
...PENDEKATAN...
...#Bersikap peduli...
...“Jangan berusaha peduli, aku tak mau dikhianati.” —Pejuang move on, Hana Aulia....
...•••...
Selepas mengantarkan tugas pada meja Bu Nessa di Ruang Guru, tanpa sengaja Aul melewati Perpustakaan yang saat itu tengah sepi. Karena penasaran dan ingin memilah buku Bahasa yang akan menjadi tunjangannya untuk pembahasan sewaktu kumpulan nanti—yang akan disetorkan pada sang Ketua, agar dapat menjadi program rutinan.
Tidak ada niat Aul untuk menguping, hanya saja suara Halifah sangat Aul kenali, juga suaranya sedikit keras. Hingga membuat Aul dapat mendengarnya.
“Yakin? Tadi lo berduaan sama Azriel itu dan itu sering, gak cuma sekali,” selidik Halifah dengan menekankan kata ‘Azriel’ pada kalimatnya.
“Dia ganggu.” Itu suara Anzella dan Aul yakin bahwa tebakannya benar.
Tak lama dari itu, terdengar suara lain yang menimpali, “Kenapa lo gak bilang masalah yang datang ke lo? Sebenarnya kita itu siapa sih, Zell?” Suaranya serak, sepertinya dia sedang bersedih. Aul tidak berani menebak, dia takut berprasangka buruk.
“Hmm, maaf aku gak pernah jujur sama kalian. Aku gak mau selalu bergantung sama kalian. Terima kasih udah selalu ada buat aku, Anzella bakalan kasih tahu apa yang terjadi belakangan ini, tapi bukan di sini.” Suara Anzella sedikit bergetar saat melafalkan kalimat tersebut, Aul tahu bahwa dia sedang berusaha menahan tangisnya.
Hanya sebagian kalimat itu yang Aul dengar, tapi sudah cukup untuk dapat Aul simpulkan. Bahwa sikap Anzella yang disegani oleh banyak orang, adalah sebuah bentuk pertahanannya agar tidak melibatkan banyak orang dalam permasalahannya.
Setelah buku yang dipinjamnya dicatat oleh Bu Yanti—Ibu penjaga perpustakaan—pada sebuah kertas bertuliskan ‘Buku yang dipinjam’ dengan lima kolom yang mencantumkan rincian tanggal peminjaman buku dan pengembalian buku.
“Terima kasih, Bu.” Aul tersenyum kaku pada Bu Yanti, wanita berkacamata minus yang gemar dengan koleksi buku.
Bu Yanti sedikit melorotkan kacamatanya, menatap Aul dengan wajah datar. “Ingat, kembalikan setelah tiga hari atau jika ingin memperpanjang masa peminjaman.” Aul menganggut mengerti, Bu Yanti melanjutkan kalimat petuahnya. “Jika telat sehari saja, denda sesuai ketentuan!” Bu Yanti menunjukkan tata tertib perpustakaan yang terpajang di sebuah poster.
Aul menggumamkan dalam hati, salah satu peraturan di sana.
“Jika telat mengembalikan buku, maka pihak yang meminjamnya akan dikenakan denda sesuai dengan harga buku tersebut.”
Aul menelan salivanya susah payah, melirik canggung pada Bu Yanti. “B-baik, Bu. Saya akan mengembalikannya tepat waktu,” ujarnya dan segera meninggalkan perpustakaan dengan terburu-buru.
Anzella terlihat masih berbincang dengan ketiga temannya—salah satunya adalah Halifah dan dua lainnya tidak Aul kenali—yang berasal dari jurusan Tata Rias.
Teman-temannya telah pergi dan meninggalkan Anzella yang membawa banyak buku tebal.
‘Mungkin tadi temannya sudah menawarkan bantuan, tapi Zella menolaknya. Ugh, dia pasti tidak ingin merepotkan orang lain.’ Batin Aul.
Aul mendekati Anzella seraya menyerukan nama gadis tersebut. Meskipun tidak terlalu dekat dengan Anzella, tapi Anzella pernah satu peleton dengannya sewaktu Pendidikan Karakter Bela Negara tahun lalu.
“Zella!” Gadis yang namanya merasa terpanggil, menghentikan langkahnya. Dia dengan sangat hati-hati, menolehkan kepala pada Aul yang berjalan menuju ke arahnya.
“Sini biar aku bantu.” Aul mengambil sebagian buku paket yang berada di tangan Anzella, menumpukkannya di atas buku Bahasa yang dia bawa.
Kini separuh buku paket PPKN itu telah beralih pada tangan Aul. Sebelum Anzella protes, Aul kembali menambahkan kalimatnya. “Kamu kebiasaan, beban segini berat di bawa sendirian,” omel Aul.
Mereka berjalan beriringan menuju jurusan Tata Rias, Anzella sedikit merasa tertolong. Tangannya tadi sempat kebas karena berbicara terlalu lama dengan sahabatnya yang menawarkan bantuan. Tentu saja Anzella menolaknya, dia tidak mau semakin membuat orang kerepotan karenanya.
Dia sudah dilatih untuk menjadi gadis kuat dan mandiri.
“Hm ... makasih, Hana,” ujar Anzella tulus. Tidak lupa, Anzella tersenyum tipis di akhir kalimatnya.
Aul memekik senang, Anzella adalah satu-satunya orang di sekolah ini yang memanggil nama depannya. Selain itu, melihat wajah Anzella yang tersenyum merupakan pemandangan yang sangat langka di sekolah Bratajaya.
“Nah, gitu, Zell. Senyum.” Aul memberikan senyum terbaiknya pada Anzella. “Kamu lebih cantik kalau senyum, loh, Zell. Tapi jangan banyak-banyak senyum deh, bahaya,” ujar Aul sok misterius.
“Kenapa? Gila ya?” tebak Anzella.
Aul menggeleng. “Bukan, tapi nanti dikira cari perhatian. Atau yang lebih bahayanya lagi, cowok-cowok pada naksir!”
Anzella tertawa kecil, dia geli pada Aul yang menjelaskannya dengan semangat tapi ekspresinya terlihat murung. “Pengalaman ya?”
Aul tergelak kencang, buku-buku yang dibawanya hampir saja oleng, tapi dengan sigap Aul dapat menyeimbangkannya lagi. “Keliatan banget ya Zell?” Anzella menganggut. “Ya gini, deh. Pejuang move on sih,” ujar Aul berbangga diri.
Dalam hati, Anzella mendoakan Aul agar segera move on. Karena dia tahu, Aul pasti merasa terusik dengan kehadiran orang di masa lalunya. Meskipun Aul mengatakannya dengan setengah candaan, tapi matanya menyiratkan kesenduan. Anzella dapat melihatnya, karena mata itu tidak akan berbohong.
...•••...
Akmal menjelaskan secara rinci, bahkan hingga pada bagian cara Aul yang berpacaran dengan orang yang bernama ‘Irlan’ itu.
“Nah, gitu. Pokoknya dulu, si Aul ini polos amat lah, kalau diibaratkan kaya porselen yang rapuh dan masih polos, belum di gambarin apa-apa.”
Akmal menyeringai pada Riziq yang dari tadi diam menyimak penjelasannya. “Kalau lo mau PDKT sama Aul, kayanya bakalan agak susah sih.”
Kening Riziq mengernyit heran. “Kenapa?”
“Ada yang jadi penjaganya dia.”
“Mahesa itu?” tebak Riziq.
Akmal menjentikkan jarinya. “Bener! Mantap Bos, udah tahu aja tentang doi,” kelakarnya.
Riziq menatap jengah pada Akmal. “Semua orang juga tahu dia di antar-jemput sama Mahesa.”
“Wah, bau-bau cemburu nih!” Akmal heboh, dia bertepuk tangan seraya menepuk-nepuk punggung Riziq. “Sabar ya, selagi janur kuning belum melengkung, usaha tikung-menikung masih halal.”
Riziq menoyor kepala Akmal cukup keras. “Sialan lo!”
Akmal menstarter motornya, mereka sedang berada di parkiran siswa. Akmal yang baru selesai rapat OSIS dan Riziq yang baru selesai kumpul-kumpul dengan anak Basupati, mereka tadi menyempatkan diri berbincang di Kantin Bu Sri. Hingga penjelasan dari Akmal berhenti saat mereka memutuskan untuk segera pulang karena hari sudah petang.
“Tuh, doi.” Akmal menunjukkan Aul yang berdiri di arah jam dua. “Kayanya si Mahes kagak jemput. Mukanya mumet gitu.”
“Terus masalahnya?” tanya Riziq.
Akmal mengelus dadanya, sabar. “Ajak bicara, anter jemput sekalian biar lo tahu rumah doi, kan? Kasian tuh diem gitu.”
Riziq masih diam, meskipun dia sudah mengatakan pada Akmal, bahwa alasannya ‘ingin mengetahui tentang Aul’ itu karena dia mendapat mandat dari Wildan.
Mungkin ada kesalahpahaman yang Akmal simpulkan, atau ada yang salah dengannya juga?
“Harus banget?” tanya Riziq lagi.
Akmal mendesah kesal, dia menjitak kepala Riziq. “Terserah lo! Gue gak peduli!”
Riziq terkekeh pelan, dia mengacungkan jari tengah pada Akmal yang sudah mengumpatinya.
Riziq menghentikan motornya di depan Aul, membuat Aul terlonjak kaget karena kehadirannya yang tiba-tiba.
“Belum pulang?”
Aul menggeleng lemah. “Gak ada yang jemput, ponsel lowbat dan angkutan umum yang gak ada yang lewat mulu,” jelas Aul sembari celingukan mencari angkutan umum yang kemungkinan melintasi sekolah Bratajaya di jam setengah enam sore ini.
Sebagai ketua yang baik, Riziq harus peduli pada keselamatan anggotanya, kan?
Meskipun hari ini memang tidak ada kumpulan ekstrakurikuler Bahasa, tapi Riziq berinisiatif untuk menjemput Aul bukan hanya sekedar dorongan dari Akmal saja, dia juga khawatir jika Aul nekat pulang dengan angkutan umum, hal buruk yang sering dibicarakan di media masa terjadi padanya.
Riziq bukannya berpikiran buruk, hanya saja, kita harus lebih hati-hati, bukan?
Riziq mengikuti arah pandang Aul ke belakang, lalu kembali melirik pada Aul. “Gak bakalan ada angkutan umum di jam segini.”
Aul berdecap acap kali. “Pokoknya harus ada!” Suara Aul sedikit memaksa dan merengek pelan, dia kadang suka kesal jika kumpulan PMR pasti tidak ada yang bertanggung jawab untuk mengantarkannya pulang—dengan dalih bahwa rumah Aul letaknya sangat jauh—mata Aul sudah berkaca-kaca, menahan tangis.
“Bareng gue aja, gimana?" tawar Riziq.
Aul mengerjap pelan, dia merasa canggung saat Riziq menawarkan bantuannya. Aul yakin, pasti Riziq juga akan mengucapkan hal yang sama jika sudah tahu alamat rumahnya.
“Rumah gue ada di perumahan Nusa Indah, lo tahu? Emang yakin bakal nganterin gue ke sana?”
Meskipun tidak tahu letak perumahan yang disebutkan oleh Aul, Riziq menganggukan kepalanya. Kasian juga melihat perempuan yang berdiri gelisah di depan sekolah, dengan kendaraan yang belum tentu kedatangannya.
“Udah naik aja cepetan, nanti keburu tambah malam.”
Aul menurut, dia duduk di belakang Riziq dengan ragu, dia masih sangsi jika Riziq akan mengantarkannya pulang.
Jangan sampai, nanti dipertengahan jalan, dia diturunkan dengan alasan yang serupa dengan teman-temannya.
Aul tidak mau berharap lebih karena dia takut harapan itu berujung kekecewaan ataupun secara tidak sengaja dia menyakiti orang tersebut—dengan merepotkannya misalkan?
“Lo beneran gak keberatan buat nganterin gue, gitu?” tanya Aul setengah berteriak, karena suara bising dari kendaraan di jalan raya.
Riziq sedikit melirik lewat kaca spion. “Gue gak ngegendong lo.”
Aul berdecak, dia mencubit pinggang Riziq karena kesal. “Jangan nyebelin sekarang, Riz! Gue gak mau loh kalau tiba-tiba nanti, lo turunin gue di tengah jalan.”
Terdengar suara tawa Riziq dibalik helm full face-nya. “Mana mau gue jadi pembunuh karena nurunin anak orang di tengah jalan, ogah.”
“IH, BUKAN KAYA GITU JUGA RIZIQ!! LO JANGAN JADI NGESELIN DEH!”
Tawa Riziq semakin meledak, dia tidak tahu jika mengerjai Aul akan menyenangkan seperti ini. “Tenang aja, gue bukan cowok kaya gitu. Bunda gue ngajarin gue buat berkelakuan baik sama perempuan,” jawab Riziq serius.
Meskipun suaranya tersamarkan oleh laju kendaraan, Aul dapat mendengarnya dengan jelas. Dia mencebikkan bibirnya, ternyata Riziq ini tipe laki-laki mamaable sepertinya. “Dasar fakboy!” gerutu Aul cukup keras.
Saat di persimpangan jalan dekat kantor polisi, Riziq tiba-tiba menghentikan motornya. Aul panik. “EH, WOI! JANGAN BILANG KALAU LO MAU TURUNIN GUE DI SINI, HUAAA,” jawabnya heboh, dia berkali-kali memukul punggung Riziq saking takutnya.
“Bukan gitu,” sahut Riziq.
Aul mendelik, memandang Riziq dengan was-was. “Terus kenapa?”
Riziq mengusap tengkuknya, melirik Aul sekilas. “Rumah lo di sebelah mana ya? Gue gak tahu jalannya.”
Ingatkan Aul untuk tidak berteriak sekarang ini. “Tenang ada google maps, jadi tolong sebutin di jalan mana rumah lo? Ini banyak jalan yang nyebutin perum Nusa Indah,” lanjut Riziq, agar Aul tidak cemas.
Riziq sibuk dengan ponselnya, mencari rumah Aul di google maps. “Jalan Raya Kemuning,” sahut Aul cepat.
Riziq memberikan ponselnya pada Aul. “Nih, tolong arahin jalannya.” Aul menganggut, dia pun mengintruksikan Riziq ke arah jalan yang ditunjukkan oleh google maps.
Jika saja Mahesa tidak sibuk dengan anak geng-nya itu dan jika ponselnya tidak lowbat, sudah pasti sekarang Aul sudah ada di rumah dan sedang bersantai ria.
“Riz, ponsel lo sepuluh persen lagi, kuat gak?”
Meskipun sudah tinggal di Jakarta cukup lama, Aul sama sekali tidak ingat jalan. Dia sangat pelupa untuk urusan jalan raya.
“Dia kuat ....”
Tepat setelah Riziq mengucapkan kalimatnya, ponselnya langsung mati.
“Untuk waktu sebentar,” lanjut Riziq yang membuat Aul menangis kencang karena takut tidak sampai ke rumahnya.
“HUAAA, INI GIMANA RIZ?!!”