1001 For 1 First Love

1001 For 1 First Love
Plus-Minus



“Van, lihat!” Rai menunjukkan sebuah foto pada Vania sesampainya di sekolah pagi itu. Vania yang sibuk bersolek dengan cermin sakunya menoleh memperhatikan foto yang diletakkan Rai di meja. Vania memicingkan mata dan Nampak berpikir.


“Ini..elo sama tuh anak laki-laki dalam mimpi elo?” Vania menebak-nebak. Rai mengangguk. Vania hanya mengerutkan kening.


“Kenapa?” tanya Rai. “Elo kenal?” dia melanjutkan.


 


“Enggak. Cuma aneh aja.”


“Aneh apanya?” Rai semakin penasaran.


“Kok foto ini gak buram ya?”


“Iya. Nih foto satu-satunya yang tersisa dengan baik. Yang lain kan wajahnya gak jelas. Beruntung bengetlah ada ini.”


“Eh ya sori Rai, gue gak bisa anterin elo ke sekolah entar. Gue mau nganterin nyokap ke rumah sakit.”


“Lho, emang nyokap lo kenapa?”


“Cuma chek-up aja kok. Elo gak pa-pa sendirian?”


“Bereslah. Tenang aja, gue bisa sendiri.”


Tak lama kemudian bel tanda masuk berbunyi. Rai memasukkan lembaran foto usang itu ke dalam saku, kemudian mempersiapkan buku pelajarannya.


***


Rai mengendarai mobil dengan santai sambil mendengarkan musik lambat-lambat menuju SD elit yang terletak di Jakarta Pusat. Jalanan siang masih padat merayap seperti biasa meski rintik-rintik hujan menghiasi kaca-kaca mobil.


Bulan ini memasuki musim penghujan dan pancaroba. Banyak orang memakai masker akibat pergantian cuaca dan mulai menyebarnya penyakit endemik. Rai sendiri kini rajin mengkonsumsi buah dan susu dua kali lipat lebih banyak dari biasanya atas desakan bunda. Hal itu semata-mata demi kesehatannya.


Tiga puluh menit lama perjalanan terhitung dengan sedikit macet dan lampu merah, akhirnya sampailah ia di SD tercinta. Sekolah yang mengharuskan dirinya selama enam tahun menuntut ilmu dan mengalami transformasi dari balita menuju anak-anak.


Gedung sekolah terlihat usai dicat saat musim kemarau beberapa bulan lalu, sehingga terlihat masih baru. Rai tak begitu banyak mengingat masa SDnya, ia sedikit banyak lupa.


Rai berjalan langsung menuju ruang guru untuk mencari bu Eni. Setelah saling menyapa dan mengobrol sejenak dengan beberapa guru yang masih mengenalnya, bu Eni mengantarkan ke gudang arsip.


“Kamu semakin cantik ya,” puji bu Eni ketika mengantar Rai menuju gudang arsip. Rai tersenyum tipis, senang mendengar pujian guru kesayangannya.


“Gimana sekarang kamu gak sakit lagi?” Tanya bu Eni.


“Maksud ibu?” Rai tertegun.


“Ah..dulu kan sewaktu SD kamu sering sakit-sakitan,” koreksi bu Eni dengan sikap sedikit salah tingkah.


Bu Eni membuka pintu gudang arsip, ia menunjukkan dimana berkas yang dibutuhkan Rai yang berada di rak tengah bagian paling ujung sisi sebelah kiri.


Map besar bertuliskan angka 2004, 2003, 2002 dan 2001 berjejer rapi.jemari Rai menyusuri rak-rak tersebut dan berpura-pura mengambil map 2004 sambil membuka-buka selagi bu Eni berada di balik rak yang sama sedang meletakkan sebuah berkas dalam kardus.


Rai membalikkan badan, dia menaruh map 2004 dan mengambil map kakak tingkatnya 2003 lalu membuka-bukanya dengan cepat. Rai mengambil foto dalam sakunya kemudian secara satu persatu dicocokkan dengan wajah di foto miliknya. Terdengar suara langkah kaki bu Eni yang datang menghampirinya.


“Sudah selesai?” tanya bu Eni sambil menaikkan kacamatanya yang melorot ke ujung hidung.


“Eh, bentar lagi bu.” Rai menjawab gugup.


“Ibu ke kamar mandi dulu ya.” Bu Eni menepuk-nepukkan rok dan tangan akibat debu.


“Iya bu.” Rai mengangguk lega.


Dia melanjutkan separuh halaman. Rai hampir putus asa. Sampai akhir halaman dia juga tak menemukan juga. Rai meraih map arsip 2002 membolak-balik dengan cepat foto hitam putih siswa laki-laki dengan yang ada di fotonya. Pada akhirnya Rai keluar gudang Arsip dengan wajah kecewa.


Bu Eni menanyakan hasil pencarian tersebut, Rai terpaksa berbohong sambil tersenyum memaksa bahwa ia telah mendapatkan semua data diri teman-teman sekelasnya. Rai berpamitan pada bu Eni karena dia akan pergi les, meski bu Eni sangat ingin mengobrol banyak dengannya.


Rai berjalan meninggalkan ruang guru menuju koridor utama sekolah. Kalau anak laki-laki dalam mimpinya bukan teman satu sekolah dengannya, lantas siapa anak tersebut? kenapa dia bisa begitu dekat dengannya dulu.


Kenapa Rai tidak ingat sama sekali. Otaknya terus bekerja dan semakin banyak pertanyaan yang berputar-putar tanpa jawaban.


“Kakak!!” teriak Keyla mengagetkan perenungannya.


“Keyla...” Rai balas berteriak dia merentangkan tangan sambil berjongkok. Keyla memeluk Rai erat. Rai balas memeluknya dan gemas mencium pipi si tembem itu.


“Kakak ngapain disini?” Keyla mengibaskan rambut doranya.


“Emm... kakak pengen ketemu Keyla,” kata Rai spontanitas. Kekecewaannya sedikit berkurang setelah bertemu Keyla sebagai hiburan.


“Oh ya?” mata Keyla berbinar. Pipi tembemnya menggembung dari sudut bibirnya yang tertarik ke atas.


Rai mengangguk sambil tersenyum. “Wah kak Raisya kangen sama Keyla ya?”


“Iya Key, kakak kangen dan ingin main sama Keyla.” Rai sudah menggandeng tangan kecil Keyla.


Mereka berjalan ke sebuah taman tak jauh dari sana. Keinginan Rai untuk segera pergi meninggalkan sekolah dasarnya diurungkan demi menemani si kecil Keyla.


Rai duduk, dan Keyla disebelahnya. Kini Keyla bercerita tentang segala sesuatu yang telah dipelajarinya hari ini. Bagaimana dia bisa berhitung dan menggambar dengan baik. Rai menjadi pendengar yang baik dan sesekali mengajukan pertanyaan, menanggapi cerita Keyla.


Entah kenapa Rai yang sebenarnya tidak begitu suka dengan anak kecil dan jarang sekali berkontak dengan anak-anak-akibat sebagai anak tunggal, menjadi sangat nyaman didekat Keyla, seperti kata Vania ada kecocokan dan kemiripan antara dirinya dengan Keyla.


Walaupun baru kenal, dia merasa sangat sayang dengan Keyla. Seperti ada magnet dalam hatinya yang saling tarik-menarik ke dalam hati Keyla. Tanpa terasa Rai lupa sama sekali dengan masalah dan juga tujuan utama ke SD.