
“Kenapa ngelamun sih?” tegur Vania saat mereka berada di kantin sekolah.
Rai mengaduk-aduk jus apelnya dengan sedotan. Vania sedang bersolek dengan cermin saku menata poninya. Dimanapun Vania berada dalam setiap kesempatan ia akan selalu bercermin untuk memperhatikan kesempurnaan wajah cantiknya.
Ia tak ingin terlihat kusut, berantakan, kucel, bau atau yang membuat presentase kecantikannya menurun. Dan meskipun itu berada di kantin yang banyak teman-teman, juniordan senior mereka berada disana.
“Gue masih kepikiran mimpi gue semalam, Van.”
“Oh... apaan yang elo pikirin?”
“Gimana ya.. kayaknya ada yang salah sama diri gue deh.”
“Salah gimana maksudnya?” Vania bertanya heran.
“Gue gak bisa ngungkapin isi mimpi gue ke elo. Padahal sebenarnya gue ingat.”
“Hahaha..gitu aja elo pikirin sampai pusing. Ya emang terkadang kita sulit menjelaskan sesuatu. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan dalam mengungkapkan isi hatinya,” terang Vania.
“Iya juga sih. Tapi...” Rai berkata ragu, tak berapa lama mereka dikagetkan oleh cowok kurus yang datang secara tiba\-tiba.
“Hai Girls,” sapa Sam. Vania hampir tersedak minuman ketika Sam datang dan menyapa mereka.
“Wah kayaknya gue harus balik duluan ke kelas deh Van,” kata Rai tersenyum geli seraya menyruput sisa jus apelnya.
“Eh gue ikut.”
“Ah gak bisa elo disini aja. Kak Sam mau ngobrol sama Vania kan?” Rai melirik Sam. Sam tersenyum dan mengangguk berterima kasih. Vania cemberut. Rai cepat\-cepat meninggalkan mereka berdua sambil menahan tawa.
“Lagi istirahat ya?”
“Emang kenapa?” Tanya balik Vania dengan ketus sambil melipat tangan dan menyilangkan kedua kakinya tanda pertahanan.
“Temeni gue minum bentar ya,” ajak Sam sumringah. Vania mendelik risih.
“Aduh gue juga mau nyusul Rai.” Vania beralasan.
“Pliss lah.. gak lama kok nanti gue juga antar lo ke kelas. Okey.”
Vania mendengus kesal. Dia tak berkutik untuk lari dari Sam. Resek banget sih si Rai. Cowok ini pula, maksa banget minta ditemeni minum. Gerutu Vania dalam hati.
***
Meski hujan, tak mengubah kemacetan di kota Jakarta. Air-air beriak yang menggenang menyisakan tanda bahwa gorong-gorong kota metropolitan ini tak berfungsi baik. Roda kehidupan setiap makhluk terus berputar tak peduli musim penghujan maupun kemarau.
Pada akhirnya kehidupan akan menunjukkan sebuah titik temu dan hubungan-hubungan yang saling mengaitkan sebuah benang merah menjadi satu kehidupan sama.
Siang itu ketika mereka pulang sekolah, Rai dan Vania meluncur ke SD Pelangi.
“Gimana tadi kencan sama abang Sam si juragan beras penguasa pasar seantero Jakarta?” goda Rai sambil menyetir.
“Ah, resek banget lo Rai. Sengaja kan ninggalin gue gitu aja.” Vania melipat tangan.
“Ya ampun...marah banget elo ya? eh Van sekali\-kali elo harus mau nerima cowok yang apa adanya. Sekali\-kali elo kasih harapan cowok buat ngisi tempat di hati elo,” nasehat Rai.
“Gombal.”
“Wah sori Van, gue gak punya gombal. Bik Inah tuh yang punya.”
“Hahaha...” keduanya tertawa terbahak\-bahak dan tak menyadari ketika ada anak kecil berseragam merah putih membawa payung kuning sedang menyebrang.
“Awas Rai!!” teriak Vania. Rai terkejut dan mengerem secara mendadak mobilnya\- nyaris saja tertabrak. Kepala Rai dan Vania membentur bagian depan. Jantung mereka berdegup kencang. Tangan Rai gemetar memegang kemudi.
“Kita lihat Van,” ajak Rai ngos\-ngosan. Vania mengangguk.
Mereka keluar perlahan dari mobil dan menghampiri anak kecil tersebut. mengabaikan gerimis yang membasahi seragam mereka. Anak itu menangis terisak dan memanggil-manggil mamanya.
“Adik gak pa\-pa?” tanya Vania berjongkok.
“Adik ada yang luka?” Rai ikut berjongkok dan mengelus kepala anak kecil itu. Anak tersebut mengusap matanya. Dia menatap mereka berdua.
“Lutut Keyla sakit,” lirih anak kecil tersebut meringis sambil menunjukkan lutut kanannya.
Ternyata dia menangis karena terjatuh dan lututnya luka. Dia tidak tahu ada mobil di depannya. Vania melirik Rai mengisyaratkan bahwa mereka tidak bermasalah dan anak kecil ini tak terluka parah.
“Keyla mau ke sekolah aja. Nanti mama jemput,” tunjuk Keyla ke sebuah sekolah. Ternyata itu SD Pelangi.
“Wah adik kecil, kamu sekolah disana?” tanya Rai senang. Keyla mengangguk.
“Kalau gitu kakak antar ke sekolah ya, kakak juga mau kesana,” kata Rai. Keyla mengangguk.
Vania dengan kuat menggendong Keyla, sedangkan Rai mengambil payung kuning dan membawakan tas Keyla. Vania memangku gadis mungil itu. Dia memang penyayang anak kecil. Karena memiliki tiga orang adik yang masih berusia dibawah sepuluh tahun.
***
“Kakak sekolah disana?” tanya Keyla setelah berhenti dari isaknya akibat sogokan Vania dengan sebungkus nougat strawberry. Padahal gigi Keyla sensitive terhadap makanan manis dan lengket.
“Dulu sewaktu seusia kamu, kakak sekolah disana.” Rai menjawab dengan penuh semangat. Setelah memarkir mobil, mereka bertiga turun dan segera masuk ke sebuah kantor.
“Lho, Keyla kenapa kakinya?” tanya seorang guru.
“Jatuh bu,” jawab Keyla sambil meringis kesakitan dengan mulut yang telah bersisa sedikit nougat.
“Ibu Eni?” sapa Rai. Si ibu guru yang dipanggil menoleh.
“Iya.”
“Ini saya bu. Saya Raisya Arganita. Muridnya ibu dulu”
“Oh... Rai. Wah sudah besar ya kamu.” bu Eni memeluk Rai. Rai mencium punggung tangannya. “Ada apa kamu kesini?”
“Eh.. ini tadi saya mau bicara sama ibu. Dan kebetulan adik Keyla jatuh di depan mobil saya, jadinya sekalian saya antar.” Rai menjelaskan.
“Oh.. ya sudah Keyla masuk ruang UKS dulu ya. Diobati kakinya.” Keyla mengangguk. Rai dan Vania mengantar Keyla menuju ruang UKS. Selagi lututnya diobati, mereka mengobrol dengan bu Eni.
“Ada yang bisa ibu bantu?”
“Emm...begini bu. Saya mau mengadakan reuni. Saya ingin mengundang teman\-teman sekolah dulu. Saya mau mencari data\-data teman sekolah dulu.”
“Oh..itu, iya. Bisa dibantu. Nanti kalian bisa lihat di arsip yang ada di gudang.”
“Gudang lagi?” celetuk Vania merasa lelah. Rai menyikutnya.
“Bisa sekarang bu?” tanya Rai semangat.
“Wah besok saja. Ini kan sudah siang. Ibu gak bisa menemani kalian.” Rai dan Vania mendengus kecewa.
“Apa tidak ada copy filenya bu?” tanya Vania. Dari kemarin mereka sudah mengobrak\-abrik gudang arsip, masa’ kali ini juga. Bisa\-bisa mirip penjaga gudang akibat debu menumpuk yang menempel di wajah mereka. Pikir Vania.
“ Iya...masih dalam proses. Murid disini dan alumninya kan banyak sekali. Apalagi baru saja pindah gedung untuk bagian administrasi,” terang bu Eni.
“Lihat lutut Keyla sudah sembuh!” seru Keyla tiba\-tiba sambil menunjukkan lututnya yang di plester. Semua tertawa mendengarnya.
“Keyla sudah bisa pulang. Tunggu mamanya menjemput ya,” kata bu Eni.
“Kalau begitu kami pamit dulu bu. Besok kami kembali,” ujar Rai. Bu Eni mengangguk. Rai dan Vania akan keluar dari pintu UKS, tapi tiba\-tiba Keyla berteriak memanggil, “Kakak!!”
Rai dan Vania menoleh. Keyla menghampiri mereka dengan kaki tertatih-tatih.
“Terima kasih ya. Kakak namanya siapa?”
“Vania.”
“Raisya.” Keyla menggenggam kedua tangan mereka. Senyumnya melebar.
Begitupula dengan Rai dan Vania. Mereka gemas sekali dengan Keyla yang cantik, imut, lucu. Rambutnya lurus dibawah telinga. Matanya lebar dan pipinya tembem kemerahan, serta bibirnya kecil mungil. Persis sekali dengan gaya dora the explorer.
“Da\-da kak Raisya, kak Vania. Hati\-hati dijalan ya!” teriaknya melambaikan tangan saat mereka berdua pergi.
“Kayaknya elo suka sama Keyla. Biasanya kan ogah ma anak kecil,” goda Vania. Rai hanya tersenyum tipis menanggapi omongan Vania. “Duh, gue pengen punya anak kayak Keyla.” Vania mengoceh sendiri.
“Bapaknya dulu segera ditentuin siapa?” goda Rai. “Tuh ada kak Sam. Tapi entar jadinya gak berkulit putih. Heheh..” Rai berlari kabur sebelum Vania menjitak kepalanya.
“Ah, resek banget lo.” Vania mengejar Rai ingin melakukan yang sedang dipikirkan Raid dan akhirnya mereka hanya main kucing\-kucingan mengitari mobil untuk beberapa saat sebelum akhirnya lelah.