#Move On, Jomb!

#Move On, Jomb!
Bab 22 : Ok, I just wanna kill you!



...SIKLUS (TRAGIS) PACARAN...


...#Jaga jarak ...


Ps. Kaya lockdown dan pandemi ini😌


..."Ketika kamu menjauh, aku tahu ada sebagian diriku yang kau bawa pergi."...


...•••...


"Kemana cowok lu, Aul?" tanya Mahesa.


Aul memang tiba-tiba mengajak Mahesa keluar rumah di hari Minggu pagi, joging bersama. Aul mengedikkan bahunya tak acuh. "Mana gue tahu, bukan Mak nya."


Seringai jahil terbit pada wajah Mahesa. Dia sengaja menyenggol lengan Aul, membuat tubuh mungil itu oleng. Untung saja Aul dapat menyeimbangkan lagi tubuhnya. Dia melotot tajam pada Mahesa.


"ESAAAA!!" pekiknya.


Mahesa tergelak, dia berlari semakin cepat saat Aul mengejarnya. Walaupun Mahesa tidak tahu apa yang Aul alami dengan Riziq, dia tidak bisa melihat wajah murung Aul terlalu lama. Itu akan membuatnya merasakan perasaan tidak nyaman. Entahlah, Mahesan enggan mengakuinya.


"Kejar aja kalau bisa, Bocil!" tantangnya. Dia sesekali melirik ke belakang. Aul mendumel tidak jelas sambil berusaha mengejarnya. Karena tidak tega, Mahesa melambatkan langkah larinya.


Grep!


"Aw ... aw ... Ish! Iya-iya, udah Aul!" ringis Mahesa saat Aul berhasil mensejajarkan langkah larinya, dengan beringas gadis bocil itu malah memberikan cubitan-cubitan kecil pada lengannya.


Sakitnya itu, lho! Duh ...


"Mamam tuh sakit!" ejek Aul.


Aul melipat kedua tangannya di depan dada, mendelik sinis pada Mahesa yang masih mengaduh kesakitan. Padahal Aul sudah berhenti memberikan cubitan. "Lebay lah!" cibir Aul lagi.


Mahesa membalas dengan cubitan yang agak besar pada Aul. "Nah, itu yang lebay!" balasnya.


Aul melirik tajam pada Mahesa. "Dendam amat kaya cewek," gerutunya.


"Daripada lo, sensi kaya cewek!"


"Eh, gue emang cewek loh!"


Mahesa menatapnya dengan pura-pura gamang. "Ah, masa? Perempuan dari mananya sih?"


Aul menginjak kaki Mahesa cukup keras, sehingga membuat Mahesa berjingkik sambil mengeluhkan sakit.


"DASAR ESA NYEBELIN BANGET!"


...•••...


Kehadiran Mahesa memang membuat Aul merasa sedikit terobati karena keabsenan Riziq. Laki-laki itu jadi sulit untuk Aul temui. Meskipun Aul seringkali satu jadwal saat praktik, tetap saja dia tidak bisa menemukan Riziq. Pernah suatu hari, dia mendatangi gudang yang menjadi sarang penyamun, eh salah. Maksudnya geng Basupati.


Pohon-pohon besar yang ada di sekitarnya bergerak-gerak karena tiupan angin, tapi Aul yang mendatangi gudang itu sendirian merasa bulu kuduknya meremang. Gangguan itu coba Aul abaikan, tapi saat suara gemeresik itu jelas terdengar, jantung Aul terasa jumpalitan. Napasnya kembang kempis tidak beraturan.


Aul menengok ke belakang, tapi tidak ada siapapun. "Keep calm, Aul! Lo harus bisa, kali aja, tadi cuma kucing yang fashion show."


Aul meneruskan langkahnya. Kelas Broadcast-1 saat itu sedang free class, jadi Aul sudah menekatkan diri untuk bisa menemukan Riziq. Awalnya Kaila menawarkan bantuan, tapi Aul menolaknya.


"Gak usah Kaila, ini urusan gue. Dan aku gak mau nantinya bergantung sama lo."


Ah, Aul jadi menyesali tindakan sok beraninya sendiri. Lupakan soal ketakutannya, kini jantungnya merasa lebih berdetak lebih kencang saat Aul sudah akan mengetuk pintu gudang. Keringat dingin dari dahinya mulai bermunculan. Dengan tangan sedikit gemetar, Aul menyekanya.


"Duh, kenapa keringatan sih! Padahal gak panas juga," keluh Aul.


Suara gemeresik itu kembali terdengar, Aul menatap sekitarnya dengan awas. Tangannya sudah terkepal kuat. Dia tidak berani menengok ke belakang. Apalagi saat suara aneh itu semakin mendekat ke arahnya. Beberapa kali Aul memejamkan mata-membuka mata, terus menerus seperti itu. Apalagi saat tengkuknya merasakan napas panas, Aul semakin ingin menangis saja.


Kaki dan tangannya sudah bergetar duluan, Aul ingin berteriak, tapi lidahnya kelu. Dia terlonjak kaget saat namanya dipanggil secara mendadak.


"Aul!"


"AAA!!"


Aul menoleh, dengan reflek sambil menutup matanya, menendang ke asal arah. Hingga terdengar suara 'dug' dan umpatan aneh dari seseorang.


"TAHI!"


Aul membuka matanya perlahan, dia langsung terbelalak saat melihat Gibran yang menutupi daerah *********** sambil berjingkik dan mengeluhkan sakit. Aul meringis canggung.


"Ngg ... sori, Gibran," cicit Aul.


Gibran yang merasa sakitnya sudah berkurang, tapi tidak dengan wajahnya yang menahan malu. Dia berdeham kecil dan mengalihkan atensinya pada Aul yang menatapnya kecut. Gibran tersenyum culas.


"Nope. Jadi, lo cari Riziq?" tebaknya yang diangguki oleh Aul.


Gibran manggut-manggut. "Lo mau ngomong soal Riziq di sini atau di Kantin Bu Sri? Di dalem sih ada anak Basupati."


"Ada ... Riziq?" tanya Aul, penasaran.


Aul ber-Oh saja. Terlihat dari raut wajahnya yang tertekuk itu membuat Gibran menyimpulkan sesuatu yang tidak beres. "Jadi ...?"


"Kantin Bu Sri aja."


Gibran jalan duluan dan Aul mengikutinya di belakang. Pikiran Aul mulai menerka-nerka, perihal apa yang harus dia tanyakan pada Gibran, juga tentang Gibran yang terkesan repot-repot membantunya. Aul juga penasaran dengan pemaparan yang akan di sampaikan oleh Gibran padanya.


Kantin Bu Sri yang sering ramai, sekarang sedang sepi. Karena sering dipakai oleh kebanyakan anak famous, kantin Bu Sri ini juga menjadi tempat paling dekat bagi Aul untuk kembali ke kelasnya, jika ada pemberitahuan adanya guru yang mengajar dari Kaila.


Aul hanya memesan minuman matcha dan Gibran sudah memesan nasi uduk dan es teh manis di jam siang seperti ini. "Lapar, parah," katanya.


Aul tidak keberatan jika harus menunggu Gibran selesai makan, tapi laki-laki itu keras kepala. "Udah sambil makan aja, gue bukan orang yang tabiat makan dengan diam," jelas Gibran.


"Beneran, Gib? Padahal makan aja dulu, gak apa gue tungguin," sahut Aul.


Gibran tetap pada pendiriannya. Aul akhirnya yang mengalah. "Baiklah, terserah lo aja."


Gibran tersenyum menyeringai padanya. Di sela makannya, Gibran berujar pelan. "Sori kalau gue kepo, tapi sebenarnya apa yang udah lo lakuin ke Riziq sampe tuh anak jadi beda banget?"


"Beda gimana?"


Setelah satu suapan besar berhasil Gibran telan, barulah Gibran menjawab pertanyaan Aul. "Ya gitu ... lebih jadi pendiam. Ngeri, sumpah!"


Aul meringis. Seingatnya, sewaktu Aul menjelaskan pada Riziq bahwa itu hanya sekadar chat semata, Riziq terlihat mempercayainya. Bahkan hubungan mereka sempat akur lagi, sebelum tiba-tiba saja Riziq semakin jauh dari Aul.


"Gue ... gak tahu," pasrah Aul.


Gibran telah menyendok suapan terakhirnya, dia meneguk es teh manis dingin, lalu menoleh sempurna pada Aul. "Dia juga udah sering absen dari tawuran, sih."


Mata Aul membulat, tumben. Biasanya jika orang yang sering berbuat onar seperti ikut tawuran, jika sedang ada masalah, biasanya semakin sering durasi dia mengikuti kegiatan tawuran tidak jelas itu, kan? Mahesa contohnya.


"Serius? Kok bisa?!" Aul menandaskan minumannya hingga menyisakan es batu yang mulai mencair.


Gibran mengedikkan bahunya. "Tapi dia masih sering ngumpul-ngumpul sama anak Basupati, cuma rada bolos aja." Dia membenarkan letak duduknya, lalu memandang Aul dengan serius. Tidak ada wajah jenaka yang Aul lihat beberapa menit lalu. "Saran gue, jangan mau diperjuangkan aja, Aul. Sesekali, perempuan juga harus berjuang."


Inilah yang Aul takutkan. Bukannya Aul tidak mau berjuang, hanya saja ... dia takut semuanya akan sia-sia. Dia ingin menyelamatkan hatinya, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan hati yang lain. Perasaan Riziq.


Aul mendesah berat. Kepalanya tertunduk lesu. "Kalau nanti Riziq menolak kehadiran gue atau perjuangan gue ... gimana, Gib? Gue gak sekuat itu lho buat nerima penolakan," jujur Aul.


"Lo akan benar-benar puas setelah lo berjuang. Tidak ada yang tahu, hasil apa yang bisa lo dapatkan saat lo berjuang nanti."


Kepala menengadah, memandang Gibran yang sepertinya akan melanjutkan kalimatnya yang agak rampung.


"Soal menyerah atau bertahan, itu hak lo. Tapi kekalahan setelah berjuang itu akan lebih baik daripada kekalahan tanpa adanya usaha," tutur Gibran sok bijak.


Aul terharu, dia mengulas senyum tipis. Aul tidak menyangka, ternyata Gibran bukan hanya playboy mesum saja, dia bisa menjadi laki-laki bijak seperti sekarang.


"Makasih loh, Gib."


Kini giliran Gibran yang mengernyit heran. "Makasih buat apaan?"


"Itu yang lo bilang tadi. Ada benarnya juga, gue salut sama lo."


Gibran terperangah, lalu tertawa pelan. "Oh ... maksudnya quetes yang gue baca tadi?"


Aul melongo. "Hah?"


"Tadi gue habis scroll IG waktu lo nunduk. Nemu quetes kece, gue hapalin deh. Keren ya?" sombongnya.


"Jadi ... yang tadi ... bukan kata-kata lo?" tanya Aul terbata-bata.


Gibran menggeleng cepat, lalu tergelak kencang. "Ya kali gue bisa bilang gitu tanpa nyontek, ada-ada aja!" kelakarnya membuat Aul menatap datar pada Gibran.


Gibran jadi kikuk sendiri. "Tapi emang bener, kan?"


"Hmm ...," Aul merasakan ponsel dalam sakunya bergetar. Ternyata ada notifikasi dari Kaila yang mengatakan, bahwa ada Pak Willy di kelasnya. "Kalau gitu gue duluan ya, Gib. Thank's buat quotes sama traktirannya!" seru Aul sambil berlalu.


Gibran mengelus dadanya, dia mengeluarkan secarik kertas yang dia gumpal di bawah meja. "Sialan! Cowok bucin itu nyusahin banget!" gerutu Gibran.


Gibran sebenarnya bukan membaca caption ataupun quotes dalam Instragram, melainkan secarik kertas yang sengaja ditulis oleh Riziq yang menyuruhnya untuk memberikan kertas itu pada Aul. Tapi karena malas, Gibran memilih menghapalnya saja. Lumayan lah buat mensepik perempuan lain, batinnya.


Jika saja bukan karena kalah taruhan dengan Riziq, dia tidak mau repot-repot berurusan masalah pelik sahabatnya itu. Buru-buru Gibran menelepon Riziq.


"Doi dalam mode senggol-bacok. Gue rugi tiga kali, Sat!" keluhnya pada Riziq yang malah menertawakan kesengsaraannya.


"Thank's, Bro!" sahut Riziq.


"Tapi mobil Lamborghini lo sebagai imbalannya," tantang Gibran.


"Najis!"


Kini giliran Gibran yang tergelak.