
...PACARAN...
...#Saling Mengerti...
...“Hubungan itu saling timbal balik dan harus disertai oleh rasa saling percaya. Kalau tidak, itu semuanya tidak akan bertahan lama.”...
...•...•...
Petang hari sudah bergulir hingga malam tiba, saat Aul baru sampai di pekarangan rumah. Tubuh atletis milik seorang laki-laki yang berdiri tegap di ambang pintu dengan tangan yang terlipat di depan dada, rahangnya terlihat mengeras di sertai tatapan mata yang tajam membuat Aul kesulitan untuk meneguk salivanya sendiri.
Dengan langkah yang sangat pelan, Aul mendekat ke arahnya. Senyum yang terpatri pada wajahnya, terlihat sangat kaku dan Aul sangat menyadarinya. Netranya tak hentinya memicing curiga karena Aul baru pulang dari sekolah pukul delapan malam.
“Inget jalan pulang rupanya, huh?” tanya Mahesa skeptis.
Aul mengangguk ragu. “Yaiyalah, tahu. Ngaco aja deh lo!” Aul tertawa hambar untuk menutupi kegugupannya.
Mahesa tidak juga menyingkir dari jalannya, Aul berdecak kesal. “Esa, minggir. Gue mau istirahat, cape ...”
“Cape jalan-jalan sama anak ** itu?” tanya Mahesa dengan nada suara yang tinggi.
Aul membeliak. Walaupun tidak semuanya seperti itu. “Ck, udah lah, sana! Gue mau istirahat nih!”
Mahesa tertawa dengan sengaja, suara tawanya terdengar pilu tapi juga membuat Aul merasa heran. “Lo jadi perempuan gampangan banget sih, Aul...” Mahesa bahkan tidak menghentikan kalimatnya, meskipun telah melihat mata Aul yang menatap nyalang padanya. “Kalau anak Basupati itu terus gini sama lo, gue lebih ship hubungan lu dulu sama Irlan. Lu jadi liar karena anak ** itu Aul,” jelas Mahesa dengan tegas.
Sebelum ini, Mahesa memang sering menasehatinya layaknya seorang kakak terhadap adik perempuannya. Tapi selama itu pula, Mahesa tidak pernah berkata sedemikian kasar padanya, tidak untuk malam ini.
“Kalau emang iya kenapa, huh? Lo tahu apa sih!” tantang Aul dengan berani.
Seringai kecil pada wajah Mahesa membuat Aul ketar-ketir. Dia punya feeling yang buruk saat melihat seringai tersebut.
“Ternyata lo sama aja kaya ... ” Mahesa mencondongkan wajahnya pada telinga Aul. “Mama lo yang ternyata perempuan gak bener.”
Napas Aul memburu karena menahan emosi, sedangkan bahunya naik-turun dengan dada yang kempas-kempis. Tangannya terkepal keras-keras, siap melayangkan sebuah tinjuan pada Mahesa.
BUGH!
“Agh ...”
Suara erangan Mahesa, Aul biarkan saja. Karena dia yakin, Mahesa bukan laki-laki cengeng yang akan lumpuh karena serangan kecilnya. Laki-laki yang gemar tawuran, hingga membuat tante Rara kewalahan atas sikapnya, pasti baik-baik saja setelah mendapatkan dua pukulan darinya yang tidak seberapa.
Sebelum benar-benar masuk ke rumahnya, Aul melihat sekilas pada tubuh Mahesa yang membelakanginya. “Lo bisa berspekulasi apapun tentang gue, salah ataupun benar hal itu.” Aul meraup udara sebanyak-banyaknya, sesak rasanya saat melanjutkan kalimat yang sebenarnya sangat menyayat jantungnya.
“Berhenti menyalahkan Mama gue atas masa lalunya. Dan harusnya lo tahu, kalau mengingatkan gue akan hal tersebut, sama aja menyakiti gue untuk kedua kalinya.”
Aul buru-buru menyeka air matanya yang mengalir, sebelum terlihat oleh siapapun. Dia berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamarnya. Berharap malamnya ini berlalu dengan cepat. Karena Aul lelah fisik dan hatinya. Baru kali ini, dia merasa menyesal karena telah menceritakan masalahnya pada Mahesa—orang yang dia percaya sejak kecil—daripada menceritakannya pada orang yang baru saja dia percayai—Riziq.
Aul melemparkan ransel pada tumpukan ransel-ranselnya. Dia menjatuhkan tubuhnya dia atas ranjang bergambar dedaunan hijau tersebut. Wajahnya disembunyikan di balik bantal, untuk merendam tangisnya yang pecah.
Kejadian tersebut terjadi seperti rekaan ulang yang menyayat hatinya. Sungguh bukan ini yang dia inginkan dari keluarganya.
•••
Flashback on
Fokus Aul saat di rumah, tidak hanya mengenai setumpuk berkas tugas yang menumpuk. Dia juga sangat peka akan kesedihan orang tuanya yang harus terpisah oleh jarak—long distance relationship—dikarenakan tugas dari pekerjaan ayahnya yang berada di luar kota.
Bahkan untuk melihat Aryan pun, Aul harus menunggu—sekiranya—minimal satu bulan dahulu, baru lah ayahnya tersebut akan pulang ke rumah. Beliau pun tidak menetap di rumah untuk waktu yang lama, paling-paling hanya sekitar satu minggu. Itu pun yang paling lama.
Pernah, suatu pagi, di mana dengan air mata yang meliputi sekitar matanya, Aul harus menghantarkan—dengan berat hati—keberangkatan Aryan di pagi buta.
Aryan mengusap surainya yang kala itu mencapai sepunggung. “Jadi anak yang baik ya, jangan lupa bantu Mama. Ayah bangga punya anak sepertimu,” tutur Aryan yang diakhiri oleh kecupan singkat pada keningnya yang semakin membuat tangisnya terdengar sendu.
“Kok nangis sih, sudah, Aul. Ayah bekerja juga untuk kamu dan Mama.” Aryan mengusap air matanya setengah Aul mengangguk patuh.
Aryan sedikit bercakap-cakap dengan Aura, melepas perihal perasaan yang sangat menumpuk. Aul merasakan bagaimana kasih sayang Aryan pada Aura yang begitu besar, begitu pun sebaliknya. Tanpa sadar, Aul mengulas senyum kecil.
Lekas keberangkatan Aryan kala itu, tak lama kemudian Aul melihat sebuah panggilan tak terjawab dan sebuah pesan singkat dari inisial nama yang aneh, ‘Teman’ pada via daring, di ponsel Aura yang dibiarkan di atas lemari kecil dekat kamar beliau.