1001 For 1 First Love

1001 For 1 First Love
Sebuah Tegar



“Kalau bukan teman SD lantas?” tanya Vania setelah mendengar hasil inspeksi dari Rai kemarin.


“Gue juga heran. Apa mungkin dia dulu tetangga gue ya?” Rai mencari dukungan jawaban.


“Nah, lo kan udah punya fotonya. Gimana kalau elo keliling kompleks buat tanya ke tetangga elo. Mungkin aja kenal.” Vania memberi ide.


Rai manggut-manggut menyetujui usul itu. Meskipun sedikit ragu akan hal itu, karena sifat para penghuni kompleks perumahan tersebut sangat introvert serta individualisme dan jarang sekali berada di rumahpada jam-jam tersebut.


Siang hari, sepulang sekolah Rai dan Vania bertamu dari satu rumah ke rumah lain satu blok di daerah perumahan. Hasilnya nihil. Nihil karena banyak alasan, ada yang rumah sedang kosong tidak ada orang, ada yang menjawab tidak tahu dan tidak ingat. Persis seperti yang diperkirakan Rai sebelumnya.


Vania selonjoran di sofa ruang tamu sambil menyruput es jeruknya. Dia mengibas-ngibaskan tangan setelah kepanasan dan lelah.


“Gue tahu!” Rai berteriak melonjak gembira. Vania tersedak saking kagetnya.


“Apaan sih Rai?” Vania kesal karena baru melepas lelah.


“Gue tahu siapa yang harus ditanyai? Ayo Van.” Rai menarik tangan Vania.


“Eh bentar donk, gue baru aja istirahat.” tapi Vaniapun mengikuti langkah kaki Rai juga.


Rai berjalan memutar dan dia menuju sebuah rumah yang tepat berada di belakang rumahnya. Tipe rumah setingkat dibawah rumahnya. Rumah 17/B. Rai memencet bel rumah. Setelah dua kali bel akhirnya pembantu yang diharapkan datang juga.


“Oh non Rai. Ada apa ya? Gak ada orang di rumah. Cuma saya aja,” kata pembantu yang seusia bik Inah.


“Rai boleh masuk dulu gak, Bik?”


“Oh ya silahkan.” Mereka duduk di ruang tamu. Vania menyikut rusuk Rai sambil berbisik. Rai tak menggubris.


“Saya mau ketemu sama bibik,” kata Rai. Bibik pembantu rumah heran.


“Ada apa ya, Non?”


“Emm.. gini, bibik kan sudah lama disini, sama seperti bik Inah. Dulu sewaktu saya kecil, bibik kan suka main ke rumah saya ngobrol sama bik Inah.” Rai berhenti sebentar mengatur napas. Si bibik manggut-manggut. Kemudian Rai melanjutkan, “Tentunya bibik tahu segala sesuatu di rumah saya dulu. Apa..bibik tahu siapa anak laki-laki ini?” Rai menunjukkan foto dirinya dengan seorang anak cowok.


Bibik mengerutkan kening, matanya menyipit mencoba melihat dengan jelas. Kemudian dia menelan ludah dan mengembalikan foto tersebut. Dia tidak berkomentar.


“Kenapa bik? Bibik pasti kenal dan tahu kan siapa anak ini?” Rai bertanya dengan serius. Sayangnya sang bibik menggeleng pelan.


“Maaf non, saya kurang tahu.”


“Bik.. tidak mungkin bibik tidak tahu. Memangnya ada apa? Kenapa semua orang berusaha menyembunyikan sesuatu dari Rai?” Rai meratap. Si bibik ragu.


“Siapa yang gak ngijinin bibik? Tolonglah ada sesuatu penting yang harus saya selesaikan dengan anak ini.” Rai mengenggam tangan bibik. Tangan bibik berkeringat dingin dan Rai bisa merasakannya. “Hanya bibik yang bisa saya harapkan saat ini. Ada misteri yang harus dipecahkan. Bibik salah satu kuncinya.” Rai melanjutkan. Bibik menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


“Dia dulu... anak itu berna-ma..Tegar. Dia tetangga yang ada di rumah 12/A. Dia lebih tua dari non. Dan kalian dulu bermain bersama-sama setiap hari. Sangat dekat sekali. Tapi, kemudian dia pindah ke Surabaya setelah papanya meninggal dan keluarganya bangkrut.” Bibir bibik bergetar.


Anehnya saat bibik bercerita, seolah dalam bayangan Rai terihat sebuah layar yang tergambar dengan jelas kejadian sepuluh tahun yang lalu. Ingatannya seolah tertarik ke dalam. Kilatan-kilatan masa kecilnya menjadi sangat nyata. Tak sekedar hitam-putih dalam mimpi. Hanya sesaat saja, kemudian kepalanya kembali terasa pusing.


Rai berkeringat dingin, dia memejamkan mata sebentar berusaha menenangkan kondisinya. Rai merasakan sesuatu dalam perutnya yang bergejolak. Tubuhnya menggigil dan napasnya tak beraturan.


“Lalu, Bik?” tanya Rai dengan wajah memucat.


“Lalu apanya, Non? saya hanya bisa menjelaskan sampai disini saja.”


“Bik..pasti ada kelanjutan ceritanya. Tolong teruskan...” Rai mendesak, ia sudah sangat kelelahan. Sang bibik nampak terpojok.


“Rai...udah cukup,” kata Vania sambil memegang lengan Rai. Rai menoleh pada Vania. Vania menggeleng. “Kasihan bibik. Jangan memaksa. Setidaknya kita tahu siapa nama anak itu dan dimana dia sekarang,” lanjutnya.


Rai mendengus pasrah. Setelah berterima kasih atas secuplik info berharga, mereka berpamitan pulang. Sepanjang perjalanan menuju rumah, mereka saling membisu.


Entah mengapa tiba-tiba Rai merasa sangat kelelahan dan kepalanya terasa pusing serta berputar-putar. Vania sibuk dengan pikirannya sendiri tentang rasa penasaran akan penjelasan bibik pembantu rumah tangga tersebut.


“Tenang Rai. Setidaknya kita mendapatkan sesuatu hari ini,” Vania menghibur sambil menepuk bahu sohibnya. Rai masih membisu.


“Rai.. lo gak pa-pa ?” Vania bertanya cemas melihat wajah putih Rai yang memucat.


Keringat mengucur terus dari wajahnya. Lagi pula, sedari tadi Rai terus-terusan memegangi kening. Rai tak menjawab. Tiba-tiba tubuhnya terasa berat sehingga keseimbangannya berkurang dan ia nyaris jatuh yang untungnya segera ditahan oleh Vania.


“Raisya... elo baik-baik aja kan?”


“Gak pa-pa Van. Cuma, kepala gue pusing banget rasanya. Sori ya Van, kayaknya gue mau istirahat aja di kamar. Gue gak bisa anterin elo pulang.” Rai memegang keningnya lagi dan memijat ringan.


“Oh iya gak pa-pa. Mungkin elo agak syok dan kecapean. Gue bisa naik taksi.”


Rai tak mengantar Vania keluar pintu karena ia segera masuk ke dalam kamar lalu merebahkan tubuhnya. Vania yang kebetulan berpapasan dengan bik Inah saat akan keluar rumah dan menutup pintu, berpesan agar melihat kondisi Raisya.


Vania cemas dengan kondisi Rai yang tidak stabil itu akhir-akhir ini. Vania mencurigai bahwa kemungkinan Rai mengalami stress berat akibat mimpi-mimpi aneh itu dan ketidakharmonisan hubungan Rai dengan orangtuanya.


Vania sangat ingin memberitahukan kondisi Rai pada Zac, namun ia teringat permintaan Rai untuk tidak mengatakan apapun kepada Zac tentang yang mereka lakukan. Vania tahu, jika ia mengabarkan kondisi kesehatan Rai, maka Zac akan mengorek segala informasi tentang kegiatan yang dilakukan oleh Raisya. Bisa jadi mimpi atau persoalan mengenai Tegar-teman masa kecil Rai akan terbongkar juga.