
...PENDEKATAN...
...#Janji yang ditepati...
...“Kata yang mudah dilafalkan, namun sukar dilaksanakan adalah janji” ...
...—H.A....
...“Pria sejati tidak akan ingkar terhadap janjinya.” ...
...—R.A....
...“Kesungguhan laki-laki terletak pada kesesuaian ucapan dan tindakannya.” ...
...—I.A....
...•••...
Drama yang cukup alot akhirnya bisa diselesaikan saat Riziq menanyakan letak jalan perumahan Nusa Indah di Jalan Raya Kemuning pada seorang pria paruh baya. Untung saja Riziq memiliki kecakapan dalam berkomunikasi juga mengingat dengan baik arahan yang diberikan oleh pria yang ditemuinya di dekat pom bensin.
“Sori, jadi pulang malam,” ujar Riziq, setelah Aul turun dari motornya.
“Gak apa-apa, santai aja. Kalau gak ada lo, gue juga gak tahu bakalan minta bantuan siapa lagi. Makasih ya.”
Riziq menganggut paham, dia hendak pergi. Tapi Aul menarik pelan ujung jaketnya. “Kenapa? Ada yang ketinggalan?” tanya Riziq bingung.
Aul menggeleng, maksudnya bukan itu. Ini sudah malam dan Riziq pun baru pertama kalinya jalan lewat sini. “Lo gak apa-apa pulang jam segini? Tahu jalannya pulang? Gak mau mampir dulu?” cecar Aul, dia merasa tidak enak pada Riziq yang sudah repot-repot mengantarnya pulang hingga selarut ini.
“Tenang aja, gue cowok dan hafal jalan. Gak usah khawatir.” Riziq mengacungkan jempolnya pada Aul, pertanda bahwa dia ‘pasti baik-baik saja’ saat diperjalanan pulang nanti.
Aul menggigit bibir bawahnya, pelan. Dia meragu untuk mengatakan ini, tapi dia juga merasa canggung.
“Ada lagi yang mau lo bilang?” Aul menganggukkan kepalanya cepat saat Riziq bertanya padanya.
Riziq terkekeh pelan, dia mempersilakan Aul untuk bertanya.
Apakah dirinya sekarang terlihat bodoh? Ugh, Aul bingung sendiri jadinya.
“Nanti kalau udah sampai kabarin, boleh?”
“Boleh, emang kenapa?”
Pipi Aul bersemu malu, dia menggerakkan kepala ke kanan-kiri secara bergantian. “Lakuin aja, kalau gitu hati-hati ya! Gue ... duluan!” pamit Aul.
Segera Aul membuka pintu gerbang dan berjalan tergesa-gesa menuju pintu utama. Lewat kaca jendela, Aul bisa melihat Riziq yang sudah pergi. Akhirnya dia bisa bernapas lega.
Aul menyenderkan punggungnya pada pintu yang sudah ditutup. Dia memejamkan mata seraya memegangi dadanya yang berdebar kencang. Tadi secara tidak sengaja dia memeluk Riziq karena laki-laki itu yang menginjak rem secara mendadak.
Ada kucing lewat, katanya. Tapi tetap saja efek memeluk orang lain selain keluarganya dan Mahesa sangat membekas dipikirkan Aul. Senyuman Aul luntur seketika, saat suara bariton itu masuk di gendang telinganya.
“Baru pulang kamu? Kenapa senyum-senyum seperti itu?”
Mata Aul berbinar ketika melihat pria yang sangat dicintainya—pria yang memasuki usia empat puluhan—yang Aul anggap sebagai pria terhebat dalam hidupnya.
Aul menggeleng cepat, dia berhambur pada pelukan Aryan Herlambang—ayahnya yang baru pulang dari luar kota.
“Papa!”
Aryan memeluk sayang putri semata wayangnya, dikecupnya beberapa kali pucak rambut Aul yang harum seperti teh hijau, menenangkan.
“Papa menepati janji Papa untuk pulang hari ini, kan?”
Dalam dekapan sang ayah, Aul mengangguk-anggukkan kepalanya. “I-iya ... Papa gak pernah ingkar sama Aul.”
Lalu pikiran Aul tertuju pada seseorang yang mempunyai sikap terbalik dari sang ayah.
“Tapi dia cukup baik untuk menjadi seorang munafik, Pa,” jerit Aul dalam hatinya.
Aul semakin mengeratkan pelukannya pada Aryan dan mulai menangis sesenggukan.
Menangis karena banyak hal; kepulangan Aryan, sikap peduli dari Riziq, juga kebimbangan hatinya terhadap Mahesa dan Irlan.
...•••...
Siang ini anak broadcast kelas 11-2 akan melaksanakan wawancara dengan berbagai figur publik atau siswa berprestasi, semua tergantung pada kelompok masing-masing. Sayang sekali, Aul dan Kaila tidak berada dalam satu kelompok yang sama.
Tim Broadcast 11-2 dibagi dalam enam kelompok dengan masing-masing beranggotakan lima orang. Aul berada di tim dua; Rifqi, Nana, Sandi dan Aldi menjadi rekannya.
Rifqi sudah siap dengan memanggul kamera video dengan spesifikasi Sony HXR MC2500p dengan Sandi yang membawa tripod Libex 600 dan Nana yang memakai clip-on—satu dipakai olehnya dan satu lagi yang dibawanya untuk narasumber—Azhar Mahardika, anak jurusan Teknik Listrik 11-1, yang sedang berada di ruang pratikum.
Sementara Aul memegangi handie-talkie dengan Aldi duduk bersandar di depan prosesor editing intel core i7 di atas meja. Aul yang bertugas sebagai pengedit naskah dan Aldi yang bertugas sebagai editor, duduk di meja—depan ruang praktek broadcast.
“Di, gue boring nih,” curhat Aul pada Aldi yang sedang sibuk melihat content di salah satu channel di YouTube.
Aldi menggumamkan sesuatu yang tidak bisa dia dengar, Aul mendengkus keras.
Aldi pun akhirnya menoleh pada Aul setelah mensetop tayangan pada video di YouTube. “Lu kenapa lah?”
“Boring tahu!” rengek Aul.
“Tapi kayaknya lu gak bakalan boring lagi, tuh.”
“Kenapa gitu? Jelas-jelas ini boring!”
“Di belakang tuh.” Aldi menunjukkan dengan dagunya, keempat perempuan yang sedang berjalan ke arah Aul—lebih tepatnya ke arah lapangan voli—di mana para anak Basupati sedang bermain voli.
Keempat gadis yang selalu menjadi objek laki-laki ini dikenal sebagai 4G sebagai singkatan dari keempat nama gadis-gadis tersebut; Gladysia, Gaila, Grace dan Gisel.
Masing-masing dari mereka berkoar-koar tentang lawan main dari keempat incaran mereka. Entah itu ejekan yang merendahkan, ataupun sampai membawa hubungan orang tua mereka.
“Dasar netizen!” komentar Aul pada keempat gadis tersebut.
Tiba-tiba sebuah notifikasi dari grup Bahasa yang berasal dari Nando—membuat Gaila—mendadak melirik tajam pada Aul yang berada di belakangnya. Wajar saja, isi pesan dari Nando memang pantas membuat Gaila cemburu pada Aul.
Grup Pengurus Ekskul Bahasa.
Nando : Sesuai kesepakatan gue sama @Riziq lusa kemarin, nanti dia sama @Aul yang bakalan belanja buat keperluan camp acara bulan depan.
Nando : @Aul tunggu aja konfirmasi dari @Riziq ya.
Halifah : Wihh, Abang Ketua sama Bu Sekre terus, uwu.
Satya : @Halifah kalau cemburu bilang. @Nando siaplah. Gue percaya sama mereka. @Riziq jangan macam-macam sama anak orang lu. @Aul jangan ngelamun mulu lu, nanti dimakan si Riziq.
Aul : @Nando @Riziq kok jadi gue sih, kan yang ngurusin keuangan bukan gue, humas juga bukan gue.
Gaila : @Riziq KENAPA LU MALAH PILIH SI BOCIL SIH! KAN YANG BENDAHARA DI SINI GUE YA!
Aul : Datang-datang ngegas, ngatain gue lagi.
Halifah : Sabar Aul, orang cantik emang suka diuji mulu :') @satya diem lu semut!
Riziq : @Gaila gak usah drama. Kemarin waktu kumpulan aja lo malah kabur sama geng lo itu, gak tanggung jawab! @Aul kan uang yang buat ngecamp kemarin-kemarin dikumpulin di lo kan?
Gaila meninggalkan grup.
Nando : Baperan amat jadi human.
Aul menyimpan ponselnya saat Gaila tiba-tiba mendekatinya.
“Awas ya lo! Bocil gak tahu diri kaya lo itu ...,” Gaila menggelengkan kepalanya tidak percaya. “Gak akan gue biarin jadi pengganggu!” sentak Gaila.
Lalu Gaila beserta ketiga sahabatnya, meninggalkan lapangan voli dan beranjak ke arah kantin Bu Cici.
Sebuah pop-up dari WhatsApp membuat Aul kembali membaca pesan singkat dari Riziq.
‘Nanti pulang sekolah tunggu di dekat pos satpam.’
‘Oke.’ Balas Aul singkat. Dia sedang tidak mood untuk berbicara ataupun berinteraksi dengan Riziq.
Ini semua karena Gaila Meilia!
...•••...
Sepulang sekolah, Kaila menyeret Aul ke ruang PMR untuk rapat membahas tentang acara camping bulan depan.
“Buruan Aul! Nih disuruh Ilham buat cepat-cepat ke sana.”
Aul mencebikkan bibirnya, kesal. Ilham selaku ketua selalu mendominasi, tidak pernah menanyakan pendapatnya sebagai seorang wakil. Aul kadang merasa seperti pajangan saja di PMR, dia dibutuhkan hanya di saat-saat tertentu saja.
Selebihnya, jangan harap mereka semua melihat ADANYA Aul di antara mereka.
Ilham memimpin rapat seperti biasa. Mengabaikan Aul yang sudah bermuka masam padanya, dia bicara banyak hal, salah satunya tentang camp acara tahunan SMK Bratajaya yang diikuti setiap ekstrakurikuler. Ilham menunjuk Kaila dan Arina sebagai orang yang bertanggung jawab atas kelengkapan memasak.
“Baik, karena sudah tidak lagi ada pembahasan, kita sudahi saja rapat hari ini. Terima kasih.”
“Tuh, kan! Dia emang gak pernah ngehargai gue sebagai wakilnya. Lama-lama gue minggat aja lah dari PMR!” gerutu Aul dalam hati.
Saat Kaila ikut pulang bersama Arina, Aul melangkahkan kakinya sendirian menuju gerbang sekolah.
Kedua tumitnya merasa lemas saat dia melihat anak Basupati di depan Pos Satpam sedang berbicara dengan Pak Hardi.
“Mampus! Gue lupa kalau ada janji sama Riziq!” pekiknya tertahan.
Karena penyakit lupanya sedang kambuh, Aul menggerutu sambil berjalan cepat ke arah Pos Satpam.
Napasnya tersengal-sengal, padahal jarak koridor ruangan ekstrakurikuler dengan Pos Satpam tidak terlalu jauh. Hampir saja Aul terjerembab karena kakinya tersandung oleh bebatuan.
“Aduuh si Neng jalannya gak lihat-lihat!” celetuk Alki yang menahan tawanya saat melihat Aul yang hampir terjatuh.
Aul mendesis dalam hati, karena sekarang anak Basupati melirik padanya. Termasuk Riziq dan Pak Hardi.
“Oh, jadi yang ini Dek, yang dari tadi kau tunggu,” goda Pak Hardi pada Riziq.
“Iya, Pak. Neng yang itu, bocil ya, Pak?” sahut Faris dengan sok tahunya.
Pak Hardi tergelak kencang. “Yowes, gak apa-apa, lucu gitu. Pantas lah buat Dek Riziq yang tinggi ini,” godanya kembali. Sementara yang digoda, tampak tidak acuh dan menghampiri Aul yang wajahnya sudah bersemu merah, karena malu.
“Jangan marah, mereka emang gitu, jahil.” Riziq memandang tajam pada Alki dan Faris yang tidak berhenti-henti menggoda Aul.
“Awas, Aul. Riziq sukanya gigit kalau sama yang kecil-kecil tuh,” sahut Gibran dengan tengilnya.
Gara dan lainnya tertawa, hanya menyisakan Azriel dan Wildan yang tersenyum kaku dan singkat.
“Riz, jangan diculik oy! Belum halal,” kelakar Gara yang semakin membuat anak Basupati tertawa, minus dua orang yang dijuluki si Singa dan si Kutub.
“Diem lo pada!” seru Riziq cepat.
Dia langsung membawa Aul untuk duduk di motornya. Setelah memastikan Aul sudah berada pada posisi duduk yang nyaman—walaupun Aul terus menunduk karena malu—Riziq berpamitan dahulu pada sahabatnya.
“Gue duluan, kalau nanti kumpul-kumpul, chat di grup.”
Siul menggoda dan banyaknya senda gurau dari sahabatnya, tanpa sadar membuat lengkungan pada sudut bibir Riziq dibalik helm full face-nya. Riziq harap, helmnya dapat menutupi tingkah konyolnya saat ini.
“Sori, kalau sahabat gue bikin lo gak nyaman.” Riziq mengucapkannya disela-sela perjalanan mereka menuju pusat pembelanjaan.
Dalam diam, Aul menganggut mengerti. Dia hanya merasa malu dan juga tidak enak pada Riziq karena telah membuatnya menunggu lama.
Jarak dari jam tiga ke jam lima cukup lama bukan?
Maka selama itu pula Aul menggerutu pada dirinya sendiri atas sifat lupanya.
Mereka akhirnya sampai di pusat pembelanjaan yang ramai dikunjungi oleh masyarakat. Lalu lalang orang-orang membuat Aul semakin menciut karena kini dia harus berinteraksi dengan Riziq, mau tidak mau.
Aul menengadah wajahnya pada Riziq yang memakai jaket berbahan jeans yang menutupi kaus hitamnya. Sejenak, Aul merasa terpesona kepada Riziq. Rambut cepaknya yang dimainkan oleh angin serta sinar dari lampu-lampu seolah memperjelas pahatan sempurna dari Riziq, membuatnya bersinar sore ini.
Aul memang tidak pernah dekat Riziq ataupun memang intensitas kedekatannya tidak sampai membuat Aul memerhatikan dengan seksama wajah serta fisik dari Riziq Aqila ini.
“Pantas saja Gaila sampai tergila-gila,” gumamnya tanpa sadar.
“Kenapa Aul?”
Aul segera menggeleng. “Gak bukan apa-apa...,” jedanya. “Hm ... sori, Riz. Tadi gue kelupaan dan malah ikut rapat PMR,” cicit Aul.
“Gak masalah, tenang.”
“Lo gak marah gitu? Gue lupa loh,” ujar Aul dengan lirih.
“Buat apa marah? Lagian gue juga kumpul dulu sama anak Basupati.”
Aul masih saja sangsi dengan jawaban Riziq. Dia menatap intens mata Riziq yang warnanya lebih gelap daripada rambutnya. “Serius, lo gak marah? Gue beneran lupa, maaf. Serius deh, gak bohong. Gue emang lupa,” rengek Aul.
Dia semakin tidak enak hati karena Riziq bersikap baik padanya. Padahal dia sudah membuat pemuda itu menunggu lama kedatangan.
“Gue marah Aul,” jelas Riziq dengan sabar. “Lagi pula gue menepati janji, kan dengan nungguin lo?”
Aul segera menganggut, Riziq memang tidak mengucapkan janji, tapi dia membuktikan perkataannya dengan menunggu Aul di Pos Satpam. Padahal dia bisa saja untuk membatalkan janjinya hari ini.
“Berarti lo orang baik,” ujar Aul dengan pelan, tapi masih bisa didengar oleh Riziq.
Riziq tersenyum tipis pada Aul yang memalingkan muka karena malu. Dengan segera, Riziq menjawat tangan kiri Aul dan membawanya masuk ke pusat pembelanjaan.
Seperti terkena sengatan listrik jutaan volt, reaksi tubuh Aul sangatlah berlebihan. Jantungnya bergemuruh hebat, perutnya merasa melilit dengan wajah yang sudah panas, memerah. Ada sensasi menggelitik yang terasa nyaman.
Mungkin kah ini efek karena Aul tidak pernah bersentuhan tangan lagi dengan lawan jenisnya, setelah Irlan pergi?
Mungkin iya, ini pengalaman barunya setelah Irlan memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.
Jadi wajar, kan, jika Aul merasa seperti ini?
Saat mereka melewati sebuah kerumunan yang sedang berburu pakaian diskon, Riziq semakin mengeratkan genggamannya pada Aul.
“Biar gak hilang, lo terlalu Bocil dan sulit dicari kalau hilang.”