1001 For 1 First Love

1001 For 1 First Love
Rumah Yang Asing



Makan malam seperti kehidupan malam-malam sebelumnya, Rai dan bunda masih saja dililit kebisuan. Dan tuk kesekian kalinya hanya dentang sendok-garpu yang terdengar. Bunda mencoba mencairkan suasana yang lebih hening dari sebelumnya dengan menanyakan tentang sekolahnya hari ini. Rai menjawab dengan gelagapan, karena ia sedang melamun. Kemudian mereka kembali makan dalam diam.


Tak lama setelah makan malam, bel rumah berbunyi. Zac, datang. Kehadiran Zac tidak memulihkan mood Rai. Tapi, sepertinya membuat bunda tampak bahagia dan senang. Bagaimana tidak, Zac sosok jangkung tampan yang sangat sopan di depan bunda.


Dia pandai sekali mengambil hati bunda, lewat kesederhanaan kata-kata dan sikapnya meskipun dia adalah seorang anak pengusaha kaya. Zac, adalah pacar pertama Rai, dan tanpa backsreet seperti remaja umumnya, bunda sangat merestui hubungan mereka dan berharap bisa bertahan lama.


Bunda yakin dan percaya sepenuhnya, kalau Zac bisa menjaga dan menjadi pelindung bagi Rai kelak. Kedatangan Zac membuat bunda urung segera menuju kamarnya setelah makan malam.


“Sudah lama saya tidak menjenguk tante. Gimana kabarnya? Apa tante sehat?”


“Ah, iya kita jarang bertemu ya. Yah beginilah, seperti yang terlihat. Rai...ambilkan minum untuk Zac ya.”


Selagi Rai membuatkan segelas minuman untuk kekasihnya, Rai melihat mobil sang papa berhenti di depan rumahnya.


“Bunda, papa datang,” kata Rai girang, dia meletakkan minuman Zac di meja dan berlari menuju pintu.


Rai memeluk mesra sang papa dan menggandeng tangan seraya membawa masuk. Pria pertama yang dicintai Rai setelah Zac.


“Pa, kenalkan ini Zac,” kata Rai sambil mengedipkan mata ke papa penuh bangga.


Zac dengan santun memperkenalkan diri dan menyalami papa Rai. Papa dan bunda saling tersenyum singkat dan bersalaman.


“Bunda ambilkan minuman untuk papa kamu,” kata bunda seraya masuk ke dapur.


“Papa, kapan tiba di Jakarta? papa bisa menginap di rumah kan?”


“Tidak bisa Rai. Malam ini juga papa harus menuju hotel di luar kota. Papa ada proyek besok.”


“Yah...berangkat dari rumah kan bisa. Pliss, Pa. Papa gak pernah tinggal lama di rumah sendiri. Papa gak kangen Rai sama bunda ya?” Rai merajuk manja dan menggelayuti lengan sang papa. Zac dan papa tertawa kecil.


“Ha.ha..ha..princess papa sangat kekanakan. Bagaimana kamu bisa pacaran dengan gadis manja saya?” goda papa pada Zac. Zac membalas dengan senyum ringan tepat saat bunda datang membawa secangkir kopi.


“Om-tante, saya pulang dulu. Sudah malam. Lagipula saya tidak mau mengganggu acara keluarga,” kata Zac sambil berdiri.


“Lho, kenapa buru-buru? Ini masih jam delapan malam.” papa melihat arloji.


“Gak pa-pa, Om. Lain kali saja saya lebih lama ngobrol dengan om. Saya rasa, Rai hanya ingin berlama-lama dengan om yang udah lama gak ketemu.”


“Hati-hati di jalan ya, Nak.” Bunda berpesan.


Setelah berpamitan dengan kedua orangtua kekasihnya, Rai mengantarkan Zack e ambang pintu.


“Makasih ya sayang. Kamu pengertian sekali. Tahu kalau aku sangat kangen sama papa.” Rai menggenggam tangan Zac. Ia bersyukur mempunyai cowok yang pengertian.


“Iya, kita masih punya banyak waktu kok. Malam yang indah ya buat kamu dan keluarga.” Zac mengelus kepala Rai dengan lembut. Dan Rai melambaikan tangan saat Zac masuk mobil.


***


“Bagaimana keadaan Rai? gimana dengan sekolahnya?”


"Ya. Baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir. Semuanya aman. Aku bisa mengurus Rai dengan baik.” Bunda berkata dingin. Papa manggut-manggut.


Rai baru sadar bahwa selama bertahun-tahun papanya hanya menjenguknya setahun tiga kali. Saat lebaran, saat ulang tahunnya dan saat yang tidak terduga, seperti malam ini. Itupun papa jarang menginap di rumah.


Selarut apapun, pasti akan pergi. Ketika lebaran, Rai bergiliran ke tempat nenek dari keluarga besar papa kemudian ke keluarga besar bunda. Tanpa pernah terlihat mereka bertiga mudik bersama ketika beberapa tahun terakhir ini.


Ada saja alasan yang begitu meyakinkan ketika Rai bertanya-tanya, dan dengan bodoh serta polosnya saat itu dia percaya saja. Ada jarak sepertinya antara bunda dan papa, dan Rai baru menyadarinya sekarang. Dia tertawa *****, ketika memikirkan hal tersebut. Antara bunda dan papa pasti telah terjadi sesuatu dan berjalan cukup lama.


Papa mulai bangkit dari tempat duduknya, gusar karena Rai tak kunjung kembali. Rai menyadari hal tersebut dan dia menghampiri kedua orang tuanya dengan sikap senormal mungkin.


“Maaf ya pa lama nunggunya.”


“Iya sayang, papa ngerti kok. Oh iya, kamu udah makan malam? Bagaimana kalau kita makan bersama diluar?”


“Udah sih pa makan malam. Gimana kalau nonton aja?”


“Oke. Papa udah lama gak nonton. Kamu siap-siap gih.”


“Bunda juga ikut kan?” tanya Rai. Mimik muka bunda nampak malas dan tidak berselera.


“Bunda di rumah saja, Rai. Bunda lagi gak enak badan. Bunda mau istirahat. Kamu senang-senang sama papa saja ya.”


Rai mengerutkan kening dan terasa aneh. Namun, ia segera berganti pakaian untuk pergi bersama sang papa. Rai membisu dan berkutat dalam kejadian-kejadian yang ada dihadapannya. Ia tak mengerti. Mungkin saja orang tuanya sedang bertengkar, tapi sesuatu dalam hatinya berkata lain.


“Kok jadi diem? Gara-gara papa ganggu malam kamu sama Zac ya?” goda papa saat menyetir, menyadari anak perawannya yang selalu ceria dan semangat bercerita saat bertemu dengannya tiba-tiba menjadi malas bicara.


“Ah, enggak kok, Pa.”


“Cerita donk sama papa gimana si cowok tadi?”


Rai tersenyum simpul. Ia sedang tak minat membicarakan Zac walaupun sangat ingin. Ia memikirkan hal lain.


“Belok, pa.”


“Lho... kan bioskop paling dekat disana.” Papa bingung tapi segera mengikuti instruksi Rai.


“Kita ke tempat lain aja.”


Kali ini Rai tidak ingin nonton sama sekali. Dia ingin berbicara serius dengan papanya. Ingin sebuah penjelasan terkait dengan sikap bunda, masa kecil Raid an hubungan keluarganya.


Setelah sang papa memarkirkan mobil di sebelah jembatan seperti permintaan Rai, gadis itu keluar mobil terlebih dahulu menuju pagar pembatas jembatan. Sang papa mengikuti langkah putrinya.