1001 For 1 First Love

1001 For 1 First Love
Epilog



Jakarta masih saja macet di pagi hari meskipun gemiris lembut telah menyapa terlebih dahulu. Kali ini Rai bangun agak pagi. Wajahnya sangat sumringah. Dia menguncir rambut ombaknya dengan pita merah. Wajahnya yang putih pucat nampak sedikit kemerahan dan berwarna.


Dia mengulas bibirnya dengan lipbalm berwarna pink yang tak terlalu mencolok. Rai merapikan seragam putih abu-abu tersebut di depan cermin, setelah puas bersolek segera dia meraih tas dan menuruni tangga.


“Pagi bunda,” sapa Rai sambil mengecup pipi sang bunda. Bunda sedikit heran. Padahal baru kemarin dia sampai dari Surabaya dengan tampang suram.


“Pagi sayang. Tumben bangun pagi.”



“Gak pa\-pa bunda. Cuaca hari ini lagi sejuk aja.” Bunda tersenyum mendengar Rai yang nampak ceria.


Mungkin airmata Rai sudah kering, mungkin Rai terlalu banyak menangis di Surabaya sehingga sekembalinya ke Jakarta ingin dengan senyuman, dan mungkin saja Rai terlalu lelah untuk menangisi semua kenyataan yang ada. Kejadian akhir-akhir ini sungguh melelahkan.


“Rai mau bikin barbeque party dibelakang rumah,” kata Rai sambil mengolesi selai pada rotinya.



“Oh ya? kapan?” tanya bunda.



“Sabtu depan. Rai gak ngajak orang banyak, halaman belakang kan sempit. Rai akan undang papa, tante Maya, Keyla dan tiga teman Rai. boleh kan bunda?”


Bunda terdiam berpikir sejenak. Mengingat mungkin salah dengar nama ‘tante Maya dan Keyla’.


“Oh...iya. terserah kamu aja sayang. Bunda akan usahain pulang lebih cepat.”



“Rai ingin mulai dari awal bunda. Rai sudah kehilangan banyak hal berharga selama sepuluh tahun. Rai ingin memperbaikinya. Rai ingin keluarga yang harmonis dan utuh, meskipun sekarang ada dua anggota baru, meski papa dan bunda telah berpisah, Rai tetap ingin kalian rukun. Rai tak mau menyia\-nyiakan waktu Rai tanpa berada disekeliling orang\-orang yang Rai sayangi,” kata Rai.


Bunda menelan ludah dan menghembuskan napas panjang. Bunda memegang tangan Rai dengan lembut.


“Kamu adalah gadis paling hebat yang bunda punya. Terima kasih ya sayang, kamu telah dewasa dan pengertian.”


***


Pagi ini, Vania tak lagi menumpang mobil Rai. Ketika ditanya alasannya, Vania terdengar sangat ceria di telepon. Terbersit kecurigaan pada Rai terhadap Vania.


Rai tak terpengaruh oleh macet yang melanda di pagi hari. Dia bergumam seolah bernyanyi riang. Rai melewati sebuah jembatan besar yang dibawahnya mengalir sungai besar. Mobilnya berjalan lambat-lambat dan agak menepi tapi tak berhenti.


Rai menurunkan kaca jendela sebelah kiri, ia melihat gerimis masih saja betah berlama-lama dipagi dingin itu. Dia mengambil buku agenda bersampul coklat tua yang tergeletak di kursi sebelahnya dan segera melemparkan keluar jendela, hingga buku agenda tersebut jatuh ke dalam sungai, terapung sebentar kemudian hanyut terbawa arus.


Rai menelan ludah dan menarik napas panjang yang lega, dia tersenyum bahagia. Hati dan tubuhnya semakin terasa ringan tanpa beban. Usai sudah amanah sepuluh tahun lalu untuk menyelesaikan seribu bangau kertas.


Telah tunai seribu bangau kertas itu mengabulkan keinginannya. Sekarang Rai ingin terlahir kembali sebagai orang baru yang penuh cinta dan kasih sayang dari orang-orang sekitarnya.


***


Ketika Rai sedang memarkir mobil, dilihatnya lima meter dari parkiran, Vania nampak menggandeng tangan seorang cowok dengan mesra. Rai mengerutkan kening memastikan kecurigaannya benar.


Dia berjalan mengendap-endap dibelakang mereka, kemudian menggertak kencang, membuat Vania terlonjak kaget.


“Van...elo udah pacaran ya?” goda Rai dengan menggertak keras.



“Rai...ya ampun. Elo ngagetin gue aja tahu.” Vania menjitak kepala Rai sedikit kesal.



“Ciee....akhirnya kak Sam bisa naklukin hati sang supermodel sekolah kita,” seru Rai.



“Ya...seenggaknya butuh pengorbanan panjang Rai. nih, codet cinta dari bidadariku,”


kata Sam sambil menunjukkan bekas goresan pisau di pipi kirinya.


“Lho, sayang. Bidadarinya berarti si mbak\-mbak berbadan kekar itu donk,” sahut Vania sebal bercampur manja.



“Oh, iya ya. Ya berarti ini bukti codet cintaku untukmu,” sahut Sam. Rai terkikik mendengar mereka berdua.



“Perjalanan cinta dari Surabaya membuahkan hasil juga ya. Wah gue berjasa besar buat elo Van. Hmm..kayaknya gue mencium aroma makan gratis nih.” Semua tertawa lebar. Vania nampak tersipu malu.



“Oh ya, sabtu sore depan ada pesta kecil di rumah gue. Kalian berdua datang ya,” undang Rai.




“Ge\-er banget sih elo. Gak pa\-pa gue Cuma pengen kumpul\-kumpul bareng ma orang terdekat aja,” kata Rai. Sam dan Vania manggut\-manggut.


Sekilas Rai melihat Zac melewati lorong. “Eh gue duluan ya. Selamat ya Van, kak Sam udah jadian. Traktirannya jangan lupa,” kata Rai melambaikan tangan berpisah dengan Sam dan Vania. Ia tersenyum senang, pada akhirnya Vania bisa menemukan sandaran hati.


***


Rai setengah berlari menghampiri Zac yang berjalan menuju kelasnya.


“Zac...bisa bicara sebentar,” panggil Rai.


Zac menoleh dan sedikit terkejut melihat Rai. Antara senang dan khawatir karena sudah seminggu Rai tidak masuk sekolah setelah dari Surabaya. Zac mengikuti Rai menuju bangku taman.


Akan tetapi, Rai enggan duduk. Dia memilih berdiri dan bersandar di pohon dekat bangku taman. Kali ini gerimis rehat sejenak. Memberi kesempatan dua remaja ini untuk memanfaatkan taman sekolah yang segar bermandi embun dan hujan.


“Apa kamu baik-baik aja Rai?” tanya Zac cemas melihat ke ujung rambut hingga ujung kaki.


“Aku baik\-baik aja kok. Sangat baik malah. Lebih baik dari pada hari\-hari sebelumnya,” jawab Rai penuh semangat.



“Kamu mau bicara apa Rai?” tanya Zac penasaran. Rai menarik napas dalam\-dalam dan menghembuskan singkat.



“Aku minta maaf ya Zac,” ucap Rai. Zac mengerutkan kening.



“Minta maaf tentang apa?”



“Maaf telah menyakiti perasaan kamu. Aku..minta maaf, atas semua keegoisanku, aku mutusin kamu seenaknya dan sepihak. Aku gak memberikan kesempatan buat kamu tahu tentang keadaanku, gak memberikan alasan kenapa aku harus mutusin kamu. aku merasa bersalah dan sangat menyesal.” Rai menunduk dalam\-dalam.



“Aku ngerti kok. Aku tahu kamu pasti punya alasan yang tepat buat ngelakuin itu semua. Tinggal aku menunggu aja, kapan kamu akan menjelaskan semuanya. Sekarang semuanya sudah jelas. Aku sudah tahu semua tentang kamu, Tegar dan...mungkin saja hati kamu.” Zac tersenyum ramah.


Rai tertawa kecil. kenapa dua cowok yang sangat disayanginya ini sama-sama sangat pengertian.


“Mungkin minta maafku gak bisa menebus semua kesalahanku sama kamu. Tapi, aku benar\-benar tulus dan ingin membayar semua kesalahanku.”


Zac mengangguk. “Iya Rai, aku paham. Kamu gak perlu merasa seolah melakukan perbuatan dosa besar. Kita anggap itu hanyalah salah satu kesalahan kecil saja. Oke?” Zac meyakinkan Rai dengan menatapnya lekat-lekat. Rai menelan ludah.


“Zac... kamu mau bantu aku?”



“Apa aja Rai. Asal buat kamu bahagia.” Zac bersungguh\-sungguh. Dan membuat Rai kembali tertawa kecil, untuk kedua kalinya dua cowok yang disayanginya berlaku sama, semua demi kebahagiaannya semata.


“Aku ingin semuanya dari awal lagi. Kamu...mau kan nunggu aku? nunggu hatiku benar-benar lepas dari semua kebimbangan ini, dan menjalani hari-hari kita seperti dulu.”


Zac memegang tangan Rai. Menatap wajah Rai lekat-lekat lagi.


“Mungkin aku tidak sehebat Tegar yang menunggu kamu hingga sepuluh tahun lamanya. Tapi, aku akan berusaha buat melindungi dan berada disisi kamu selama aku menunggu hingga kamu lelah membuat aku menunggu. Mungkin aku gak sehebat Tegar yang punya keajaiban atas nama cinta dengan menggambarkan wajah kamu yang sangat indah, tapi aku akan membuat keajaiban atas nama cinta dengan membuat kamu bahagia selalu.”


Ada sedikit nyeri dalam hati Rai ketika Zac mengungkapkan hal tersebut. Rasa nyeri akibat bersalah dan haru. Mungkin benar, Rai harus terus melanjutkan hidupnya dengan orang-orang disekitar yang menyayanginya dan tak larut dalam kesedihan.


Ia harus bangkit dan melanjutkan hidup. Orang-orang disekitarnya masih membutuhkan senyumnya begitu pula sebaliknya.


Rai memeluk Zac. Kemudian mereka bergandengan tangan diiringi dengan senyuman malu diantara wajah kemerahan yang merekah. Zac dan Rai berjalan menuju kelas dengan hati riang dan bahagia. Biarkan Zac menjaga dan melindunginya dari luar, jauh disana Tegar menjaga memori dan hatinya.


Kemesraan mereka berdua membuat seisi sekolah iri, mereka berpapasan dengan Vania dan Sam. Mereka nampak senang melihat Rai dan Zac yang kembali akur. Dinding-dinding dan lorong-lorong sekolah menatap cemburu menjadi saksi bisu atas semua kehidupan awal keempat remaja tersebut.


Kenangan demi kenangan akan terukir indah disetiap lembaran memori seseorang. Entah itu sebuah kenangan suka maupun duka.


Bahkan kita lebih sulit melupakan ingatan pahit ketimbang yang indah. Kenangan adalah wujud diri kita dalam bentuk yang tak teraba. Kenangan tak pernah berbohong dalam mengarang cerita ketika dia berusaha untuk dilupakan. Dia adalah bagian kenyataan yang harus diakui manusia.


Kenangan adalah dunia seutuhnya milikmu berada tanpa ada campur tangan kisah lain. Kenangan punya skenario unik yang akan membuat pribadi setiap insan untuk menjadi lebih baik. Semua itu akan menjadi perjalanan untuk memasuki sebuah fase menuju kedewasaan.


Kau tak perlu memiliki seseorang jika kau memang mencintainya, dan bahkan cukuplah kenangan tentang dirinya saja yang bisa kau miliki seutuhnya dalam benakmu, maka kau telah memiliki segalanya untuk bertahan.


Rai punya semua kenangan itu, kenangan yang akan membawanya menjadi lebih baik dari sebuah cinta lama menuju cinta sejati.


THE END