
Sabtu malam minggu tepat pukul tujuh malam. Rai tengah bersiap-siap untuk pergi dan tak lama kemudian Zac menjemputnya. Mobil Swift berwarna putih tersebut membelah malam dikeramaian kota akan wakuncar atau waktu kunjung pacar.
Dua sejoli yang terbuai cinta remaja ini hanyalah satu diantara ribuan pasangan muda yang menikmati hari dimana hanya saat itu adalah milik mereka berdua, yang lain? Numpang lewat aja.
Rai dan Zac duduk tepat dibagian tengah. Film yang saat itu ditontonnya adalah film remaja romantis. Satu setengah jam film tengah berlangsung, tiba-tiba Zac memegang tangan Rai yang dingin oleh AC dan bodohnya pakaian yang dikenakan berbahan sifon, serta berlengan pendek tanpa membawa jaket.
Meskipun Rai memakai syal rajutan dari benang wol hadiah Zac saat dari Jepang, tetap saja membuatnya nyaris menggigil akibat kedinginan. Malam hari suhu udara Jakarta mencapai 22 derajat celsius, dimana dinginnya menusuk ke tulang-tulang karena usai hujan.
Rai menoleh tanpa berkomentar ia menggigit bibir menahan malu kemudian tersenyum tanpa menarik atau membalas genggaman tangan Zac. Hati mereka berdua dijolak suasana yang sangat mendukung hingga yang terasa saat itu hanya debaran jantung yang saling berkomunikasi. Zac tampak ingin beringsut dari tempat duduknya, akan tetapi ia malah mendongakkan wajahnya ke arah Rai.
Gadis berwajah putih ini nampak gugup. Zac menunduk dalam-dalam hingga Rai dan dirinya menahan napas. Rai memejamkan mata selagi wajah Zac terus menghampirinya. Setengah senti dari wajahnya dia merasakan debar jantungnya dan jantung Zac telah terhubung dengan irama yang sama. Tiba-tiba bibir hangat Zac menyentuh bibir dingin Rai.
Jantung mereka berdua semakin berpacu cepat dan terasa panas. Hanya sekilat saja, karena setelah itu lampu bioskop kembali nyala. Tidak terasa ternyata film telah usai. Merekapun tersadar dari momen indah yang tak lebih dari sepuluh detik itu namun serasa lima tahun.
Rai keluar dari gedung bioskop dengan semu merah diwajahnya. Zac masih menggenggam tangan Rai yang mulai menghangat. Sadar kalau kekasihnya sedang kedinginan, ia melepas jaket dan memakaian pada tubuh Rai. Adegan yang sama persis dengan film yang baru saja mereka tonton.
Rai melambaikan tangan melepas kepergian Zac, tidak seperti biasanya yang mengajak mampir terlebih dulu. Cukup sudah waktu singkat terindah dari perjalanan awal kisah kasih mereka. Sangat bijaksana untuk membatasi diri dan tak terlalu berlebihan.
Cukup smart komitmen mereka berdua, bahwa terlalu berlebihan dalam bertemu akan membuat mereka cepat bosan. Maka dari itu, mereka sebisa mungkin menggunakan saat-saat yang tepat dan kembali ke rumah dengan tepat waktu yang tidak terlalu tergila-gila akan sebuah date.
***
Rai rebahan di atas ranjang, perasaannya masih berdebar luar biasa. Teringat hangatnya bibir Zac sampai saat itu. Wajahnya kembali bersemu merah dan ia tak bisa berhenti menahan senyum. Itu adalah first kissnya.
Bibir Zac begitu lembut. Ia tak menyangka jika bibir cowok bisa selembut itu. Menghangatkan bibirnya meski sekejap dan membuatnya lupa bernafas. Ia sungguh bahagia dan melayang diatas awan, semua beban pikirannya terasa hilang. Masalah sekolah, mimpi aneh, rasanya semua terbayar dengan kencan malam itu.
Rai tersadar kalau jaket Zac masih melekat pada tubuhnya. Seharusnya ia segera mengembalikan pada Zac. Tapi, tak apalah. Besok ketika sekolah Rai bisa bertemu dan menyerahkan jaket Zac. Ia memeluk dan mencium aroma parfum Zac pada jaket tersebut. Rai adalah pecinta parfum.
Herannya kenapa dia sangat menyukai aroma parfum cowoknya tersebut. Tanpa sadar Rai terlelap hingga ia lupa berganti pakaian ataupun menghapus sisa make up natural yang melekat di wajah.