
...PACARAN...
...#Moment Memorable...
...“Kenangan itu abadi, dia akan terus singgah hingga kodrat manusia menghapusnya; yaitu lupa.”...
...•...•...
Seperti yang telah disepakati sebelah pihak oleh Riziq, dia benar-benar menjemputnya pukul tujuh pagi. Terdapat belasan panggilan tak terjawab dari Riziq juga puluhan pesan singkat dari pemuda itu.
Salahkan saja Mahesa yang mengulur waktunya. Aul memilih melanjutkan mempersiapkan dirinya, dia mengabaikan kemungkinan bahwa Riziq akan kesal padanya karena membuatnya lama menunggu, hingga mengejeknya.
Memang pada dasarnya perempuan, pasti saja ada yang dibuat ribet; kesulitan memilih baju, berdandan, menyiapkan barang yang akan dibawanya dan juga helm. Riziq bilang bahwa dia perlu membawanya.
Aul milih setelan pakaian sweter hijau muda yang tidak terlalu cerah, tapi tetap terlihat fresh dan dipadukan dengan jeans putih dan sneaker berwarna senada. Untuk urusan make up, dia hanya menggunakan lips balm, sun protection, bedak bubuk dan memakai handbody agar kulitnya mendapatkan perlindungan, juga parfum beraroma floral. Simple.
Setelah pamit pada Aura dan Aryan, Aul mendekat ke arah hatle yang berada di perempatan jalan, tidak jauh dari rumahnya.
“Riziq!” serunya nyaring.
Orang yang duduk di atas motor sport itu, menengadahkan kepalanya, melihat Aul berjalan santai ke arahnya. Dia berdecak dan segera menghampiri Aul.
“Tumben lama, niat banget ya jalan sama gue?” goda Riziq.
Aul memutarkan bola matanya, sebal. “Ck, ya udah gak jadi nih!” sungutnya mengancam.
Riziq meraih tangan mungil Aul. “No! Lebih baik ayo, orang tua gue udah nungguin.”
Aul menganggut, dia terlalu malu karena Riziq mengingatnya secara tersirat tentang kedua orang tua laki-laki itu yang mengajaknya pergi, entah alasan itu memang benar atau hanya bualan laki-laki ini saja.
Perjalanan menuju air terjun yang dibicarakan memakan waktu dua jam lamanya. Selama perjalanan, Aul tidak hentinya berdecak kagum karena selain melihat pemandangan hijau yang menyejukkan mata dan hatinya, udara sejuk yang dia rasa pun membuatnya sangat menikmati perjalanannya kali ini.
Berbeda dengan dirinya sewaktu pacaran dengan Irlan dulu, laki-laki itu tidak pernah berinisiatif mengajaknya kencan ke daerah alam. Bahkan untuk sekedar menghabiskan waktu berdua pun sangat minim, kami sama-sama disibukan oleh kegiatan kami masing-masing, hingga mungkin kami mulai terbiasa tanpa kehadiran satu sama lainnya.
“Lo suka?” tanya Riziq sewaktu mereka telah memarkirkan motornya.
Ternyata baik Riziq maupun ayahnya, sangat senang melakukan touring dengan motornya, itulah yang dikatakan oleh tante Julia padanya, sewaktu menunggu kedua laki-laki yang sedang memarkirkan kendaraannya. Tante Julia banyak bercerita padanya, hingga memeluknya erat, karena senang akan keikutsertaan Aul dalam kunjungannya ke alam kali ini.
Aul membalas pertanyaan Riziq dengan memamerkan senyum yang mengembang sempurna. “Sukaaa banget!” pekiknya girang, dia bahkan tidak sadar sudah meremas tangan Riziq saking gemasnya melihat warna hijau disekitar mereka sekarang.
Riziq terkekeh pelan, dengan sebelah tangan lainnya, dia mengusap-usap puncak rambut Aul. “Bisa berhenti gemesin gak sih, lama-lama gue karungin juga loh.”
“Gak bisa, udah kodratnya gini,” jawab Aul dengan polos.
Ya Tuhan, tolong bantu hamba untuk tidak benar-benar membawa Aul dengan karung dan membawanya ke rumah tanpa mengembalikannya pada orang tuanya, pinta Riziq dalam hati.
Riziq merasa perasaan baru yang nyaman, saat melihat Aul bahagia karenanya. Binar matanya secerah wajah segar dan alaminya. Riziq menyukai segala hal tentang Aul, bahkan saat melihat pipinya bersemu merah ataupun merona, menggemaskan.
Menyukai Aul memang bukan termasuk dalam daftar keinginannya untuk memulai sebuah hubungan baru saat dirinya masih sekolah, tapi perasaan itu mengalir saja. Tumbuh hingga berkembang menjadi lebih besar.
Riziq mengapit lengan Aul, membawanya dalam genggaman yang hangat dan nyaman. Dia membawa sebelah lengan Aul untuk dia sembunyikan dibalik saku sweternya.
“Gak nyangka kalau kita sama-sama pakai sweter loh,” celetuk Aul saat melihat Riziq yang memakai sweater berwarna biru telur asinnya.
Aul membiarkan tangan Riziq yang menggenggam tangannya itu, terasa nyaman dan hangat. Apalagi saat suasana sejuk seperti sekarang.
“Jodoh kali,” sahut Riziq cepat.
Aul tersenyum malu-malu mendengarnya. Atensinya teralihkan pada pasangan orang tua Riziq yang terlihat mesra bahkan diusia mereka yang sudah tidak muda lagi, mereka tampak serasi.
“Mereka emang gitu, kaya anak remaja aja. Gue aja kadang dibuat iri sama Mama karena mereka sering terang-terangan menggoda gue dengan kedekatan mereka,” terang Riziq.
Mungkin pikiran Aul mudah di terka olehnya, sehingga Riziq mampu menjelaskannya tanpa Aul minta.
“Gue lihat mereka saling mencintai banget,” balas Aul. Dia dan Riziq memang berjalan dibelakang tante Julia dan om Nugroho.
“Kaya kita ya?”
Aul reflek mencubit pinggang Riziq lumayan kencang. “Berhenti bilang kaya gitu, ihh!” peringatnya yang terdengar seperti rengekan anak kecil saja.
“Kenapa? Emang benar kan?” sahut Riziq dengan senyum jenaka.
Aul menarik tangannya yang digenggam oleh Riziq dengan paksa. “Tahu ah!” Aul berjalan mendahuluinya dengan langkah besar sambil sesekali menghentak-hentakkan kakinya, menjauhkan diri dari Riziq yang berhasil membuat jantungnya merasa tidak tahan untuk berdetak dengan normal.
Riziq terkekeh, tentu saja untuk ukuran perempuan, kecepatan jalannya tidak sebanding dengannya yang notabenenya adalah laki-laki.
“Dasar cowok, bisanya cuma kata-kata manis, modus dan menyebalkan pokoknya!” amuknya. Aul kembali mengingat bagaimana menyebalkannya sikap Irlan ataupun Riziq, yang hampir sama.
“Dasar, dasar!”
Riziq berhasil membawa sebelah tangan Aul seperti tadi, bahkan Aul sedikit tersentak kaget. Dia sempat memberontak, tapi tentu saja tenaganya tidak sebanding dengan Riziq, jadilah dia mengalah dan menghembuskan napas panjang.
“Tenang aja, gue beda sama cowok lain.” Riziq tahu bahwa menguping bukan hal baik, tapi gerutu Aul berhasil ditangkap oleh indera pendengarannya.
Mata Aul membola. “Jadi, kamu dengar?!” pekiknya menahan malu sekaligus gugup.
Riziq mengangguk, Aul merasa dia harus menyelamatkan wajahnya dari rasa malu yang sangat kentara.
“AGHHH! KENAPA LO PAKE DENGER SEGALA SIH!!!” amuknya.
Riziq gelagapan menenangkan Aul. Dia memang sudah tahu bahwa tabiat Aul saat malu adalah sebuah kehebohan. Banyak orang yang melihat kearah mereka, Riziq tersenyum kaku.
“Udah Aul, tenang!” peringatnya.
Aul pun menut. Dia mengatupkan bibirnya.
“Good girl,” puji Riziq dan kembali memjawat lengan Aul untuk menuntunnya menuju tempat yang mereka tuju.
Seperti halnya saat dia berada di motor, kini Aul lebih hiperaktif dan lebih jelas pula ekspresi antusias dari wajahnya yang berseri-seri karena bermain di alam.
Aul terlampau bahagia, hingga melupakan bahwa ada tante Julia dan om Nugroho yang tersenyum penuh arti padanya yang melihat tatapan mata dari Riziq yang tidak hentinya tertuju pada Aul.
Nugroho semakin merapatkan dirinya pada Julia, memeluk wanitanya posesif. “Ternyata anak kita udah besar ya?”
“Iya, Mas. Bahkan sekarang, dia udah mulai menyukai lawan jenisnya.”
“Waktu memang tidak terasa, tapi kenangannya pasti akan abadi selamanya.”
Julia tersenyum menanggapi. “Kamu benar, Mas. Dulu, Riziq kita jarang bawa teman perempuannya ke rumah. Kalaupun ada, ya pasti rombongan.” Julia terkekeh pelan, lalu kembali melanjutkan kalimatnya. “Tapi sekarang, dia hanya membawa satu orang perempuan. Dan kita gak mungkin buta dengan hal itu, kan?”
...Nugroho menganggut setuju. “Kamu benar, anak kita sudah semakin dewasa saja.”...
•••
Awan berbentuk kabut yang menyejukkan masih saja meliputi daerah sekitaran air terjun, suara gemercik dari air yang jatuh bebas ke dasar kubangan air yang begitu besar. Menjadikannya sebagai objek tempat renang oleh sebagian orang yang berkunjung.
Setelah puas bermain air sebentar dan juga melakukan sesi foto-foto bersama, Aul merasa tampak kiku.
“Ayo, Neng. Senyum atuh, jangan cemberut gitu.” Tante Julia menegurnya dan Aul hanya bisa tersenyum kecut.
Dia sudah mencoba beberapa pose bersama tante Julia ataupun Riziq, tapi semuanya tampak kaku. Bahkan Aul saja merasa tante Julia lebih baik darinya soal berpose. Hanya om Nugroho saja yang sangat enggan untuk difoto, sama sepertinya.
Aul sangat tidak nyaman dan bahkan sangat jarang berfoto seperti perempuan seusianya. Dia hanya akan siap berfoto di saat tertentu saja.
Baru lah setelah mengisi perut, mereka berpencar. Tante Julia dengan om Nugroho, sedangkan dirinya bersama Riziq. Mereka sepakat untuk berkumpul lagi usai jam dua siang di dekat parkiran.
Riziq menuntunnya menuju sebuah rumah pohon yang berada di ketinggian yang membuat napas Aul harus tertahan.
Aul ragu untuk menaikinya. Selain karena takut ketinggian, juga takut jika akan ada gempa yang mendadak dan membuat mereka jatuh terjerembap nantinya.
“Tenang aja, percaya sama gue. Lo gak bakalan kenapa-napa.” Riziq berkata seperti dirinya paham dengan kecemasan Aul.
“Percaya ke lo mah musyrik,” ejek Aul.
Mereka akhirnya sampai di puncak rumah pohon tersebut. Seluruh bagian rumah itu terbuat dari kayu, bahkan Aul berjalan terlalu berhati-hati karena takut dengan proporsi tubuhnya membuat rumah pohon ini ambruk.
“Berat gue cuma 35 kilogram, apa gak bakalan buat rumah pohon ini roboh, Riz?” tanyanya.
Riziq tergelak, dia memandangi Aul yang berdiri tertatih-tatih karena khawatir dengan tubuh kecilnya.
“Gue heran, kemana larinya makanan yang sering lo makan itu. Padahal lo teratur banget makannya.”
Aul mendelik pada Riziq. “Tsk! Diam aja deh, rese lo!”
Aul melentangkan tangannya, dirinya menghirup udara sejuk sebanyak-banyaknya. Pemandangan dari atas membuat dia berdecak kagum. Bukan hanya tumbuhan hijau saja, tapi kabut awan itu seolah bisa dia raih saja dengan tangannya. Banyak juga orang-orang yang berada dibawahnya sedang melakukan banyak aktivitas.
Tiba-tiba terbersit dalam pikirannya, suasana seperti ini akan tampak sempurna jika ada minuman matcha hangat, lengkap sudah.
“Sudah lah Aul, jangan banyak harap. Di ajak ke tempat ini aja harus lo syukuri,” bisiknya pada hati.
Aroma menenangkan dari matcha, tidak bisa membohongi indera penciuman Aul sebagai pencinta minuman hijau yang satu itu. Aul membalikan badan, dia melihat Riziq yang membawa dua buah mug kecil di tangannya.
Aul mengambil salah satunya, dia tersenyum manis. “Makasih loh.”
“Sama-sama.” Riziq ikut berdiri di sampingnya, melihat keindahan alam dari atas, mungkin bukan hal yang aneh lagi bagi orang yang sering pergi ke gunung sepertinya.
“Dari kapan?” tanya Aul tiba-tiba.
Riziq mengernyitkan dahi, dia menyesap mug berisi matcha-nya. “Apanya?”
“Semuanya. Lo siapin ini semua.”
Riziq lalu terkekeh saat mengetahui bahwa Aul bisa menebak rencananya.
“Ketahuan banget ya?”
Aul menganggukkan kepala.
“Udah lama, terus kenapa masih nanya?”
“Cuma mau mastiin aja.”
Riziq kemudian menggenggam sebelah tangan Aul yang awalnya memegang pembatas kayu. Dia menatap manik coklat susu milik Aul dengan lekat. Aul membalas menatapnya tanpa ragu.
“Masih ada Irlan.”
Aul tidak tahu itu berarti pernyataan ataupun pertanyaan padanya. Karena bukan rahasia umum lagi, bahwa dirinya adalah kandidat salah seorang siswi yang belum move on dari mantannya.
Dasar!
“Tapi gue yakin akan segera memupuskannya,” ujarnya dengan yakin.
Gagal move on ternyata adalah bencana!
Masih dengan menatap mata Aul, Riziq berucap lirih.
“Hanya tiga kata yang akan aku ucapkan, aku harap, kamu mendengarkannya dengan baik.”
Jantung Aul bergemuruh hebat, tapi dia masih enggan untuk mengalihkan pandangannya dari mata Riziq yang sungguh membuatnya merasa ingin menyelami mata hitam kelam itu.
Setelah Aul menganggukkan kepalanya, Riziq siap berucap kembali.
“Tiga kata yang terucap, tiga detik untuk mengatakannya, tiga menit untuk menjelaskannya, dan tiga jam untuk menunjukkannya. Tapi untuk membuktikannya, akan ku berikan waktu seumur hidupku.”
Riziq mengeratkan genggamannya pada Aul, sedangkan Aul masih diam membisu. Riziq menarik napasnya, sambil berucap dengan tegas dan serius, “aku cinta padamu.”