1001 For 1 First Love

1001 For 1 First Love
Puzzle



Malam itu juga Rai kembali ke gudang dan mengambil beberapa album, kemudian dia menemukan stoples kaca berisi burung kertas yang dimaksud sang bunda untuk dibakar. Dia mengobrak-abrik gudang untuk mencari surat yang disebut-sebut bunda, akan tetapi tak ketemu juga.


Akhirnya, hanya dua jenis barang itu yang dibawa masuk olehnya secara terang-terangan ke dalam rumah. Bunda dan bik Inah sangat terkejut dan kelabakan melihat Rai menenteng barang-barang dari gudang.


Rai mengunci kamarnya. Dia akan menyimpan barang-barang itu ke dalam brankas dibalik lukisan yang dua tahun lalu dibelinya. Tak seorangpun tahu kalau dia memiliki brankas. Brankas yang dibelinya dengan Vania secara iseng. Dan kebetulan dalam kamarnya terdapat lubang besar yang memang untuk brankas dibalik lukisan. Kamar Rai dulu adalah ruang kerja pemilik rumah sebelumnya.


“Bagaimana ini bik?” bunda meminta pendapat dengan nada cemas.



“Saya juga kaget nyonya. Sepertinya non Rai sudah tahu banyak. Bahkan dia bisa masuk gudang. Pantas saja kemarin saya cari kuncinya kemana\-mana kok tidak ada.” bik Inah ikut cemas. Ia menyodorkan air hangat pada bunda agar rileks.



“Bibik ini teledor sekali. Hh..semakin lama mungkin akan terbongkar juga. Tapi, saya takut membayangkan kalau Rai tahu segalanya. Apa yang akan terjadi dengan dia nanti?”


“Minum dulu nyonya supaya tenang. Sepertinya non Rai memang harus tahu. Karena tidak mungkin kita menyembunyikan semua ini selamanya. Non Rai sudah dewasa, dia tidak bisa dibohongi lagi. Mudah-mudahan saja non Rai bisa sabar saat mengetahui semuanya,” kata bik Inah. Bunda mengangguk setuju.


“Saya pasrah bik. Biarkan Rai mencari tahu dengan sendirinya. Saya tak sanggup mengatakan semua kepahitan ini, bik.”


Rai mulai menyortir foto-foto. Ya, setidaknya kini dia punya petunjuk bahwa Tegar adalah tetangga dan teman semasa kecilnya. Dia kemudian pindah ke Surabaya. Sedikit demi sedikit dengan menggabungkan antara kejadian dalam mimpi, foto dan cerita pembantu belakang rumah, ingatannya mulai tersusun dengan jelas.


Masalahnya adalah kenapa orang di rumahnya tak mau menyinggung masalah Tegar? Apa yang sebenarnya dilakukan anak tersebut? misteri apa dibalik mimpi dan juga kenyataan tentang anak laki-laki itu?


***


“Apa kita harus cari sampai Surabaya? Surabaya juga kota besar. Kita butuh petunjuk lain supaya bisa sampai ke tempat tinggal si Tegar berada,” komentar Vania setelah mendapat penjelasan dari Rai.


“Gue tahu. Makanya elo bantu gue cari surat yang dimaksud bunda. Mungkin surat itu isinya sangat penting. Dan kalau kak Tegar pernah ngirimi gue surat, otomatis dia nuliskan alamat rumahnya di Surabaya.” Vania manggut-manggut. Dia menikmati minuman segar yang ada di kafe.


“Rai.. itu bukannya itu si Keyla ya?” kata Vania menunjuk seorang anak kecil yang baru saja masuk dengan ibunya.


“Iya itu Keyla,” kata Rai setelah menyipitkan mata untuk melihat dengan jelas.


“Keyla...” teriak Rai. Keyla celingukan dan setelah melihat Rai dan Vania yang melambaikan tangan padanya dia berlari ke arah mereka.


“Kakak...” sapa Keyla. Rambut doranya dikuncir dua dengan pita angry bird. Rai langsung mencium pipi tembemnya dengan gemas. Begitu juga dengan Vania.


“Keyla jangan lari aja,” tegur sang mama saat menghampiri Keyla. Keyla hanya cengengesan.


“Siang tante,” sapa Vania dan Rai pada mama Keyla.


“Siang,” sahutnya sambil tersenyum ramah.


“Mama.. ini kak Raisya dan kak Vania yang Keyla ceritakan,” kata Keyla sambil menunjuk mereka berdua.


“Raisya.”


“Vania.”


“Mama.. kita duduk sama mereka ya.” tangan Keyla menarik-narik ujung lengan baju sang mama.


“Iya tante, silahkan,” tawar Rai. Tante Maya mengangguk. Setelah memesan makanan, mereka mengobrol lama.


“Papanya Keyla dimana sekarang?” tanya Vania.


“Papa Keyla kerja di Kalimantan, Kak. Kata mama di pengeboran minyak,” jawab Keyla dengan mulut belepotan es krim. Semua tertawa kecil melihat polah Keyla.


“Oh ya? Papanya kakak juga kerja disana,” sahut Rai.


“Benar kak?” tanya Keyla meyakinkan. Rai mengangguk.


“Papanya Keyla kerja di perusahaan AM, pengeboran minyak,” perjelas tante Maya.


“Lho, papa saya juga kerja disana tante,” kata Rai.


“Dibagian apa?mungkin papanya Keyla kenal,” tanya tante Maya.


“Arga, bagian HRD,” jawab Rai. Seketika gelas yang ada ditangan tante Maya tumpah mengenai baju Keyla.


“Mama!” pekik Keyla.


“Eh..aduh sayang...maaf ya. Sini ayo ke kamar mandi. Sebentar ya,” Tante Maya mengajak Keyla ke kamar mandi.


Tante Maya membersihkan baju Keyla dengan tisu sambil melamun.


“Mama,” tegur Keyla.


“Ah iya sayang. Ayo, sepertinya kita harus pulang, kamu bisa masuk angin,” kata tante Maya. Vania dan Rai menunggu mereka balik dari kamar mandi.


“Maaf ya, tante sama Keyla harus pulang dulu. Keyla harus ganti baju, khawatir nanti masuk angin,” ujar tante Maya sambil meraih tasnya. Vania dan Rai mengangguk dan tersenyum. Keyla melambaikan tangan pada mereka saat keluar pintu.


“Keyla sama mamanya mirip banget ya. Tante Maya itu..cantik dan anggun. Mungkin Keyla kalau besar bakalan kayak dia,” kata Vania.


Rai mengangguk setuju. Tapi jauh dalam benaknya, entah mengapa, Rai merasa ada sesuatu yang ganjil dengan tante Maya.


***