
...CIRI-CIRI ORANG YANG GAGAL MOVE ON...
...#Berharap (bisa) balikan dengan Mantan...
..."Berteman dengan Mantan, tanpa melibatkan perasaan, menandakan proses pendewasaan diri." ...
...-Mahesa...
Setelah melewati parkiran siswa yang sudah sepi, hanya tersisa sebagian lagi kendaraan bermotor yang berderet rapi. Aul melanjutkan langkahnya menuju Pos Satpam yang berada di seberang lapangan basket. Karena merasa berat kaki, Aul mengirimkan sebuah pesan pada Mahesa.
'Esa, jemput gue di depan pos satpam ya? Kaki gue dah lemes banget.'
Berselang semenit kemudian, ada balasan dari Mahesa.
'Manja bener! Lu mau gua mati sekarang ya?'
'Lebay, buruan ih! Perut gue sakit nih.' Balas Aul cepat.
'Iya gua ke sana.'
Aul tidak berbohong soal perutnya, mag yang dia punya memang sering datang mendadak seperti sekarang, apalagi dia tidak makan dengan benar pagi tadi.
Sebuah motor Kawasaki Z250 hitam berhenti di dekat gerbang SMK Bratajaya. Jika bukan karena Aul yang sedang sakit, mana mau Mahesa merelakan dirinya untuk cari mati ke dalam kandang musuhnya.
Aul mendatangi Mahesa dengan tertatih-tatih, sambil dipeganginya bagian perut yang terasa berdenyut hingga membuatnya kesulitan bernapas.
Helm full face, serta jaket bomber maroon yang menutupi baju seragam yang dikeluarkan, tapi tidak dengan celana abu-abunya, membuktikan keberadaan Mahesa yang memang pantas digilai oleh kaum hawa, kecuali oleh Aul. Karena dia sudah tahu bagaimana bobroknya seorang Mahesa Wiradinata.
Aul segera duduk di jok belakang yang kosong. "Ck, kebiasaan lu! Nih pake jaket gua." Mahesa memberikan jaketnya untuk Aul-agar menutupi rok abu-abu milik Aul yang sedikit terangkat.
Aul menerimanya. "Sori, gue lupa."
Mahesa tak mengindahkan ucapan Aul, dia segera melajukan motornya untuk meninggalkan pelataran sekolah. Aul menyenderkan kepalanya pada punggung Mahesa, dia memejamkan matanya sambil menahan sakit pada bagian perutnya.
Suara meringik dari Aul membuat Mahesa harus benar-benar fokus menyetir, meskipun dia sangat cemas luar biasa. "Yakin lu bisa tahan sampai kita ke rumah? Gak mau ke klinik dulu?" tawar Mahesa.
Aul menggeleng lemah. "Gak usah, Sa. Kita langsung balik aja," jawabnya dengan suara parau.
"Oke, tapi tahan ya. Gua mau kebut nih."
Aul mengeratkan pegangannya pada Mahesa yang sekarang menahan tubuhnya.
...•••...
Perumahan elit Nusa Indah menjadi tempat tinggal Aul selama hampir dua dekade ini. Mahesa membantu Aul untuk memapahnya menuju rumah minimalis bergaya Eropa, dengan halaman yang penuh dengan tanaman yang dirawat oleh Aura.
Aura segera menghampiri keduanya saat melihat bibir serta wajah pucat anaknya.
"Mag kamu kembali kambuh, kan? Sudah Mama bilang sebelumnya, makan tuh yang bener. Jadinya kan gini." Aura mengambil alih tugas memapah putrinya. "Makasih, Sa. Untung aja ada kamu, kalau gak, Tante gak tahu gimana nasib anak Tante sekarang."
"Tidak apa-apa, Tante. Kalau begitu, saya pamit dulu, takut Bunda khawatir." Mahesa menoleh kepalanya pada Aul. "Get well soon," ujarnya lembut.
Baru setelah sampai di kamarnya, Aul membaringkan tubuhnya. Aura sedang sibuk membuatkan bubur untuknya. Untuk merendam sakitnya, Aul meneguk air hangat yang tadi Aura berikan padanya, hingga tak sadar bahwa dirinya terlelap karena kelelahan.
Pukul tujuh malam, Aul terbangun. Lenguh lesu dari bibirnya memaksa Aul untuk dapat menyandarkan tubuhnya di kepala dipan kasurnya.
Aul melirik tanpa minat semangkuk bubur yang sudah dingin, obat pereda nyeri mag serta air hangat yang sudah terisi penuh pada gelas bening. Aul paham, jika dirinya tidak memaksa diri untuk dapat menandaskan makanan, minuman serta sebutir obat yang telah disiapkan Aura, pasti Aul akan kena omelan besar dari sang mama.
Oleh karena itu, setelah Aul menghabiskan separuh buburnya dan meneguk minum beserta obatnya, dia melangkah gontai menuju dapur untuk menyimpan mangkuk dan gelas kotornya.
"Aul? Gimana, udah sembuh? Buburnya kenapa tidak dihabiskan?" Pertanyaan beruntun dari Aura hanya dibalas singkat oleh Aul.
"Udah mendingan, Ma." Aul melanjutkan langkahnya ke dapur, tapi ada satu hal yang mengganjal.
"Ma, kenapa Mama nyiapin camilan sama minuman itu? Ada tamu Papa?"
Setelah menata camilan dan minuman pada nampan, Aura menjawab pertanyaan anaknya. "Kamu dari tadi tidur sih, tuh ada temen SMP kamu yang datang."
Aul mengekori Aura yang hendak berjalan ke arah ruang tamu, dahinya mengernyit bingung. Seingatnya dia tidak memiliki janji dengan teman SMP yang hendak berkunjung ke rumahnya.
Biasanya Kaila yang datang, tapi perempuan itu sedang berada di rumah neneknya sekarang. Jadi, tidak mungkin Kaila yang datang.
"Tadi Mama panggilin Mahesa, untung kalian satu sekolah waktu SMP. Jadi Esa bisa nemenin temen kamu itu," imbuh Aura.
Mahesa tidak memberitahunya jika ... Aul lupa, dirinya tertidur sangat lama dan lupa mengecek ponselnya. Bahkan Aul baru saja mengganti pakaian seragamnya.
Aul segera merogoh ponselnya. Seperti yang dia perkiraan, ada beberapa pesan yang memenuhi ponselnya sekarang.
Ada salah satu nomor asing yang mengirimkan pesan bermakna ambigu.
'Hai, Hana? Apa kabar?'
Aul menganggap bahwa pesan itu mungkin berasal dari kakak kelas yang tidak sengaja menghubungi dirinya. Diliriknya pesan dari Mahesa yang dua terima dua jam yang lalu.
'Ada tamu, gua kanget lihatnya.'
'Gua saranin, lu jangan ke ruang tamu. Lu sendiri bakalan ambyar.'
kedua tungkainya melemas.
Hati Aul mencelos, saat matanya bersinggungan dengan manik mata milik Irlan. Laki-laki itu tersenyum hangat, seolah menyiratkan kerinduan serta lara di balik manik matanya.
Kenapa tatapan seperti itu yang Irlan berikan untuknya!
"Sini Aul, nih Irlan sama Esa udah nunggu kamu lama. Mama tinggal ya," pamit Aura seraya mengusap puncak rambut Aul sekilas, kemudian menghilang di balik ruang keluarga.
Mahesa bermuka masam, sedangkan Irlan tampak berbinar melihatnya. Aul duduk kikuk di sofa, dekat Mahesa.
Belum ada sepatah dua kata yang dimulai oleh mereka, semuanya bungkam. Membiarkan suara televisi yang menyiarkan sebuah berita dan suara jarum jam yang mengubur rasa sepi.
Hingga akhirnya Mahesa berdiri dari duduknya, membuat Aul ikut berdiri juga. "Mau kemana, Sa?" cegah Aul.
"Balik, sesek lama-lama di sini." Kentara sekali jika Mahesa tidak menyukai kehadiran Aul dan Irlan dalam satu lingkup yang sama, karena itu hanya akan membuat Aul tersakiti.
Mahesa melirik sekilas pada Irlan, lalu bergantian pada Aul. "Ada hal yang perlu kalian selesaikan. Jangan segan untuk berikan Irlan pukulan jika dia macam-macam, gua balik dulu."
Aul sudah mencegah Mahesa untuk tidak pergi, namun gagal. "ESAAA!" Bahkan suara panggilannya pun diabaikan oleh Mahesa, Aul menghela napas gusar.
"Hana, gimana kabar kamu?"
Kepala Aul menoleh sempurna pada Irlan, Irlan memanggilnya dengan panggilan yang dulu sering digunakan oleh mereka jika bertukar sapa. Tapi kenapa sekarang rasanya beda?
Ada rasa sesak yang terhimpit oleh rasa bahagia yang tak Aul kira, dia bahkan harus ekstra menahan dirinya agar tidak menangis di depan Irlan.
"A-aku ... gua, baik."
"Sori kalau kedatangan aku mendadak, ada hal yang perlu aku bicarakan. Kamu gak keberatan?"
Jika saja saat ini tidak ada Irlan, Aul yakin bahwa dirinya akan berjingkrak kegirangan. Bahkan jantungnya sudah berdebar kencang.
"Te-tentu, tidak masalah," sahutnya dengan gugup.
"Ini ... tentang kita." Irlan mengatakannya sambil mengunci pandangan Aul terhadapnya.
"Aku tahu, ji-"
Ucapan Irlan terjeda karena suara dering dari ponselnya. "Tunggu dulu."
Sepertinya panggilin dari orang penting, terlihat dari wajah Irlan yang terhenyak saat melihat nama pemanggil telepon tersebut.
Lima menit setelahnya, sebagian wajah Irlan penuh dengan keringat seperti habis lari maraton saja. Dadanya kembang kempis, menahan luapan emosi dengan wajah yang sedikit memerah. Dia menyabar kunci motor yang tergeletak di atas meja dengan terburu-buru.
Aul masih bingung, dia tidak sempat bertanya karena Irlan sudah lebih dulu pergi.
Pergi dengan mengucapkan sebuah kalimat yang rupanya tertancap pada hati dan pikiran Aul.
"Ada urusan yang harus aku selesaikan dulu. Ku kira, kau bisa menyimpan nomor ponselku yang sudah aku sapa lewat sosial mediamu." Irlan mematut senyum hangatnya pada Aul, meskipun wajahnya masih penuh kegelisahan-entah karena apa.
"Aku suka kamu yang sekarang," ucap Irlan sambil mengacak-acak rambut Aul. "Lebih gemes dan feminim."
Tidak tahukah Irlan jika tindakannya itu memberikan efek yang tidak baik bagi perasaannya?
"Lebih tinggi juga, tapi masih bocil, sih. Haha, duluan ya. Salam dan terima kasih buat Tante Aura. Nanti aku ke sini lagi, jangan kapok."
Senyumnya, masih Aul ingat. Bahkan ketika motor Irlan sudah beranjak dari halaman rumahnya. Aul memegangi dadanya yang masih berdebar hebat.
"Gue gak punya riwayat penyakit jantung kan?" gumamnya tanpa sadar membuat lengkungan pada sudut bibirnya.
Salah kah jika Aul menaruh pengharapan pada Irlan? Sikapnya malam ini membuat Aul seperti kekasihnya sewaktu dulu.
Keberanian dan usahanya untuk mengirimkan pesan pada Aul, pasti bukanlah perkara yang mudah. Apalagi dengan niatnya ke sini hanya karena ingin menjelaskan-walaupun terhenti karena panggilan mendadak dari seseorang.
Tapi Irlan menjanjikan kedatangannya lagi, kan? Bolehkah dia sedikit berharap?
Euforia yang Aul alami saat ini, harus dia bagi pada Kaila. Sahabatnya itu pasti akan kaget dengan berita ini.
Tapi lagi-lagi Aul menemukan sebuah pesan daring dari Mahesa, hatinya mencelos sakit. Bahkan dalam waktu singkat, hatinya sudah kembali patah.
'Esa mengirimi sebuah foto'
'Cowok yang lu idamkan itu lagi pergi sama doi, jangan berharap banyak pada dia Aul. Lu hanya menyakiti diri sendiri kalau gitu.'
'Saran gua, gak apa-apa kalau lu mau temenan sama mantan. Itu bukti bahwa lu bisa dewasa dan berdamai dengan masa lalu.'
'Tapi emang dasarnya, jangan sembarang percaya sama laki-laki.'
Pesan beruntun dari Mahesa serta sebuah gambar yang menunjukkan Irlan sedang membonceng seorang perempuan yang memeluk pinggang Irlan.
Hatinya kembali patah setelah dia merasa sudah kembali dekat dengan Irlan. Ternyata Aul hanya terlalu percaya diri untuk mengartikan sikap manis Irlan.
"Seharusnya gue gak boleh sebodoh ini!" Aul menghentakkan kakinya karena kesal.
"Kenapa gue harus gagal move on karena lo sih, Irlan Argara!" makinya kencang.