
...PACARAN...
...#Kejujuran dan Kepercayaan...
...“Kamu akan selalu dipercayai, jika kamu berkata jujur. Maka ketika, sebaliknya, hanya benci yang kamu terima.” —Riziq Aqila...
...“Marah perempuan itu, hanya satu persen. Sisanya, hanya sebuah kekesalan.” —Hana Aulia...
...•...•...
SMK Bratajaya saat Senin pagi, sudah sangat ramai oleh banyak orang-orang yang berlalu lalang dari kalangan sekolah yang berbeda-beda. Itu terlihat dalam ragam almamater yang dikenakan oleh siswa-siswi yang berjalan serempak ke arah Lapangan Upacara yang sudah dipenuhi oleh wajah-wajah asing.
“Jadi, seperti yang kita lakukan di hari Senin biasanya, namun saat ini, kita harus bekerja lebih keras lagi! Jangan mengecewakan almamater SMK **, siap?” komando Ilham untuk mematik semangat anggota PMR yang lain.
“SIAAAP!” jawab anak PMR dengan serempak.
Aul terhenyak, saat Kaila menepuk pundaknya. “Lo okay, Aul?”
Aul hanya mengangguk ragu, pikirannya tertuju pada pesan yang dikirimkan oleh Irlan saat malam tadi.
‘Besok ada perkumpulan OSIS se-Kota di SMK Bratajaya.’
Meskipun hanya sebatas kalimat seperti itu, tapi Aul tahu, bahwa Irlan merupakan salah satu dari bagian OSIS di SMA Ganesha. Jantungnya berpacu dengan kencang, saat Aul ikut berbaris di Lapangan Upacara. Matanya awas memandangi wajah asing yang berbaris rapi.
Sudah menjadi hal tabu bagi Aul yang notabene-nya sudah berpacaran ini, untuk sekedar kepo dengan urusan masa lalunya, apalagi perihal mantan. Tapi Aul tidak bisa membohongi hatinya, saat mengetahui Irlan berada dalam kemungkinan untuk bertemu dengannya, ada satu harapan akan pertemuan—yang minimal—tidak disengaja.
Karena sejak saat itu, Irlan belum menuntaskan janjinya, tapi memberikan pengharapan atas hubungannya.
“Aul!” Seruan itu membuat Aul menoleh ke belakang. Saat dirinya hendak pergi ke UKS, ternyata acara sambutan-sambutan telah selesai.
Aul mendadak seperti orang yang kikuk, dia tidak bisa memperoleh banyak kosa kata saat Irlan berdiri dihadapannya.
“Apa kabar?”
Senyum serta suaranya masih terasa sama seperti dulu. Tampilan pakaian yang rapi, memang menjadi ciri khas seorang ‘Irlan Argara.’ Perut Aul merasa mulas saat sapaan Irlan terasa berdengung di gendang telinganya.
“Hum ... baik?” jawabnya ragu.
Lain halnya dengan Aul yang mencoba sikap jaga image-nya, Irlan justru dengan luwesnya mengajak Aul berbasa-basi. Sedangkan Aul hanya membalas sekadarnya. Hingga pada satu topik yang benar-benar membuat Aul merasa canggung sekaligus kesal.
“Jadi ... gimana sama anak Basupati, itu? Apa dia, baik?” tanya Irlan penasaran.
Aul tahu, bahwa selain merupakan anak Geng, kecenderungan orang Indonesia adalah memandang semuanya dari sebelah sisi saja membuat Aul dongkol.
“Setidaknya, dia bukan kaya orang yang tiba-tiba menghilang dan setuju-setuju saja saat putus hanya karena lama lost kontak,” sahut Aul.
Irlan meringis saat mendengar kata-kata sindiran dari Aul. “Maaf ...”
Aul mengibas-ngibaskan tangannya. “No, gak usah minta maaf, lagian udah lewat." Dia mematut senyum tipis. “Dia-nya juga udah bahagia sama orang lain,” tambah Aul sarkas.
Irlan yang berdiri di sampingnya, mendadak berhenti. Aul pun otomatis menoleh padanya. “Kenapa? Benar, kan?”
Aul melihat netra Irlan penuh dengan penyesalan dalam benaknya. Tapi Aul yang sudah emosi serta sedang dilanda situasi datang bulan, bukan lah perpaduan yang baik. Dia juga bukan Hana Aulia sewaktu SMP yang hanya bisa diam, menahan amarahnya pada Irlan.
Lebih baik telat mengungkapkan emosinya pada Irlan, daripada tidak sama sekali.
Irlan memegangi tangannya. Matanya tidak lepas dari Aul. “Bukannya waktu itu, gue udah ajak agar kita balikan, bukan?”
Aul berdecih, dia melepaskan paksa tangan Irlan pada lengannya. “Udah telat, Lan. Hati gue udah hampir mati, karena lo!” sentaknya tiba-tiba.
Aul tidak mengerti mengapa dirinya bisa sensitif seperti ini kepada Irlan. Bahkan dia sudah tidak peduli dengan pandangan penasaran dari orang-orang.
Satu hal yang ingin Aul paparkan pada Irlan adalah, betapa hancurnya dia saat Irlan memilih pergi begitu saja, tanpa memperjuangkannya.
“Hana ... gue kan—”
“Cukup, Lan.” Aul mengisyaratkan agar Irlan tidak kembali melanjutkan kalimatnya. “Gue bilang gini ke lo juga udah puas.”
Aul benci pada dirinya saat ini yang malah menangis di depan Irlan, terlihat menyedihkan. “Gue ... udah, cape.” Dia menyeka air matanya dengan kasar, menatap Irlan yang memandang iba padanya.
“Hehe ... sori, gue kelepasan nangis,” ujar Aul dengan suara parau.
Saat Aul hendak pergi ke UKS, lengan Irlan kembali menahannya.
“Pulang nanti ... bareng, sama gue, ya?”
Aul hanya mengangguk pelan, lagipula dia tidak percaya bahwa Irlan akan menunggunya. Dia juga tidak berminat menunggunya.
•••
Belum genap hatinya mendapatkan ketenangan, kedatangan tiba-tiba dari Nadine—Wakil Ketua OSIS SMK Bratajaya—menghampirinya yang sedang duduk bersandar di bangku taman, sambil mengaduk-aduk minuman green tea.
“Kenapa, Nadine? Buru-buru banget?”
“Lo udah putus sama Riziq?” tanya Nadine yang mengambil tempat duduk di sampingnya. Aul tidak terkejut lagi saat banyak orang yang mengetahui hubungannya dengan Riziq, bahkan untuk orang secuek Nadine.
Entah cuma firasatnya saja atau bukan, sepertinya Pak Anwar memang memilih OSIS SMK Bratajaya dari kalangan orang yang memiliki kriteria terlampau cuek, tapi diam-diam peduli. Seperti Anzella dan Nadine, ataupun Azka. Hanya Rijal dan Akmal yang Aul ketahui—sedikit waras—tidak memiliki sikap cuek.
“Emang kenapa?”
Nadine menghela napasnya. Aul berfirasat buruk akan hal ini.
“Sebenarnya gue gak mau ikut campur urusan kalian sih.” Perkataan Nadine semakin membuat Aul merasa tidak enak hati. “Tapi, yeah ... secara gue adalah sahabatnya Bunga dan kenalan lo, mungkin?” Aul melihat bagaimana wajah Nadine yang tertawa canggung di depannya.
“Lo bisa jadi sahabat gue, kok,” koreksi Aul.
“Oya? Berarti posisi gue semakin sulit dong.” Nadine kembali mengulas senyum sungkan pada Aul.
“Emang kenapa sih, Nad?”
“Tadi gue lihat di gerbang SMK **, Riziq mau nganterin Bunga.”
Emang terlalu mendramatisir jika Aul bilang bahwa jantungnya sempat berhenti sekian sekon, tapi yang Aul rasakan adalah, reflek dari hidungnya untuk meraup oksigen di sekitarnya, jadi terjeda. Menahan napas.
Aul menahan dirinya untuk tidak menangis, terlalu banyak tangisan di awal hari Senin, sungguh tidak baik. Padahal Aul tidak mempunyai kekuatan lebih untuk menahan tangisnya.
Nadine memandang iba padanya. Dia meringis pelan. “Maaf ... tapi gue juga gak mau sahabat gue jadi korban kelabilan Riziq.”
“Ma... maksudnya?”
“Gue satu SMP sama Riziq dan Bunga juga. Lo tahu, kan, siapa Bunga yang gue maksud? Riziq cerita?”
Aul memaksakan dirinya untuk tersenyum miris. “Mantannya.”
Ucapannya terdengar seperti sebuah cibiran. Tapi Nadine menanggapinya dengan kekehan geli. “Lebih baik, lo tanya dulu sih, ke Riziq. Berita itu benar atau gak.”
Aul membalasnya dengan anggukan. “Makasih ya, buat infonya.”
“Oke, sama-sama. Baik-baik ya, sama Riziq. Bilangin, jangan labil kaya dulu kalau dia gak mau menyesal lagi.”
•••
Sejak dua insiden yang menimpanya, mood Aul benar-benar hancur. Dia hanya akan berbicara ala kadarnya. Lebih pendiam dan bahkan cenderung tidak acuh pada sekitarnya. Semua orang kena dampak dari sikap moody-nya. Termasuk Riziq yang kena dampaknya. Tapi Aul juga sangat malas menjelaskan detail kejadiannya pada Riziq.
Padahal dia hanya pura-pura mengiyakan ajakan Irlan saja, karena pada kenyataannya Aul akan pulang dengan Mahesa. Tapi, karma yang datang padanya terlanjur cepat.
Aul menertawakan dirinya, selalu saja hidupnya kena teguran jika berbuat salah.
Dia mengiyakan ajakan mantan, pacarnya malah serius pergi dengan mantan pacarnya.
“Cih, gak guna banget!” rutuknya.
Aul berada di kamarnya saat Aura meneriaki namanya untuk segera ke ruang tamu.
“Iya-iya, Ma. Bentar!” sahut Aul.
Aul berjalan gontai ke arah ruang tamu. “Ck, siapa sih yang ganggu waktu pagi-pagi di hari weekend! Gabut banget, gue kick lama-lama,” dumelnya.
Melihat Riziq yang duduk di sofa ruang tamu dengan pakaian kasualnya, Aul berdecak. Dia hanya memakai pakaian tidurnya, perbedaan yang sangat kontras.
Menyadari ada keberadaan orang lain, kepala Riziq yang awalnya tertuju pada ponsel, kini sepenuhnya terfokuskan pada Aul yang mengenakan piyama. Senyumnya mengembang, melihat Aul yang justru bersikap cuek padanya.
“Kenapa belum mandi, sih? Udah siang loh,” ucapnya mengingatkan.
Aul hanya memutar bola matanya. “Males.” Dia duduk agak berjauhan dari Riziq, tangannya dilipat di depan dada.
“Mau main keluar gak?” tawar Riziq.
Aul membalasnya dengan gelengan kepala.
“Atau ... mau ke rumah? Mama udah nanyain loh.”
“Ngaco!”
Masih dengan kesabarannya, Riziq menghela napasnya. “Kenapa ... hm? Yakin gak mau cerita?”
“Gak!”
“Gak mau jelasin, juga?”
“Gak!”
“Nanti giliran aku bilang ‘Ya udah’ disangkanya gak peka.”
“Emang!”
Riziq memberanikan diri untuk menjawat tangan Aul, meskipun awalnya Aul menolaknya. “Denger, Aul ...”
“Gak mau ih!” tolak Aul yang masih dalam mode marah.
“Aku bukan cenayang yang tahu segalanya. Jadi, kalau ada salah di aku, kasih tahu. Jangan diam aja. Oke, kalau kamu mau tahu aku nganterin Bunga atau gak ....”
Aul menunggu jawaban yang diberikan oleh Riziq.
“Iya, aku nganterin dia.” Aul hanya bisa membuang napas kecewa. Dia memalingkan wajahnya.
“Tapi aku nganterin dia karena gak tega aja, dia lagi ... hum ...” Telinga Riziq yang memerah membuat rasa penasaran Aul meningkat.
“Apa?”
“Dia ... tembus ... dan kebetulan aku yang ada di sana, jadi aku anterin,” jelasnya. Riziq berharap Aul sudah tidak marah lagi padanya. Karena berurusan dengan sikap diam Aul membuatnya sedikit kelimpungan.
Aul masih belum puas, jika dia tidak mengeluarkan unek-uneknya. “Padahal sekalian aja, balikan, sana!”
“Kan, udah ada kamu, lagian aku paling ogah balikan sama mantan,” ujar Riziq tenang.
“Ngapain sih, lo ke sini? Gabut, huh? Udah lah sana!” usir Aul. Sengaja, mengalihkan topik pembicaraan.
Riziq terkekeh geli melihat tingkah Aul. Masih saja bersikap sok jual mahal padahal pipinya saja sudah bersemu merah.
“Lama-lama aku culik beneran nih,” goda Riziq sambil mengacak-acak rambutnya.
“HEH!”
Aul mengerucutkan bibirnya karena kesal. Riziq malah tergelak karena melihat rambutnya sudak acak-acakan.
“Sini aku bantuin beresin.” Riziq menawarkan diri, tapi Aul menolaknya. Dia tidak bisa marah pada Riziq, jika Riziq berada dalam jarak yang dekat dengannya. Itu membuat jantungnya terasa jumpalitan.
“Gak usah! Bisa sendiri.”
Setelah selesai menyugar rambutnya, Riziq menawarkan bantuan agar Aul bersedia datang ke rumahnya.
“Bener, Aul. Mama aku sendiri yang bilang mau kamu datang ke sana.”
Aul memicingkan matanya curiga. Ini bukan kali pertamanya Riziq menyangkut pautkan tante Julia dalam acaranya, menculik dirinya keluar rumah.
“Bener?” tanyanya skeptis.
“Kamu pasti tahu, kalau aku gak pernah bohong kalau soal Mama.”
Aul manggut-manggut, benar juga. “Mau ngapain gitu, Ibu ngajakin aku ke sana?”
“Katanya mau dijadiin adiknya,” balas Riziq setengah hati.
Aul menahan diri untuk tidak tertawa. “Kok, bisa?”
“Udah tanyain aja nanti sama Mama. Dia bilang mau bikin kue... kamu mau bantu, kan?”
“Mau banget lah!” jawab Aul antusias. “Eh, tapi bener, Ibu yang minta tawaran ini? Jangan bohong loh, malu nanti.” Aul hanya merasa insecure saat tante Julia yang bersikap seolah-olah Aul itu bagian dari keluarganya.
Ugh, memikirkannya saja sudah membuat pipi Aul merasa panas, tersipu malu.
“Iya, Aul ... udah buruan mandi sana!”
Aul melotot tajam pada Riziq. “Aku udah mandi kali!”
“Ya udah, ganti sana. Jangan lama-lama!”
Aul hanya mengangguk dan berjalan ke arah kamarnya.
Selang beberapa menit, Aul sudah memakai pakaian kasualnya, berbekal izin dari Aura, dia bersiap menaiki motor Riziq saat Riziq menahannya.
“Apa sih! Katanya buru-buru!”
Riziq menilik-nilik begitu intens. Aul jadi gugup ditatap seperti itu. “Apaan sih!” Dia menutupi wajahnya.
“Coba panggil, nama panggilan yang kamu kasih ke aku itu.”
Aul mengintip dari celah tangannya. “Kenapa emang? Bukannya aku sering panggil itu ya?” tanyanya heran. Tidak biasanya Riziq meminta hal ini.
“Mau aja.” Riziq menurunkan tangannya yang menutupi wajahnya.
Aul bisa merasakan pipinya terasa panas, padahal langit sedang dalam kondisi berawan. Kedutan senyumnya tidak bisa Aul sembunyikan dari Riziq yang masih menunggunya.
Setelah berdehem singkat dan menenangkan jantungnya. Aul akhirnya berucap, “Dl ... kamu, kenapa sih?”
Tanpa Aul duga, Riziq tersenyum lebar padanya. “Jangan kasih mimik wajah itu ke orang lain ya?” pintanya lagi. “Kamu terlalu lucu waktu manggil nama aku itu,” imbuhnya.
Aul hanya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya marah perempuan itu memang hanya satu persen, sisanya hanya rasa kesal.
Aul juga tidak tahu, jika hatinya bisa selemah ini. Padahal Aul sudah berniat mendiamkan Riziq selama sebulan, tapi hanya bertahan seminggu kurang. Ck, dasar perempuan.
Saat diperjalanan, Riziq merogoh saku jaketnya. Dia memberikan pada Aul sebuah cincin yang terbentuk dari kabel berwarna merah—warna kesukaan Riziq—yang diujungnya terdapat perekat hitam. Aul menerimanya sambil tertawa pelan.
“Apaan ini?” Pertanyaan retoris itu membuat Aul tampak konyol saja.
Di balik helmnya, Aul mendengar Riziq yang bilang tentang keseriusannya. “Nanti cincin yang aslinya nyusul ya? Sementara itu dulu.”
Riziq dengan segala janji manis akan keseriusan hubungan mereka di masa depan, kadang membuat Aul merasa tidak percaya. Tapi, selama ini, Riziq selalu menepati janjinya.
Bahkan untuk ukuran hubungan pertamanya dalam hal percintaan di masa putih abu-abu, Riziq paling banyak membicarakan perihal masa depannya dengan Aul. Entah hanya sekedar bualan atau bukti keseriusan pria yang belum genap tujuh belas tahun itu.
Di balik niat Riziq, Aul tetap saja selalu tersipu karenanya. “Apaan sih!” Dia memukul pelan bahu Riziq.
Terdengar suara tawa dari Riziq, tanpa sadar membuat Aul ikut tertawa karenanya.
“Itu tuh, sisa tugas waktu di praktek. Inget kamu, jadi aku buatin.”
Aul mengulum senyumnya. “Kreatif banget, makasih, ya?”
“Jangan dibuang, awas. Nanti ditukernya.” Riziq mewanti-wantinya.
Barang simple seperti ini, justru akan Aul jaga. Karena dia adalah penyimpan ulung. Apalagi soal kenangan.
“Tentu.”
Selama perjalanan, mereka terus membahas topik secara random. Bahkan dengan Riziq, Aul merasa tidak kehabisan topik pembicaraan sama sekali. Entah via daring atau langsung. Riziq itu ... beda. Dan Aul ingin egois untuk dirinya sendiri. Meskipun terdengar seperti kemustahilan.
Apa boleh Aul menginginkan Riziq sebagai yang terakhir? Cukup Riziq yang menjadi penutup masa percintaannya. Karena Aul ... takut merasa kehilangan lagi.
“Jangan sungkan buat cerita ya. Aku bisa memaaafkan sikap kamu, tapi satu hal yang tidak bisa aku maafkan,” ujar Riziq.
“Tentang apa?”
“Perselingkuhan.” Tidak ada sahutan dari Aul membuat Riziq kembali meneruskan ucapannya. “Cerita apapun dengan jujur, karena dengan begitu, rasa kepercayaan orang lain bisa kita dapatkan.”
Aul termangu, dia memegang ujung jaket Riziq dengan gemetar. Dia sendiri belum jujur perihal Irlan waktu itu, apa dia harus bilang?
“Jangan sia-siakan seseorang dan kesempatan,” tegur Riziq kembali.