#Move On, Jomb!

#Move On, Jomb!
Bab 14 : Boyfriend material



...BAGIAN IV ...


...PACARAN...


...#Dekat dengan orang tua gebetan...


...“Pria yang serius pada hubungannya akan memperkenalkanmu pada keluarga dan sahabatnya. Sedangkan pria modus, bersikap sebaliknya.”...


...•...•...


“Oh, ...”


Suara Riziq terdengar kecewa, Aul merasa tidak enak hati. Apalagi setelah mendengar penuturan dari Akmal.


“Sayang banget sih, padahal Tante Julia berharap lo ikut sih, Aul,” imbuh Akmal, dia merangkul bahu Riziq, menepuknya singkat. “Dah, jangan galau lo. Wajah lo gak pantes buat galau,” sambungnya sambil terkekeh.


Aul menunduk, dia mempererat pegangannya pada berkas-berkas. “Hm ... lo bicarain tentang lamaran, bukan, sih?” cicitnya pelan. Aul merasa ada yang salah di sini, karena terkadang Aul selalu salah tanggap mengartikan maksud seseorang.


“Hah? Lamaran pekerjaan maksud lo?” tebak Akmal.


Aul menggeleng. Wajahnya sudah tersipu malu, dia sangat enggan untuk mengatakannya lebih lanjut. Kepalanya dia sembunyikan dibalik berkas yang dia bawa, sehingga hanya menampilkan kepalanya hingga ke bawah mata.


“Lah? Terus apaan?” tanya Akmal heran, dia menggaruk pelipisnya. “Gak mungkin, kalau lamaran yang serius kan—”


“Oke, STOOPP!!” Aul menyela perkataan Akmal dengan wajah yang sudah terasa panas karena malu.


“Berarti bukan, kan?” Aul melirik Riziq dengan ragu. “Hm ... kalau gitu, gue ... duluan! Bye~” Aul berlarian kecil menuju letak kelasnya yang berada di lantai dua.


Sedangkan Riziq sudah tidak tahan untuk tidak tertawa melihat Aul yang lari seperti maling tertangkap basah.


“Astaga, bocil itu ...,” gumamnya yang masih terdengar oleh Akmal.


“Kenapa lo ketawa-ketawa sendiri?”


Riziq hanya menggeleng, seakan tidak mau membagi hal lucu dengan sahabatnya. Dia hanya akan menyimpannya sendiri. Hanya untuknya. “Bukan apa-apa.”


Akmal mencibir, “kaya cewek banget jawabannya.”


Riziq mengedikan bahunya, dia melanjutkan langkahnya menuju tangga ke jurusan Teknik Komputer—kelasnya Wildan—berada di lantai kedua, satu gedung dengan lantai satu dipakai oleh jurusan Tata Rias.


Akmal yang merasa ditinggalkan, mengejar Riziq sambil berteriak. “Oy, jangan bilang lo kemasukan Mbak Juminten ya?” tuduhnya.


Riziq menghentikan langkahnya, dia menatap Akmal dengan malas. “Sembarangan lo!”


“Terus tadi lo kenapa sampe mesem-mesem gitu?” selidiknya curiga.


Senyum menyeringai sengaja Riziq tampilkan karena Akmal terus mendesaknya, penasaran. “Rahasia.”


Lalu kembali menaiki undakan tangga dan mengabaikan teriak Akmal yang kesal padanya.


“DASAR SONGGONG! GUE SUMPAHIN LO DIBUAT PENASARAN SAMA CEWEK LU NANTI!”


•••


Hari silih berganti, begitupun dengan sang waktu. Tak terasa sudah, kini sudah masuk waktunya Aul untuk tidur —pukul sembilan malam—karena Aul tidak bisa tidur melebihi batas waktunya atau dia akan bangun dengan kepala yang terasa pening dan mata yang memerah.


Satu hal yang tidak Aul bisa lakukan sampai sekarang adalah; bergadang. Meskipun punya setumpuk tugas, hapalan, bahkan hingga persiapan ulangan pun, Aul tidak mampu masuk pada level bergadang, seperti orang kebanyakan.


Tapi ada yang aneh padanya, Aul memang tidak bisa bergadang, tapi jika ada setumpuk tugas, dia akan memilih tidur cepat dan terbangun pada pukul 2-3 dini hari. Setelah itu, Aul tidak tidur dan terus sibuk dengan aktivitasnya hingga subuh menjelang.


Ponselnya bergetar nyaring, pertanda ada panggilan masuk. Aul lupa mengaktifkan mode suara pada ponselnya karena terlarut dalam tugasnya.


Keningnya berkerut saat mengetahui nama si pemanggil adalah orang yang berhasil membuat matanya membulat sempurna pada dini hari ini.


“Ya, halo, kenapa?”


“Lo beneran gak bisa ikut, Aul? Mama gue nanyain terus, padahal udah gue jelasin berkali-kali tapi gak percaya.” Aul dapat mengerti bahwa sekarang Riziq pasti merasa kebingungan atas sikapnya, tapi Aul tidak bisa melupakan kejadian kemarin pagi yang membuatnya malu sekali.


“Lo bohongin gue ya? Pasti Tante Julia nanti kerepotan kalau gue ikut,” sergahnya, menutupi kegugupan pada suaranya.


“Dih, dibilangin kata Mama gue juga, ngeyel. Dasar bocil.”


Cemoohan Riziq, Aul balas dengan mencebikkan bibir, meskipun Riziq tidak melihatnya, tapi dia sangat kesal.


“Ish!”


Lalu terdengar suara yang tidak jelas, hingga akhirnya suara tante Julia mengagetkannya.


“Halo, Neng?”


Aul harus berterimakasih pada papanya yang memiliki keturunan sunda, walaupun tidak terlalu fasih, tapi Aul tahu sedikit-sedikit.


“Iya, Bu?”


Sekarang Aul benar-benar merasa gugup. Walaupun sudah hampir sering berinteraksi dengan tante Julia saat mengunjungi rumah Riziq, tetap saja dia masih merasa seperti orang asing di rumah Riziq, walaupun berkali-kali tante Julia memintanya untuk menganggapnya layaknya keluarga sendiri.


Mana bisa Aul bertingkah seperti itu! Kedekatannya dengan tante Rara pun dikarenakan persahabatannya dengan Mahesa sejak kecil. Lain halnya, karena Riziq ...


“Kamu bade ikut Ibu ke wisata curug?”


(Kamu mau ikut Ibu ke wisata air terun?)


Aul hanya diam, dia bingung harus menjawab apa. Bahasa tante Julia sangat gado-gado sekali, tapi karena itu juga Aul sangat berterimakasih. Dia merasa tertolong karena mengerti maksudnya.


“Soalnya Riziq gak mau ikut, karena gak ada temen. Sahabatnya pada sibuk, ceunah. Emang loba alasan pisan anak satu ini,” imbuh tante Julia.


(Sahabatnya pada sibuk, katanya. Emang banyak alasan banget anak satu ini)


Terdengar suara Riziq yang membantah perkataan orang tuanya. “Mama atos, atuh.”


Aul bahkan hampir terkikik geli karena mendengar suara Riziq yang terdengar seperti suara bocah yang tidak dibelikan permen oleh orang tuanya.


“Jadi, gimana, Neng? Mau, ya? Tante kasian pisan, kalau sampai ninggalin Aqi sendirian di rumah.” Terselip nada guyonan dalam kalimat tante Julia barusan yang memanggil Riziq dengan penggalan nama keduanya, Aqila.


(Tante kasian banget, kalau ninggalin Aqi sendirian di rumah)


“Hm ... gimana ya, Tante. Aul takut ngerepotin ....”


Akhirnya kalimat itu terucap juga dari bibirnya yang sudah tidak terlalu gugup lagi. Tante Julia memang pandai mencairkan suasana.


“Atos ikut we, atuh. Gak ngerepotin Ibu ini, justru Ibu seneng karena ada temen.”


(Udah ikut aja, ya)


“Tuh, Aul. Mama gue ngotot mau lu ikut, udah ikut aja, daripada nanti gak dikasih bolu buatan Mama gue lagi, hayo ...,” ejek Riziq terdengar seperti memaksa.


Aul cemberut, tapi tak bisa menahan diri untuk tidak mengulum senyumnya.


“Hm, baik, Tante. Aul ikut,” putus Aul.


“Ibu tunggu ya, nanti Riziq jemput kamu.” Aul hanya menganggukkan kepalanya, walaupun tante Julia tidak melihatnya.


“Oya, satu lagi. Jangan panggil Tante, atuh. Panggil aja, Ibu. Masa udah lama masih kaku gitu, apalagi nanti?” goda tante Julia berhasil membuat Aul tersipu lagi.


(Jangan panggil Tante, ya)


Lalu setelahnya terdengar teriakan Riziq yang kesal dengan godaan sang ibu. “Ma ... udah jangan digoda, nanti gak jadi!” Nadanya terdengar mengancam, tapi tanggapan Tante Julia yang membalasnya dengan candaan lainnya membuat Aul iri saja dengan keakraban mereka.


“Halo, Aul, lo masih disitu kan?”


“I-iya, kenapa?”


“Jam tujuh gue jemput ya, tempat biasa.”


Tut.


Aul memaki Riziq dalam hati, laki-laki benar-benar pandai membuat hatinya bolak-balik saja.


“HUAAAA!!!” Aul berteriak heboh, pasalnya sekarang sudah jam setengah enam pagi. Dan Riziq akan menjemputnya jam tujuh pagi! Oh, NOOO!


Riziq adalah orang yang tepat waktu, jika dia bilang jam segitu, maka dia benar-benar akan datang jam segitu. Dan anehnya lagi, Aul tidak suka membuatnya menunggu.


Bukan karena apa-apa, karena jika Aul telat saja, saat mereka sedang mempunyai janji untuk keluar bersama, pasti Riziq tidak akan berhenti menjadikannya sebagai bahan candaan laki-laki itu.


Dasar cowok aneh!


Aul pun memilih bersiap-siap dan berjalan ke arah kamar mandi yang terletak di dekat dapur.


Terlihat bahwa pintu kamar mandi sedang tertutup, menandakan ada orang di dalamnya, terlebih ada suara mesin air yang mengalir.


“SIAPA DI DALAM?!” tanya Aul dengan berteriak. Dia yakin bahwa suara teriaknya saja tidak mampu mengalahkan suara nyaring dari mesin air itu.


“GUE!” balas suara bariton yang sangat Aul kenali, Mahesa.


Aul berdecak, waktunya semakin menipis saja untuk bersiap-siap. Dia menggedor-gedor pintu kamar mandi, hingga membuat Mahesa yang berada di dalamnya berteriak marah.


“SANTUY AUL, WC LU KAGAK BAKAL ILANG! WOLESSS OY! GUE LAGI PUP, JANGAN DIGANGGU!!”


“CEPETAN ESAAA!! URGENT NIH!”


“GUE LEBIH URGENT AUL!!” Mahesa keras kepala dan Aul yang tidak ingin mengalah.


“LAGIAN NGAPAIN PUP DI SINI SIH! DI RUMAH LO JUGA ADA KALI!!”


“SEMUA KAMAR MANDI DI RUMAH GUE DI RENOVASI!!”


“KENAPA EMANG? LO KESERINGAN BOKER KALI YA MAKANYA MACET TUH KAMAR MANDI?” Aul tertawa keras mendengar umpatan Mahesa karena perkataannya.


“SIALAN LU! GUE BUKAN BOCIL KAYA LU, ASAL LU TAHU!”


Sebenarnya dia juga baru tahu tentang renovasi rumah Mahesa tadi sore, tapi dia tidak menyangka jika kamar mandinya pun akan ikut menampung kotoran manusia seperti Mahesa.


Aul kembali menggedor-gedor pintu kamar mandi. “ESAAA BURUAN IHH!! GUE ADA URUSAN NIH!!”


“URUSAN GUE LEBIH PENTING KARENA MENYANGKUT HIDUP DAN MATI!” balas Mahesa.


“JANGAN HABISIN SABUN TAPI!” Teriakan Aul membuat Mahesa kesal, dia kembali membalas teriakan Aul.


“GUE BUKAN PEMAKAN SABUN, AUL!!”


“TAPI LO SERING PAKE! TANTE RARA BAHKAN SERING CERITA KALAU LO IT—”


Pintu kamar mandi akhirnya terbuka, Mahesa berpakaian lengkap. Tapi wajahnya menatap Aul dengan datar. Aul bukan lagi seorang anak kecil, dia remaja yang hendak menuju dewasa. Sudah bukan hal tabu baginya untuk tidak mengerti maksud dari perkataan Tante Rara tempo lalu.


Sambil menahan tawanya, Aul mencoba menyingkirkan Mahesa dari jalannya. “Minggir!” ujarnya, mengabaikan tatapan Mahesa yang memandangnya; perpaduan antara malu dan marah.


“Jangan bilang siapa-siapa tentang apa yang Bunda gue bilang ... atau lo ... akan tahu akibatnya,” ancam Mahesa serius.


Aul tertawa melihat ekspresi Mahesa yang tidak sinkron dengan wajahnya.


“Biarin.” Aul menjulurkan lidahnya, tersenyum mengejek.


“Atau nanti gue beneran bilangin ke temen-temen lu kalau ternyata seorang Hana Aulia suka ngompol di kasur,” ujar Mahesa tenang, dia melenggang pergi tanpa menghiraukan omelan Aul padanya.


“MAHESA TAHI AYAMM!! LIHATIN AJA LO!!” umpat Aul penuh kekesalan.