
...BAGIAN III ...
...PENERIMAAN ...
...#Meminimalisir Perasaan...
...“Waktu adalah obat mujarab untuk proses melupakan.” —Aul...
...•••...
Lapangan Upacara Bendera SMK Bratajaya adalah seluas lapangan sepak bola pada umumnya. Mengapit 6 jurusan berbeda dan berada dekat UKS dan Kantor Administrasi. Luasnya lapangan, membuat anak-anak laki-laki lebih sering menghabiskan waktu free class-nya untuk bermain di tengah lapang, tak peduli jika panas matahari dapat membakar kulit mereka.
Salah satu keunggulan lainnya dari lapangan ini adalah, menjadi sarana tempat olahraga outdoor bagi siswanya. Bahkan Pak Tri bersama tiga guru olahraga lainnya sering memanfaatkan luas lapangan SMK Bratajaya sebagai tempat paling cocok untuk mendidik siswanya.
Seperti jurusan Listrik Satu saat ini—pada pukul sembilan pagi—mereka sedang melaksanakan pemanasan. Perbandingan jumlah yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan, bukan lagi menjadi permasalahan. Karena memang anak teknik, lebih dominan kepada laki-laki.
“Beuh, panas banget cuy!” keluh Nando yang terdengar oleh Riziq.
Masa pemulihannya berjalan cepat, karena berkat kolagen dalam tubuhnya, Riziq dapat pulih setelah melakukan check up rutin selama dua minggu yang lalu.
“Ngeluh mulu, udah lakuin aja!” tegur Riziq yang dibalas oleh dengkusan kesal Nando.
Setelah melakukan pemanasan selama lima belas menit, akhirnya mereka masuk ke dalam materi inti, lari atletik.
Pak Tri berdiri di salah satu undakan tangga yang sering dijadikan tribun oleh para suporter sepak bola. “.... Jadi kalian harus mengitari lapangan upacara sebanyak sembilan putaran. Ini semua bermaksud agar kalian sehat, ....” Penjelasan dari Pak Tri terasa berdenging di telinga Riziq.
Intinya selalu sama—dengan materi lari atletik minggu kemarin—para murid harus menempuh jarak 2,4 kilometer dengan waktu tempuh bagi laki-laki kurang dari 15 menit dan perempuan dengan waktu tempuh kurang dari 20 menit adalah tolak ukur untuk siswa tingkat kedua.
Napas Riziq dan siswa lainnya sudah terengah-engah saat melakukan putaran selanjutnya, bahkan Riziq sudah mendengar berbagai umpatan dari Nando.
“Sial, ini lapangan luas amat!” maki Nando yang ke sekian kalinya. Riziq menggelengkan kepala, tak ada gunanya untuk mengeluh. Lebih baik waktunya digunakan sebaik mungkin untuk menuntaskan tugasnya.
Waktu tiga belas menit adalah waktu yang Riziq butuhkan untuk mengelilingi lapangan sebanyak sembilan putaran. Setelah berjalan-jalan sebentar dan mengatur napasnya untuk teratur, Riziq duduk di atas rumput teki yang banyak menutupi tanah lapangan.
Seorang gadis berperawakan ramping, mendekat ke arahnya. Riziq menatap jengah perempuan tersebut.
“Nih, di minum ya! Aku tadi gak sengaja ke kantin dan inget bahwa sekarang jadwalnya kelas kamu olahraga, jadi aku beliin deh, sekalian.” Gaila memberikan sebotol air mineral pada Riziq yang menatap enggan ke arahnya.
“Ambil dong, Riz!” rengeknya.
Riziq tidak tahu pasti kemana urat malu Gaila pergi, bahkan saat mempermalukan dirinya sendiri pun, gadis itu terlihat seperti orang bodoh yang dipoles seperti orang pintar saja.
Karena botolnya tak kunjung mendapatkan uluran tangan dari Riziq, Ilham yang setia memperhatikan Gaila dari jauh berdecak kesal. Perempuan itu memang tidak tahu batas kadar malu.
Ilham menarik paksa lengan Gaila menjauhi anak jurusan Listrik yang sudah bersiul menggodanya.
“Lepasih, Ham! Tuh, kasian Riziq kehausan!” sungut Gaila yang dengan langkah terseok-seok mengikuti Ilham.
Ilham menoleh sekilas pada Gaila. “Lo yang seharusnya dikasihani, masih punya urat malu gak!”
Tidak terima diejek seperti itu, Gaila menepis cekalan tangan Ilham darinya sambil berkacak pinggang. “Tentu aja masih punya! Lo kaya gak kenal gue aja!” balasnya.
Jika saja Gaila bukan sahabat kecilnya yang sekarang berada satu kelas dengannya di jurusan teknik permesinan, sudah Ilham pastikan untuk meninggalkan perempuan ini di tengah lapang tadi.
“Makanya kalau masih punya, nurut! Balik ke kelas sekarang!” titahnya.
Gaila langsung membuang muka ke samping, tidak setuju dengan titahan Ilham. “No, Ham!”
“Kalau lo gak mau, gue aduin ke Papi lo,” ancamnya membuat Gaila berdecih. Ilham tahu saja letak kelemahannya.
“Apa-apa bawa Papi, mentang-mentang Papi lebih percaya ke lo daripada gue sebagai anaknya,” cibir Gaila diselipi rasa iri dalam hatinya.
Ilham terkekeh pelan. “Lo bebal makanya Papi lo gitu juga!”
Gaila mendelik sinis, dia sangat cemburu saat mengingat kedekatan ayahnya dengan Ilham yang jarang dia dapatkan. “YA UDAH SONO! LU JADI ANAK ANGKATNYA AJA LAH!” amuk Gaila seraya menghentak-hentakkan kakinya di atas paving blok.
...•••...
Aul dan Kaila sedang anteng di dalam Aula setelah kelasnya selesai melakukan talk show bersama pembicara ulung dalam debat nasional tingkat SMA/sederajat. Memanfaatkan fasilitas sekolah seperti Wi-Fi merupakan hal yang wajib dilakukan.
Apalagi di sekolah bertaraf internasional ini. Tersedianya jaringan Wi-Fi dengan sandi masing-masing siswa berbeda dan di tempatkan di letak-letak strategis, agar siswa dapat mengakses internet dalam mempermudahnya selama proses pembelajaran merupakan tujuan Pak Halimin dalam mengizinkan siswa SMK Bratajaya untuk mengakses internet menggunakan Wi-Fi sekolah.
“Tumben gak stalking Ex Boyfriend?” cibir Kaila saat melihat Aul sedang menggulir akun beranda Instagram-nya.
Aul mendesah kesal, dia pun masih bingung dan bertanya-tanya. Mengapa selama tiga bulan belakangan ini, dia tidak galau lagi tentang Irlan ataupun memaksa diri untuk mengetahui kegiatan yang berhubungan dengan Irlan.
“Males,” jawabnya jujur.
Kaila membeliak, dia bersorak ramai. “Sungguh jawaban yang sangat membanggakan, Nak. Aku bangga padamu,” sahut Kaila dengan takjub. Tidak biasanya alasan seperti itu yang dikeluarkan oleh mulut Aul saat ditanyakan perihal mantannya.
Kaila menyenggol lengan Aul yang sekarang sedang sibuk menuliskan sesuatu dalam sebuah platform cerita, *******.
“Ciah, lagi sibuk....”
Aul berdehem sebagai jawaban, dia masih fokus untuk menuliskan beberapa kata pada akun *******-nya.
“Udah move on nih ceritanya?”
“Belum.”
Kening Kaila berkerut. “Kok belum sih!” protesnya. Kaila kira, Aul sudah move on. Apalagi mengingat akhir-akhir ini Aul sering keluar ataupun jalan bareng dengan Riziq.
“Tahu-tahu, yang lain!” potong Kaila.
Aul mencubit lengan Kaila. “Diem dulu! Gue belum selesai bicara!” protesnya.
“Justru kalau kita berusaha melupakan seseorang, yang terjadi adalah sebaliknya.”
“Kita jadi sering mengingatnya gitu?” tebak Kaila.
Aul menganggut kepalanya. “Yap, seperti itu. Jadi lo gak bisa maksa gue buat terus lupain Irlan. Karena itu bakalan sulit ...,” terang Aul.
Kaila menghela napasnya, merasa bersalah pada Aul. “Tapi Aul, lo gak bisa gini terus. Lo harus bahagia.”
“Kata siapa gue gak bahagia?” balas Aul cepat.
Kaila mengerjapkan matanya. Otaknya masih mencerna perkataan Aul.
“Eoh, maksud lo ...” Ucapan Kaila menggantung di udara.
Aul menganggukkan kepala sebanyak tiga kali. “Sudahlah, biarkan waktu yang menjadi penyembuh. Karena waktu juga adalah obat paling ajaib untuk sekedar lupa,” terang Aul sok bijak.
“Wih, ngutip kata-kata bijak dari mana lo?” skeptis Kaila.
Aul menyunggingkan senyumnya, memperlihatkan gigi putih bersihnya yang berderet rapi.
“Dari Riziq,” jawabnya tanpa malu.
Kaila terperangah, dia baru tahu bahwa Aul akan secepat itu dekat dengan Riziq, hingga membuat laki-laki tersebut memberikan kalimat sok bijaknya.
“Awas baper, Aul.”
Diperingatkan seperti itu, justru membuat Aul semakin menyangkal perasaannya.
“Tentu gak lah! Mana ada gue jadi bucin dia. Hilih, No way!” tolaknya secara terang-terangan.
Sementara itu Riziq yang berada di Kantin Bu Sri bersama anak Basupati, mengalami bersin sebanyak tiga kali berturut-turut.
“Haaaashim!” Suara bersin yang ketiga kalinya adalah yang terparah.
Faris langsung menutup hidungnya dengan diapit oleh ibu jari dan telunjuk. “Kuman lu! Bahaya, bakteri!” paniknya.
Alki melemparkan tisu pada Riziq yang di tangkap sempurna olehnya. “Thank's, Ki!”
Alki mengacungkan jempolnya.
“Lo sakit flu, Riz? Tumben,” ujar Aldo yang sedang menyedot minuman teh manis dinginnya.
Bagas ikut menimpali, “cuaca di sini emang lagi pancaroba, wajar aja kalau lo sampai sakit. Makanya kalau malam-malam jangan gadang main game online terus,” peringatnya, sekaligus menyindir orang yang sedang menyantap bakminya.
Meskipun tidak merasa tersindir, tapi dia merasa semua mata yang berada satu meja dengannya mengarah padanya. “APAAN ANJIR GUE MULU YANG SALAH!” sungutnya sebal.
“Muka lo penuh penistaan, Ki,” timpal Gibran.
Gara dan lainnya masih tergelak kencang melihat wajah masam dari Alki.
“Kali-kali noh yang kena hujat netizen tuh si Faris!” tunjuk Alki pada Faris yang sedang kecanduan main game online.
Gibran menoleh pada ponsel Faris, dia membelalakkan matanya. Hampir saja tersedak karena melihat objek yang memanjakan matanya. Walaupun dalam bentuk dua dimensi.
“Anak Bapak udah dewasa ternyata!” celetuk Gibran seraya menepuk-nepuk kepala Faris.
Faris mengumpat pada Gibran karena membuatnya dongkol. “Diem, Sat! Gue jadi loser nanti!”
Gibran menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat Gara terheran. “Kenapa Gib?”
“Tuh Faris sukanya berisi, sampai game-nya pun gambar perempuan berisi semua!”
Gara menggeplak kepala Gibran, di susul ole Faris dan Alki. Sementara Riziq, Bagas dan Aldo hanya tergelak kencang. Mereka semua tahu apa yang ada dipikiran Gibran saat ini.
Karena ini adalah urusan laki-laki.
“Otak mesum lo!” teriak Faris.
Gibran hanya tersenyum menyeringai. “Berarti gue cowok normal dong, gak homo kaya lo.”
Berbagai umpatan telah disebut oleh Faris, dia masih dendam pada Gibran yang terus mengolok-oloknya.
“Noh Alki juga jomblo, Bambang!”
Orang yang namanya dipanggil, mengangkat dagunya, sombong. “Gue emang jomblo, tapi gue ganteng!” ungkapnya dengan penuh percaya diri.
“Ganteng tapi ditolak Mella, Pfffttt ....” sahut Gara menahan tawanya.
“Ganteng, tapi dompet tipis,” timpal Gibran.
“Ganteng, tapi—”
“HUJAT AJA, HUJAT! GUE MAH BAIK DAN SABAR!”