1001 For 1 First Love

1001 For 1 First Love
Broken Home



“Papa selalu nyalahkan bunda. Padahal bunda gak hanya di rumah aja. Bunda juga sibuk kerja!” bunda nyaris berteriak. Dia membanting tas kerjanya di sofa.


“Bunda seharusnya lebih banyak di rumah dan mengurus keluarga. Sekarang nilai-nilai Rai anjlok. Apa kamu gak ngerti juga tugas wajib kamu sebagai istri dan ibu?” papa balas berteriak.


Rai ketakutan setengah mati mendengar dibalik pintu.


Berhari-hari semenjak kepergian Tegar, kedua orang tuanya yang memang sibuk bekerja dan jarang di rumah jadi sering bertengkar. Rai begitu benci dengan semua orang disekitarnya. Bunda, papa dan kak Tegar yang telah membuatnya sedih.


----


“Rai...bunda dan papa sudah berpisah. Rai mau ikut siapa? Bunda atau papa?” kata sang bunda suatu hari.


Rai cemberut. Dia menahan airmatanya agar tidak jatuh. Meskipun belum begitu mengerti tentang arti perpisahan kedua orang tuanya, dia paham bahwa keluarganya tidak akan seperti dulu lagi.


“Rai gak mau ikut siapapun. Rai benci bunda. Rai benci papa. Rai benci kalian semua. Tidak ada yang sayang dengan Rai. semua meninggalkan Rai!”


Raisya kecil menangis terisak sambil berlari keluar rumah. Dia menuju jalan raya sambil terus mengusap matanya dengan lengan baju. Bunda mengejar dari belakang. Akan tetapi Rai tidak melihat ada sebuah mobil yang melaju kencang. Dan BRAKK!!.


***


Vania mendorong brankar sambil terisak. Dia tampak menyesal dengan apa yang diucapkan dan yang terjadi saat itu. Ketika Rai tiba-tiba pingsan dan lama tak sadarkan diri, pak Arga dengan tante Maya dan Keyla langsung menghampiri mereka.


Setelah suster membawa ke dalam ICU, Vania segera menghubungi tante Nita.


Pak Arga tampak mondar-mandir cemas. Dia khawatir keadaan Rai memburuk akibat apa yang telah diketahui dan dilihatnya. Keyla merengek pada mamanya yang tertunduk pasrah. Tak lama kemudian bunda datang tergopoh-gopoh.


“Ada apa sebenarnya? kenapa Rai gak bisa sadar dari pingsannya? dan kenapa harus masuk ICU?” bunda memberondong pertanyaan saking bingungnya.



“Tenang tante,” jawab Vania kewalahan.



“Ini semua..sepertinya, Rai sudah tahu segalanya,” sahut papa tiba\-tiba.


Dada bunda terasa sesak, jantungnya berdegup keras. Tubuhnya merosot, Vania segera membopongnya untuk duduk. Tangan bunda gemetar, sedetik kemudian dia menangis. Vania semakin bingung dengan kondisi yang ada saat ini, dia hanya bisa meminjamkan bahunya tempat bunda menangis.


Dua jam terasa bertahun-tahun bagi mereka. Tak ada yang keluar dari ruang ICU. Wajah mereka nampak gelisah.



“Kata dokter, saat Rai jatuh pingsan kepalanya membentur lantai dengan keras, sehingga terjadi penggumpalan darah dalam otak atau hematoma yang menyebabkan penyumbatan, jadi harus dioperasi,” perjelas Vania.



“Kenapa baru bilang kalau saat ini Rai sedang operasi?” bunda setengah marah.


Vania terdiam semakin merasa bersalah.


Bunda meremas-remas jemari yang berkeringat dingin dan tak berhenti terisak. Sebuah langkah kecil nan ringan terdengar mendekat ke arah bunda.


“Tante...berdoa saja ya buat kak Raisya,” kata Keyla tiba\-tiba dengan wajah polos ditengah sisa isak tangisnya. “Kita semua sayang sama kak Rai kok. Semoga kak Rai cepat sembuh,” lanjutnya.


Bunda mengusap ujung-ujung matanya. Anak dari mantan suaminya itu terlihat tulus. Dia tak tahu sejak kapan Rai dan anak itu saling mengenal.


Setidaknya, perkataan si kecil sedikit menghiburnya. Bunda tersenyum pahit kepada Keyla. Dan mengangguk sebagai ungkapan terima kasih. Tante Maya hanya membisu, wajahnya nampak murung sekali dan terlihat penyesalan dalam dirinya.


Semenit kemudian dokter keluar dari ruangan melepas masker yang menutupinya.


“Bagaimana dok?” tanya bunda berharap.



“Operasinya lancar, masa kritisnya usai. Sebentar lagi dia bisa dipindahkan ke kamar biasa.”



“Kapan dia sadar, dok?” papa balik bertanya.



“Mungkin tiga hari. Bisa juga lebih,” jawab dokter.


Sesaat kemudian dua orang perawat mendorong brankar. Tubuh Rai masih tergolek lemah. Berbagai macam alat bantu pernapasan tertempel di tubuhnya. Mereka mengikuti Rai yang dibawa masuk ke kamar VIP.