
...PROSES MOVE ON...
...#Jangan berusaha untuk melupakan...
...“Dari sekilas senja yang menghilang,...
...Kita belajar arti keikhlasan....
...Dari hujan yang datang bertandang,...
...Kita belajar arti kehidupan....
...Dan dari manusia kebanyakan,...
...Kita belajar akan perubahan.”...
...•••...
Aul pernah mendengar teori tentang pernyataan bahwa semakin kita berusaha melupakan seseorang, maka semakin besar pula ingatan kita tentang orang tersebut. Memang pada awalnya terlalu menyakitkan untuk Aul lakukan.
Ternyata semua yang namanya pacaran itu sama-sama menyakitkan. Hanya saja, setiap orang berbeda-beda dalam mendapatkan kesakitan itu.
“Aghh! Stres lama-lama kalo mikirin doi!” rutuk Aul sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
Aul merebahkan tubuhnya di atas kasur. Melupakan sejenak tentang banyaknya berkas-berkas yang coba Aul kerjakan, demi mengurangi pikirannya tentang mengingat seseorang yang enggan Aul pikirkan.
Sambil menengadah ke arah langit-langit kamarnya, Aul mencoba tersenyum. Walaupun luka pada hatinya ternganga lebar.
“Ternyata rasa sesak itu masih nyata.” Aul memegang bagian tubuhnya, yang orang-orang menganggapnya sebagai letak hati tinggal. “Sakit sih, tapi kenapa gak bisa nangis lagi ya?”
Terdengar helaan napas panjang yang keluar dari mulut Aul. Tangan Aul menjelajahi kasur, guna mencari ponselnya. Setelah mendapatkan benda persegi itu, Aul membuka aplikasi galeri foto di dalamnya.
Aul mematut senyum hambar saat mendapati gambar dirinya dan Riziq. Aul memang tipe orang yang tak acuh terhadap foto, tapi sekalinya melihat foto yang berlatar belakang pemandangan alam, dengan posisi Aul dan Riziq yang saling berhadapan. Kilatan mendamba dari Riziq maupun Aul sendiri membuat Aul tersenyum miris.
Kini, mungkin saja binar mata yang Riziq punya bukanlah tertuju padanya lagi. Aul lagi-lagi menahan desakan dari dirinya yang ingin menjerit keras.
Tindakan yang paling tidak Aul sangka-sangka adalah, ketika tangannya mengetikan sebuah nama di kolom pencarian salah satu media sosial. Jantungnya ikut berdegup kencang saat melihat ada beberapa unggahan dari akun Instagram milik Riziq.
Rasa penasaran itu, tumbuh ruah dalam hati Aul. Terlebih lagi, foto yang ditampilkan masih terlihat buram. Aul mulai menerka-nerka jenis foto apa yang Riziq post dengan caption 'Someday with ...'
Aul mengsugestikan diri bahwa, mungkin saja caption yang Riziq tuliskan bukan ditujukan kepadanya. Mungkin untuk Gaila, ataupun untuk perempuan barunya.
Dan saat foto yang diunggah Riziq berhasil menampilkan sebuah pemandangan dari alam, dalam hati kecilnya, Aul mengucapkan syukur. Bukan apa-apa, hanya saja, Aul belum siap untuk mengetahui bahwa Riziq sudah bisa bahagia dengan orang lain. Itu terlalu menyesakkan bagi Aul.
“Sudahlah, bukan waktunya untuk kepoin mantan. Daripada nanti makan hati mulu, capek!”
...•••...
Mahesa tiba-tiba saja sudah berada di samping Aul yang mendelik sengit pada pemuda yang pagi-pagi buta, sudah berhasil menyeretnya untuk ikut serta dalam kegiatan joging dadakan.
Aul menghentakkan kakinya karena kesal. “Huftt ... Malesin tahu, Esaaa! Gue mau balik!” rengek Aul seperti anak kecil.
Bukannya meladeni rengekan Aul. Mahesa malah menuntun Aul yang dengan terpaksanya, mengikuti langkah lari-lari kecil Mahesa.
“Ish! Bodoh amat, ya, Esa. Pokoknya balik dari sini, beliin gue es krim lima mangkok!”
Mahesa tergelak. Dia Mengacak-acak rambut Aul, membuat empu yang mempunyai rambut, melotot tajam. “Itu perut karet atau perut tukang kuli?” cibirnya.
“Perut karet, puas?!” amukAul dengan sebal.
Mahesa kembali terbahak-bahak. Lari kecil mereka sudah tidak beraturan karena sudah beberapa kali, Aul meminta istirahat di tengah-tengah lari. Seperti saat ini, napas Aul sudah tersenggal padahal baru saja dia memulai joging-nya.
“Katanya sering lari 2,4 km, tapi baru beberapa meter joging aja, udah kaya abis lari maraton aja."
Aul melengos, dia berjalan cepat dan meninggalkan Mahesa yang sibuk mendumel.
Sekejap, Aul merasa jantungnya berhenti seperkian detik. Matanya terpejam setelah memastikan bahwa yang dia lihat adalah kefanaan. Sesak itu masih menguasai relung hatinya. Aul memejamkan matanya kuat-kuat. Semilir angin pagi hari tidak membuat hatinya sejuk sama sekali. Justru semakin perih.
Dari kejauhan, Aul melihat punggung Riziq. Meskipun hanya sekilas saja, tapi melihatnya saja sudah membuat mata Aul memanas.
“Ngapain jadi manekin yang halangin jalan?” celetuk Mahesa yang menepuk bahu Aul.
Aul menyeka sudut matanya yang berair, lalu membalikkan tubuhnya. Aul memasang wajah cerianya, tersenyum selebar mungkin pada Mahesa.
“Biar orang-orang tahu, untuk berfokus pada yang depan. Bukan terpaku pada yang di belakang.”
Mahesa mengangkat sebelah alisnya, tapi tetap menganggut menyetujui perkataan Aul. Sebelah tangannya merangkul bahu Aul dan mengajaknya untuk segera pulang.
Aul menoleh pada Mahesa. “Beneran mau pulang? Katanya mau lanjut joging lagi?”
“Udara di sini sumpek, balik aja lah,” balas Mahesa.
Mata Aul berbinar seketika. Dia memasang tampang memelasnya. “Berarti kita ke kedai es krim ya!” pekiknya girang.
Dengan tangan yang mengusap rambut Aul, Mahesa tersenyum simpul. “Iya-iya, bawel!”
Setidaknya dengan mengkonsumsi makanan kesukaannya, Aul dapat menghalau perasaan galau yang mengguncang jiwanya.
•••
Asap mengepul dari ruangan yang sedikit ventilasi, namun kedelapan orang remaja tetap asik ngobrol sambil sesekali melemparkan guyonan receh. Terlebih lagi membully salah satu anggota mereka yang berhasil mencabut gelar jomblonya.
Siulan penuh menggoda dari Gibran dan Gara yang masih menampik bahwa seorang Alki Danendra bisa meluluhkan hati Mella Sari Devi, anak Jurusan Busana yang jutek itu.
“Ngibul kali si Kingkong ini, mana ada Putri Jutek mau sama Pangeran Kodok kaya si Alki!” ejek Gara sambil menyesap kopi hitamnya.
Gibran menyetujui pikiran Gara. Dia melirik pada Alki yang wajahnya secerah matahari terbit, meskipun tetap hitam sih. “Kongkalikong kali sama doi,” imbuh Gibran.
Faris mematikan puntung rokoknya. Lalu memukul punggung Gara. “Sirik lo!”
“Iyain aja, Ris. Kaum jomblo mah beda," ungkap Alki dengan tenang.
Wildan yang hanya memerhatikan interaksi teman-temannya dari kejauhan. Senyumannya ikut terbit saat melihat Alki yang tidak henti-hentinya menanggapi guyonan temannya dengan santai.
“Kemana Azriel? Gue belum lihat sampai sekarang,” tanya Riziq yang baru saja selesai mengerjakan tugasnya.
Aldo mengedikkan bahunya, lalu menunjuk pada Bagas. “Tanya tuh sama pawangnya, kali aja tahu.”
Tatapan Riziq terarah pada Bagas yang memutar bola matanya jengah. “Lagi PDKT sama Ketos,” sahut Bagas cepat.
Semua orang yang berada di Basecamp Basupati tergelak, menertawakan nasib si Manusia Kutub yang satunya. Jika kemarin-kemarin, Manusia Singa alias Wildan dapat merasakan galau karena seorang Genaya, maka lain halnya dengan Azriel. Sosok manusia kaku itu berubah menjadi pejuang cinta.
Bagas melirik Riziq yang terlihat gelisah. Dia berbisik pelan pada Riziq. “Ck, temen gue gak ada yang bener,” gumamnya pelan sambil menggelengkan kepalanya dua kali.
Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Azriel masuk ke Gudang dengan napas tersengal-sengal. Pemandangan aneh dari seorang Azriel yang tampak kusut dengan bercak darah yang mengotori baju-bajunya. Sudut bibirnya pun sobek, walaupun sedikit.
Wildan langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Azriel dengan napas memburu. “Siapa?” tanyanya dengan sorot mata yang dingin dan tajam. Terlihat kilatan emosi pada matanya.
“Geng Devil's.” Dua kata dari Azriel memperkeruh suasana di Gudang. Terlebih banyaknya umpatan yang keluar dari Geng Basupati.
“Sial, mereka nyerang waktu bubaran sekolah!” umpat Gara yang sudah sibuk membereskan barang-barangnya dan bergegas pergi.
Bagas menahan lengan Gara yang sudah tersulut emosi. “Jangan gegabah, pikirin dulu strateginya. Apalagi sekarang banyak anak ** yang baru bubar kelas.”
Entah mengapa pernyataan itu membuat sesuatu dalam hati Riziq merasa berdebar tidak nyaman. Dia mengkhawatirkan sesuatu yang sudah seharusnya sejak dulu dia lepaskan dari pikiran dan ... hatinya.