#Move On, Jomb!

#Move On, Jomb!
Bab 29 : Don't mind, don't mind!



...PROSES MOVE ON...


...#Bersikap acuh tak acuh...


...“Janganlah terbelenggu masa lalu...


...Biarlah yang lampau, cepat berlalu...


...Mari bangun kehidupan baru...


...Tanpa ada tangisan sendu...


...Janganlah mengeluh rindu...


...Sebab itu, sudah tak perlu...


...Berusahalah kamu...


...Supaya tak lagi bersedih pilu.”...


...•••...


Seharian ini, Aul tidak sepenuhnya konsentrasi dalam pembelajaran. Aul kerap kali kena tegur oleh guru yang mengajar di kelasnya. Kaila juga tidak masuk sekolah dikarenakan sakit. Maka dari itu, saat bel istirahat berbunyi, Aul memilih melipatkan kedua tangannya di atas meja dan menjadikannya sebagai bantal untuk tidur.


Bukannya Aul tidak memiliki teman selain Kaila, hanya saja bawaannya yang sedang menstruasi membuatnya malas beranjak dari kursinya. Ajakan dari teman satu kelasnya ataupun teman satu organisasi yang mengajak Aul untuk ke kantin pun, Aul tolak. Rasa malasnya lebih mendominasi daripada harus menuruti permintaan perutnya.


Baru saja Aul hendak memejamkan matanya yang lelah, sebuah pengumuman yang memberitakan jam pembelajaran diakhiri lebih awal dikarenakan sekolah harus segera dikosongkan oleh pihak komite dan Aul kurang mengerti maksudnya, karena dia begitu terkejut ketika telinganya mendengar suara ribut-ribut dari luar.


Ternyata selain siswa-siswi murid SMK Bratajaya dihebohkan oleh berita kepulangan lebih awal, ternyata terdapat kericuhan yang malah mengundang banyak orang berbondong-bondong pergi ke asal suara.


“Diharapkan untuk berlindung di tempat yang aman, jangan dulu keluar sekolah!!” Koar-koar Bu Tuti dengan menggunakan toa yang ada di lapangan upacara.


Pak Halimin bersama dua orang satpam yang sedang berjaga kali ini, Pak Maman dan Pak Hardi terlihat begitu panik menenangkan para siswanya yang ketar-ketir cemas. Bahkan sebagian siswi ada menjerit histeris sehingga memperkeruh suasana. Aul tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, sakit kepala disertai sakit pada bagian bawah perutnya, mendera Aul hingga membuatnya ingin marah. Entah kenapa.


Tiba-tiba sebuah notifikasi dari nomor yang dulunya selalu Aul tunggu membuyarkan lamunannya. Aul tersentak, tangannya ikut bergetar kala melihat id panggilan pada ponselnya.


Riziq is calling ...


“Kenapa bisa tiba-tiba gini? Hm ... apa yang ... harus diperbuat?” Aul celingukan mencari siapa saja, minimal yang dia kenali. Untuk memastikan apa yang dia pikirkan benar-benar tidak salah.


Jantung Aul ikut berdegup kencang, diliriknya sekali-kali id panggilan. Setelah tangannya mengklik icon telepon merah, Aul akhirnya menghembuskan napas lega.


“Huft ... baiklah, untuk hati ... bertahan lah!” Aul mengsugestikan diri bahwa keputusannya untuk tidak menerima panggilan dari Riziq adalah benar.


Reila dan beberapa teman sekelasnya, sudah pulang dengan terburu-buru. Hanya tersisa Aul dan kepelikan hatinya.


Setelah Aul mengambil ranselnya, sebuah panggilan dari Nadine membuat kening Aul berkerut, tapi Aul tetap menerima telepon itu.


“Ya, halo, Dine?”


Hanya terdengar suara helaan napas yang memburu.


Aul melihat lagi id panggilan, dan hasilnya tetap sama. Nama Nadine tertera dengan jelas.


“Nadine? Kenapa sih, Nad?”


Setelah hening yang cukup mengesalkan, akhirnya sebuah suara terdengar.


“Diam di sekolah dan jangan kemana-mana!”


Dalam hati, Aul membatin, “Ini ... bukan suara Nadine ... ini suara ...”


Aul menggeleng pelan. Tanpa dia minta, jantungnya seperti berhenti beberapa sekon. Suara perempuan bukan terdengar seperti suara bariton laki-laki. Terlebih lagi, tanpa perlu dijelaskan, Aul mengetahui suara orang yang sudah meneriakkan namanya berkali-kali. Tapi Aul seolah-olah diam membisu.


“HANA AULIA! LO DENGER GUE KAN?” Teriakan bernada cemas dari Riziq membuat Aul tanpa sadar menitihkan air matanya.


Aul menyekanya sekilas, lalu mengangguk pelan. “Gue ... di kelas,” cicitnya.


Aul dapat mendengar suara helaan napas Riziq yang sedikit lebih rileks daripada sebelumnya. “Bagus, diem di sana.” Setelah mengatakan itu, panggilan dari Nadine pun terputus. Aul menutup pintu kelasnya dan bersandar dibalik pintu. Mendengar suara Riziq setelah sekian lamanya membuat seluruh saraf tubuhnya melemah. Tubuh Aul melorot ke bawah, sambil menekuk kakinya, Aul membenamkan wajahnya di sana dan menangis sesenggukan.


Sekali saja, hanya karena perhatian sekecil itu, Aul berharap Riziq tidak memporak-porandakan hatinya lagi. Aul tidak ingin berduka kembali.


Dalam waktu yang tidak Aul ketahui, pintu kelasnya terdorong secara paksa, mau tak mau Aul pun bangkit dari duduknya dan berbenah diri. Lalu, ketika cahaya dari luar kelas menyorot padanya, Aul menutup sebagian wajahnya dengan tangan untuk menghalau terik cahaya matahari itu.


“Aul?”


Aul mengernyit bingung saat melihat seorang laki-laki yang berdiri tegap di depannya. Seragam sekolahnya sudah lusuh oleh tanah dengan bagian wajah yang memar dan banyak bercak darah di sekitar hidung dan mulutnya. Aul termangu sejenak, bagai patung di etalase toko-toko.


“Lo gak kenapa-napa, kan?”


Bahu Aul diguncang karena tidak ada respon dari Aul. Sedangkan orang yang kini berada di depan Aul sudah kalang kabut saking cemasnya. Dia menyelisik dengan seksama tubuh kaku Aul yang masih syok karena kehadirannya. Sampai akhirnya, dia mengulurkan tangannya dan mengusap pucuk rambut Aul lembut.


Aul terhenyak seketika. Kepalanya dengan otomatis menunduk, menikmati setiap jengkal usapan yang dia terima. Air matanya terus mengalir dan Aul enggan untuk menengadahkan kepalanya, meskipun laki-laki itu kini merengkuhnya dalam dekapan hangatnya. Aul hanya diam membisu, membiarkan air matanya luluh membasahi baju seragam laki-laki yang dengan sabarnya menenangkan Aul.


“Kita pulang ya?”


Aul hanya mengangguk samar. Dia juga membiarkan Mahesa mengusap air mata yang tersisa disudut matanya.


Mahesa berusaha tersenyum, walaupun terlihat seperti menyeringai dengan sebelah sudut bibirnya yang terangkat. “Lo emang paling jago bikin orang cemas!”


Aul hanya diam. Bahkan saat tangan besar milik Mahesa menuntunnya keluar dari SMK Bratajaya yang sudah sepi, hanya satu pertanyaan yang terus bercokol dalam pikirannya.


“Kenapa lo tahu gue di kelas?”


Mahesa hanya mengedikkan bahunya. Lantas dia menoleh pada Aul. “Entahlah, mungkin insting gue terlalu peka.”


Aul hendak protes dan mengejek Mahesa tapi tindakan mendadak dari Mahesa yang berbalik badan ke arahnya dan memeluk Aul terlalu erat. Aul berontak, tapi percuma saja, Mahesa tidak akan mempan dengan perlawanan kecil darinya.


“Stthh ... ada setan lagi lihat ke sini,” bisik Mahesa.


Aul merengut sebal, karena selain dirinya yang terlalu sesak karena dipeluk terlalu erat, ini juga membuat jantungnya jadi agresif.


“Yang ada lo yang setannya, Esaaa!” sahut Aul.


Mahesa terus memeluk Aul, hingga bayangan yang terlihat oleh Mahesa menghilang, barulah dia melepaskan pelukannya dari Aul. Di tatapnya Aul yang terlihat merajuk padanya.


“Pokoknya gue gak mau tahu! Lo main peluk orang sembarang aja! Gimana kalo ada yang tahu, coba?” Aul panik, dia takut fotonya akan tersebar di media sosial dan dia akan dibully oleh banyak orang.


Aul sangat anti dengan hal-hal seperti itu dan paling enggan juga untuk berurusan dengannya.


Mahesa terkekeh pelan, dia menarik ransel Aul dari belakang, hingga membuat Aul tertarik seperti layaknya seorang sapi yang hendak disembelih.


“Iya, Bocil. Bawel amat jadi kaum jomblo.”


Aul membeliak, dia berteriak kencang pada Mahesa yang menutup telinganya.


“ESAAAA, GUE KUTUK LO JADI CEWEK, YA!!”