
*12 Mei 2004
Hai Rai... apa kabar? sudah satu bulan aku pindah. Maaf baru sekarang aku mengirim surat untuk kamu. Surabaya sama seperti Jakarta. Penuh sesak dan panas.
Bagaimana dengan bangau kertas yang sudah kamu buat ? apa kamu sudah mahir membuatnya? Rai.. meskipun berpisah dengan jarak yang sangat jauh, kamu adalah sahabat terbaik yang aku punya.
Kamu selalu ada di hati aku. Jangan sedih ya. Selalu tersenyum.. oh iya, kamu harus balas suratku ini. Bulan depan aku akan mengirimi
Salam,
Tegar*
Itu adalah surat pertama yang dikirim Tegar. Anehnya, kenapa surat itu tidak sampai ke tangannya. Kenapa bunda menyembunyikan surat sederhana semacam ini? hati Rai terus saja terusik dengan pertanyaan yang menghantuinya. Dia kemudian membaca surat kedua cepat-cepat.
12 Mei 2004
Hai Rai... apa kabar? sudah satu bulan aku pindah. Maaf baru sekarang aku mengirim surat untuk kamu. Surabaya sama seperti Jakarta. Penuh sesak dan panas. Bagaimana dengan bangau kertas yang sudah kamu buat ? apa kamu sudah mahir membuatnya? Rai.. meskipun berpisah dengan jarak yang sangat jauh, kamu adalah sahabat terbaik yang aku punya. Kamu selalu ada di hati aku. Jangan sedih ya. Selalu tersenyum.. oh iya, kamu harus balas suratku ini. Bulan depan aku akan mengirimi lagi
Salam,
Tegar
Itu adalah surat pertama yang dikirim Tegar. Anehnya, kenapa surat itu tidak sampai ke tangannya. Kenapa bunda menyembunyikan surat sederhana semacam ini? hati Rai terus saja terusik dengan pertanyaan yang menghantuinya. Dia kemudian membaca surat kedua cepat-cepat.
10 Agustus 2004
Maaf aku baru mengirimi kamu surat hari ini. Karena pada bulan Juni dan Juli aku harus belajar persiapan ujian kenaikan kelas. Bagaimana dengan rapor kamu Rai? oh ya kenapa suratku yang pertama belum dibalas Rai? kamu sudah pandai membaca dan menulis,Kan? Apa kamu masih marah dengan aku yang pindah ke Surabaya? tolong maafkan aku ya Rai. bagaimanapun juga kamu adalah teman terbaik yang selalu di hatiku. Kutunggu balasan suratmu ya...
Salam,
*Tegar*
*02 Nopember 2004
Rai....selamat ulang tahun. Semoga panjang umur. Hari ini adalah ulang tahun kamu yang ke delapan, kan? Aku berdoa agar kamu senantiasa sehat dan ceria selalu. Sebenarnya aku ingin main ke Jakarta untuk bisa memberi kejutan di ulang tahunmu. Sayangnya, kami belum punya cukup uang untuk bisa ke Jakarta. Ya... toko mama yang di Surabaya belum begitu maju. Makanya butuh uang banyak untuk kesana. Mungkin suratku ini mewakiliku dan seratus do’a yang aku ucapkan untukmu. Semoga kamu bahagia selamanya.
Salam,
Tegar*
Rai menghapus ujung\-ujung matanya. Dia merasa terharu dengan ketiga surat yang telah dikirim Tegar padanya. Dia mengingat\-ingat ulang tahunnya yang kedepalan. Tapi, bayangan itu terasa sulit untuk dibentuk. Rai menyimpan sisa surat tersebut dalam brankas pribadinya. Dia akan melanjutkan nanti.
***
Dalam kelas Rai sering sekali melamun. Dia membayangkan wajah Tegar saat dewasa kini. Dan begitu pula mengingat masa-masa indah ketika mereka bermain bersama. Akan tetapi, dia terusik dengan surat cerai atas nama sang papa.
Mungkin saja nama Arga Suherman adalah nama orang lain yang mirip dengan nama papanya. Rai mencoba menangkis jauh-jauh pikiran buruk tentang surat cerai itu, bahwa pastilah banyak orang bernama Arga Suherman, meskipun dalam hatinya masih sangat penasaran. Jika ada kesempatan dia akan mencoba membaca ulang surat cerai tersebut. Zac datang membawa senyuman hangat ditengah istirahat siang.
“Ke kantin yuk,” ajak Zac sambil menawari Vania. Rai menggeleng pelan. Dia tidak ada nafsu untuk jajan dikantin atau sekedar duduk\-duduk sambil menyruput jus.
“Lagi gak mood aja,” jawabnya. Zac mengerutkan kening heran.
“Kalau gitu entar kita jalan-jalan gimana? udah lama gak nonton kan?” tawar Zac mencoba mengembalikan mood Rai yang memburuk.
“Gak usah, lagi gak pengen ngapa\-ngapain!” Rai tampak sebal dengan Zac yang menurutnya terlalu memaksa. Zac manggut\-manggut meski dia heran. Akhirnya Zac berpamitan pergi, sebelum sang cewek semakin menjadi\-jadi dengan ketidak\-moodnya.
“Kenapa sih elo?” Vania setengah berbisik saat Zac melangkahkan kaki keluar kelas.
“Gak pa\-pa, kan gue bilang kalau lagi gak mood aja,” jawab Rai sekenanya. Entah kenapa dia merasa bosan dan jenuh pada Zac. Tak seperti biasanya. Dia hanya ingin cepat\-cepat pulang dan membaca surat\-surat itu.
***
Rai semakin sibuk dengan membaca-baca surat dari Tegar. Surat yang begitu singkat dan selalu terselip kata-kata yang menyenangkan, lucu, polos dari anak seusia SD saat itu.
Tanpa terasa Rai kembali menelusuri jejak-jejak kenangan sepuluh tahun lalu. Ada sesuatu yang tersentak dalam hatinya. Seolah itu perasaan bahagia yang luar biasa ketika selembar demi selembar surat dari Tegar ia baca.
Perasaan sangat bahagia, meski saat ini ia tidak tahu bagaimana rupa dan keadaan Tegar di tahun 2014 kini. Perasan itu adalah sebuah cinta, cinta lama yang bersemi kembali. Mungkin itu hanyalah sekedar cinta monyetnya ketika masih SD, akan tetapi saat ini Rai benar-benar merasakan getaran hati yang berbeda dan kuat. Hanya dari surat Tegar dia bisa merasakan ikatan cinta yang sangat luar biasa menyihir hatinya.
*02 Nopember 2010
Happy b’day Rai.... ini ultah yang ke 13 ya... wah kamu udah SMP.
Selamat ya. Aku senang kalau kamu masih semangat sekolah. Oh ya pertama-tama aku mau make a wish buat ultah kamu. aku harap kamu sehat selalu, aku harap kamu bahagia, aku harap kamu semakin rajin belajar, aku harap kamu semakin cantik, dan yang terakhir...aku harap semua harapanmu terkabulkan.
Oh ya Rai...maaf mungkin ini surat terakhirku. Mungkin aku sudah gak bisa menulis surat lagi. Sebelumnya aku juga minta maaf karena gak bisa nepati janji untuk menulis surat tiap bulan. Karena mama marah, gara-gara aku hanya bisa kirim surat ke kamu, sedangkan kamu tidak pernah membalas surat-suratku.
Ah, aku pikir kamu pasti sibuk dengan teman-teman barumu. Oh ya yang terpenting adalah bagaimana dengan bangau-bangau kertas kita? Sudah sebesar ini apa kamu udah mahir membuatnya? Jangan lupa untuk selalu menulis impian-impian kamu dulu sebelum melipatnya.
Aku harap dengan bangau kertas itu, kamu akan selalu ingat denganku. Dan dari bangau kertas itu adalah sebuah kenangan tentang kita. Mungkin ini saja yang bisa aku katakan. Sekali lagi aku minta maaf jika tidak bisa mengirimi surat lagi. Bukan karena alasan mama yang marah, karena ini ada sesuatu hal lain. Jika memang aku diberi kesempatan, aku akan menyempatkan untuk menulis lagi untukmu.
Salam kasih,
Tegar*
Jleb. Hati Rai terasa mencelos, ketika membaca surat terakhir dari Tegar.
Perasaan kehilangan luar biasa dalam dirinya. Entah kenapa selama ini dengan membaca surat Tegar secara berurutan seolah ikatan batin antara mereka yang telah terputus selama sepuluh tahun lamanya terjalin kembali.
Rai mencoba mengobrak-abrik tumpukan surat, mungkin ada surat yang terlewatkan. Tapi sia-sia. Semua sudah dibaca. Rai merasa hubungan dengan Tegar terputus begitu saja dengan berakhirnya surat yang dikirim.
Seminggu sudah Rai membaca surat itu tiap malam. Dan dalam waktu seminggu saja, hati dan jiwanya serasa melayang entah kemana. Dia merasakan kebahagiaan dan kehangatan dari tulisan tangan berbentuk kurus dan miring itu. Tulisan yang mewakili seluruh sosok seorang Tegar.
Rai serasa kehilangan arah dan pegangan. Airamatanya mengalir perlahan tanpa sadar seperti orang linglung dengan isak tangis berlebihan. Dia kehilangan sandaran selama beberapa hari terakhir, tapi kenapa kak Tegar berhenti menulis surat untuknya? Apa yang sebenarnya terjadi? apakah terjadi sesuatu pada kak Tegar ataukah dia marah dengan Rai yang tak pernah membalas surat-suratnya selama enam tahun? Rai menerka-nerka dalam hati diantara peluh tangisnya.
***