
...SIKLUS (TRAGIS) PACARAN...
...#Problem...
...atau ...
...#Balikan? Sama Mr. Ex?🤣...
..."Kamu gila atau buta? Padahal sudah jelas terluka, tapi masih saja menerima."...
...•••...
Aul tahu ada yang sedikitnya berbeda dari Riziq. Dia menjadi lebih pendiam, walaupun emang Riziq bukan tipe orang yang berisik. Tapi diamnya seorang Riziq mampu membuat Aul jadi uring-uringan. Dia merasa tidak nyaman saat Riziq hanya merespon perkataannya dengan jawaban singkat-singkat.
Bahkan sampai pada titik Aul mengatakan kenapa Riziq merubah sikapnya itu, dia sering menjawabnya dengan alasan sibuk. Ck, persetanan dengan sibuk! Itu alasan irasional semenjak kenal Riziq!
Kamu tahu, berapa sakitnya saat orang yang selalu memprioritaskan kita di atas kesibukannya, tiba-tiba berubah haluan dan menanggalkan kita di belakang?
Sekiranya, itu adalah perasaan Aul saat ini. Merasa tidak dihargai. Padahal sejak sejam lamanya, Aul menunggu Riziq yang katanya hendak pulang bersama. Tapi setelah Aul menunggu di pelataran parkiran SMK Bratajaya, Riziq malah datang bersama Gaila yang dibiarkan merangkul tangannya.
"Sori, Aul. Gue perlu nganter Gaila dulu, gak apa-apa?" pamit Riziq dan sepertinya memapah Gaila.
Senyum menyeringai dari Gaila yang sengaja gadis itu sembunyikan dari Riziq dan dia tunjukkan pada Aul, cukup membuat Aul menggeram.
Aghh ... kalau gak ingat ini tempat parkiran, udah gue sobek-sobek tuh Nenek Lampir! gerutu Aul dalam hati.
"Kamu serius mau nganterin dia, Riz?!" sentak Aul tidak terima.
Riziq menghela napas, dia berbincang sebentar dengan Gaila dan Aul hanya bisa mendengar Riziq bersuara lirih seperti ;
"Bentar, gue urus dulu. Lo di sini aja."
Hati Aul mencelos, melihat orang yang biasanya menolak kedekatan Gaila di sekitarnya, tiba-tiba saja bertindak seolah-olah Gaila adalah orang lemah yang patut diberikan perhatian.
"El! Aku bicara sama kamu ya!" teriak Aul karena Riziq sepertinya mengabaikan kehadirannya.
Riziq mendekat ke arahnya, dengan tangan yang disimpan di sisi celananya. "Apa?"
Aul menahan diri untuk tidak meninju wajah Riziq saat ini juga. "Apa yang kamu, bilang ..." cibirnya. Riziq malah mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi.
"Kali ini, apa alasan kamu ngaterin Gaila pulang!" tuntut Aul.
"Dia jatuh."
Aul berdecih, dia melirik sekilas pada Gaila yang berada di dekat Riziq memberikan ejekannya lewat senyuman yang sangat menyebalkan.
"Jangan bilang kalau dia jatuh dan kamu ada di sana?" tunding Aul. "Atau kamu yang emang merasa bersalah karena membuat Gaila jatuh?" imbuhnya.
Dengan entengnya, Riziq malah mengiakan perkataan Aul. "Kalau emang iya, kenapa?"
"Tapi Gaila baik-baik aja, lho El!" gemas Aul. Dia ingin membuat Riziq membuka matanya lebar-lebar, bahwa tanpa dipapah pun Gaila bisa berjalan sendiri.
Dia bukan bayi yang perlu bantuan untuk berjalan! Ish!
Riziq hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban. "Lo langsung panggil aja Mahesa itu atau gak mantan pacar lu mungkin?"
Emosi Aul karena Riziq lebih memilih mengantarkan Gaila daripada dirinya belum surut, lalu ditambah topik random darinya membuat kening Auk berkerut.
"Kenapa harus mantan sih!" balas Aul sengit. It's oke, kalau Mahesa. Karena bagaimanapun juga, Mahesa memang masuk akal untuk kategori orang yang akan Aul tumpangi untuk pulang.
Tapi mantan? Irlan? Bukankah itu sedikit, upnormal? Aul menggeleng kepala. "Mahesa oke, Irlan no!" tegas Aul tanpa sadar.
Diam-diam Riziq tersenyum kecut saat Aul menggumamkan kata Irlan. Padahal setahu dia, mantan Aul bukan hanya Irlan saja. Setidaknya ada orang lain sebelum Irlan.
"Bagus kalau gitu," sahutnya tiba-tiba.
Aul mengerjap pelan, dia celingukan karena Riziq berhasil meninggalkannya di pelataran parkiran sekolah saat dirinya sibuk dengan merenung diri.
"Ish! Gue cokel juga tuh hati!" desis Aul tajam. Lalu dia menghubungi Mahesa untuk segera menjemputnya.
"Jangan dulu banyak omong, cepet jemput gue Esaaa!" titahnya masih dengan emosi.
Mahesa hampir saja menanyakan banyak hal seperti sedang wawancara saja. "Cepet ke sini atau gue aduin ke Tante Rara kalau lo masih suka tawuran!" ancam Aul.
•••
Sekolah sedang libur, alasannya adalah karena adanya rapat dari berbagai kolega sekolah dan siswa-siswi yang menjalankan persiapan ulangan nasional. Mengharuskan murid satu-dua tingkat di bawahnya, sengaja diliburkan. Aul mendesis frustasi. Aksi mogok bicaranya dengan Riziq, ternyata dilakukan serupa oleh Riziq sendiri.
Laki-laki itu biasanya akan berusaha membujuknya, mendadak ikut marah juga padanya. Padahal Aul rasa, dia tidak membuat kesalahan fatal. Justru Riziq malah mempermainkan perasaannya.
Aul sedang berdiri di balkon kamarnya, malam ini udara lebih sejuk dari malam sebelumnya. Bahkan anak-anak langit seperti ; bulan dan bintang-bintang pun tidak terlihat sama sekali. Langit navy semu keabuan itu semakin menambah kemuraman wajah Aul. Dia melirik sekilas pada jalan aspal perumahannya yang berada jauh dari dirinya berpijak.
Aul melotot ngeri, membayangkan tubuhnya jatuh dan membentur aspal. Pasti rasanya sangat sakit. "Gue gak habis pikir sama yang berusaha bunuh diri deh," monolognya.
"Lah iya kalau beneran mati, meskipun harus ngerasa sakit dulu. Ini kalau dia masih tetap hidup, yang ada cacat fisik dan mental. Hilih~" Aul beringsut menjauhi ujung balkon dan menyandarkan diri di kursi rotan yang berada di sana.
Aul merogoh sakunya, gawainya masih sepi. Aul sengaja menonaktifkan data selulernya. Aul sudah mengirimkan beberapa kali pesan berisikan kata 'maaf' walaupun Aul sendiri tidak tahu kesalahannya, Aul tetap mengirimkannya pada Riziq. Dia juga meminta laki-laki itu supaya menelepon lewat panggilan biasa, bukan via daring. Jika laki-laki itu sudah memaafkannya.
Hampir genap seminggu, Riziq menghindarinya. Memang awalnya Aul juga sama bersikap cuek padanya, sebagai bentuk protesnya karena Riziq mendahulukan Gaila daripada dirinya. Tapi setelah hari keempat, Aul tidak bisa menahan diri, dia berusaha membuat Riziq agar tidak mogok bicara ataupun menjauhinya.
Karena ada rasa kosong dalam hati Aul saat Riziq terlihat seperti menjauhinya. Tanpa pamit dan tanpa kejelasan.
"Segitu sibuk, ya sampai lupa gue kali," lirih Aul saat melihat gawainya masih sepi dan belum ada satupun miscall yang dia terima dari Riziq.
Helaan napas yang bersatu dengan hembusan angin malam yang menerpanya, membuat Aul merasa ikutan menggigil. Dia beranjak dari tempat duduknya dan beralih merebahkan diri di atas kasur. Matanya terpejam sejemang sebelum akhirnya tangannya mulai meraba-raba permukaan kasur, mencari ponselnya tapi enggan untuk sekedar membuka matanya.
Tanpa melihat orang yang meneleponnya di malam Minggu seperti sekarang, Aul menjawabnya dengan malas.
"Ya halo, kenapa? Aul lagi sibuk jangan di ganggu dulu," rancau Aul.
Dia setengah mengantuk, setengah lagi kesal sekaligus kecewa karena tidak ada Riziq yang meneleponnya.
"Oh, sibuk ya? Tadinya aku mau ajakin keluar sih." Suara bariton dari orang yang Aul tunggu, akhirnya terdengar juga.
Aul terbelalak, dia buru-buru mengambil posisi duduk dan mengucek-ngucek matanya. Tapi karena tidak fokus, Aul malah jatuh ke lantai dengan bokong yang mendarat duluan.
DUGH
"Aw ..." ringisnya pelan. Aul mengusap-usap bagian tubuhnya yang mencium lantai. Ugh ... sungguh sakit bukan main.
"Kamu gak apa-apa Aul?!" Suara cemas diujung telepon membuat Aul malah melebarkan senyumnya.
"Kamu gak marah lagi?" tanya Aul antusias. Dia duduk di tepi ranjang.
Lalu terdengar lagi suara Riziq yang mencemaskannya, tapi setelah Aul jelaskan insiden terjatuh dari kasur saking kagetnya mendengar suara Riziq, dia malah jadi bahan godaan laki-laki itu.
"Haha, segitu kangen ya?"
Aul mencebikkan bibir, dia menyesali perkataannya yang justru menjadi bahan candaan Riziq dalam mengejeknya. "Udah lah, jangan gitu lagi!" rengeknya. Kemudian terdengar gerai tawa dari Riziq.
"Aku serius loh, kamu beneran udah gak marah, kan?"
"Udah gak, Aul."
Aul sebenarnya berusaha menahan diri untuk tidak menanyakan perihal Riziq yang menjauh darinya. Tapi Aul takut mendengar jawabannya, di sisi lain juga Aul sangat penasaran.
"Eee ... "
"Mau menanyakan sesuatu, Aul?" tebak Riziq cepat.
Aul menganggut tanpa sadar. "Boleh?"
"Ya boleh lah, masa sama pacar sendiri gak boleh," gurau Riziq.
Aul mengulum senyumnya, ah dia suka lemah gini. Dasar bucin!
"Hm ... kamu kemarin ... marah kenapa?"
Hening sejemang membuat Aul merasa canggung, beberapa kali Aul meneguk salivanya. Terdengar helaan napas yang cukup panjang. Aul jadi cemas sendiri. Jantungnya merasa gemuruh yang tak biasa saat kalimat dari Riziq terasa menyentaknya tiba-tiba.
"Setelah baca chat kamu sama Kaila. Gak perasaan apapun, benar begitu Aul?"
Ah, rasanya Aul ingin menenggelamkan wajahnya pada ember air saat ini.