#Move On, Jomb!

#Move On, Jomb!
Bab 4 : Little moment with you



...CIRI-CIRI ORANG YANG GAGAL MOVE ON...


...#Sering teringat (kenangan) Mantan...


...“Tidak semuanya perlu dilupakan, cukup disimpan dan ikhlaskan.” —Kaila...


Kebijakan Pak Halimin di SMK Bratajaya; salah satunya adalah tentang kewajiban murid untuk memanfaatkan prasarana  pengembangan diri yang sudah disediakan oleh pihak sekolah, terutama pendidikan karakter baik dan pembinaan siswa.


Lulusan SMK memang dituntut untuk memiliki skill tersendiri—sesuai dengan jurusan yang diambilnya—ataupun memiliki skill tambahan lain, untuk menunjang kehidupannya saat lulus dari SMK nanti. 


Terkadang, banyak orang yang memandang rendah tingkatan kelulusan SMK karena banyaknya jumlah pengangguran—mirisnya—berasal dari lulusan SMK ataupun ada yang berpikir dangkal, bahwa dengan masuk SMK, kita pasti bisa langsung kerja. Karena slogan SMK yang sudah tidak asing lagi kita dengar.


‘SMK BISA!’


Bisa apa dulu? Sekolah hanya memfasilitasi, sedangkan faktor penentu sukses tidaknya orang tersebut adalah dirinya sendiri.


“Kadang gue mikir, nyesel deh masuk jurusan ini. Jurusannya gak sesuai dengan minat bakat gue.”


Atau ada lagi yang bilang seperti ini;


“Gue masuk SMK karena mau kerja, ngelanjutin usaha orang tua.”


“Gue masuk SMK tapi semakin ke sini, gue semakin sadar bahwa tempat gue bukan di sini. Bisa gak ya, kalau lulusan SMK kaya gue, ngelanjutin ke Universitas? Kuliah gitu.”


Aul sudah mendengar banyak keluhan seperti itu dari teman-temannya saat menginjak kelas sebelas—tingkat kedua. Di mana kita, bukan hanya diajarkan melalui praktek di ruangan praktikum ataupun belajar teori saja, tapi kita juga dihadapkan oleh situasi PKL (Praktek Kerja Lapangan) yang nilainya, menjadi syarat kelulusan murid SMK.


Nando mencubit hidung Aul karena gemas, Aul termenung di saat mereka semua—anak Bahasa—sedang ramai membicarakan tentang tempat PKL mereka, setelah selesai kumpulan dengan adik tingkat dan rapat dadakan.


“Iiih, Nando! Lo jahil banget sih!” Aul menggampar lengan Nando keras.


“Rasain!” sahutnya.


Si pelaku kejahilan, malah tersenyum puas, sambil mengusap tangannya yang kena pukulan dari Aul. “Sadis amat, Neng.”


Aul hanya mendelik pada Nando, dia sedang malas berdebat. Pemikiran tentang PKL membuat kepalanya pening. Aul jengah dengan dirinya sendiri.


Masih dengan posisi Aul yang sedang menopang dagu, Akmal tiba-tiba datang, mendekati Aul. Tangannya terulur, meminta sesuatu yang sudah menjadi kebiasaannya selaku Koordinator Seksi Bidang Bahasa—salah satu bagian dari kepengurusan OSIS.


Aul mendengkus keras, dia menatap tanpa minat lengan Akmal.


“Ayolah Aul, jangan biarkan gue seperti orang konyol yang mengejar hal yang tidak pasti,” paksa Akmal.


“Bucin! Gak nyambung kali,” komentar Aul, pedas.


Akmal berdecak acap kali. “Tsk, jangan buat ini tambah ribet!”


Dengan penuh keterpaksaan, Aul menyerahkan buku tebal, berupa notulen kegiatan Bahasa yang dilakukan selama satu pekan yang akan direkap oleh Akmal.


“Makan tuh buku!” ujar Aul dengan sengit.


Akmal melebarkan senyumnya, dia ingin menggoda Aul kembali. Lumayan, mengurangi beban stresnya.


“Aul, tahu gak, kenapa perempuan kalau lagi selfi biasanya kepalanya miring?” Akmal bertanya dengan wajah serius.


“Kenapa?” Meskipun malas, Aul berusaha menanggapinya.


“Karena perempuan itu perlu sandaran, eaaa~”


“Bucin! Hush ... jauh-jauh sana!” usir Aul dengan tidak sopan, dia menyeret Akmal agar segera keluar dari ruangan Bahasa ini.


“Biasanya kalau ada orang yang ngatain ‘bucin’ itu berarti dia iri, karena gak punya objek perbucinan. Jelas, gue mah punya,” bangga Akmal. Dia masih tetap keras kepala untuk tidak keluar dari ruangan.


Aul merotasikan matanya. “Hilih, gue juga punya kali!” sungut Aul tak terima diejek.


“Siapa? Si Irlan itu?” Akmal menggelengkan kepalanya. “Move on, Neng. Lo jangan mau jadi bucin dia, laknat emang tuh anak,” imbuh Akmal dengan mengetuk dahi Aul sebanyak tiga kali.


Aul segera menepis tangan Akmal. “Udahlah sana, balik ke ruang OSIS! Atau gue timpuk pake sendal hm? Sendal gunung-nya Nando ada, tuh!” tantang Aul.


Akmal buru-buru pergi dari ruangan tersebut setelah membuat rambut Aul berantakan. Dia memang teman Aul, sekaligus teman Irlan sejak SMP. Jelas Akmal dapat mengetahui apa yang terjadi dengan kedua orang itu.


Riziq mendengar percakapan tadi, namun enggan berkomentar banyak. Dia tetap diam sambil menjawab diskusi singkat bersama Nando.


Saat mereka sedang melaksanakan rapat bulanan kinerja OSIS sewaktu SMP, Irlan—selaku wakil ketua—memimpin jalannya acara tersebut, karena Azka sang Ketua OSIS berhalangan hadir.


Rapat berlangsung sekitar satu jam lamanya. Hanya tersisa beberapa orang di dalam ruangan, salah satunya adalah Aul bersama empat orang koordinator yang berada di bawah tanggung jawab Irlan langsung.


Aul menyikut lengan Kaila, menyuruh perempuan itu agar lebih dulu berdiskusi dengan Irlan. Aul masih saja selalu malu-malu kucing seperti sekarang, padahal semua anggota OSIS tahu, bahwa Aul merupakan kekasih Irlan Argara.


“Cemen banget lo dihadapan doi,” komentar Kaila.


Mungkin karena Kaila yang berdiskusi terlalu lama atau karena perut Aul yang tidak bisa diajak kompromi. Mag-nya kambuh, wajah Aul sudah pucat pasi, keringat dingin semakin membuat tangannya ikut memucat. Aul mencoba menahan rasa sakitnya, karena mag ini sering dia rasakan.


“Aul, lo gak apa-apa kan? Mau gue panggilkan Irlan? Lo pucat banget tahu,” ujar Naya cemas.


Santi yang ada di samping Naya menyetujui sarannya. ”Udah panggilkan aja, kasian Aul.”


Meskipun Aul sudah melarang mereka untuk tidak memanggil Irlan, tetap saja Irlan mereka panggil.


Aul sudah berada di ambang kesadarannya saat pintu ruangan terbuka lebar, Aul dapat melihat wajah cemas dari Irlan yang begitu kentara. Dia tidak dapat melihatnya dengan jelas, tapi Aul merasakan dirinya dibopong oleh seseorang.


Aul yakin bahwa itu adalah Irlan, karena harum dari parfum yang dipakainya sangat Aul kenali.


Saat diperjalanan pun Aul masih dapat mendengar samar-samar suara Irlan yang bergetar. “Bertahanlah Aul, kamu pasti sembuh.”


Begitulah Irlan, penuh perhatian padanya, sehingga Aul tidak bisa untuk menghentikan perasaannya untuk tidak jatuh hati pada kebaikan Irlan. Juga ada hal lain yang membuat Aul semakin jatuh hati padanya.


Aul mengedipkan matanya acap kali, saat dia merasakan getaran pada ponselnya. Sebuah pesan masuk dari Mahesa.


‘Buruan balik! Gua jamuran nunggu lo di halte.’


‘Anak gadis gak baik pulang sore-sore, nanti diculik sama laki-laki pedofil. Buruan makanya!’


Aul membalasnya singkat. ‘Tunggu bentar, gue otw ke sana.’


Setelah terkirim, Aul merapihkan barang-barangnya. Membuat perhatian orang-orang tertuju padanya. “Mau balik sekarang Aul?” tanya Halifah.


Aul menganggut singkat. “Iya, Fah. Udah ada yang jemput soalnya.”


Selesai dengan ranselnya yang sudah menempel pada punggungnya, Aul berpamitan pada pengurus ekstrakurikuler Bahasa lainnya.


“Gue duluan ya, ada yang jemput!” teriaknya.


Aul berjalan di sekitar koridor ruangan ekstrakurikuler yang sudah sepi karena langit sudah berwarna jingga, sore.


“Aul!” Teriakan orang itu membuat langkah Aul terhenti.


Riziq menghampirinya, memberikan sebuah flashdisk hijau milik Aul yang tertinggal. “Ah, hampir aja lupa. Thank's ya, Riz!”


“Lain kali hati-hati, lo selalu ceroboh!” ujar Riziq yang mengingatkan Aul pada Irlan.


“Hati-hati, jangan ceroboh. Untung ada aku, kan?”


Aul menghela napasnya, hendak pergi sebelum terdengar kembali suara Riziq.


“Lain kali, pulang bareng gue, mau?” ajaknya.


Mata Aul mengerdip-ngerdip, dia menatap netra Riziq sekian sekon. Mencari keseriusan pada perkataannya. Pasalnya, ini baru pertama kalinya dia mendengar Riziq menawarkan perihal ini.


“Boleh,” balas Aul singkat.


“Duluan ya, Riz!” seru Aul saat sudah berada jauh dari jarak Riziq berdiri.


Aul melambaikan tangannya pada Riziq disertai senyuman yang membuat matanya menyipit.


“Hati-hati.” Riziq hanya bisa mengucapkan kalimat itu dengan pelan karena Aul sudah tidak terlihat oleh netranya.