1001 For 1 First Love

1001 For 1 First Love
Rahasia atau Sayang?



Tepat jam delapan, setelah makan malam, bunda masuk ke dalam kamar beristirahat. Rai kembali ke kamarnya entah menonton televisi atau belajar, sedangkan bik Inah segera tidur. Kehidupan kembali hening dalam rumah besar ini. Penghuni-penghuninya hanya berbicara dan bercengkrama disaat-saat makan saja.


Fungsi ruang keluarga sudah lama tak terpakai, sedangkan ruang tamu sangat jarang kecuali ada klien bunda yang sangat mendesak hingga harus datang ke rumah dan bukan di kantor law firm tempatnya bekerja.


Rai sedang belajar dan entah mengapa ia terusik dengan foto-foto aneh yang ditunjukkan Vania. Dia mencoba membuka-buka buku Kimia, akan tetapi pikirannya tidak bisa fokus.


Molekul-molekul Hidrogen yang menyatu dengan Oksigen seharusnya mudah untuk dirumuskan, akan tetapi ia melihat bahwa perpaduan huruf-huruf dan angka beserta sederet tabel periodik seolah menari-nari tidak karuan, mengganggu konsentrasinya.


Rai menuruni tangga dan kembali membuka album foto semasa kecilnya. Dia menemukan banyak sekali fotonya ketika berusia enam tahun bersama seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun dengan wajah yang buram atau mungkin benar kata Vania, sengaja diburamkan. Rai melepas salah satu foto tersebut dari album.


Tok.tok.tok. Pintu kamar bunda diketuk pelan.


“Iya masuk,” sahut bunda dalam kamar.


Rai perlahan membuka pintu.“Ada apa sayang?” tanya bunda tanpa melirik kearah Rai dan masih serius dengan laptopnya.


“Bunda gak tidur?” tanya Rai bernada kesal, melihat sang bunda yang masih saja bekerja padahal sudah berada dalam rumah dan seharusnya memanfaatkan waktu istirahat.


“Banyak yang harus diselesaikan sayang. Ada apa?” mata bunda masih fokus membaca file Legal Opinion seorang ahli sebagai bahan rujukan untuk kliennya.


Pekerjaan sebagai pengacara membuatnya sangat sibuk dan jarang di rumah. Terutama awal-awal ketika Rai memasuki SMP. Karier bunda melejit sebagai kuasa hukum.


Sehingga sejak saat itulah kehangatan hubungannya dengan Rai agak renggang. Kehangatan hubungan ibu dan anak terhalang oleh suatu jarak dan intensitas waktu yang sulit sekali disatukan, meski mereka hidup dalam satu atap.


Mereka hanya benar-benar bertatap muka untuk waktu yang lama saat di meja makan pada pagi dan malamnya. Sekitar sepuluh hingga lima belas menit masing-masing waktu.


Di meja makan? Ah, bunda saja sering keluar kota dan menginap beberapa hari demi sidang kliennya, jadi sarapan dan makan malampun Rai seorang diri.


“Bunda...bisa gak untuk sekali ini saja. Bunda tidur lebih awal. Rai udah lama gak mencium aroma bunda ketika mau tidur,” pinta Rai dengan hati-hati dan merasa sungkan.


Bunda berhenti mengetik, kali ini matanya melihat ke arah putri semata wayangnya. Ia berpikir sejenak, heran dengan permintaan Rai yang tiba-tiba dan serasa segan.


Segan? Ah, Rai-kan darah dagingnya sendiri. Kenapa harus segan?


Bunda menghembuskan napas panjang dan mematikan laptop. Mungkin benar, ia butuh saat-saat dalam pelukan hangat bersama putrinya meski Rai bukan bayi dalam gendongan lagi. Ia juga merasakan dingin dan kekakuan diantara mereka sejak lama.


“Apa sih yang gak buat princess bunda!” kata bunda sambil tersenyum hangat.


Seusai merapikan berkas-berkas klien dan meletakkan laptop di meja kecil sebelah ranjang, bunda melebarkan lengan menyambut sang buah hati.


Rai naik ke ranjang bunda dan memeluk ibunya. Dinding kekakuan diantara mereka, teraliri cinta hangat sosok ibu ketika mendekap darah dagingnya. Mencairkan hubungan dingin yang berlarut-larut itu. Bunda mengelus rambut hitam Rai. Ia mencium ubun-ubun putrinya.


Sudah lama sekali ia tak melakukan ini. Entah karena dirinya yang sibuk atau putri remajanya ini semakin beranjak dewasa dan lebih nyaman bersama teman-teman dan dunianya.


“Princess bunda udah besar ya, tapi masih manja-manjaan.” Bunda mendesah rindu. Matanya sedikit berkaca-kaca penuh haru. Mereka berpaut dalam kemesraan ibu dan anak.


Rai bisa merasakan desiran hangat itu. Ia juga merasa sangat lama tak berada dekat-dekat dengan ibunya. Rai bertanya heran, kenapa semua ini begitu menyenangkan dan menentramkan hatinya.


“Bunda, aku pengen denger cerita waktu kecil kayak gimana sih?” Rai berbicara pelan dan manja.


Rai tersenyum dan masih dalam pelukan ibunya. “Rai punya banyak teman gak?”


“Teman kamu banyak sayang. Karena kamu suka sekali menolong dan memberi orang lain. Ketika ulang tahun, bunda sampai bingung karena rumah ini penuh sesak sama teman-teman kamu.” Bunda merapatkan pelukannya dan menepuk-nepuk pelan punggung putri semata wayang tersebut.


“Rai punya teman dekat yang spesial gak, Bun?”


“Semua teman kamu itu dekat dengan kamu. Kamu kan gak pilih-pilih teman.”


“Trus, kalau memang Rai gak punya teman yang benar-benar dekat, kenapa ada foto Rai yang selalu dengan anak ini bun?” Rai menunjukkan foto yang terlipat dalam genggamannya, ia ingin curhat sebagai anak kepada ibunya.


Namun, Rai merasakan bahwa tubuh Bunda tiba-tiba terasa gemetar dan berkeringat. Ia menelan ludah yang kering, merasakan suatu penghalang datang merusak kemesraan mereka.


Bunda melepaskan pelukannya, duduk dan mengambil foto dari tangan Rai. Bunda mengerutkan keningnya, meremas foto tersebut sambil berkata, “Udah malam sayang ayo tidur.” Bunda berusaha mengontrol diri. Kehangatan yang tak lebih dari sepuluh menit itu telah berakhir sekarang.


“Bunda belum jawab pertanyaan Rai. Siapa foto anak itu? apa itu teman Rai? kenapa semua wajahnya buram bahkan ada juga yang dicorat-coret.” Rai berterus terang yang malah membuat bunda tak senang dan raut mukanya berubah merah padam diikuti gemetar disekujur tubuhnya.


Bunda tampak gelisah. “Rai, bunda pernah bilang jangan pernah obrak-abrik album foto,” kata bunda bernada pelan. Masih berusaha mengontrol diri.


“Kenapa sih Rai gak boleh lihat album foto? Apa ada sesuatu yang bunda sembunyikan dari Rai?” Rai menjadi berontak karena merasa ada yang aneh.


“Rai!! Masuk kamar Kamu!” bentak bunda tiba-tiba dengan suara bergetar. Ia sudah lepas kendali sekarang.


Rai tersentak begitu kagetnya terhadap perubahan sikap hangat dan lembut menjadi amarah dalam diri bunda. Sifat tempramen dari sang bunda menurun pula pada dirinya, hingga ia pergi sambil melemparkan bantal ke lantai karena kesal.


Rai benar-benar dongkol dengan sikap bunda jika menyangkut tentang album foto. Hanya sebuah album foto saja, sang bunda menjadi naik darah. Dan itu merusak mood mereka berdua. Hanya sebuah foto!


Ada sesuatu yang terasa aneh dari sebuah foto.


***


Esok pagi, Rai melihat bunda membawa kantong plastik besar, sepertinya itu adalah album-album foto kemarin yang telah dilihatnya. Bunda membawa keluar dan masuk rumah dengan tangan kosong.


Rai semakin curiga terhadap bunda, dia penasaran dengan alasan bunda yang tidak menyukai album foto tersebut. Ada gambar siapakah disana? Adakah seseorang yang dibenci bunda? Dan semua itu hanyalah foto-foto dari album semasa dirinya masih kecil. Otaknya terus menginterogasi dalam diam.


Rai dan bunda sarapan dalam diam. Ia pergi sekolah tanpa pamit.


Jakarta dihembus pagi dengan gerimis. Awal musim penghujan didesak oleh kebutuhan akan multivitamin, payung, jas hujan dan ramailah penjual-penjual minuman hangat. Sesampainya di sekolah dia menceritakan semua kejadian semalam pada Vania. Vania manggut-manggut dan sama curiganya dengan Rai mengenai sikap bunda.


“Mungkin tante Nita punya kenangan menyakitkan tentang foto-foto disitu. Coba kamu cari tahu deh,” saran Vania.


Rai merenungi perkataan Vania. Ada sesuatu yang bunda coba sembunyikan dari Rai, yaitu tentang masa kecilnya. Akan tetapi kenapa bunda benci dengan masa kecilnya? Apa yang dilakukannya semasa kecil hingga membuat bunda tersakiti? Apa yang salah dengan foto-foto semasa kecilnya? Atau adakah teman Rai yang dulunya membuat kesalahan? Tapi ini sudah berjalan bertahun-tahun.


Tidak bisakah bunda melupakan kesalahan teman Rai tersebut? Bukankah mereka hanyalah anak-anak kecil polos dan tak berdosa? Tanda tanya besar menaungi kepala Rai, dan dia harus mencari tahu hal itu.


***