1001 For 1 First Love

1001 For 1 First Love
Investigasi II



#Pencarian Hari Kedua


Pagi hari suasana kota Surabaya tak jauh berbeda dengan Jakarta. Waktu masih menunjukkan pukul 6.30 akan tetapi matahari telah naik tinggi, serasa pukul 09.00 pagi dan nantinya tiba-tiba langit berubah mendung yang diikuti hujan deras secara mendadak


Untungnya AC di kamar mereka menyala dua puluh empat jam, jadi di dalam rumah terasa sejuk saja. Ketika keluar dari pintu, mulai terasa gerah dan panas.


Setelah sarapan Vania meminjam kunci mobil omnya ke pak Bantul. Sebenarnya mbak Ros menawarkan agar pak Bantul membantu mencari lokasi. Tapi, Sam menolak dengan lagak sok tahu. Dia merasa tidak mau merepotkan sopir dan malu jika ada dua cowok yang jadinya tidak berguna mencari sebuah rumah dihadapan para cewek yang mereka sukai. Vania memutar mata pasrah.


“Moga aja kita gak nyasar,” bisik Vania pada Rai. Rai tersenyum menahan tawa.


 


Mereka menaiki mobil Hammer menuju pusat kota. Vania sibuk melihat map di i-padnya, Sam menyetir sambil bersiul, Zac memastikan GPS sambil sesekali memperingatkan Sam agar tidak salah jalan.


Sedangkan Rai, stoples kaca berisi seribu bangau kertas dan surat-surat kecil dari Tegar berada dipangkuannya. Ditengah harap-harap cemas, dia hanya melihat-lihat bangunan dan pemandangan kota Surabaya. Berusaha membayangkan kehidupan Tegar di kota terpadat kedua setelah Jakarta.


“Eh Sam..kayaknya elo salah jalur deh,” kata Zac.


“Ah masa’? gak kok, tenang aja,” sahut Sam enteng.


 


Tapi tak berapa lama kemudian sebuah motor polisi dari arah belakang mereka memberi isyarat untuk menepi. Seorang polisi mengetuk kaca jendela mobil.


 


“Selamat pagi pak,” sapa sang polisi ganteng memberi salam hormat.


“Iya selamat pagi,” jawab Sam agak cemas.


“Apa bapak tidak tahu kalau ini jalur verboden?” tanya sang polisi ganteng.


“Eh. Oh. Saya gak tahu pak. Emang verboden apaan ya?”kata Sam gelagapan.


“Ini jalur satu arah. Bisa lihat SIM dan STNKnya?” pinta sang polisi. Zac tampak cemberut kesal pada Sam. Sam memberikan SIM dan STNK mobil pada polisi.


“Wah SIM nya udah mati pak. Bapak melakukan pelanggaran dua hal.”


 


Serempak semua penumpang melotot marah pada Sam, bahkan Vania yang sedari tadi memandang takjub dengan kegantengan sang polisi muda menjadi ikut marah.


“Ah masa’. Wah saya kan orang Jakarta pak jadinya tidak tahu jalanan sini. Jangan ditilanglah. Kita damai aja,” rayu Sam sambil mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah.


 


Sang polisi tak berkomentar ia menggelengkan kepala heran dengan sikap remaja tersebut dan masih tetap menulis surat tilang.


“Silahkan putar balik ya pak. Dan harap diperbarui SIMnya. Selamat pagi,” kata sang polisi sambil memberikan selembar kertas tilang.


“Resek banget tuh polisi. Udah manggilnya bapak, eh kena’ tilang juga,” Gerutu Sam sambil memasukkan kembali uangnya.


“Salah lo juga sih, nyetirnya ngawur,” sahut Zac.


 


Sam nyengir lebar, Vania tampak sebal.


Setelah hampir seharian mereka mengelilingi Surabaya dari ujung timur hingga barat dan dua kali salah jalur, tiga kali lewat jalan yang sama serta mendapat berbagai cacian dari pengguna jalan yang lain akhirnya mereka memilih kembali pulang. Itupun saat kembali menuju jalan pulang harus nyasar empat kali.


Pukul 19.00, mereka sampai di rumah. Vania mengomel setelah sampai di rumah. Dia mengeluh kelaparan dan semakin sebal dengan buruknya Sam menjadi sopir.


“Udahlah gak pa-pa Van. Besok kita bisa cari lagi,” kata Rai menenangkan.


“Iya nih, yang bersangkutan aja gak seribut elo,” sahut Sam nampak jengkel dengan Vania yang mengungkit\-ungkit masalah dari ketilang polisi sampai nyasar menuju rumah berulang kali sepanjang perjalanan hingga sampai di ruang makan.


“Kan mbak Ros udah bilang, dianterin sopir aja non,” ujar mbak Ros saat menyajikan makanan penutup puding buah di meja. Mendengar sedari tadi majikannya ribut saat makan.


“Tuh cowok emang sok banget sih. Udah lagaknya belagu juga. Gini kan kita jadi buang waktu sehari dengan sia\-sia. Nyesel gue ngajak dia,” gerutu Vania.


“Masih marah sama si Sam?” tanya Rai sambil menutup pintu kamar.


Vania melompat ke ranjang sambil bermain i-padnya.


“Ya iyalah. Sebel banget gue ma dia,” jawabnya tak meninggalkan pandangan didepan i-pad. Dia sedang seru-serunya bermain demi mengurangi ketidak mood\-annya hari ini.


“Jangan benci-benci sama orang. Bisa jatuh cinta elo entar.”


“Aduh amit-amit. Jangan sampai deh.” Vania bergidik geli.


 


***


Tengah malam kepala Rai kembali merasa pusing. Dia merogoh obatnya dalam dompet untuk segera diminum. Akan tetapi, gelasnya kosong. Raipun turun ke dapur mengambil air minum. Setelah meminum obatnya, dia akan kembali menuju kamar.


Terlihat sosok punggung di bangku dekat kolam renang yang berkecipak oleh hujan. Rai mengerutkan kening, penasaran dia menghampiri sosok tersebut.


Ternyata Zac, sedang melamun melihat langit malam, sambil memainkan kakinya di air. Rai ragu-ragu untuk menghampirinya, akhirnya dia memberanikan diri untuk mendekat.


“Zac..” panggilnya lirih. Zac menoleh dan tersenyum padanya.


“Eh, Rai. belum tidur?” tanya Zac berdiri. Rai menggeleng. Merekapun duduk di kursi dekat kolam.


“Emm...kenapa gak tidur?” Rai balik bertanya.


“Oh, gak pa-pa. Pengen lihat suasana malam disini aja.”


 


Rai terdiam. Hatinya kembali bergolak dalam kerisauan yang memuncak. Dia tidak bisa menahan kebimbangan dalam perasaannya.


 


“Sewaktu kecil, seperti apa Tegar dimata kamu?” tanya Zac tiba-tiba. Rai gelagapan menjawabnya.


“Dia...orang yang baik. Teman yang seharusnya masih ada di dekatku kalau dia gak pindah ke sini.” Rai menerawang jauh. Zac manggut-manggut berusaha memahami.


 


Ada rasa nyeri dalam diri Zac, dan dia harus menelan kepahitan atas semua ini. Rai sangat ingin bersandar pada bahu Zac, dan memeluknya erat untuk meminta kekuatan. Akan tetapi itu mustahil baginya, karena ia tak mau mempermainkan Zac yang telah menjadi mantan kekasihnya tersebut. Zac memandangi wajah Rai. Cukup lama sekali.


Wajah cantik Rai kini nampak semakin kusut akibat sering menangis, dan setelah sakit tentunya. Wajah putih pucatnya semakin memucat dan tirus. Poninya sedikit berantakan. Zac akan merapikan rambutnya itu, tapi kemudian Rai tersadar. Rai tak mau terlalu larut dalam suasana, dia segera berdiri.


 


“Aku masuk dulu ya. Kamu cepat tidur,” katanya buru-buru.


 


Zac mengangguk pelan.


Rai setengah berlari menaiki tangga. Dia menutup pintu setengah membantingnya. Kemudian bersandar di pintu sambil mendekap mulutnya menahan isak. Hatinya terasa perih, Rai tahu kalau Zac memperhatikan wajahnya.


Rai tahu bahwa Zac masih menyayanginya dan dengan setia berada disisinya. Dia sangat ingin kembali ke masa-masa dimana mereka pacaran di dekat kolam renang rumah Zac, melihat-lihat bintang. Bermain air.


Kenangan itu terlalu indah untuk dilupakan. Tapi, terlalu menyakitkan untuk diingat. Rai tak kuasa menahan isaknya. Dia menangis tersedu-sedu.


Vania terbangun oleh sebuah suara. Ia kaget ditengah malam sesosok lemah duduk didepan pintu sedang menahan beban. Vania berjalan menghampiri sosok gadis tersebut.


“Rai, ada apa?” Vania bertanya perlahan. Rai seketika memeluk sahabatnya itu dan menangis dalam bahu Vania.