
Senja cakrawala merona merah. Sore itu, masih seperti biasa, hujan deras datang silih berganti menggantikan mendung dalam hati gadis tujuh belas tahun yang duduk lemah diatas ranjang kamar nomor 315.
Dunia macam apa yang sedang dijalaninya ini? Sebuah panggung sandiwara besar yang hidup sepuluh tahun dalam kehidupannya. Langit meredup. Jendela-jendela kamar Vip menjadi berembun oleh hujan dibalik kaca serta dinginnya AC dari dalam. Rai merapatkan selimutnya.
Bisakah ia kembali ke masa sepuluh tahun tersebut dan mencegah Tegar pergi meninggalkan kota Jakarta serta meninggalkannya seorang diri? Mungkinkah akan ada cerita lain yang lebih indah dan bahagia, seandainya kepergian tak terjadi? Apakah orangtuanya akan tetap bercerai?
Lalu bagaimana kisahnya dengan Zac? Nyeri dihatinya tidak sekedar sakit hati atas kepalsuan yang diciptakan orang tuanya dan kehilangan Tegar dari sisinya, ia lebih merasakan kesedihan karena telah menyakiti Zac dan Tegar.
Bahwa kenapa cinta segitiga ini begitu menyakitkan buatnya? Bahwa tidak bisakah dia membagi rasa kepada Zac dan Tegar secara adil? Tidak bisakah dia tidak harus memilih antara kedua laki-laki yang sangat disayanginya tersebut? Ia sadar bahwa dirinya egois. Bahwa ia masih sangat menyayangi Zac, dan kini dia juga sangat menyayangi Tegar. Garis takdir hidupnya begitu memilukan.
Amarah bergemuruh dalam dadanya yang membuncah akan kedua orang tua yang selama ini menjadi lakon utama semua sandiriwara tersebut. Papa datang menjenguk setelah hampir seminggu Rai sadar dari masa kritis. Pria ramah dan murah senyum itu datang membawa serangkai bunga Crysan kuning.
Ternyata papa sedang mengurus proyek jadi agak sibuk dan belum sempat menjenguk Rai. agak sibuk ? Rai tak habis pikir kenapa orang tuanya begitu gila kerja. Dan bahkan ketika anak remajanya sakit, mereka bilang sibuk. Serasa urusan pekerjaan diatas segalanya.
Mungkin inilah salah satu faktor perceraian kedua orang tuanya, mereka sama-sama gila kerja, sibuk, tak mau mengalah demi keluarga, egois, dan yang menjadi korban hanya satu yaitu Rai, putri semata wayang mereka. Papa menaruh bunga di meja dekat ranjang Rai.
“Maaf ya sayang, papa baru bisa jenguk sekarang,” kata papa berhati-hati. Rai memalingkan muka. Ular angkuh besar kembali menggerogoti hatinya.
Entah kenapa selama ini ia selalu menantikan kehadiran sang papa yang jarang sekali bisa pulang dan ketemu, yang selalu membuat segala mood jelek Rai berubah ceria bahagia, kini kelabu menutupi semua euforia tersebut.
Hatinya mendongkol kesal. Seolah sang papa datang tanpa rasa bersalah dan berdosa. Pertama, tentang perceraian dan semua kebohongan itu, kedua lebih menomor satukan pekerjaan. Dan ketiga, tentang istri serta anak barunya yang disembunyikan selama delapan tahun.
Keheningan berjalan lewat semenit. Keduanya mematung dari tempat masing-masing dan tak terpengaruh oleh detak jam yang terus bergerak.
“Masih ingat sama Rai rupanya?” Rai bernada pelan namun sangat menohok.
Papa diam tak berkomentar. Dia menatap lekat-lekat wajah putrinya. Tatapannya adalah tatapan sesal, prihatin dan rasa bersalah luar biasa. Papa memberanikan diri memegang tangan halus putrinya. Rai jadi salah tingkah, tapi ia tetap mempertahankan kemarahan dalam diamnya.
“Tangan ini.... dulunya sangat kecil dan rapuh.” Papa mengelus punggung tangan dan jemari anak gadisnya. “Tanpa terasa, papa memang banyak melewatkan hal\-hal berharga bersama dengan tangan ini yang tiba\-tiba saja menjadi kuat dan sangat cantik.”
Rai masih tak bergeming dari wajahnya yang memalingkan muka. Papa menunduk. Pria yang tak muda lagi itu menitikkan airmata hangat sehingga jatuh membasahi punggung tangan Rai. Hati Rai tiba-tiba mencelos merasakannya. Ia berusaha menoleh. Bibirnya bergetar.
“Kenapa harus kak Tegar yang dikorbankan? maksud Rai, kenapa harus dia yang tidak boleh Rai ingat?” mata Rai berkaca\-kaca, ia menurunkan nada suaranya. Papa menggenggam tangan Rai.
“Maafkan papa, Nak. maafkan bunda. Maafkan om Suta. Kamu tidak tahu betapa khawatirnya papa dan bunda saat itu. Meskipun kami bercerai, tetap bagi kami, kamu putri kami yang paling utama. Saat itu kami semakin bingung karena kamu telah amnesia. Tapi, keadaan itu justru mungkin lebih baik. Karena kamu tidak sedih memikirkan perceraian kami. Papa memang jahat dan kejam telah membohongi kamu sampai bertahun\-tahun, dan memutuskan persahabatan antara kamu dan Tegar.” suara papa nampak menahan isak, kepala papa masih menunduk, tak berani menatap mata putrinya.
Tiba-tiba, Rai tak sanggup untuk marah melihat papanya seperti ini.
“Harusnya, jika kalian ingin bersandiwara dan berbohong bisa lebih baik karena Rai bukan anak bodoh. Harusnya papa lebih sering berada di rumah dan terlihat bersama dengan bunda, bukannya malah terlihat kaku dan sibuk masing-masing.
Harusnya, Rai tak merasa kesepian di rumah selama bertahun-tahun dan bahagia jika itu memang tujuan utama kalian. Tapi semuanya sia-sia dan gagal. Kalian bukan aktor yang baik,” ujar Rai dengan nada bercanda yang membuat papa dan dirinya sedikit tertawa diantara isak tangis mereka.
Rai mengusap ujung-ujung matanya. Dia memeluk sang papa. Papa balas memeluknya dengan erat. Pelukan terhangat dan ternyaman setelah bunda. Dari pelukan inilah, Rai bisa merasakan ketentraman dan keamanan.
Pelukan sang ayah lebih pada menjaga dan bentuk perlindungan terhadap putrinya. Setelah melepaskan pelukan, Rai berkata, “Cukup Rai saja yang jadi korban. Rai mohon, papa jaga baik-baik keluarga papa sekarang. Rai gak mau, Keyla, adik satu-satunya Rai menjadi korban kedua. Hanya janji dari papa yang Rai minta.”
Papa mengangguk antusias. Bibirnya mengulum senyum. Raut muka yang redup kembali bersinar dan matanya berbinar tenang menyenangkan. Dia nampak sedikit terkejut mendengar bahwa Rai tidak marah dengan pernikahan keduanya ataupun dengan istrinya sekarang.
Papa sangat bahagia karena terlihat jelas bahwa Rai sangat menyayangi Keyla, meskipun ketika mengucapkan semua itu, tenggorokan Rai terasa tercekat menyakitkan. Dia telah bertindak luar biasa, dengan sangat bijak serta dewasa.
“Mungkin kamu mengira bahwa bunda adalah ibu yang kejam. Ya Rai. bunda orang yang kejam, meskipun ini semua untuk kelanjutan hidup kamu. bunda minta maaf soal surat-surat Tegar. Bunda belum bisa memberikannya. Bunda takut kamu belum siap menerima semua kenyataan ini,” kata bunda tiba-tiba masuk kamar membuka pintu dengan muka basah oleh airmata.
Sedari tadi bunda telah mendengar pembicaraan mereka, dan dia juga ingin mendapatkan kembali maaf serta kasih sayang dari putrinya. Papa dan Rai melihat bunda yang menghampiri mereka dengan senyuman hangat. Sudah lama bunda ingin menceritakan segalanya.
“Bunda sudah lelah dengan semua ini Rai. Bunda juga lelah menutupi kenyataan dari kamu. Setiap malam bunda tidak bisa tidur tenang karena harus memikirkan bagaimana agar kamu tidak curiga dengan kondisi kami keesokan paginya. Agar kamu tetap merasa kita keluarga utuh dan bahagia. Kamu benar, kami bukan aktor yang baik karena tahun\-tahun terlewat begitu semu. Kamu berhak marah, tapi bunda mohon dengan sangat agar kamu mau memaklumi keadaan kami. Bagi seorang ibu, anak adalah separuh nyawanya. Jika kamu terluka maka separuh nyawa bunda juga terluka. Bunda tahu, bunda bukan ibu sempurna dan tidak bisa menjadi sempurna bagi kamu. Mungkin hanya dari ungkapan menerima sebuah permintamaafan, bunda merasa telah kembali menjadi ibu sempurna.” mata bunda membanjir saat berdiri di dekat Rai.
Papa segera menyingkir, memberi ruang untuk Rai dan bunda.
Hari itu Rai sebenarnya ingin marah dan meledak-ledak dengan kedua orang tuanya. Ia telah merancang skenario dan berulang kali merangkai kata-kata pedas serta tajam sebagai luapan kemarahannya.
Tapi kini, ketika dua sosok yang dicintainya, yang membesarkannya dan yang telah membuatnya ada disini memohon kepadanya untuk diberi maaf. Orang seperti apakah dirinya, atau sesombong apakah dia? sehingga berani menolak permintaan maaf bunda dan papa.
Tak sepantasnya orang tua memohon-mohon kepada sang anak meskipun itu hanya sebuah kata maaf. Tak sepantasnya anak bersikap angkuh dan mengabaikan permohonan orang tuanya. Rai tak kuasa menahan air mata, dia terisak dan membentangkan lengan ingin memeluk ibunya. Semua skenario yang telah direncanakan gagal total tak sesuai harapan.
Namun, ia tak merasa menyesal sedikitpun dengan bersikap 180 derajat berbeda dari ambisi awalnya. Bunda membalas pelukan gadis nomor satunya.
“Iya, Rai maafin bunda. Rai maafin kalian semua,” ujar Rai dengan hati lapang.
Meskipun kedua orang tua Rai telah bercerai, kini Rai bisa merasakan keutuhan keluarga sesungguhnya. Airmata mereka bertiga adalah airmata tulus sebuah keluarga yang mengalir mengawal kisah baru menuju kebahagiaan. Adegan haru itu sungguh menyenangkan untuk dilihat. Dan kehangatan itu kembali menyeruak.
Malam menampakkan dirinya perlahan setelah diantar oleh senja panjang.
Tanpa terasa, dinding-dinding rumah bergaya Mediterania nomor 17/A yang berjarak sepuluh kilo meter dari rumah sakit Raisya berada, kembali hidup. Dinding-dinding bisu itu kembali berdiri kokoh dan siap menyambut cerita baru kehidupan keluarga yang penuh sukacita.