#Move On, Jomb!

#Move On, Jomb!
Bab 6 : Who's care?!!!



...BAGIAN II...


...PENDEKATAN...


...#Kepo soal doi...


...“Gue hanya heran, bukan penasaran. Apalagi punya perasaan. Tolong bedakan!” —Riziq...


Gudang yang terletak di belakang sekolah, menjadi basecamp untuk kesembilan laki-laki yang menamakan kelompok mereka sebagai ‘Basupati’ dengan slogan ‘Tidak Takut Mati.’


Mereka sering mengadakan kumpulan mendadak di gudang yang sudah mereka atur layaknya sebuah basecamp pada umumnya; terdapat sofa hitam yang sedikit sobek di beberapa bagian, meja kayu persegi panjang berada ditengahnya, serta berbagai barang dari masing-masing anggota yang di simpan pada lemari tua.


Karena letaknya yang terpencil, serta dekat dengan gubuk reyot dengan mitos tentang ‘Mbak Juminten si Penghuni Gubuk’ beredar luas di sekolah. Jangankan murid **, Pak Yoyo—petugas kebersihan—yang rumahnya berada di dalam sekolah ** pun paling enggan untuk memasuki daerah terlarang itu.


Meskipun ada Pak Hardi dan Pak Maman yang menjaga sekolah, konon katanya mereka bersahabat dengan Mbak Juminten ini, jadi setiap ada keperluan di malam hari di sekitar gubuk itu, Pak Yoyo akan meminta bantuan pada Pak Hardi atau Pak Maman.


“Orang udah kolot kok masih takut begituan, toh kita musti percaya sama Gusti, Pak. Makhluk itu memang ada, kita cukup jangan ganggu aja toh,” omel Pak Maman saat Pak Yoyo meminta bantuan padanya.


Bukannya bermaksud tidak sopan pada yang lebih berumur, tapi Pak Maman merasa Pak Yoyo perlu diingatkan agar tidak seperti anak kecil yang takut pada hal gaib.


Lainnya halnya jika Pak Hardi yang membantu Pak Yoyo, beliau akan lebih lembut menjelaskan pada Pak Yoyo. “Boleh, Pak. Ada yang bisa saya bantu lagi?” tawar Pak Hardi saat mereka telah selesai memeriksa Kantin Bu Cici, pada malam hari setelah selesai acara lomba Pramuka.


Pak Yoyo menggeleng pelan, dia tersenyum hangat. “Tidak, Nak. Terima kasih telah menemani Bapak.”


Pak Hardi tertawa lirih, melihat Pak Yoyo yang masih bekerja di usianya yang sudah berumur, mengingatkan Pak Hardi kepada mendiang ayahnya. “Tidak usah sungkan, Pak. Ini juga sudah tugas saya membantu warga sekolah, termasuk Bapak. Lagi pula, Bapak gak usah takut lagi sama Mbak Juminten, dia baik.”


Pak Yoyo hanya tersenyum singkat saat mendengar penuturan Pak Hardi, dia masih muda saat mengetahui kejadian yang sebenarnya dialami si Penghuni Gubuk, membuat Pak Yoyo parno karenanya.


...•••...


Semua orang yang ada di gudang, menatap geram kehadiran Bagas yang mendadak menyela pembicaraan Faris.


“Curut satu ini motong pembicaraan orang ganteng aja sih!” omel Faris.


Bagas hanya menyunggingkan senyum yang memamerkan deretan gigi putihnya. “Sori.”


“Udah lanjut aja, Ris. Jadi maksud lo ‘berbuat kesalahan’ itu apa?” lerai Aldo, menengahi. Dia memberikan tanda petik melalui tangannya, untuk mempertegas kalimat ambigu dari Faris.


Faris mengambil napas dahulu, ada rasa nyeri di bagian perutnya karena tindakan Wildan yang menyerangnya tadi. “Nah, karena gue udah mengejek Meira sama ketakutan dia, karma gue datang!”


Alki yang sibuk dengan pilus, masih dengan mulut menguyah makanan, ikut menimpali. “Karma apaan? Tumben lo takut sama gituan.”


Faris menoyor kepala Alki cukup keras, membuat Alki terbatuk karena pilusnya tersangkut di tenggorokan. “Tahi lo!” umpat Alki sambil melemparkan tiga pilus sekaligus ke arah Faris.


Faris menghindarinya cepat, tersenyum mengejek. “Salah lo sendiri,” balasnya.


“Diam kalian!” tegas Wildan. Dia heran sendiri jika Alki dan Faris sudah berada dalam satu jarak dekat, pasti akan cekcok.


Semua diam, terutama Alki yang menyimpan pilusnya kembali. Untuk makanan di rumah, ngirit.


Wildan menatap tajam pada Faris. “Lanjutin!” titahnya.


Faris menganggut, siap menjelaskan. Sebelum tiba-tiba Bagas menangis dan menyebut kata ‘penolakan’ dan ‘jahat’ dalam dua kalimat yang berbeda.


Alki yang ada di samping Bagas, menyentuh keningnya. “Lo dingin, sakit?”


Bagas menggeleng, dia meraih tangan Alki dan menggenggamnya erat. “Jangan tinggalin gue.” Suara Bagas terdengar getir.


Alki terlonjak kaget karena geli dengan tingkah Bagas seperti orang yang habis putus cinta. Alki menepis tangan Bagas kasar. “Waras lo! Dih, amit-amit gue mah.”


Bagas menatap Alki dengan garang, lalu pergi dengan menutup pintu gudang cukup keras. Hingga membuat Azriel yang baru keluar dari kamar mandi, melongokkan kepalanya lewat pintu.


“Kenapa?” Azriel membenarkan celananya, dia duduk di samping Alki yang masih ngeri dengan tingkah Bagas.


“Tadi ada Bagas, tahu-tahu langsung nangis, aneh gue lihatnya.”


Kening Azriel berkedut. “Bagas? Dia di rumah sakit.”


Hening, mendadak aura di gudang lebih sunyi. Bahkan Wildan menunjukkan raut tegangnya.


“Lah iya! Udah seminggu ini dia absen karena masih sakit, kan?” celetuk Gara.


“Bener! Kita bahkan belum jenguk dia lagi, lusa kemarin kita terakhir jenguk,” timpal Gibran, wajahnya semakin pias.


Berbeda dengan Alki yang sudah menahan diri untuk tidak ke toilet sekarang ini. ”Terus tadi ...,” ujarnya ragu.


Azriel mengedikan bahunya, tak acuh. Dia menyeruput kopi yang di pesan di Kantin Bu Sri.


“Mbak Juminten,” cetus Aldo.


Alki bangkit dari duduknya, dia melemparkan sebuah lap kotor pada Aldo. “Woi, jangan bercanda lo!” ujarnya emosi, sedikit ketakutan.


“Kenapa gak bilang?” tanya Riziq pada Aldo.


“Gak ada yang nanya,” sahut Aldo.


Alki sudah tidak tahan lagi untuk tidak pergi ke toilet. “Sialan lo, Do!” makinya sambil berlari terbirit-birit menuju toilet.


Azriel terkekeh geli melihat Alki yang ketakutan. Lalu ingatannya berpindah pada kejadian sore kemarin—saat dia pulang dari rumah sakit tempat Bagas dirawat.


“Riz, lo punya anak buah?” tanyanya pada Riziq yang sedang mengerjakan tugas gambar teknik—Instalasi Penerangan Listrik.


“Buah apaan?”


Otak mesum Gibran tercerahkan ketika mendengar kata ambigu itu. “Parah Riel, lo mainnya gituan ya?” kelakarnya jenaka.


Azriel membeliak, Gibran memilih merapatkan bibirnya, tidak mau kena semprot amarah Azriel.


“Makanya kalau ngomong jangan setengah-setengah!” tegur Wildan yang menyimak.


Azriel berdecak kesal. “Ck, gitu aja gak paham.”


Riziq memilih mengalah, daripada terjadi perdebatan yang tidak perlu. “Maksud lo anak Bahasa?” tebaknya yang diangguki cepat oleh Azriel.


“Ada yang dekat sama anak Devil's,” ujarnya.


“Maksud lo, geng Devil's?” Wildan memastikan.


Bukan apa-apa, dia selaku Ketua Basupati, tidak ingin ada anak ** yang terlibat perselisihan dengan geng Devil's yang bisa saja membahayakan nyawa mereka.


Gara sudah heboh, dia tidak sengaja menggeplak paha Gibran cukup keras. “Busyet ceweknya pasti agresif!”


“WOI SAKIT NY—”


Mulut Gibran segera disumpal oleh Aldo dengan gumpalan kertas. “Gak baik ngumpat, gue gak mau telinga gue ternodai.”


Kalimat menohok dari Aldo membuat Gibran dongkol. “Karpet! Salah mulu gue!” dumelnya dengan mempelesetkan kata ‘kampret’ dengan kata lain.


“Oh, Aul? Dia emang sering antar-jemput sama anak Devil's itu,” jelas Riziq.


“Lo yakin dia gak kenapa-napa? Tolong awasi dia, Riz. Gue gak mau ada anak ** yang terluka karena geng Devil's,” tegas Wildan yang memberikan sebuah mandat pada Riziq.


“Oke.”


...•••...


Riziq terbaring terlentang di atas kasurnya, dia masih memikirkan mandat yang diberikan oleh Wildan. Tanpa diminta pun, Riziq sudah pasti melindungi Aul—sekertarisnya di ekstrakurikuler Bahasa—karena itu juga merupakan tugas dari seorang ketua, yang melindungi anggotanya, kan?


Riziq termenung cukup lama, hingga getaran ponsel membuyarkan lamunannya. Ternyata ada tiga pesan berturut-turut dari Aldo.


‘Riz, tadi gue udah nanya ke temen sekelas. Kali aja ada yang pernah satu sekolahan sama Aul dulunya.’


‘Dan ternyata ada, lo juga pasti tahu orangnya.’


‘Akmal. Apa perlu gue kasih nomornya?’


Aldo memang orang yang lebih dekat dengannya, sehingga saat dia yang beri mandat, sahabatnya ini turut membantunya.


‘Gak usah, Do. Gue ada nomornya.’


‘Sankyu¹’ balas Riziq.


Tak lama kemudian, datang balasan dari Aldo. Hanya satu kata, tapi cukup bagi Riziq.


‘Douita²~’


Riziq langsung mencari akun WhatsApp milik Akmal, setelah ketemu, dia memilih langsung meneleponnya.


Terdengar suara terhubung dari seberang telepon.


“Halo, kenapa, Riz?”


“Lo dulu satu sekolah sama Aul?” tanya Riziq to the point. Dia sedang malas bertele-tele, tugasnya di jurusan teknik listrik sedang banyak.


Dia harus segera menyelesaikan tugas-tugasnya.


“Hah?”


Riziq kesal karena otak Akmal harus lamban di saat-saat ini. “Jawab aja, iya atau gak!”


“Oh ... santai Bos.” Terdengar suara gelak tawa dari Akmal.


“Tahu, dia satu SMP sama gue. Lo mau?”


Kini giliran otak Riziq yang berjalan lebih lambat. “Maksud lo?”


“Gak, bukan apa-apa,” jawab Akmal mengelak. “Lo kenapa tanya gue malam-malam gini, tentang Aul? Ada masalah?”


Riziq menggaruk hidungnya yang tidak gatal sama sekali, bingung. Dia sendiri tidak tahu definisi ‘mengawasi’ yang dimaksudkan oleh Wildan.


‘Bodo amat lah! Yang penting cewek itu aman, selamat, selesai.’ ujar batinnya.


“Halo, Riz? Lo masih hidup, kan?”


Hampir saja Riziq mengumpati Akmal, jika Akmal tidak mengucapkan kalimat yang membuat dirinya sedikit tertarik.


“Ini udah malam, kalau lo mau tahu tentang Aul, pastikan dulu hati lo benar-benar siap.”


“Kena—”


Tut.


Panggilan itu terputus, Akmal dengan sengaja menutup teleponnya dengan terburu-buru. Barulah Riziq benar-benar mengumpatinya.


“Karpet!”


Mengikuti gaya umpatan terbaru dari Gibran.


Sebuah pop-up dari Akmal membuat Riziq semakin dongkol dengan pria bucin itu.


‘Santai Riz, gue dukung lo, pasti! Nanti gue bagi cerita yang gue tahu tentang Aul.’


‘Juga tentang tips-tips agar gebetan tidak menolak kita.’


Riziq membalasnya dengan perasaan kesal dan memakai huruf kapital agar emosinya tersalurkan.


‘BODO AMAT! GUE GAK PEDULI!’


‘GUE CUMA HERAN, BUKAN PUNYA PERASAAN KE DIA, SLUUR!’


Tak peduli dengan balasan dari Akmal, Riziq memilih mematikan ponselnya dan beranjak ke luar kamar. Dia butuh udara segar sekarang.


Tanpa Riziq tahu, bahwa ada balasan pesan dari Akmal yang akan membuatnya semakin kesal dengan anak multimedia satu ini.


‘Sayang sekali, padahal gue niatnya nge-ship lo sama dia, Riz. Tenang aja, gue bakalan jadi Pak Comblang yang debes buat kalian.’