1001 For 1 First Love

1001 For 1 First Love
Tetangga Baru



September minggu pertama, sebuah musim kemarau yang merontokkan dedaunan pohon beringin di family garden. Membuat para petugas kebersihan kompleks semakin sering menyapu rumah. Di minggu pagi, sekitar pukul delapan, matahari sudah sangat terik menonjol naik. Sebuah tangan kecil mengetuk rumah karena jemarinya tak bisa meraih ujung bel dan memencetnya.


Tok.tok.tok. Raisya kecil mengetuk sebuah pintu rumah 12/A. Ia sangat kerepotan dengan membawa Loyang berukuran besar dengan satu tangan dan tangan satunya mengetuk pintu berkali-kali agar segera dibukakan oleh empunya rumah. Tak lama kemudian terdengar suara nyaring merdu dari dalam rumah dan seorang wanita muda nan cantik membuka pintu.


“Pagi tante... saya Raisya putrinya papa Arga dan bunda Nita. Saya tetangga baru di rumah 17/A. Ini ada puding buatan bunda buat tante sekeluarga,” sapa Raisya kecil dengan sopan yang saat itu berusia enam tahun, sambil membawa loyang berisi puding yang ditutupi selembar serbet tipis bermotif. Wanita muda itu tersenyum ramah, dia nampak senang mendapat tamu istimewa di pagi hari.



“Wah..ada anak cantik. Sini ayo masuk rumah tante dulu.” Sang wanita mengambil alih loyang tersebut dan menggandeng Raisya kecil masuk ke dalam rumahnya. “Tegar... ada teman sayang..!!” teriak sang wanita memanggil anak laki\-lakinya.


Tegar, sedang membuat sebuah kapal dari kertas lipat di ruang keluarga. Sang wanita mengantar Raisya kecil ke ruang keluarga juga.


“Tegar ini ada teman dan tetangga baru. Kamu ajak main sebentar ya. Mama mau ambilkan kue,” kata sang mama.


Tegar mengangguk. Dia berdiri melihat sang teman baru dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rai mengenakan dress berwarna biru laut sepanjang lutut. Rambutnya dikuncir dua dengan pita stroberi. Wajahnya bulat, kedua pipinya kemerahan saking putih pucat kulitnya, mata Rai sangat lebar dengan alisnya yang tebal, bibirnya mungil berwarna kemerahan seperti buah leci. Tegar nyaris tak berkedip melihat peri kecil dihadapannya yang dengan malu-malu tersenyum lembut padanya.


“Aku Tegar. Kamu siapa?” tanya anak berusia delapan tahun tersebut pada Raisya kecil sambil mengulurkan tangan. Saat mengulurkan tangan Tegar nampak gemetar.



“Aku Raisya Arganita, enam tahun.” Raisya kecil membalas uluran tangan Tegar dengan riang.



“Oh...berarti kamu lebih muda dari aku. Kamu panggil aku kak Tegar ya,” kata Tegar sok dewasa. Raisya mengangguk.



“Apa itu?” tanya Raisya penasaran melihat ada kapal, pesawat dan katak yang terbuat dari kertas lipat.



“Oh ini..kamu bisa buat?” Tegar kembali duduk melanjutkan melipat kertas. Raisya kecil menggeleng.


“Sini aku ajarin,” ajak Tegar.


Merekapun akhirnya bermain bersama dengan membuat berbagai macam bentuk dari kertas lipat yang berwarna-warni. Dalam sekejap saja mereka menjadi sangat akrab.


***


“Rai...bangun sayang. Ini menjelang malam. Kamu belum makan dari tadi siang kan?” bunda sedikit mengguncangkan tubuh Raisya dewasa.


Sekejap mimpi indah Rai buyar. Ia merasakan tangan lembut dan kurus memegang keningnya. Rai mengerutkan kening dan membuka mata. Pandangannya buram, ia harus mengerjap beberapa kali.


Dihadapannya bunda masih berpakaian kerja. Sepertinya baru saja pulang dan langsung menuju kamar Rai. Ia mencoba mengingat dan sadar bahwa tidak sedang berada di rumah nomor 12/A. Rai melirik jam dinding. Hampir jam tujuh malam. Dia duduk menghadap sang bunda. Kepalanya masih terasa berat.


“Bibik bilang, kamu habis keliling kompleks dengan Vania dan katanya kepala kamu pusing gara\-gara kepanasan ya?” Bunda bertanya sambil menyisir lembut poni Rai yang berantakan dengan tangannya. Ia sangat cemas melihat Rai kurang sehat. “Apa yang sedang kamu lakukan dengan Vania tadi?”



“Bunda.... kak Tegar itu seperti apa?” tanya Rai spontanitas membuat raut muka bunda berubah.



“Siapa itu Tegar?” tanya bunda dengan nada sebiasa mungkin.



Saat Rai turun ke bawah dan akan menuju ruang makan, dia mendengar bunda memarahi bik Inah.


“Saya kan sudah bilang bik, masalah Tegar jangan sampai Rai tahu. Itu bisa membuat semuanya terbongkar. Kita sudah menutupnya rapat\-rapat selama sepuluh tahun.” Bunda melipat tangan marah. Bik Inah menunduk.


“Saya benar-benar tidak tahu nyonya, bagaimana non Rai bisa tahu mengenai mas Tegar. Saya gak pernah cerita sedikitpun. Saya juga sudah menaruh album, surat, dan mainan kertas itu.”


“Lalu kalau bukan bibik siapa lagi? Saya gak tahu apa yang akan terjadi kalau sampai Rai semakin jauh mengetahui semua ini. Besok bakar semuanya!”


Rai memekik pelan karena terkejut dengan keputusan bunda. Dia segera naik ke atas kembali sebelum bunda melihatnya menguping. Rai menendang kaki ranjang dengan kesal. Dia tak habis pikir, apa yang sebenarnya terjadi hingga sang bunda begitu sangat membenci Tegar, bahkan rahasia besar apa yang harus disembunyikan darinya begitu rapat dan sangat lama.


***


Dentang sendok dan garpu terdengar tak seirama. Bunda harus berkali-kali membujuk Rai untuk makan malam dan jika ia tidak mau maka makanan akan diantar ke dalam kamarnya, dan bunda sendiri yang akan menyuapinya.


Rai yang kini remaja sangat tidak menyukai perlakuan kekanakan seperti itu. ia merasa bisa mengurus dirinya sendiri dengan baik tanpa harus dipaksa untuk makan apalagi disuapi. Ia memang sedikit pusing tadi, tapi sekarang ia tidak mau makan bukan karena sakit tapi akibat rasa malas yang timbul setelah perselisihan kecil dengan sang bunda saat dibangunkan tidur.


“Tadi, bunda suruh bibik buatkan sup asparagus kesukaan kamu,” kata bunda sambil menyendokkan sup asparagus banyak-banyak ke piring Rai. Rai mengangguk dan dengan malas memakannya.


“Sepertinya kamu sakit? Apa perlu bunda hubungi dokter? kenapa gak nafsu makan?” bunda bertanya cemas. Rai menggeleng.



“Bunda... Rai ingin bunda berkata jujur dan apa adanya. Siapa... kak Tegar itu?”


Bunda meletakkan sendok dan garpu. Tangannya terlipat diatas meja. Ia sangat membenci obrolan ini.


“ Bunda kan sudah bilang kalau bunda gak kenal. Dan kenapa kamu masih ngotot juga?”



“Bunda jangan bohong sama Rai. Rai tahu semua orang disini menyembunyikan sesuatu. Sebuah rahasia besar yang ada hubungannya dengan kak Tegar.”



“Rai!!” bunda membentak. “Tidak ada yang perlu kamu ketahui, karena memang tidak ada sesuatu yang disembunyikan. Kita sedang makan tidak seharusnya kamu banyak bicara.” Mata bunda melotot tajam.


Bahkan bik Inah yang akan menyajikan puding sebagai penutup tampak gemetar. Rai membanting sendok dan garpunya. Siapa yang mengajak ngobrol siapa ketika makan? Amarah Rai memuncak.


“Baik, kalau bunda gak mau cerita. Rai akan cari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Apapun yang Rai temukan nanti, bunda tak berhak menghalangi.” Rai bangkit dari kursi.



“Mau kemana kamu? habiskan makan malammu!” perintah bunda marah.



“Rai udah gak selera makan,” jawab Rai ketus. Dia menuju kamar. Sang bunda menghela napas panjang dan meletakkan sendok garpunya. Bunda juga tak nafsu makan setelah pertengkaran dengan sang putri kandung.


***