
Lho kok gak jadi nonton?” tanya papa heran setelah berjalan mendekat.
“Iya. Rai tiba-tiba gak mood aja. Pa, ada yang ingin Rai tanyakan sama papa.”
“Tanya apa?” papa memasukkan kedua tangannya dalam saku celana menghadapi Rai penuh minat.
“Rai baru sadar, kalau papa sama bunda sudah tidak pernah hidup bersama lagi. Apa yang sebenarnya terjadi?”
Papa tampak gelagapan. “Haha, papa kan memang sibuk bekerja begitu juga dengan bunda kamu.”
“Pa, papa gak usah bohongi Rai lagi. Apa yang sebenarnya terjadi? Rai bukan anak kecil yang bisa ditipu dengan alasan pekerjaan. Ini gak wajar, papa gak pernah tinggal di rumah, tiap lebaran Rai harus jadi barang pinjaman yang bisa digotong ke rumah nenek Yatri dan nenek Sumi secara bergantian oleh kalian. Dan kenapa bunda selalu marah ketika Rai melihat-lihat album foto semasa Rai kecil? apakah sewaktu kecil Rai punya masa lalu buruk hingga kalian seperti ini?” Rai langsung menohok dengan amat jelas. Ia memang amat jenius hingga langsung beranalisis demikian.
“Rai..kamu jangan salah paham dulu. Tidak terjadi apa-apa. Papa memang tidak bisa tinggal dengan kalian seperti biasanya. Rai, lihat papa. Percaya sama papa. Papa tidak menyembunyikan apapun dari kamu. Begitu juga bunda. Kita semua keluarga bahagia dan baik-baik saja. Urusan pekerjaanlah yang membuat kita jarang berkumpul.”
“Ah, papa dan bunda sama aja. Kalian semua gak ada yang jujur dengan Rai. Gak ada yang bisa dipercaya di keluarga ini. Keluarga kita itu kayak gak normal. Apa sih yang sebenarnya terjadi? semua seolah sandiwara.” Rai mulai berteriak dan melipat tangan.
Papanya terdiam.
Meski sangat jarang melihat dan memantau perkembangan putrinya, ia sangat paham bahwa emosi Rai belum stabil.
“Papa antar kamu pulang.” Papa mendengus lelah.
“Rai gak akan pulang sebelum papa bilang semuanya.”
“Gak ada yang perlu dijelasin. Rai, besok papa harus bekerja. Papa kesini ingin senang-senang dengan putri papa. Bukan malah ribut kayak gini.” papa membentak Rai sama kerasnya.
Kening lebar papa yang selalu terlihat ramah kini nampak menakutkan. Rai tak berani berdebat lebih jauh. Nyalinya menciut. Papanya adalah sosok yang sabar, murah senyum dan jarang marah. Akan tetapi, sekali marah membuatnya tak sanggup bicara lagi. Tak ada keberanian untuk melawan sang papa. Rai mengikuti papa masuk ke dalam mobil.
Dalam mobil mereka membisu. Ada rasa sesal dalam diri Rai karena memulai pertengkaran yang seharusnya diisi dengan kehangatan dan kerinduan antara dirinya dan papa. Tapi nuraninya berontak untuk menyadari keadaan yang serba aneh.
Rai tak akan menyerah begitu saja. Dia akan mencari tahu yang terjadi selama ini dalam keluarganya. Rai semakin sebal dengan dengan kondisinya saat ini.
Mimpi aneh yang menyerangnya tiap malam, sakit kepala yang sering kambuh dan ditambah masalah keluarga. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada yang salah dengan dirinya? Itulah yang selalu terbersit.
***
Raisya berlari-lari kecil menyusul Vania yang sedang berjalan menuju toilet perempuan. Pagi itu, Vania hanya ingin bersolek di depan cermin toilet selagi menunggu bel masuk.
Ketika Rai sampai di kelas dan mendapati sahabatnya yang pergi ke toilet dan ia yang tak sabar untuk menunggu sekembalinya Vania, Rai segera menyusulnya. Vania sedang merapikan seragam putih abu-abunya. Ia sedikit terperanjat ketika Rai datang tiba-tiba dengan napas ngos-ngosan.
“Gimana nih Van?” Tanya Rai setelah berhasil menguasai pernapasan.
“Gimana apanya?” Vania mengangkat kedua alisnya heran dengan sahabatnya.
“Bunda udah membumi hanguskan semua album di rumah.” Rai menaruh dagunya diatas bangku saat istirahat.
“What? maksud lo di bakar gitu? atau di bom?”
“Ya gak segitunya keles. Cuma kemarin gue lihat bunda udah menyimpan atau buang tuh album. Semuanya dan gak tersisa sedikitpun.”
“Eh lo dulu TK dan SD mana sih?”
“Napa tanya sekolah kecil gue?”
“Yaelah non. Kan, kita bisa tanya guru-guru elo disana.” Rai mengangkat wajahnya.
“Bener juga ya Van. Wah jenius lo.”
“Hm.. Vania gitu. Urusan gini mah kecil.” Vania membusungkan dada dan menjentikkan kuku jarinya.
“Tapi..., TK ma SD gue dulu dimana ya Van?” Rai bertanya polos.
“Gubrakk. Duh elo minggat aja deh mendingan. Masa’ sekolah lo sendiri lupa sih?”
“Heheh... bercanda non. TK gue di Harapan Jaya, SD nya Pelangi. Masa’ gue segitu begonya.”
“Huh.. ya udah habis pulang sekolah kita on the way kesana.” Rai mengangguk setuju.
***
Siang hari seusai jam pelajaran berakhir, mereka meluncur ke sekolah Rai yang dulu. Jalanan kota Jakarta sangat padat. Rai berulang kali memainkan klakson dengan kesal.
“Sabar non. Berapa tahun sih lo hidup di Jakarta. Kayak orang baru pindahan aja,” celetuk Vania terkekeh.
Rai menggerutu tak jelas dan Vania masih asyik mengutak-atik Blackberrynya. Setelah memasuki gerbang sekolah TK, Rai dan Vania langsung menuju ruang guru.
“Busyet dah ini TK apa bukan sih? elit banget. Kalau kayak gini gue betah jadi anak TK terus,” kata Vania saat melihat gedung sekolah Rai. Rai tersenyum kecil.
“Ya udah jadi bayi babon lo disini. Hahaha,” ledek Rai.
“ Yee...biarin atuh.”
“Emm.. permisi bu. Saya mau tanya apa ibu Nastiti masih mengajar disini?” tanya Rai pada kedua guru tersebut.
“Maksudnya ibu Nastiti Maharani yang punya tahi lalat manis di atas alisnya?”
Rai sedikit mengingat. Kemudian dia mengangguk membenarkan.
“Wah.. baru kemarin beliau sudah meninggal dunia karena sakit.”
Seperti kilat yang menyambar disiang bolong. Serentak Rai dan Vania mengucap “Innalillahi wa inna ilaihi ro jiuun”.
“Memangnya sakit apa bu?” Rai penasaran.
Airmatanya hampir berlinang. Bu Nastiti adalah guru yang berusia lima puluh tahun saat Rai masih TK. Beliau sangat ramah dan sabar, guru kesayangan Rai. Wajahnya yang bersinar ceria dengan tahi lalat manis di atas alis membuatnya masih tampak muda meski usia lanjut.
“Faktor usia mungkin mbak. Kan, tahun ini beliau sebenarnya mau pensiun. Belum sempat pensiun sudah meninggal duluan.” Rai dan Vania manggut-manggut sedih.
“Oh kalau gitu kami pamit dulu bu. Terima kasih infonya, maaf mengganggu,” kata Rai.
“Lho, mbak sebenarnya ada alasan apa mencari bu Nastiti?” tanya salah seorang guru tersebut.
“Em.. saya dulu muridnya bu Nastiti dan kebetulan dekat sekali dengan beliau. Ada yang ingin saya tanyakan. Tapi beliaunya udah gak ada.”
“Memangnya mbak mau tanya apa?”
Rai tampak kebingungan. “Sebenarnya bukan masalah besar. Cuma saya ingin tahu data-data tentang teman sekolah saya dulu. Saya ingin mengadakan reuni.” Rai berbohong. Vania menyikut rusuknya, akan tetapi Rai mengedikkan mata.
“Oh.. kalau gitu jangan khawatir mbak. Kalian bisa lihat data-data siswa disini. Berkas-berkasnya masih ada kok di gudang penyimpanan data.”
“Kami bisa lihat-lihat bu?” tanya Vania.
“Ya. Silahkan. Tapi jangan dirusak, dibredel atau jangan sampai tercecer ya. Itu dokumen lama, soalnya belum sempat dipindah ke softcopy,” ujar bu guru.
Mereka mengangguk paham dan diantar ke gudang penyimpanan dokumen. Terdapat rak-rak besar dan tinggi. Ruangan remang-remang itu sedikit berdebu.
“Saya tinggalkan ya.”
***
Mereka mulai mencari-cari dokumen siswa tahun 2004. Vania mengobrak-abrik secara kasar dalam dus yang telah ditemukan.
“Van, itu dokumen penting jangan sembarang.” Rai mengingatkan. Vania menyeringai lebar.
“Aha!!! Ketemu Rai. Ini catatan siswa tahun 2004.” Ada foto dan data diri pada masing-masing siswa. “Eh tapi ngomong-ngomong lo ingat gak nama sama wajahnya dia?” tanya Vania. Rai menggeleng polos.
“Ya ampun Rai. Sampai lebaran monyet juga gak bakal kita nemukan meskipun diobrak-abrik seluruh isi gudang ini. Gak ada petunjuknya.” Vania menepuk jidatnya dan gemas sekali dengan otak jenius sahabatnya yang terkadang lola juga.
“Lha trus gimana dong? masalahnya semua foto udah dilenyapin ma bunda. Eh tapi gue masih ingat samar-samar sih. Pokoknya dia sekitar dua tahun lebih tua dari gue.”
“Berarti dia kakak kelas elo. kalau elo tahun 2004 berarti dia angkatan sekitar tahun 2003 atau tahun 2002.” Rai mengangguk.
Mereka mencoba menelusuri kembali rak besar dan tinggi tersebut, mencari dus dokumen tahun 2003 dan 2002.
“Maaf mbak. Ini sudah kesorean. Sekolah mau tutup”. Tegur bu guru tiba-tiba.
“Tapi kami belum menemukannya bu,” celetuk Vania.
“Lho, lha itu dus dokumen 2004. Kan tadi kamu bilang cari yang sekitar sepuluh tahun lalu?”
“Eh oh iya bu. Heheh...” jawab Vania.
“Kalau sepuluh tahun yang lalu mestinya kalian usia tujuh tahun ya? lho seharusnya kalian cari sekitar sebelas atau dua belas tahun lalu. Kalian usia tujuh tahun itu udah usia SD. Bukan anak TK lagi.”
“Ya ampun.” Serentak Vania dan Rai menepuk jidat mereka masing-masing. Kemudian mereka bertiga tertawa bersamaan atas kelalaian itu.
“Ya udah bu. Kalau gitu kami pamit dulu. Terima kasih ya bu. Permisi.” Rai segera menarik tangan Vania untuk keluar. Bu guru tersebut hanya menggeleng heran sambil masih menahan senyum.
“Gimana sih. Harusnya kita langsung ke SD gue.” Rai sewot dengan Vania.
“Heheh maaf Rai. Oke-oke kita kesana, elo juga yang punya sekolah gak nyadar.”
“Tapi ini udah jam empat. Kesorean kita kesana. Mending besok aja.”
“Okelah non. Up to you. Tapi, gue laper banget nih.”
“Iya,iya gue traktir makan,” kata Rai. Vania menyeringai lebar.
Pencarian mereka layaknya tim termehek-mehek terhenti sampai disitu. Pada hari pertama mereka belum menemukan apa-apa. Setidaknya petunjuk remeh-temeh tentang usia sekolah.
***