#Move On, Jomb!

#Move On, Jomb!
Bab 9 : Don't worry, I'm fine!



...PENDEKATAN...


...#Rasa khawatir yang berlebihan...


...“Berhenti membuatku cemas! Karena hati perempuan mudah gelisah.” —Aulia...


...•••...


Sudah acap kali Aul sering meluangkan waktunya untuk sekedar pertemuan yang memang disengaja. Seperti hari ini; saat Riziq mengajaknya bersama anak ekskul Bahasa, untuk mengunjungi kedai ramen yang kian marak diperbincangkan.


Sekiranya ada tiga pasang orang—tiga motor yang ikut serta—dengan masing-masing tiga orang perempuan dan laki-laki.


Gaila menghampiri Riziq, dia menatap Riziq malu-malu. “Riz, gue nebeng sama lo, ya?” ujarnya lembut.


Gaila menyelipkan rambutnya ke belakang daun telinganya, sambil setengah menundukkan kepalanya.


Aul yang baru saja keluar dari ruang Bahasa, berdiri kikuk di belakang Gaila. Dia mendengar jelas permintaan Gaila barusan. Tapi yang Aul lakukan hanyalah termangu.


Riziq yang melihat Aul langsung menyunggingkan senyuman, dia menghampiri Aul dan menggenggam tangannya. Aul tertegun, saat merasakan tangan dingin dan besar milik Riziq terpaut pada jemarinya yang hangat dan kecil. Sangat kontras sekali perbedaannya.


“Eh ...,” Aul melirik Gaila yang sudah memberikan tatapan sinis padanya, kakinya mencak-mencak permukaan tanah. “Riz, tuh, Gaila kayanya marah deh,” cicit Aul pada Riziq yang masih menuntunnya menuju tempat parkiran siswa.


Riziq menoleh pada Aul, lalu dirinya melirik sekilas pada Gaila yang memamerkan senyum palsunya. “Gak usah lo pikirin,” sahutnya tenang.


Parkiran kendaraan khusus siswa memang sedang sepi, hanya tersisa beberapa motor dan deru mesin motor dari Nando dan Akmal yang ikut serta. Gaila dengan terpaksa, duduk di joki Akmal. Siulan menggoda dari Nando karena Akmal bisa satu tempat dengan jarak yang tipis dengan Gaila, tidak dihentikan.


“Bro, lo kayanya hoki banyak hari ini,” seru Nando dengan senyum menyeringai.


Akmal membalasnya dengan wajah sombong. “Tentu, bukan hoki aja, men. Tapi takdir.”


Aul tersenyum simpul saat melihat Halifah ikut serta dalam acara kali ini.


“Lo ikut juga, Fah?”


Halifah mengangguk dua kali sebagai jawaban. “Perut gue sulit diajak kompromi. Untung aja ada Nando yang ngajak traktir,” guraunya.


Aul terkekeh pelan, dia bersiap untuk menaiki motor Riziq. Kemudian menoleh pada Halifah yang sudah duduk di belakang Nando. “Untungnya ada lo yang ikut, awalnya gue kira, gue bakalan segak karena ada yang maksa gue ikut.”


Walaupun Halifah tidak tahu pasti siapa orang yang Aul sindir, tapi dia cukup peka saat melihat Riziq mencibir pelan.


“Tenang aja, Aul. Gue yakin orang yang ngajak lo pasti bukan hanya modus aja,” kelakarnya yang dibalas tawa kecil dari Aul.


Di tengah perjalanan menuju kedai ramen, di antara suara memekakkan telinga dari laju kendaraan dan tiupan angin. Riziq mengucapkan kalimat yang membuat Aul merasa gamang.


“Tolong ambil ponsel gue di saku jaket, kayanya ada notif dari grup. Lo coba lihat,” titahnya.


Aul sedikit mendekatkan wajahnya di samping telinga kiri Riziq. “Eh, lo serius nyuruh gue kaya gitu? Takut ganggu privasi lo,” ungkap Aul.


Aul mendengar suara decakan dari Riziq. “Tolong Aul, gue lupa izin sama anak Basupati soalnya.” Mendengarkan penjelasan tersebut, Aul dengan waswas menyelinapkan tangannya ke samping jaket Riziq.


Gemuruh detak jantungnya berdegup sangat kencang, Aul mencoba meredam suaranya agar tidak sampai ketahuan oleh Riziq, karena posisinya seperti ini bisa menimbulkan spekulasi yang menyimpang oleh orang lain. Terlihat seperti memeluk.


Saat dia rasa sudah menemukan ponsel Riziq, dia membukanya. Ponselnya tidak terkunci. Dasar ceroboh, maki Aul dalam hati.


Terlihat banyak notifikasi dari berbagai grup dan juga orang-orang yang tidak Aul kenali.


Grup dengan nama ‘Geng Basupati’ tersemat paling atas dan paling banyak memenuhi notifikasi.


“Lo lihat ada grup namanya geng Basupati kan?” tanya Riziq kemudian.


“Iya, terus apa yang perlu gue lakuin?”


“Bilang aja, gue ada perlu sama anak Bahasa.”


Mencoba fokus pada ucapan Riziq, tak hentinya membuat debaran jantungnya berhenti, malah semakin kencang saja saat Aul membuka grup yang berisikan sembilan orang laki-laki yang sudah pastinya terkenal di Bratajaya.


Aul mengetikan pesan sesuai dengan arahan Riziq tadi.


‘Gue ada acara sama anak Bahasa, maaf sebelumnya.’


Akhirnya Aul bisa bernapas lega saat tugasnya telah selesai. “Nih, udah. Perlu gue simpan lagi di jaket?” tanya Aul.


“Iya, thank's.”


Aul membalasnya dengan anggukan kepala, tangannya bergerak pelan dan hati-hati saat meletakkan ponsel pada saku sebelah kanan jaket Riziq yang beraroma khas laki-laki.


Tangan Aul mendadak kaku, pipinya bersemu merah dan debaran jantungnya kembali berpacu kencang. Dia tidak bisa menahan kedua sudut bibirnya untuk tidak melengkungkan senyuman. Riziq benar-benar membuatnya merasakan sesuatu yang melebihi perasaannya terhadap Irlan.


Tangan Riziq masih setia mengusap-usap punggung tangannya dibalik saku jaket. Bahkan saat Aul berusaha untuk menarik tangannya keluar dari saku jaket Riziq, tangannya justru dicegah oleh tangan Riziq.


“Biarin gini dulu, gue kedinginan. Gak apa-apa, kan?”


Aul hanya mengangguk singkat, dia masih tidak bisa untuk sekedar berucap. Akhir-akhir ini, banyak tingkah laku Riziq diluar nalarnya. Bahkan Aul merasa, bahwa mereka semakin dekat saja sejak insiden Riziq menawarkannya untuk pulang bersama.


Ini gila!! Jerit Aul dalam hati. Dia mencoba menyembunyikan wajahnya dibalik punggung Riziq, walaupun cahaya jingga dari matahari yang kembali ke peraduannya serta sorot kelap-kelip dari temaram lampu di jalanan sedikit memudarkan wajahnya yang tersipu malu karena tindakan manis dari Riziq.


...•••...


Teror terus saja menghujamnya saat Aul sudah tiba di rumah. Ponselnya terus nyaring dengan berbagai notifikasi. Penasaran, Aul melihat banyaknya perkataan kotor dari orang-orang yang menandai akunnya pada forum netizen yang paling Aul benci.


Berusaha bersikap tidak peduli walaupun rasa insecure tidak bisa Aul hilangkan, dia melihat sebuah spam chat dari Kaila yang menghawatirkan keadaannya.


‘Aul plis bales chat gue, oy!’


‘Heh, lo masih hidup kan? Jangan songgong dulu!’


‘Lo hutang penjelasan sama gue ya! Oya, biarin aja netizen nyinyir hal yang gak penting. Diemin aja. Mereka tuh sirik sama lo Maemunah.’


‘Cieee yang udah gak gagal move on nih, bagi traktir ya🤣’


Aul mendengkus geli membaca spam chat dari Kaila. Pikirannya langsung mengarah pada tindakan Riziq yang akhir-akhir tidak bisa Aul pahami.


Bukan tidak bisa, jelas-jelas Aul paham dengan tingkah Riziq yang menuju ke ... Sudahlah, lagi pula Aul kurang merasa yakin jika Riziq tidak akan mengulangi kesalahan yang sama—yang diperbuat oleh Irlan—dulu.


Mereka sama-sama laki-laki dan mungkin memiliki kecenderungan yang sama pula untuk melakukan kesalahan yang sama ataupun yang lebih menyakitkan, bukan?


Aul segera menepis anggapannya tentang perbedaan Riziq dan Irlan. Mereka tetaplah laki-laki berbeda walaupun ....


“Cukup, Aul! Lo gak boleh bandingin mereka terus!” sugestinya pada dirinya sendiri.


Saat Aul mengetikan sebuah balasan pesan untuk Kaila, pesan selanjutnya dari Kaila membuat napasnya tercekat. Kepalanya terasa pusing dengan perut yang bergejolak.


‘Gue tadi baru keluar dari minimarket, gue kira salah lihat orang. Tapi ternyata itu beneran Riziq yang lagi dikeroyok sama anak geng Devil's deh.’


‘Kayanya si Esa udah tahu perihal lo yang dijadiin bahan ejekan anak ** deh, jadinya dia bertindak gitu.’


Benar saja, setelah membaca pesan dari Kaila, sebuah pesan dari Mahesa semakin membuat Aul mencemaskan keadaan Riziq.


‘Udah gue kasih peringatan anak Basupati sama anak ** lainnya supaya gak buat lo terkena masalah lagi. Tenang aja, lo gak sendirian. Ada gue.’


Aul tidak tahu dengan perasaannya yang campur aduk hingga membuat lelehan air mata mulai membasahi kedua pipinya.


“Kenapa lo lakuin ini sih, Esa ...” Suara Aul terdengar parau.


Aul mendudukkan dirinya di tepi ranjang, dipukulnya beberapa kali bagian dada yang terasa sesak. “Riz ....” Aul mencoba menelepon Riziq berulang kali dan mengirimkannya banyak pesan, hanya untuk menanyakan keadaannya. Tapi tetap tidak ada respon.


Dirinya jelas cemas, bahkan saat Aul mencoba tidur pada pukul jam sembilan malam pun, dirinya masih terjaga hingga pukul tiga dini hari. Aul melirik ponselnya yang tergeletak di samping bantalnya. Sama sekali tidak ada kabar dari orang yang ditunggunya.


Tubuh Aul memang menyuruhnya untuk beristirahat, apalagi dengan mata sembab dan hidung yang memerah, keadaan yang tidak baik untuk datang ke sekolah. Tapi hatinya berontak tidak tenang. Dia terus memikirkan keadaan Riziq. Padahal laki-laki itu jelas baik-baik saja setelah mengantarkannya pulang.


Aul juga tidak yakin jika jam tiga dini hari ini, Riziq masih terjaga. Terlebih saat gosip mengenai Riziq yang masuk ke rumah sakit merebak di SMK Bratajaya.


Aul terperanjat saat melihat ponselnya menyala dan menampilkan sebuah panggilan dari orang yang di tunggu-tunggunya.


“Halo?” Suara itu terdengar pelan dan serak, seperti orang yang baru bangun dari tidurnya.


Isak tangis yang coba Aul tahan, tidak bisa bertahan lama, terlebih saat orang itu berkata dusta demi membuatnya tenang.


“Jangan khawatir, gue baik-baik aja.”


Aul menyeka air matanya dengan punggung tangannya. “Lo ... gak apa-apa kan?” tanyanya.


Aul yakin bahwa Riziq dapat mendengar dengan jelas suara tangisan yang coba Aul tahan.


Dari seberang telepon sana, Riziq kembali berujar, “jangan nangis, gue paling gak suka lihat perempuan nangis. Tapi kalau dengan nangis, membuat lo tenang, nangis aja. Asalkan ada gue di samping lo,” jelas Riziq panjang lebar.


Aul terguguk dalam heningnya malam, hanya ada suara serak dari Riziq yang menemaninya menghilangkan rasa gundah gulana yang tidak bisa membuatnya tertidur. Hingga Aul tak sadar—karena terlalu lelah menangis—membuatnya tertidur pulas.


Samar-samar terdengar suara Riziq yang berseru namanya, juga suara tertawa pelan dari Riziq yang mendengar suara napas teratur dari Aul.


“Mimpi yang indah, sori buat lo khawatir. Aishiteru, Aul.” Riziq mengucapkannya dengan suara lirih dan menahan sakit pada perut dan bagian belakang kepalanya. Hampir saja dia dinyatakan sebagai pasien mati otak karena setelah insiden dirinya diserbu secara mendadak oleh geng Devil's, dirinya tertabrak oleh mobil yang pengendaranya tengah mabuk kepayang.


Seperti sebuah peribahasa yang pernah dibacanya; terpeluk di batang dedap.