#Move On, Jomb!

#Move On, Jomb!
Bab 20 : I hate heartbreak!



...BAGIAN V...


...SIKLUS (TRAGIS) PACARAN...


...#Peka...


..."Perempuan punya feeling yang kuat saat laki-lakinya selingkuh. Tapi laki-laki mampu menyadari perasaan lain dari perempuannya."...


...•...•...


Aul bergerak gelisah di atas kasur empuk miliknya. Giginya gemeletuk, menahan kekesalan sekaligus rasa awas dalam diri. Berbagai umpatan dia lontarkan setelah beberapa kalimat yang sukses menjungkirbalikkan perasaannya dengan ketidaksengajaan terkirim untuk balasan pesan dari Irlan.


'Hana, gue cerita boleh? Lo lagi gak sibuk?'


'Boleh, dong! Apa sih yang gak buat mantan😂' balas Aul.


Aul mencabik-cabik rambutnya sendiri. Dia menggeram penuh kekesalan. Memang, akhir-akhir ini hubungannya dengan Irlan berjalan hangat, apalagi perihal nasihat dari Mahesa yang coba Aul terapkan.


"Bersahabat dengan mantan itu tanda kedewasaan diri."


Aul bingung dengan perasaannya sendiri, di satu sisi, dia memang mempunyai Riziq. Tapi di sisi selanjutnya juga, Aul merasa 'ingin' dekat dengan sang mantan, Irlan.


"Bego, bego, bego, Aul!! Kenapa lo harus balesnya gitu sih!" Aul memandang miris ponselnya yang menampilkan room chat dengan Irlan, telah berubah warna menjadi centang berwarna biru. Tapi tak kunjung mendapatkan balasan.


"Harusnya balas aja 'Ok, gak apa-apa' atau paling gak, jaga image lah! Huaaa... ini gimana!" Kepanikan melanda Aul, saat melihat WhatsApp Irlan dalam mode 'typing' dengan harap-harap cemas.


Jantungnya berdetak lebih cepat, bibirnya sengaja dia gigit, untuk menahan kegugupannya. Tapi setelah menunggu hingga menit kelima pun, tidak ada balasan apapun dari Irlan. Padahal laki-laki itu sedang mode 'typing'.


"Ini kemana sih orangnya! Katanya mau curhat, tapi lama amat munculnya. Apa lagi ngetik ya?" gumam Aul, misuh-misuh sendiri. "Aish, bodo amat lah! Ngapain juga gue tungguin."


Aul menyimpan ponselnya di atas nakas, dia berbaring di kasur dengan selimut yang menutupinya hingga bawah dagu. Netranya memandang langit-langit kamar yang sengaja dihias oleh lukisan bintang-bintang.


Acap kali, dirinya menahan diri untuk tidak meraih ponsel miliknya dan mengetahui balasan apa yang diberikan Irlan padanya. Lain halnya dengan nalurinya yang mengatakan untuk bersikap tak acuh. Sejemang kemudian, Aul menutupi seluruh badan dan kepalanya menggunakan selimut. Di balik selimut, Aul berteriak cukup nyaring.


"Gagal move on itu sama dengan bencana!! Parah-parah ... kenapa harus gini, sih! Ihhh...!!" Aul mencak-mencak dengan kaki yang tidak bisa diam di atas kasur.


Terdengar suara decitan pintu kamarnya yang terbuka. Aul langsung mengatupkan bibirnya, dia mencoba memejamkan matanya dan melafalkan kalimat yang merutuki kecerobohannya dalam bertindak histeris.


"Sayang, kenapa, Nak? Tadi Mama dengar kamu teriak-teriak gak jelas gitu." Aura menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Aul pura-pura melenguh khas orang yang baru bangun tidur. Netranya mengerjap perlahan ke arah Aura.


"Ah, Mama. Itu ... anu ... tadi Aul lagi ngelindur deh. Hehe ...."


Naluri seorang ibu memang tidak patut untuk diragukan lagi, Aura berusaha untuk tidak membebankan Aul, jika anak tersebut sukar untuk bercerita padanya. Padahal jelas-jelas, Aura mendengar jeritannya barusan.


Aura membelai rambut Aul penuh kasih sayang. "Jangan lupa baca doa, ya?" Aul menganggut.


Sekilas, Aura mengecup kening Aul. "Selamat tidur, Sayang. Kalau ada apa-apa, bilang aja sama Mama, ya?"


"Iya, Ma. Selamat tidur juga."


Setelah Aura benar-benar keluar dari kamarnya, akhirnya Aul bisa menghembuskan napasnya dengan lega.


"Gila, akting gue! Gak sia-sia waktu itu pernah lihat 'kisah nyata' bareng Tante Rara. Lama-lama gue ikut casting Indosiar lah, cocok nih sama jurusan."


•••


Riziq menghela napasnya saat melihat WhatsApp Aul yang sudah berubah menjadi 'last seen ... ' padahal pesannya yang sore sama sekali belum mendapatkan balasan apapun. Dia berpikir, kesalahan apa yang diperbuatnya, hingga Aul mendiamkannya seperti ini.


Perempuan itu, sukar untuk ditebak jalan pikirannya. Terlampau rumit dan mereka tidak mau menjelaskan barang sedikitpun. Jadi, para laki-laki diharuskan untuk peka terhadap setiap perubahan perempuan yang mendadak.


Setelah di rasa tidak memiliki kesalahan yang berarti, Riziq menutup kedua matanya dengan lengan kanan bagian bawah. Dia tidak bodoh untuk tidak mengerti sebuah insting yang membuat hatinya sedikit resah.


"Mungkin gue terlalu overthinking," gumamnya pelan.


Riziq mengirimkan pesan via WhatsApp pada Aul.


'Kamu ketiduran lagi? Ya udah, Happy a nice dream ✨'


Riziq beralih pada grup 'Geng Basupati' yang sedang ramai. Dia membacanya sekilas.


Gara : Gue otw @Gibran buruan! Lama amat di wc!


Alki : Ritual lu? @Gibran


Faris : Punya anggota isinya gak bener semua, untung gue keren😎


Azriel : @Faris bacot!


Wildan is typing


Gibran : Buang hajat, astagfirullah... Laknat kalian😭 @Gara @Alki


Bang @Faris lambaikan tangan 🤣


Wildan : Jadi?


Azriel : Jadi.


Riziq : Jadi apaan?


Aldo : @Riziq kumpul di basecamp


Gara : Riz, generasi micin?😂


Riziq : Ogah, lu aja. @Aldo thank's


Bagas : @Riziq gua depan rumah lu


Gibran : ^ kalo gak inget Riziq punya doi, gue beneran ngira mereka homo😌🤣


Gara : khayalan lu terlalu tingkat 🤣


Riziq memilih untuk bersiap-siap untuk pergi ke rumah Wildan. Daripada dia pusing-pusing memikirkan Aul yang sepertinya kembali ketiduran, dia lebih menghabiskan waktu malamnya bersama anak Basupati lainnya.


•••


Ruang ekskul Bahasa, sedang sepi. Hanya tersisa para pengurus-kelas sebelas-yang menunggu hujan reda. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing, begitu pula dengan Aul. Dia sedang bertukar pesan dengan Kaila. Sahabatnya itu semakin gencar saja menanyakan hubungannya dengan Riziq.


_______________________________


Kaila Febriani 🎥 📞


Jadi gimana nih? Udah move on ceritanya 🤣


Gak cerita-cerita ih, kejam😣


Apaan sih, gue biasa aja kali Kaila😌


Hilih, alasan lo biasa aja_-


Tuh hangout apa kabar yee😏


La ... gue mau jujur nih


Apaan? Tumben. Biasanya tukang ngibulin orang😭


Jadi gini ...


Kalo gue bilang, gue gak ada perasaan apa-apa ke Riziq, lo percaya?😭


Kalo nyatanya gue belum move on dari Irlan gimana, La? Huaaa gue takut banget, La😣


Ck, itu cuma perasaan lo aja kali. Masa udah hampir satu tahun aniv sama doi, lo bilang gini sih, Aul!😤


Gue gak mau tahu, ya... Lo harus move on dari Irlan!


Hm, gue usahain deh.


_______________________________


Aul menghela napasnya. Punggungnya dia sandarkan pada kursi. Aul melirik pada Riziq yang terlibat percakapan serius dengan Nando. Bercerita pada Kaila, memang sedikit mengurangi rasa bimbangnya. Tapi Aul belum juga menemukan titik temunya.


Perlakuan dari Irlan serta ketidaksengajaan-yang mulai menjadi kebiasaan-intensitas bertukar pesan via daring ini, sungguh membuat hati Aul terasa terombang-ambing. Di sisi lain, Aul memang tidak mau kehilangan Riziq karena sikapnya ini, tapi tidak bisa dipungkiri juga, Aul ingin dekat dengan Irlan. Selayaknya sahabat mungkin?


"Aghh ... ribet-ribet! Kenapa pula harus ada peristiwa gagal move on segala!" sungut Aul dengan kesal.


Cekrek📸


Cahaya silau yang tiba-tiba menyorot padanya serta suara kamera yang berhasil merekam sebuah gambar, membuat Aul terlonjak kaget melihat sang pelaku yang memotretnya secara terang-terangan. Mirip sekali dengan paparazi.


Sebelum Aul benar-benar menutupi wajahnya, suara gelak tawa dari fotografer dadakan tersebut. Aul memekik keras, karena malu. Dia hendak merebut ponsel Akmal yang berhasil menangkap wajah tidak terkontrol dari Aul karena kaget.


"Woy! Sini lo Akmal!!! Nyebeliiin iih ...!"


"Muka lu konyol habis, parah!!" Akmal tergelak, sesekali berhasil menghindari Aul yang terus mengejarnya. Berusaha merebut ponselnya.


"Bodoamat! Sini lo!"


Tanpa Aul sadari, justru dengan suara yang melengking karena kesalnya, Riziq menolehkan atensinya pada Aul. Dia menghela napasnya, tidak bisa dipungkiri lagi rasa cemburu itu bercongkel rasa tidak terima dalam hatinya.


Riziq duduk dengan gusar di kursinya, hingga suara dari Nando menyentak pada lamunannya. "Bro, gue lihat nama Irlan nelepon ponsel doi tuh," sahutnya yang menambah kemuraman pada wajah Riziq.


"Mana ponselnya?" tanyanya cepat.


Nando menunjukkan pada dagunya, ponsel Aul yang tergeletak di atas meja. Ceroboh, omelannya dalam hati.


Riziq memperhatikan ponsel Aul dengan seksama. Sudah tidak asing lagi dengan case hijau bergambar kartu kropi itu. Dengan luwesnya, Riziq mengetikan password pada ponsel Aul dan mulai memeriksa ponsel kekasihnya itu.


Dahinya semakin berkerut saat melihat beberapa pesan dari Aul untuk Irlan ataupun sekilas percakapan Aul dengan Kaila yang membuatnya sesak.


_Kalo nyatanya gue belum move on dari Irlan gimana, La? Huaaa gue takut banget, La😣_


_Ck, itu cuma perasaan lo aja kali. Masa udah hampir satu tahun aniv sama doi, lo bilang gini sih, Aul!😤_


Dua pesan itu membuat dadanya terasa sesak dan sulit bernapas. Riziq menghembuskan napas dengan keras, membuat Nando yang ada di sampingnya menatap Riziq dengan heran. Tapi Riziq enggan membahasnya lebih lanjut.