#Move On, Jomb!

#Move On, Jomb!
Bab 2 : New Life



...CIRI-CIRI ORANG YANG GAGAL MOVE ON...


...#Tidak ikhlas lihat Mantan punya gebetan baru...


..."Ternyata ikhlas itu berat, ujiannya tiap hari. Tapi bukan ikhlas jika masih merasa sakit." -Aul...


Salah satu yang menyenangkan jika mempunyai sahabat berbeda kelamin itu, salah satunya dijadikan pasangan saat akan berpergian-jika tidak ingin dicemooh oleh orang lain. Seperti Mahesa Wiradinata, laki-laki yang sekarang ini bertransformasi menjadi pacar pura-pura bagi Aul.


Mahesa-cowok SMK Adiguna yang berstatus sebagai tetangga sekaligus sahabat Aul-menarik paksa Aul untuk ikut dalam pesta yang diadakan oleh reuni SMK-nya.


"Gini nih, akibat kelamaan jomblo. Sahabat sendiri jadi tumbal," cibir Aul saat Mahesa merangkulnya menuju Aula utama SMK Adiguna.


"Bocil kaya lu kalau masih ngomel gak jelas, gua seret juga nih," ancam Mahesa dengan kerlingan jenaka.


Aul mencebikan bibir, menggerutu kesal. "Udah main paksa, ngehina, sekarang ngancam pula. Lo emang kandidat pacar terlaknat, Esa."


Mahesa tertawa kecil dan mengacak-acak rambut Aul, membuat mereka menjadi pusat perhatian anak SMK Adiguna yang ikut dalam reuni ini.


"ESAAA! GUE KUTUK LO BIAR JADI JOMBLO ABADI!!" Pekikan Aul menggema, sebagian orang semakin penasaran dengan Mahesa yang menggemparkan sekolahnya karena akhirnya membawa kekasihnya.


Padahal mereka semua tahu, bahwa salah satu dari anggota geng Devil's ini, dikabarkan tidak mempunyai kekasih dan menolak untuk pacaran dengan dalih yang cukup mengesalkan.


"Buat apa pacaran kalau lu bisa bahagia tanpa pacar?"


Tetap saja, Mahesa seringkali menjadi sasaran yang paling diincar oleh kaum hawa di SMK Adiguna.


Erlan dan beberapa anggota geng Devil's lainnya melakukan high five secara bergantian.


"Siapa lagi nih?" goda Romi pada Mahesa yang matanya melirik ke arah Aul.


"Siapa lagi kalau bukan pacar gua?" balas Mahesa.


Adipati memerhatikan Aul dengan intens. "Beneran, lu pacarnya tahi ayam ini?" tanyanya sangsi.


Meskipun sebenarnya Aul menahan dirinya untuk tidak tertawa kencang sekarang, Aul berusaha untuk menjadi pacar pura-pura Mahesa dengan baik. Dia tersenyum malu-malu salah tingkah.


"I-iya," jawabnya selugu mungkin.


Mahesa memuji dalam hati lakon yang diperankan baik oleh Aul.


"Wushh, si Bos bawa gandengan juga. Anak mana ini? Kaya pernah lihat gua." Gerry datang menyerobot ke arah Mahesa.


Romi yang ada di sampingnya menoyor kepala Gerry. "Inget punya sahabat! Jangan main gaet aja," peringatnya.


Sementara sang pelaku hanya menyeringai. Dia kembali memandang Aul dengan penasaran. "Sa, pacar lu sariawan? Dari tadi diem mulu."


"Dia takut karena ada lu, bego!" umpat Adipati.


Gerry mencibir, Mahesa membisikan pada Aul untuk bergabung bersama teman perempuan lain yang ada di sini-minimal berkenalan dengan mereka-tentu saja Aul menerima usulan tersebut daripada harus terjebak dengan delapan orang manusia yang kurang waras.


"Lah jadi pergi, kan! Gara-gara lu nih," keluh Gerry sambil menunjuk pada Romi.


Romi melotot tajam. "Napa nyalahin gua? Tuh si Mahes yang biarin doi pergi."


"Lebih baik dia pergi daripada nanti lu makan," sahut Mahesa.


"Songong ya sekarang karena udah punya doi," komentar Gerry yang masih tidak terima karena Aul yang pergi begitu saja. Padahal dia ingin berkenalan dengan Aul.


Tristan datang dengan aura mengintimidasinya. Dia memandang Mahesa yang kini sedang melihat teman-temannya yang masih meributkan perihal Aul dan gadis-gadis lainnya. "Anak **?" tebak Tristan dengan menyebutkan nama singkatan dari SMK Bratajaya.


Mahesa cukup terkejut karena kedatangan Tristan di sampingnya. Dia mengangguk dan kembali menoleh pada Aul yang sedang berbincang dengan salah satu perempuan yang ada di sini.


"Hm, iya."


Tristan ikut memerhatikan Aul, lalu kembali menoleh pada Mahesa. "Gua harap, lu kagak bertindak gegabah sekarang," peringatnya.


Mahesa menghela napas gusar, dia tahu bahwa ketua geng Devil's ini pasti akan lebih hati-hati mengenai perkara 'Pacar Mahesa' yang tersemat pada Aul.


"Tenang aja, semuanya aman terkendali."


...•••...


Menurut Aul, reuni di SMK Adiguna, tidak buruk. Aulanya di dekorasi sedemikian rupa sehingga memberikan kesan semi formal. Banyaknya deretan masakan membuat Aul harus berusaha menahan citranya sebagai perempuan tulen yang anggun.


"Nah, katanya sih, geng Devil's ini punya konflik turun temurun sama geng Basupati. Gue juga gak yakin apa permasalahannya." Salsa melirik Aul dengan ragu. "Posisi lo sebagai 'pacar Mahesa' tentu akan mempersulit lo saat ini."


Aul menganggut setuju, menampilkan senyum terbaiknya. "Gak apa-apa, Esa pasti lindungi gue," ujarnya meyakinkan.


Walaupun dalam hati Aul mendumel tentang tindakan Mahesa yang membuatnya seperti sekarang.


DASAR COWOK BADUNG, LIHAT AJA LO!


Usai berkeliling, mereka mencicipi manisan yang sudah tersedia, sambil duduk di salah satu kursi dekat dengan panggung. Acara sudah dimulai sejak sepuluh menit yang lalu.


Aul tidak sepenuhnya menyimak acara tersebut, dia hanya fokus pada makanannya.


Sampai netranya menangkap sebuah objek yang dia kenali. Aul tersedak, buru-buru dia meneguk air minumnya. Salsa pun dibuat panik karena Aul.


"Lo gak apa-apa?"


Aul menggeleng lemah, dadanya terasa sesak seolah dihimpit oleh beban tak kasat mata. Matanya sudah berkaca-kaca dengan hidung yang memerah. Aul mencoba menahan isaknya.


Salsa panik saat melihat Aul yang hendak menangis. Dia pun meneriaki nama Mahesa. "Mahes! Pacar lo nih!" Teriakannya tak hanya membuat Mahesa dan geng Devil's memerhatikan Aul, tapi objek yang Aul lihat tadi ikut melihat ke arahnya.


Aul memalingkan muka dengan badan yang membelakangi Irlan. Mahesa datang dengan terburu-buru, dia memandang heran Aul. "Kenapa?" tanyanya lembut.


Jujur saja, Mahesa juga khawatir dengan keadaan Aul yang seperti ini. Bisa-bisa dia kena omelan panjang dari Tante Aura karena membuat putrinya menangis.


Aul balik memandang Mahesa dengan sendu, dia mengabaikan orang-orang yang menatapnya penasaran. Aul memeluk Mahesa dengan mendadak. Rasa sesaknya belum juga hilang saat melihat Irlan merangkul seorang gadis di depannya secara langsung.


Pertahanan Aul sudah hancur dan Mahesa yakin bahwa laki-laki sialan itu yang membuat Aul menjadi seperti ini.


"Sal, Nazmi datang ke sini sama si Irlan?" tanya Mahesa sambil menahan amarah. Rahangnya mengeras, wajahnya sudah merah padam.


Salsa menganggut dua kali. "Dia emang suka datang sama Irlan kan?"


Mendengar namanya disebut membuat Aul semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Mahesa, dia tidak peduli jika Mahesa akan memarahinya karena membuat bajunya basah oleh air matanya ataupun terkena ingusnya sekalipun.


Mahesa mengusap punggung Aul dengan sayang, menggumamkan banyak kalimat penenang yang tidak berefek apa-apa. "Pulang ...." Suara serak dari Aul lebih terdengar seperti rengekan anak kecil.


"Lo yakin? Perlu gue kasih pelajaran dulu buat curut itu?" Tentu saja Mahesa tidak ingin membuat acara reuni ini hancur karena emosinya, dia masih berusaha menahan amarahnya.


Aul menggeleng lemah di dekapan Mahesa. "Gak usah, Esa. Pulang aja yuk," ajaknya dengan parau.


Mahesa menyeka air mata Aul menggunakan ibu jarinya dengan telaten-tentu saja tindakan impulsif-nya dilihat oleh banyak orang dan mereka semakin yakin bahwa Aul bukanlah 'orang biasa' bagi Mahesa Wiradinata.


"Sal, bagi tisu buruan!" serunya.


Salsa buru-buru merogoh tasnya dan mencari barang yang Mahesa maksud. Setelah di dapatnya, Mahesa langsung merebutnya paksa. "Lelet banget!" omelnya.


Salsa hanya menghela napas, sudah di mintai tolong, tapi malah membentaknya. Kelakuan Mahesa memang sangat mengusap dada-menguji kesabaran.


Mahesa memberikan tiga lembar tisu pada Aul yang sudah berhenti menangis. "Nih, usap sendiri ingus lo. Gue mah ogah," ucapnya tak acuh.


Hancur sudah momen romantis yang terjadi di antara Aul dan Mahesa. Tindakan tengil dari Mahesa ini, memang tidak bisa mempertahankan sikap lembutnya karena tertutupi oleh kebobrokannya sendiri.


Aul membelalakkan matanya marah. Pasalnya, Mahesa mengatakan itu dengan suara lantang yang pastinya dapat terdengar oleh banyak orang.


"Makasih!" ucap Aul ketus, dia menarik tisu dari tangan Mahesa dengan kasar. Lalu menghentakkan kakinya, meninggalkan Mahesa dan berjalan menuju parkiran.


Mahesa menatap ngeri pada Aul. ""Udah ditolongin malah marah, ujian orang ganteng memang sulit."


Salsa dan orang yang melihat tingkah Mahesa hanya menggeleng kepalanya.


"Aul tunggu!" teriaknya lantang.


Aul justru semakin berjalan cepat, meninggalkan Mahesa.


Tapi teriakan dari Mahesa cukup mengusik pendengaran Irlan. Dia menatap punggung mungil dari seorang gadis yang berjalan ke arah parkiran. Irlan hendak mengejar perempuan itu, tapi lengannya di tahan oleh seseorang.


Nazmi memberikan peringatan lewat tatapan matanya. "Jangan, biarin aja," nasihatnya.


Irlan hanya bisa memandang nanar kepergian Aul. Dia sendiri bahkan baru bertemu Aul setelah sekian lama.


"Gue harap lo baik-baik aja, Hana," gumamnya yang masih terdengar oleh Nazmi.