranjang Rai. memegang tangannya yang terasa hangat. Zac mengerutkan kening. Ia menaruh punggung tangannya ke kening Rai. Demam. Untungnya dokter segera datang dan memeriksa, tak berapa lama kemudian Rai telah sadar dari pingsannya.


Zac menghampiri dengan rasa sedih melihat kondisi seseorang yang disayanginya terbujur lemah. Rai membalikkan badan sewaktu Zac mendekat.


Zac menelan ludah tak menyangka kehadirannya tak diharapkan. Padahal ia sangat ingin berada didekat Rai. Bunda menjadi bingung.


“Emm...maaf ya nak, sebaiknya Rai biar istirahat dulu. Kamu juga pulang saja, ini sudah malam,” kata bunda.



“Oh iya tante gak pa\-pa. Cepat sembuh ya, Rai.” Zac kemudian berpamitan.



Bunda mengantarkan Zac keluar rumah dan ketika menutup pintu kamar, airmata gadis yang tengah dilanda kegundahan dan sedang terbujur lemah itu meleleh. Ada rasa sakit yang tak bisa diungkapkan ketika melihat Zac, mengusirnya dan melihat sisa punggungnya pergi.


***


Raisya sedang bermain ayunan. Dia tergelak tertawa lebar. Sedangkan dibelakangnya, anak laki-laki sedang mendorong ayunannya, juga tertawa lebar. Rai menghentikan ayunan tersebut dengan kakinya dan menoleh ke arah Tegar yang berusia sembilan tahun.


“Kak Tegar,” kata Rai tanpa sadar. Tegar tersenyum tipis. Tangan kurusnya menggenggam tangan lembut Rai dewasa.



“Rai....selesaikan dulu bangau kertasnya,” pinta Tegar serius.


Tegar membuka tangan kanan Rai dan memberikannya sebuah bangau kertas berwarna keemasan sebesar ibu jari orang dewasa. Bangau kertas itu nampak mungil dan unik sekali. Rai mengerutkan kening heran bercampur bingung. Sebelum Rai sempat mengatakan sesuatu, mimpi itu buyar ketika ponselnya berdering.


“Halo..” jawab Rai sayup-sayup dengan mata yang masih tertutup.


“Rai... ini gue. Gue udah di depan kamar elo. Ayo sekolah. Kemarin kataya sakit dan gak masuk, masa’ iya hari ini gak masuk lagi?” teriak Vania dari balik pintu dan terdengar pula suara keras dari ponsel.


Rai gelagapan. Dia melihat jam dinding kamar, 06.30. rupanya dia kesiangan. Rai membuka pintu sambil mengucek mata. Meski kondisinya belum begitu pulih, Rai tak ingin berlama-lama ijin sekolah.


“Duh non.. jam berapa sekarang? Elo gak mau sekolah?” Vania mengomel. Kalau Rai terlambat, otomatis dia juga akan telat.



“Iya, iya. Gue mandi cepet kok. Tumbenan banget elo langsung kesini. Biasanya kan tunggu di halte aja.”



“Hehehe.... si Sam nyamperin gue di halte trus mau ngajak bareng ke sekolah. Lha dari pada seisi sekolah gempar gue boncengan ma dia, gue minta aja anterin ke rumah elo,” cerita Vania. Rai melengos dengan sedikit kesal pada Vania.



“Ada angin apa sampe elo mau dianter sama Sam?” goda Rai.



“Gak usah punya pikiran macam\-macam deh. Gue kepepet. Sebenarnya gue males banget. Eh, muka elo sembab banget. Elo habis nangis ya Rai?” selidik Vania saat melihat kedua mata Rai. Rai berusaha menutupi dan menangkis tatapan curiga Vania.



“Gak pa\-pa. Kurang tidur aja.”


***


Tiba di sekolah, Zac telah menunggu Rai di parkiran mobil. Rai mendengus kesal.


“Rai, elo gak lagi marahan kan sama Zac?” tanya Vania curiga.


“Gak. Gue udah putus,” jawab Rai singkat. Dia melepaskan safetybelt dan keluar mobil.



“Hah? Putus? Rai... kok bisa?” Vania buru\-buru mengikuti Raisya.


Rai sedang berhadapan dengan Zac, wajah Rai terlihat dingin dan kaku ketika berbicara dengan Zac. Vania mendekat sambil ngos-ngosan.


“Gak ada yang perlu dijelasin lagi. Semuanya udah jelas,” kata Rai ketus. Vania menelan ludah sedikit grogi berada di tempat yang salah.



“Tapi Rai,” Zac menarik tangan Rai yang akan pergi. Rai menangkisnya sekali lagi dengan kasar. Dia berjalan meninggalkan Zac dan Vania yang terpatung tanpa sepatah katapun.



“Apa yang sebenarnya terjadi, Van?” tanya Zac mencari informasi.



“Eh..anu.. duh. Gue juga gak tahu apa\-apa. Gue nyusul Rai bentar ya.” Vania gelagapan dan segera mengejar Rai.


Rai berjalan menyusuri lorong menuju kelasnya. Wajahnya mendongak angkuh.


Vania berhasil mengejarnya dari belakang, tapi Rai tidak memasuki kelas mereka. Dia berbelok ke arah kamar mandi wanita. Rai segera membongkar isi tasnya dan mencari-cari sesuatu. Sebuah tisu saku telah ditemukannya. Dia menahan diri agar suara isaknya tak sampai terdengar orang lain.


Vania yang berada diluar tak berani mengetuk pintu kamar mandi. Dia masih cemas dan kebingungan dengan keadaan sahabat baiknya ini. Bahkan orang lain yang akan mengetuk pintu Rai untuk meminta giliran menggunakan kamar mandi, Vania berusaha mencegahnya.