
“Kak Tegar!!!” teriak Rai terbangun dari mimpinya.
Vania gembira melihat Rai sadar. Zac dan Sam langsung datang, setelah mengantarkan dokter pulang. Napas Rai ngos-ngosan. Tubuhnya berkeringat. Vania langsung menyodorkan air putih pada Rai. Rai hanya meminumnya sedikit meski masih kehausan.
“Ayo kita kesana,” ujar Rai.
“Kemana Rai? kita istirahat dulu. Elo juga kecapean sampai pingsan gini,” kata Vania cemas.
“Ke rumah sakit. Rumah sakit itu,” ujar Rai tak sabaran.
“Tapi Rai, apa gak besok aja.”
“Gue gak bisa nunggu sampai besok. Harus sekarang. Pliss, ya Van.” Rai memohon. Vania tak merespon dan terlalu banyak menimbang.
“Kamu tahu kan Zac, aku harus pastikan dengan benar apa anak yang dimaksud cik Meilan itu kak Tegar. Aku mohon Zac.” Rai nampak mengharap dukungan dari Zac. Zac menatap lama. Akhirnya dia mengangguk. Mereka berempat bergegas menuruni tangga.
“Lho non mau kemana? apa gak makan siang dulu. Non Rai juga baru sadar dari pingsan toh,” ujar mbak Ros heran.
“Nanti aja mbak. Lagi buru\-buru nih,” sahut Vania.
***
Pak Bantul menyetir dengan kecepatan tinggi. Tak butuh waktu lama menuju rumah sakit itu, karena letaknya tak begitu jauh dari kawasan Dharma Husada. Vania segera ke bagian resepsionis bertanya kamar Tegar dirawat. Ternyata benar, Tegar dirawat disana. Dan berada di ruang isolasi. Kankernya stadium akhir. Ruang isolasi berada di lantai dua. Rai menenteng stoples kaca berisi bangau kertas sambil berharap-harap cemas.
Keluar dari lift mereka berpapasan dengan seorang wanita seusia bunda, wanita itu memakai jilbab ungu. Tubuhnya kurus, matanya cekung, dan wajahnya nampak berkeriput, bukan karena usia, tapi beban pikiran yang selama ini dipikulnya.
“Tante Rieke..” sapa Rai hampir tak mengenali tante Rieke yang memakai jilbab. Tante Rieke menoleh dan mengerutkan kening.
“Ini saya. Rai. Raisya dari Jakarta tante,” ujar Rai.
“Raisya?” tanya tante Rieke terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba. Rai mengangguk. Tante Rieke langsung memeluk Rai sambil menangis.
“Kemana saja kamu selama ini. Tante bingung, karena permintaan terakhir Tegar hanya ingin bertemu kamu walau sekali saja.”
“Lalu kak Tegar dimana sekarang tante?”
“Ikut saya,” ajak tante Rieke.
***
Sebelum memasuki kamar Tegar, mereka harus memakai pakaian khusus beserta dan masker. Karena tidak diperbolehkan banyak orang yang masuk, akhirnya Rai seorang diri masuk sambil membawa stoples kaca. Tubuh Rai gemetar.
Sosok lemah tak berdaya yang terbaring memang seperti dalam mimpinya, akan tetapi tanpa rambut sehelaipun, tubuhnya yang kurus kering, kedua lingkaran hitam dibawah matanya, gusinya mencolok berwarna merah muda. Kedua tulang pipinya menonjol. Sosok yang nyaris menjadi mayat itu tersenyum lemah.
“Kamu datang Rai?” kata Tegar.
Rai berjalan ragu-ragu. Ia bingung melihat kondisi Tegar yang memprihatinkan dan pertemuan pertama mereka setelah sepuluh tahun lamanya.
“Bagaimana kakak bisa tahu kalau ini aku?”
“Aku yakin kamu pasti akan datang. Aku tahu kamu gak lupa dengan janji kamu buat seribu bangau kertas,” lirih Tegar. Rai melirik stoples kaca yang diletakkan di meja.
“Kamu sudah besar dan sangat cantik ya Rai. Sejak dulu,” puji Tegar lemah. Rai menahan untuk tidak meneteskan airmata. Dia bersikap tabah. “Seribu bangau kertas itu telah mengabulkan keinginanku,” lanjut Tegar tertawa kecil dengan mitos yang dibuatnya.
“Ya.. mereka juga mendengar keinginan Rai untuk segera menemukan kakak hari ini,” sahut Rai dengan terbata-bata. Tegar tersenyum mendengarnya.
“Aku..minta maaf, Kak. Sesuatu terjadi yang buat aku gak bisa membalas surat-surat kakak. Sesuatu yang membuat kakak harus menunggu Rai selama sepuluh tahun.” Rai menunduk, ia masih berdiri kaku dengan tubuh menggigil.
“Gak pa-pa Rai. aku tahu kamu pasti punya alasan yang tepat. Aku yang seharusnya minta maaf telah pergi jauh dari kamu. Dan aku belum menepati janjiku untuk datang ke Jakarta.” Suara Tegar terasa berat dan dalam. Napasnya terengah-engah. “Kamu pasti udah punya cowok ya Rai?” tanya Tegar. Rai menggeleng.
“Kami sudah putus,” jawab Rai semakin sedih diantara dua cowok ini.
Rai tak menjawab pertanyaan Tegar. Tegar terdiam sejenak. Sesaat kebisuan melanda diantara mereka. Yang terdengar hanya suara alat pendeteksi detak jantung.
“Rai. Mendekatlah!” pinta Tegar.
Tangan kurusnya menggapai lemah. Rai meraih tangan kurus yang sempat membuat
Rai tersentak kaget karena sama dinginnya dengan yang dalam mimpi tersebut. Ia tak bisa menahan tangis lebih lama antara kerinduan yang teramat dan sedih melihat kondisi Tegar dipertemuan mereka. Rai menggenggam tangan Tegar dan mendekatkan pada pipinya. Tegar tersenyum lemah.
“Kenapa anak manja cantik ini gampang sekali menangis?” Tegar mengusap perlahan sisa airmata yang mengaliri pipi gadis tujuh belas tahun itu.
Raisya masih terisak. Mulut Tegar tiba-tiba berkomat-kamit tidak jelas menggumamkan sesuatu. Rai mendekatkan mukanya ke wajah Tegar. Tegar menatap lama, tersenyum, Tegar meminta Rai menggenggam tangan kurusnya lebih erat.
Terdengar suara senggal napas Tegar yang semakin tak beraturan, kemudian Tegar berbisik, “A-ku sayang kamu sejak dulu. Sangat lama hingga sekarang. Sekarang kamu harus berdiri sendiri dengan orang lain yang lebih baik dariku,” ujar Tegar.
Membuat tubuh Rai seketika merinding.
Tanpa sadar, wajah Rai mendekat pada wajah Tegar hingga nyaris tak ada jarak diantara mereka. Rai mendaratkan bibirnya pada bibir Tegar yang begitu kering dan pecah-pecah. Bibir itu begitu dingin, dan ia ingin menghangatkannya. Airmatanya menetes bersamaan dengan senyum Tegar yang masih tersisa bekas ciuman yang menghangat.
Ia begitu jatuh hati dengan pernyataan cinta
Tegar dan seandainya bisa, ia ingin membunuh waktu agar terhenti sampai disini saja. Ia tak ingin melihat sore maupun hari berganti esok. Ia ingin menyelami saat-saat bersama hanya berdua dengan Tegar.
Namun, tiba-tiba hatinya mencelos, karena dia merasakan bahwa genggaman tangan Tegar tiba-tiba mengendur dan lagi tidak ada udara yang keluar dari bibir Tegar. Mata mereka memang saling menutup dan memang mereka sama-sama menahan nafas. Namun, kali ini berbeda.
Rai membuka mata perlahan dan mengangkat wajahnya. Melihat Tegar terbujur tanpa tanda kehidupan.
“Kak. Kak Tegar!” panggil Rai.
Elektrokardiografi menunjukkan garis lurus. Rai berusaha mengguncang tubuh Tegar agar tersadar kembali. Tapi tak ada reaksi. Yang terpeta dalam wajah Tegar hanyalah sesungging senyuman terakhir dan jejak air mata yang belum kering.
“Tolong... dokter. Suster.” Rai berteriak. Tante Rieke, Zac, Sam, Vania dan dokter segera masuk ke dalam.
***
Rai ketakutan. Vania memeluknya dan mengajak keluar, membiarkan dokter memeriksa. Tak berapa lama dokter keluar dengan tampang murung dan menggeleng saat tante Rieke bertanya tentang keadaan Tegar. Rai menjerit histeris. Tante Rieke tampak tabah. Mata Vania berkaca-kaca. Sam dan Zac menunduk sedih.
Saat mayat Tegar dipindahkan, Rai hanya mampu menatap dan tubuhnya tersungkur di lantai meratapi brankar tersebut. Vania memapah tante Rieke untuk berjalan mengikuti dibelakang.
Ketika brankar akan masuk ke mobil jenazah, Rai tiba-tiba berdiri dan berlari mengejar para suster yang membawa mayat Tegar. Dia menangis keras dan berusaha menarik brankar Tegar agar tidak masuk ke dalam mobil Jenazah. Ia tak bisa membiarkan Tegar pergi begitu mudahnya setelah penantian lama Tegar terhadap dirinya dan susah payahnya ia mencari.
“Kakak gak bisa tinggalin Rai begitu aja kak. Sepuluh tahun kita saling nunggu. Kenapa kakak pergi lagi. Kakak udah janji gak akan ninggalkan Rai. Kenapa kakak jahat.” Rai semakin histeris.
Para petugas berusaha menghalangi Rai yang mengganggu pekerjaan mereka.
Zac menahan Rai dan memegang kedua lengannya. Dia memeluk Rai dengan sangat erat, sampai mobil jenazah itu benar-benar pergi. Rai menangis terisak dalam pelukan Zac. Mata Zac berkaca-kaca. Rai sedikit kesal dengan Zac yang berusaha menahannya dan iapun memberontak. Dia memukuli tiap senti badan Zac sambil masih menangis. Zac tak memperdulikan pukulan Rai dia masih terus memeluk erat cewek dihadapannya.
Pada akhirnya, Rai tak kuasa menahan diri, dia pasrah dalam pelukan Zac dan terus terisak. Kemudian ia merasakan parfum kenangan yang sangat disukai Rai pada tubuh Zac. Ia menemukan sedikit ketentraman.
***
Wajah Rai menempel pada kaca jendela mobil. Sore itu, hujan deras. Banyak orang menepi dan berteduh di depan toko atau pinggiran jalan.
Rai melamun melihat air yang terus mengalir membasahi jendela mobil. Baik di dalam maupun di luar mobil terasa dingin menusuk. Hempasan angin dan gelegar petir yang bersahutan tak menghalangi pikiran penghuni mobil yang meranah ke segala arah.
Tak ada yang bersuara selama perjalanan pulang. Suasana duka terasa menyelimuti seisi mobil. Dibangku paling belakang, Vania terisak dan bersandar pada bahu Sam. Giliran Zac dan Rai duduk berjauhan di bangku tengah.
Malam itu keempat remaja tersebut menolak untuk makan malam, padahal mereka juga belum makan siang. Vania membiarkan Rai dikamar seorang diri. Dia memilih kamar yang berada disebelah Rai. Vania bisa mendengar dengan jelas isak tangis Rai dalam kamar.