#Move On, Jomb!

#Move On, Jomb!
Prolog



Dia menatap jalanan yang lenggang dengan senyum manis terukir indah pada wajahnya yang kian sayu, terlalu banyak tangisan membuatnya terkapar dalam ketidakberdayaan. Irama napasnya sudah mulai teratur, dia merasa lebih lega dibandingkan hari-hari sebelumnya.


Perasaan itu masih ada. Melekat terlampau kuat. Tapi tidak akan berarti apa-apa jika dia masih berdiam diri. Kilasan penghinaan, ketidakpercayaan, keraguan, kecemasan luar biasa yang sering membelenggunya kian menyurut, ketika dia mulai berjalan perlahan menjauhinya, sangat perlahan.


“Tak apa, ini sudah benar. Tak perlu diragukan lagi. Orang-orang hanya bisa menilai, bukan membuktikan.” Dia berusaha mengsugestikan diri bahwa semuanya kian membaik.


Kaki rampingnya itu kembali melangkah perlahan menuju kerumunan orang yang menarik perhatiannya. Entah kenapa, seiring langkahnya mendekat, degup jantungnya berpacu kian tinggi. Angin seolah-olah mengikuti perannya hingga membuatnya semakin merasakan sensasi dejavu yang tidak bisa dia lupakan.


Kerumunan itu membelah, memberikannya celah untuk mengintip. Tak banyak harapan yang ingin dia titipan, hanya saja dia diliputi rasa penasaran. Oh, tidak! Dugaannya salah, pilihan untuk mencari kepuasan dari rasa penasarannya itu, harus dia bayar dengan kegelisahan dan keraguan di setiap harinya ke depan.


Matanya terbelalak. Bahkan rasa mual dari perutnya ikut melonjak tinggi ketika melihat objek di depannya. Pening kepalanya tidak sama sekali dia hiraukan. Hanya satu kalimat dalam benaknya yang harus dia lakukan saat ini.


“Astaga, Tuhan! Ini tidak boleh terjadi! Aku harus segera pergi dan meninggalkannya!”


Kaki-kaki yang tidak gemar berolahraga itu terpaksa harus melaju cepat dibandingkan biasanya ; saat dia seringkali berjalan dengan tempo lambat. Peluh pada kening serta sekujur tubuhnya dia hiraukan. Jantungnya berirama cepat, melebihi roller coaster yang pernah dinaikinya sewaktu dulu.


Teriakan itu malah membuatnya semakin was-was. Dia tidak berani menengok ke belakang. Hatinya tidak akan kuat untuk kembali berpapasan dengan orang yang selalu menjadi alasannya untuk tersenyum, dulu. Dia buru-buru menggelengkan kepalanya. Kenangan itu tidak boleh kembali menghasutnya. Dia sudah lelah.


Jika ada rumus matematika yang mengharuskan untuk menghitung jarak larinya, maka dia tidak akan repot repot untuk menghitungnya. Dia hampir kehilangan napas karena kelelahan! Daripada menyusahkan diri dengan teori menyebalkan matematika, dia memilih untuk berbelok ke arah gang sempit. Tepat dari sana, bau tidak sedap mulai tercium oleh indera penciumannya. Sebelah tangannya mencapit hidung dan yang lainnya berusaha menyeimbangkan diri agar tidak limbung.


“Jika sudah seperti ini, seharusnya aku dulu belajar lebih giat lagi. Percuma saja jika aku mendapatkan masalah baru, saat aku sedang dikejar masalah lainnya.” Gerutuan itu sama sekali tidak membantunya. Hingga akhirnya dia bisa menghembuskan napas lega ketika berhasil melewati gang sempit dan kumuh.


“Oh, tidak! Sekarang aku benar-benar seperti anak hilang yang gak tahu kemana arahnya untuk pulang!” rengeknya ketika melihat perkampungan di depannya yang begitu asing, tidak pernah dia lihat atupun kunjungi. Sekalipun orang tuanya adalah pejabat negara.


Suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya, disertai siluet tidak jelas dari bayangan seseorang yang melewati gang yang sama dengannya, membuat kekhawatirannya menggunung. Dia mulai merengek pada Tuhannya agar berbaik hati tidak mempertemukannya dengan orang yang paling dia hindari.


“Setidaknya jangan sekarang dulu, Tuhan,” pintanya sembari mengatupkan kedua tangannya.