1001 For 1 First Love

1001 For 1 First Love
Memori Tua



Siang terik tertutup oleh awan, sehingga kesan panas dari ibukota ini sedikit terasa sejuk. Dua gadis pelajar yang berjalan menuju parkiran mobil merasa gerah dan berkipas-kipas bukan karena cuaca, akan tetapi pada suasana kelas dan masalah remaja.


“Hari ini kayak di neraka. Full ulangan harian. Guru-guru pada sepakat kali ya, buat nyiksa kita,” gumam Vania kesal, mukanya yang cantik tak nampak kusut meski bete. Muka perpaduan Melayu-Timur Tengah.


Ia menyalakan mp3 mobil Rai dan ******* nougat secara langsung dalam satu batang panjang. Sekejap saja Vania menghabiskan tiga bungkus nougat kurang dari lima menit yang dibelinya dari minimarket dekat sekolah.


“Elo, jadi kan kerumah gue?’’ tanya Rai tanpa mengalihkan perhatiannya pada lampu merah yang menghitung mundur. Vania mengangguk.


“Asal mampir makan dulu ya...gue mau makan ice cream jumbo buat mendinginkan hati gue yang ancur banget.” Mulutnya masih penuh dengan nougat pada bungkus keempat.


Rai tertawa lebar mendengar ucapan Vania yang terkesan lebay. Ia heran, Vania telah menghabiskan empat bungkus nougat yang seharusnya cukup membuatnya kenyang.


Akan tetapi, gadis itu menderita busung lapar rupanya. Sebanyak apapun dia makan, tidak pernah gemuk dan kenyang.


Yah, sebenarnya dia juga tak terlalu suka hari ini. Sudah masalah mimpi aneh, pagi-pagi dapat ulangan sampai jam terakhir. Siapa yang gak bad mood juga? Untung saja Rai diberi anugrah otak cemerlang. Setidaknya, meskipun dia tidak belajar, urusan eksak nol kecil.


Hampir semua mata pelajaran nilainya sempurna, hanya bahasa Indonesia dan olahraga saja ia tak terlalu menguasai.


Tuhan memang adil mengatur garis takdir dan hidup seseorang, berbeda dengan Rai, Vania malah sangat pandai bahasa Indonesia, dia sering memenangkan lomba puisi, syair, pidato sampai tingkat provinsi.


Dia menjadi pemeran terbaik dalam drama musikal lomba antar SMA se-DKI Jakarta. Hampir semua guru bahasa Indonesia mengenalnya, ditambah lagi dia juga jago berenang. Siapa yang tidak mengenal Vania? Siswi top dengan kecantikannya dan multi-talent membuat ia menjadi jajaran lima cewek beken di sekolah.


Semenjak SMP udah nongol di berbagai sampul majalah remaja. Pernah mendapat beasiswa sekolah modelling di Paris, tapi Vania menolak untuk alasan yang tidak jelas. Sebenarnya dia mempunyai bakat sebagai artis.


Anehnya, dengan seluruh bakat dan kelemahan yang dimiliki, Vania malah bercita-cita sebagai Polwan.


Ya, benar. Polisi wanita.


Sosok abdi negara wanita. Rai sampai tak percaya dengan impiannya tersebut, bukannya apa-apa. Tapi, seorang superfeminim, supergirly, superprincess seperti Vania mau jadi Polwan? yang sewaktu latihan PBB atau upacara saja selalu pakai masker penutup dan tabir surya, dan sering memakai payung menghindari terpaan panas.


Guru BK sampai memanggilnya dan menanyakan ratusan kali dengan tampang tak percaya seperti halnya Rai dan semua orang termasuk kedua orang tuanya, seolah terdapat tanda tanya besar “Vania yang takut jadi hitam dan ogah panas-panasan mau jadi POLWAN???”


Terkadang Vania sedikit kesal dengan orang-orang yang menyepelekan impiannya. Yah, Rai mulai melatih Vania untuk mau menerima terpaan sinar matahari walaupun seringkali dia menahan tawa jika mengingat impian sahabat baiknya tersebut.


Sedangkan Rai, tentu saja seperti impian orang-orang pada umumnya, ia ingin menjadi seorang dokter.


***


Mobil Rai memasuki gerbang penjagaan kompleks perumahan cluster dengan penjagaan ketat. Ia membuka kaca mobil dan menyapa satpam di pos penjagaan.


Blok A Mediterania berada di tengah kawasan, dengan tipe rumah paling mewah. Tipe blok A Mediterania diapit oleh Sport centre dan family garden perumahan. Sangat strategis untuk berolahraga maupun bermain-main di taman.


Tak heran, Vania seringkali berenang dan nge-gym gratis disana dengan menggunakan kartu keanggotaan Raisya selain untuk bermain di rumahnya.


Di rumah tidak ada siapapun, bik Inah pergi ke swalayan untuk belanja bulanan rumah. Bunda kerja dan sepertinya akan lembur sampai malam seperti biasa di kantor DHS Law Firm. Rumah besar itu nampak sepi. Sama sepinya dengan rumah-rumah di sebelahnya pada siang hari seperti ini.


Untuk itulah, terkadang Vania tidak menyukai hidup di kompleks perumahan mewah yang terkesan individual. Meski rumah-rumah itu tak berpagar menjulang tinggi seperti rumah megah umumnya, namun tetap saja.


Keheningan, kesunyian, sepi, terasing begitu kentara. Meski rumah-rumah itu saling berdempetan.


Akan tetapi, rumah Rai tidak hanya sepi secara fisik saja karena memang hanya ada Rai dan Vania, lebih pada kehangatan dan kenyamanan rumah tersebut telah lama menghilang. Hanya bangunan yang berfungsi peneduh dan tempat istirahat saja. Dingin, kaku dan sedikit suram.


Dinding-dinding rumah itu memang bisu, namun disisi lain mereka menceritakan betapa menyedihkannya rumah megah tersebut. Karena rumah mewah itu, dahulunya pernah menjadi hangat, pernah ada kehidupan dan yang tersisa hanyalah jejak-jejak tak kasat mata. Seolah kini tak ada suasana kehidupan sebuah keluarga bahagia di dalamnya.


Keluarga? Rai sendiri seringkali bingung mendeskripsikan arti sebuah keluarga.


“Bokap lo gak pernah pulang ya Rai?’’Vania bertanya prihatin membaca sekeliling aura rumah, meski ratusan kali ia kesana dan tetap sama, tak ada yang berubah. Vania memiliki sense yang sangat tinggi. Mungkin itu mistik, mungkin juga tidak.


“Terakhir papa pulang setahun lalu. Saat gue mau masuk SMA. Itupun Cuma dua hari.’’


“Nyokap lo gak kesepian Rai?” tanya Vania sambil melihat foto papa Rai dalam foto keluarga dan lainnya diisi foto Rai dengan sang bunda.


Hanya foto keluarga usang itu yang membuat Vania tahu wajah bokap Rai. Vania selalu suka melihat foto keluarga itu, karena ia merasa foto itulah satu-satunya yang bisa ia saksikan sebagai bentuk keluarga harmonis Rai. Meski pada kenyataannya saat ini ia tidak melihat kehangatan dan kebersamaan keluarga Rai lagi.


“Tau deh… bunda aja sibuk, mana sempat mikir kesepian kali.” Rai sudah di dapur dan mengambil minuman untuk Vania.


“Elo gak pengen punya saudara Rai? punya adik gitu. Biar rame ada temennya.”


Rai tertawa kecil. “Dulu sewaktu masih SD gue ngebet banget ma nyokap buat dikasih adik. Tapi, gak taulah mungkin nyokap gue sulit punya anak atau karena orang tua gue jarang ketemu jadinya gak bisa kasih adik. Kalau sekarang gue ogah, masa’ udah gede gini punya adik bayi? lagian usia nyokap gue juga udah kepala empat lebih, rawan buat hamil, kan?” kata Rai.


“Ortu gue malah hobi banget kasih adik.” Vania dan Rai tertawa kecil. Vania sedikit meneguk es jeruknya. Dia menyomot beberapa manisan buah dalam lemari es dan potongan soft cake.


***


Sekarang, mereka berada dalam ruang keluarga yang lebih besar dari ruang tamu. Ruang keluarga itu dilengkapi dengan sofa besar berbeludru keemasan. Lampu Kristal bersusun tiga yang membentuk kerucut bergelantungan mengkilat-kilat.


Lemari pajangan besar dengan kaca-kaca etalase dihiasi oleh vas-vas Kristal dan bunga Kristal yang berjejer mewah. Sudut rumah tersebut nampak paling megah menonjol daripada ruangan lainnya menurut Vania.


Vania meminta album kenangan kecil yang dibicarakan Rai. Rai mengambil beberapa album foto dari laci terbawah di lemari pajangan yang terdapat di ruangan tersebut. Vania melemparkan diri ke salah satu sofa.


Saat melihat-lihat, tampak Rai semasa bayi hingga dia memasuki masa sekolah di taman kanak-kanak. Perkembangan tubuhnya yang sangat baik. Foto keluarga dan juga ketika Rai memasuki TK.


Vania berkelakar dengan beberapa foto Rai. mereka tertawa membicarakan tentang masa kecil masing-masing. Tiba-tiba saat Vania membuka album kedua yang berisi tentang teman-teman Rai dari kecil hingga foto SMPnya, terdapat beberapa foto yang membuat Vania curiga.


“Rai...lihat deh,” ujar Vania sambil menunjukkan beberapa foto saat dia masih kecil.


“Disini ada foto salah satu teman sekolah elo yang sangat aneh. Lihat wajahnya seperti blur dan kusam. Sedangkan yang lain baik-baik aja. Nah, disini juga, ketika elo main ayunan, wajahnya blur lagi. Di beberapa foto elo dan dia banyak yang seperti itu. Kenapa hanya wajahnya dia saja yang rusak, tetapi yang lain enggak?” tanya Vania penasaran dan jarinya berusaha menggaruk-garuk foto tersebut mengira mungkin debu yang menempel.


Rai melihat seksama dia juga ikut heran dan penasaran. Dia membuka foto-foto yang lain.


“Nih.. lebih parah. Dicoret sama spidol Rai!” tunjuk Vania pada sebuah foto dengan nada sedikit histeris membuat Rai panik dan sama terkejutnya.


“Aduh...gue gak ingat, Van. Rasanya aneh aja ngeliat tuh foto,” Rai mengerutkan keningnya.


Vania merasa bahwa foto anak tersebut memang sengaja dirusak. Karena melihat dari bekas pada lem yang menempel pada foto itu, seolah setelah ditempel kemudian dicabut kembali dari album kemudian ditempel lagi. Belum lagi sekitar tiga foto wajah anak laki-laki yang bersama dengan Rai wajahnya dicoret.


Tak lama kemudian bunyi klakson mobil Bunda terdengar. Mereka berdua tersentak kaget dan segera membereskan album-album foto ke dalam lemari. Rai mengajak Vania bergegas masuk kamar.


“Kenapa?” Tanya Vania heran.


“Sebenarnya bunda gak suka lihat gue buka-buka album. Makanya kita pura-pura disini aja.”


“Lho..?emang kenapa?”


Rai mengangkat bahu dan ia lebih heran dengan kepulangan mama yang lebih awal dari biasanya.


Tok.tok.tok. Bunda mengetuk pintu kamar Rai hingga mereka berdua melonjak ke atas ranjang. Bunyi decit terdengar keras di kaki ranjang yang terbuat dari besi. Bunda membuka pintu perlahan sambil sedikit mengintip.


“Wah, kebetulan ada Vania. Ini tante lagi beli pizza.” Bunda menyerahkan box pipih persengi berwarna coklat berisi pizza berukuran large.


“Iya, makasih tante,” kata Vania langsung menyambut box pizza. Sekejap saja mereka lupa tentang album tersebut dan menikmati pizza yang masih hangat dengan toping jamur dan pinggiran keju yang meleleh.