1001 For 1 First Love

1001 For 1 First Love
Perjalanan Panjang



Rai nampak bahagia akhir-akhir ini. Kesehatannya berangsur-angsur pulih. Dan sebentar lagi dia akan pulang dari rumah sakit. Setelah orang tuanya meminta maaf, papa dengan formal memperkenalkan tante Maya dan juga Keyla. Meskipun ini bukan kali pertama mereka bertemu, tapi, kenyataannya justru papa yang terlihat gugup dan salah tingkah. Suasana kekeluargaan menjadi terlihat mesra.


Tante Maya dan bunda terlihat akrab. Hubungan papa dan bunda meski masih nampak kaku, setidaknya mereka lebih leluasa untuk terlihat ada jarak diantara keduanya. Dan yang tak disangka lagi, bunda juga sangat menyayangi serta menyukai Keyla.


Kata bunda, sudah lama dia tidak bermain dengan anak kecil, apalagi anak tersebut mirip sekali dengan Rai sewaktu masih kecil. Meskipun keluarganya tak utuh tapi kini serasa lebih baik dengan ada dua anggota baru, membuat keluarga yang saat ini lebih menyenangkan dan berwarna.


Akan tetapi, Rai masih terusik dengan keberadaan dan kondisi Tegar. Dia harus segera menyelesaikan origami bangau tersebut.


“Akhirnya usai sudah seribu buah origami bangau hasil karya Raisya Arganita, Vania Veronica, Zac Fauhan, dan....emm..Sam..” kata Vania neyengir.


 


“Kok Cuma nama gue aja yang gak lengkap bebh? masa’ lupa ?” celetuk Sam protes.


“Heheh iya-iya...Sammy Enanda. Puas?”


 


Rai, Zac, dan Sam terkikik melihat ekspresi Vania yang terlihat salah tingkah.


 


“Ayo, saatnya beres\-beres Rai,” kata bunda mengingatkan.


Hari ini adalah hari Rai keluar rumah sakit setelah terkungkung selama dua minggu lebih. Minggu depan Rai udah harus mengikuti ujian semester.


“Kamu bisa jalan sendiri Rai?” tanya Vania.


 


Rai mengangguk. Akan tetapi ketika dia akan berdiri, jalannya sempoyongan. Segera saja, Zac membopongnya.


 


“Aku bantu jalan ya?” tawar Zac tersenyum tipis.


“Iya,” jawab Rai singkat.


 


Dalam perjalanan menuju mobil, Zac dengan cekatan memapah Rai. Saat itu keduanya hanya membisu.


Akan tetapi,antara jantung Zac dan Rai serasa berlomba-lomba bertabuh kencang. Rai merasa hatinya tak bisa diajak kompromi berkhianat begitu saja, membuktikan bahwa dia masih sangat menyayangi Zac. Begitu pula sebaliknya.


“Makasih ya nak Zac atas bantuannya selama ini,” ujar bunda setelah Rai masuk mobil.


***


Bik Inah menyajikan nasi goreng dengan telur mata sapi yang mengundang selera sebagai sarapan. Segelas susu dan segelas air putih telah tertata bersama dengan piring, sendok dan kawan-kawannya di meja makan.


Pagi ini bik Inah penuh suka cita menyiapkan sarapan untuk nona mudanya dan titik cerah kehangatan di rumah nomor 17/A ini muncul setelah sepuluh tahun hidup dalam diam, kerahasiaan serta sepi yang mendalam.


“Bunda... Rai mau ke Surabaya,” kata Rai di pagi yang masih mendung. Terdengar sendok garpunya berdentang.


“Kapan?”


“Hari ini. Vania mau nemenin Rai.”


“Ada apa? ngapain kesana? kamu masih dalam penyembuhan sayang, dan lagi habis selesai ujian. Apa gak capek?” bunda cemas.


“Gak pa-pa bunda. Rai udah sangat baikan kok. Justru sekarang mau liburan sekolah kalau gak sekarang, Rai gak bisa tenang. Rai mau ke tempat tante Rieke, mamanya kak Tegar.”


 


Bunda terdiam. Menatap lama wajah sang anak.


 


“Disana mau tinggal dimana?” tanya bunda.


“Saudara Vania kebetulan tinggal di Surabaya. Jadi gak perlu menginap di hotel.”


***


Siang itu Rai berangkat menuju bandara Soekarno-Hatta untuk terbang ke bandara Juanda Surabaya. Rai celingukan mencari Vania yang telah ada disana terlebih dahulu.


“Rai...” teriak Vania melambaikan tangan.


Ada dua orang laki-laki berdiri disebelah Vania. Rai semakin mendekat dan melihat wajah-wajah Sam serta Zac yang membawa tas ransel. Rai mengerutkan kening heran.


“Tenang Rai. justru aku emang ingin mereka ikut. Masalahnya, kalau Cuma kita berdua aja yang nyari\-nyari bakalan susah dan agak riskan. Seenggaknya bawa dua cowok tersebut bisa jadi bodyguard kita dan bantu cari info.” Vania nyengir lebar.


“Hai Rai..sori kalau elo gak nyaman. Tapi seenggaknya biar elo aman. Terutama calon cewek gue si Vania heheh.” Sam tak kalah lebar nyengirnya. “Lagi pula gue udah terlibat, jadi gue mau bantu elo sampai tuntas. Ya..seenggaknya gue semakin punya banyak waktu buat deketin dia,” lanjut Sam setengah berbisik pada Rai sambil tersenyum genit pada Vania, membuat Vania bergidik geli dan risih.


“Aku boleh kan ikut bantu kamu, Rai?” tanya Zac dengan amat sopan, membuat Rai tak sanggup menolak bantuannya. Rai mendengus pasrah.


“Oke. Makasih ya sebelumnya. Maaf bikin kalian semua repot,” ujar Rai. semua mengiyakan secara serentak.


 


Setengah jam kemudian pesawat mereka take off dan menembus udara sore.


#Pencarian Hari Pertama


Ternyata saudara Vania sedang keluar kota, sopirnya yang datang menjemput di bandara. Jadi, mereka tinggal hanya berenam di sebuah rumah besar dikawasan kompleks mewah di jalan Dharma Husada.


Rumah saudara Vania-sepupu laki-laki mamanya, bisa disebut omnya juga sangatlah megah. Hanya ada satu pembantu dan sopir yang menghuni selama om dan tante pergi. Vania selalu curiga bahwa antara sang sopir dan pembatu tersebut alias mbak Ros sedang pacaran.


 


“Non Vania udah besar ya?” sapa mbak Ros sambil menyuguhkan minuman.


“Iya mbak. Saya udah segede ini masih nunggu kapan mbak sama pak Bantul kasih undangan,” seringai Vania. Mbak Ros tersipu malu.


“Undangan apa non?” tanya mbak Ros berlagak polos.


“Ya..undangan nikah lah mbak....ayo...cepat buruan nikah,” goda Vania. Mbak Ros makin tak bisa menahan malu. Dia pergi tanpa berkomentar setelah menyilahkan para tamu.


“Jahil banget sih elo Van,” tegur Rai. Vania tersenyum lebar.


“Hahaha. Dikit aja kok. Udah silakan kalian minum. Habis ini gue antar ke kamar masing-masing.”


Rumah itu terdiri dari lima kamar tidur di lantai dua, satu kamar pemilik rumah dan tiga kamar pembantu di lantai bawah. Rai lebih suka sekamar dengan Vania, meskipun Vania menawarkan untuk sekamar sendiri.


 


“Rasanya gak enak aja. Rumah sebesar ini tidur sendirian dikamar yang besar pula,” sahut Rai ketika Vania menanyakan alasan tak mau kamar yang sudah disediakan pembantu.


Rai, Vania, Zac dan Sam berada di ruang keluarga sambil menenteng gadget mereka masing-masing. Setelah makan malam yang mengenyangkan, Rai memutuskan untuk mencari rumah tante Rieke yang berada di mall kawasan jalan raya Surabaya.


 


Mereka mulai menggogle map dari i-pad masing-masing. Kalau dari tempat mereka berada sekitar satu jam lebih untuk menuju kesana. Meskipun Vania sering pergi ke Surabaya, dia tidak mengetahui seluk-beluk Surabaya dengan jelas. Dia hanya tahu daerah sekitar rumah omnya tersebut.


“Yah setidaknya kita tahu harus melewati mana untuk menuju daerah itu,” kata Sam menenangkan kecemasan Rai.


Vania tersenyum mendengar dukungan dari Sam, tapi dia langsung memalingkan muka ketika Sam memandangnya penuh arti.