
...PACARAN ...
...#Saling menerima...
...“Tidak ada makhluk yang sempurna, hanya saja kamu mencintaiku dengan cara yang sempurna.”...
...•...•...
Semilir angin malam menerbangkan rambut cepaknya. Dia sedang berdiri di balkon kamar dengan memandang langit malam, berhias bintang dan bulan. Tampak ramai. Senyumnya melengkung saat ingatan beberapa waktu lalu, muncul dalam benaknya.
Dia menghela napasnya, melirik sekilas pada ponsel yang sedang dia genggam. Menampilkan sebuah akun Instagram milik seseorang yang berhasil membuatnya kembali tersenyum, jika mengingatnya. Dilihatnya sang dara yang tersenyum pada kamera.
Padahal dulunya dia sangat anti dengan kamera. Pikirnya menerawang.
Dalam foto, Aul tidak sendirian. Ada seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya, mereka berfoto seperti membuat waktu yang berhenti saja, sehingga dalam foto, terlihat bahwa laki-laki itu sangat mencintai Aul. Terlihat dari matanya.
“Emang bener ya, penyesalan itu selalu datang terakhir,” gumamnya pelan.
Dia sadar, kini dia hanyalah bagian dari masa lalunya Aul. Tidak bisa berbuat lebih, meskipun dia sudah memberitahukan Aul tentang semua kebenaran yang selama ini dia sembunyikan, kecuali surat itu.
Lalu suara dering dari ponselnya membuatnya tersentak kaget. Dia mengangkat panggilan tersebut. Suara bariton yang terkesan buru-buru itu mengusik indera pendengarannya.
“Halo, Lan. Gue mau konsultasi nih soal program kerja kita untuk bulan depan.”
...•••...
Aul terus membenamkan kepalanya di bawah bantal. Dia memekik tertahan dengan kaki yang tidak bisa diam, menghentak-hentakkan pada kasur. Ritme jantungnya seakan bertambah kencang saat pikirannya tertuju pada kejadian dua minggu yang lalu. Ternyata waktu berjalan secepat itu.
Saat Riziq menyatakan perasaan padanya, tentu saja seharusnya Aul tidak perlu kaget. Dia sudah mengetahui dari gelagat laki-laki tersebut, tapi dia berusaha menampik. Tapi beribu disayangkan, Aul malah berbicara mengenai mantannya di saat pengungkapan perasaan Riziq, benar-benar tidak etis.
Tapi balasan yang dia dapatkan adalah, perkataan Riziq yang terus terngiang dalam benaknya, hingga kini.
“Aku maklum jika kamu belum sepenuhnya melupakan dia. Aku akan bersabar menunggu hingga semua ingatan tentang dia akan tersisihkan oleh semua ingatan tentangku.”
Aul tahu, di balik jawabannya itu ada sebuah nada getir yang terselip. Tapi Aul tidak bisa membohongi hatinya, setidaknya untuk saat ini Aul mencoba untuk membuka hatinya untuk orang lain. Dia tidak mau berlarut dalam kesedihan yang tiada akhir.
“Dasar, Irlan! Kenapa sih gue harus belum sepenuhnya move on dari lo!” gerutunya penuh kekesalan. Aul memukul-mukul bantalnya, melampiaskan kekesalannya pada bantal.
Aul mendesah berat. Dia menertawakan dirinya sendiri, karena miris dengan perasaannya sendiri. “Kalau ternyata gagal move itu sama dengan bencana, udah dari dulu gue gak mau pacaran!”
“HUAAA!! LAKI-LAKI EMANG NYEBELIN!!”
Teriakan Aul bersamaan dengan Mahesa yang masuk ke kamarnya. Aul melotot tajam padanya.
“HEH MAU NGAPAIN LO?!”
Mahesa dengan santai, masuk seenaknya ke dalam kamar Aul. Dia duduk di dekat kursi belajarnya. Tangannya sibuk mengutak-atik ponsel, lalu menyodorkannya pada Aul.
Dalam ponsel Mahesa, terlihat sebuah postingan terbaru dari akun Instagram milik ‘M.Riziq Aqila’ yang menandai akun ‘Hana Aulia’ dengan caption ‘My Mine’ yang dibanjiri oleh komentar para netizen yang pro maupun kontra terhadap hubungan mereka.
“Jadi, ini bener lo?” Pertanyaan retoris dari Mahesa seharusnya tidak dia tanyakan lagi, jika pemuda itu memang tahu kenyataannya.
“Udah tahu, pake nanya lagi,” gerutu Aul dalam hati.
Suara Mahesa terdengar tegas dan menuntut jawaban darinya. Nyali Aul mendadak menciut.
“Jawab Aul!” desaknya.
Aul hanya mengangguk patuh. “Lo tahu, gak, apa yang lo lakuin itu salah?” tanya Mahesa lagi.
“Suka-suka gue lah. Lo gak berhak menilai gue benar atau salah!” tegas Aul pada Mahesa.
“Tapi semua anak SMK Adiguna, tahunya lo itu pacar gue, Hana Aulia.”
Aul tertegun sekejap. Dia menatap Mahesa sendu. “Bukannya itu cuma pura-pura, ya, Esa?” cicitnya. Dia merasa seperti seorang kekasih yang berselingkuh saja, padahal nyatanya tidak seperti itu, kan?
Mahesa mengusap wajahnya kasar. “Lo terlihat kaya orang yang ketahuan selingkuh oleh pacarnya sendiri Aul. Apalagi dengan cara terang-terangan.”
“Gue ... lupa, Esa ...” Kini Aul merasa bersalah pada dua orang sekaligus; Mahesa dan Riziq. Aul juga belum punya keberanian untuk membicarakan hal ini pada Riziq.
Sepintas, Aul melihat Mahesa yang memandang padanya dengan wajah gusar, entah apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki tersebut.
“Ya udah lo tenang aja. Biar gue yang urus, baik-baik ya sama tuh curut.” Mahesa sudah berdiri di sisi ranjangnya. Dia mengusap-usap kepala Aul dengan lembut.
Mahesa mematut senyum, membuat matanya sedikit menyipit. “Kalau dia berani-berani nyakitin lo, dia bakalan habis di tangan gue,” katanya bersungguh-sungguh.
“ESAAA!”
Mahesa terkekeh pelan. Dia menjauhkan tangannya yang awalnya berada di atas kepala Aul. “Bercanda.”
Aul merasa lega, tadi dia benar-benar waswas dengan ancaman Mahesa.
Saat berada di ambang pintu, suara Mahesa yang tegas dan menuntut itu kembali terdengar, Aul merasa ngeri sendiri.
“Tapi gua serius, Aul. Kalau dia macam-macam atau bahkan nyakitin lu, dia bukan hanya berurusan dengan Om Aryan aja, tapi dia akan langsung berurusan dengan gue juga.” Mahesa mengatakannya tanpa menatap ke arahnya.
Aul khawatir Riziq kenapa-napa, dia mengambil ponselnya dan berniat menghubungi Riziq. Laki-laki itu tadinya izin padanya akan melaksanakan tanding futsal bersama anak Basupati lainnya dengan anak Tohpati, murid di SMA Ganesha.
“Anak SMA Ganesha ...,” lirih Aul sambil termenung sekejap.
Dia mengulas senyum saat ingatannya tertuju pada Irlan. “Tapi sekarang gue gak nangis waktu ingat lo, Lan.”
Aul segera menepis pemikirannya tersebut, dia mengirimkan beberapa pesan yang berisi menyemangati Riziq untuk futsal, mengingatkannya untuk tidak pulang lebih malam, atau sekedar menanyakan keadaannya. Aul takut, jika Mahesa sudah main tangan pada Riziq, seperti waktu itu.
Ah, memikirkan status hubungannya dengan Riziq yang bukan lagi sekedar teman ataupun sahabat, membuat senyum Aul tidak pernah berhenti tersungging.
Walaupun pesannya hanya mendapatkan centang dua, Aul tetap menunggu Riziq. Dia menunggunya sambil mengerjakan sebuah skenario naskah untuk film pendek yang merupakan tugas yang diberikan oleh Pak Willy dua mingguan yang lalu.
Namun, hingga pukul sepuluh lebih lima, tak ada balasan dari Riziq. Sedangkan Aul merasa kantuk yang mulai membuat matanya kian memberat. Aul memilih mengerjakan tugasnya yang setengah jadi itu, sambil berbaring di atas kasur. Karena duduk lama-lama di kursi belajarnya, membuatnya jenuh.
Rupanya pilihannya bukanlah pilihan yang terbaik. Rasa kantuknya semakin besar. Aul mengsugestikan diri untuk tetap bertahan, karena selain tugas, Aul merasa sedikit kasihan dengan Riziq yang terus memakluminya, jika Aul ketiduran saat menunggu dia. Dan itu bukan hanya terjadi sekali dua kali saja, jika sekarang Aul ketiduran lagi, maka genap sudah Aul lima kali ketiduran.
Masih dengan keadaan setengah sadar, ada sebuah notifikasi pesan dari Riziq. Aul membacanya dalam hati.
‘Aku baru sampai. Tunggu sebentar.’
Aul membalasnya, ‘iya, silahkan.’
Selang beberapa menit, balasan dari Riziq pun akhirnya dia terima kembali. ‘Nah, selesai. Jadi, gimana? Tumben belum tidur.’
Aul tertawa dalam hati, Riziq sudah mengenalnya, padahal mereka belum genap sebulan pacaran. Ah, Aul lupa. Sebelumnya, mereka memang dekat. Jadi, mungkin Riziq sudah hapal tabiatnya.
‘Kamstudyrajsdukusn’
Lalu mata Aul langsung terpejam singkat di atas buku skenario naskahnya. Sebelah tangannya masih memegang ponsel dengan room chat dengan Riziq yang terpampang jelas.
Dari rumah yang berbeda, Riziq terkekeh geli, tingkah Aul ini merasa lucu. Walaupun terselip rasa kesal karena Aul meninggalkannya, tidur duluan. Tapi Riziq paham, bahwa gadis cerdas dan sibuk seperti Aul, pasti letih seharian dan harus menunggunya.
Riziq membalas pesan aneh dari Aul. Dia sudah tahu pasti, jika Aul membacanya di pagi hari, gadis itu akan langsung meminta maaf padanya.
‘Kataku juga apa, jangan dipaksain. Bandel banget jadi bocil’
‘Ya udah, selamat malam... HND¹ ya, Hana Aulia.’
...•••...
“Kebiasaan banget!” rutuk Aul. Dia menoleh pada jam dinding yang menunjukkan pukul dua dini hari.
Aul menghembuskan napas jengah, dia rupanya kembali ketiduran. Untung saja dia tidak membuat pulau di atas kertas skenario naskahnya. Aul mengumpulkan rambutnya menjadi satu, lalu dia ikat asal.
Setelah membereskan peralatan tulisnya, Aul membereskan kamarnya dahulu, lalu berjalan ke arah kamar mandi. Tak lama, Aul bermunajat pada Tuhannya.
Selang beberapa menit, dia melihat ponselnya menyala.
“Ah, ternyata alarm.”
Pesan dari Riziq sudah dia balas dengan mengucapkan kata maaf berkali-kali. Ini memang kesalahannya, masih untung pula Riziq tidak marah padanya. Padahal ini sudah kelima kalinya sejak hubungan resmi mereka, dan yang kesekian kalinya jika dihitung dari masa pendekatan mereka.
“Mudah-mudahan aja Riziq gak ilfeel sama gue,” harapnya.
Karena setelah Aul diperbolehkan untuk kembali melakukan aktivitasnya di ekstrakurikuler dan banyaknya tugas menumpuk menjelang prakerin, membuat tubuhnya mudah kelelahan dan juga gampang tertidur, dalam situasi apapun.
Padahal biasanya, jika hendak tidur, Aul harus memeluk guling dan juga memakai selimut, meskipun musim panas atau gerah sekalian.
Aul maklum jika Riziq tidak membalas pesannya, karena ini masih waktu dini hari. Demi membunuh waktunya, Aul kembali mengerjakan tugasnya hingga waktu subuh menjelang.
...•••...
Meskipun sudah berstatus sebagai pacar seorang ‘Riziq Aqila’ Aul tidak berangkat bersamanya. Sudah beberapa kali Aul menolak Riziq untuk menjemputnya, karena Mahesa yang menyuruhnya.
Setidaknya dengan seperti ini, meskipun orang lain akan memandangnya sebagai wanita yang tidak tahu diri karena masih berdekatan dengan musuh sekaligus laki-laki lain saat dirinya sendiri sudah punya kekasih. Tapi yang Aul lakukan ini, hanya agar Mahesa menahan amarahnya pada Riziq dan kejadian yang lalu tidak terjadi lagi.
Tidak biasanya saat Aul sudah berada di dekat pos satpam—dari sebelah kanan—parkiran siswa, ada Riziq yang baru saja memarkirkan kendaraannya. Dia menatap Aul dengan sendu, tapi tetap berjalan menghampirinya.
Kaki Aul mendadak lemas, dia yakin jika Riziq melihatnya di antar oleh Mahesa.
“Ka ... mu ... lihat?” tanyanya terbata-bata.
Riziq mengangguk, tapi tetap memamerkan senyumnya pada Aul. Hal itu semakin membuat Aul merasa bersalah.
“Maaf ...” Kepala Aul tertunduk.
Masih terlalu pagi untuk murid SMK Bratajaya untuk datang ke sekolah. Riziq menjawat lengan Aul dengan lembut. Dia menuntunnya menuju sisi kanan, tempat ruang praktikum.
Riziq menarik dagu Aul untuk membuat gadis itu menatapnya. “Hei, udah. Jangan sedih lagi,” tuturnya lembut.
Aul menganggut pelan. “Aku percaya sama kamu. Mahesa cuma sahabat kamu, kan?” tanya Riziq penuh perhatian, walaupun dia harus menekan rasa cemburu yang bergejolak dalam dadanya.
“Tentu saja, gak lebih.”
“Lain kali, jangan tolak ajakan aku buat jemput kamu ya?”
Aul hanya tersenyum kecut, dia ingin membeberkan kebenarannya pada Riziq, tapi dia juga takut jika nantinya Riziq ataupun Mahesa terluka, saling berkelahi.
“Akan aku usahakan.” Jedanya, “tapi kamu bukan ojek aku loh.” Aul mencoba menghilangkan situasi canggung ini dengan sedikit guyonan anehnya.
Riziq tersenyum manis padanya, dia mengacak-acak rambut Aul karena gemas. “Gak apa, anggap aja aku ojek pribadi kamu.”
“Gombal!” cibir Aul.
“Dih, seriusan. Gak percaya?”
Aul menganggut, tapi jawabannya sangat tidak nyambung. “Gak!”
Riziq sempat akan protes, tapi kedatangan Faris yang tiba-tiba merangkul bahunya, membuatnya terlonjak.
“Pagi-pagi udah pacaran, jaga jarak-jaga jarak.” Faris lalu sedikit memundurkan tubuh Riziq dari Aul.
“Jangan berduaan terus, nanti yang ketiganya setan,” ujarnya sok bijak.
Aul hanya memerhatikan kedua laki-laki itu dalam diam. Dia mengulum senyum mendengar jawaban dari Riziq.
“Iya, lo setannya!”
“Orang keren gini, di panggil setan.” Faris menyugar rambutnya ke belakang. “Pantesnya jadi presiden,” lanjutnya dengan bangga.
Riziq menatap jengah, sedangkan Aul izin pamit pada dua orang laki-laki di hadapannya.
Saat Aul sudah masuk ruang praktikum, Riziq menatap Faris dengan malas.
“Apaan kunyuk! Ganggu aja lo!” Riziq menoyor kepala Faris lumayan keras.
Faris berdecak tidak percaya. “Wah, gak sopan sama wakil ketua.”
Terjadilah aksi toyor-menoyor yang akhirnya dihentikan oleh Bagas.
“Kalian ini, kaya anak kecil aja.” Omelannya seperti Bu Tuti versi laki-laki.
“Udah buruan, yang lain udah kumpul,” serunya sambil berlalu mendahului Riziq dan Faris.
Riziq menatap Faris, menuntut penjelasan lebih dari laki-laki yang menjabat sebagai wakil ketua Basupati.
“Ini alasan gue jemput orang pacaran kaya lo.”
Tidak mengindahkan sindiran dari Faris, Riziq menanyakan hal lainnya.
“Kenapa?”
Faris berjalan cuek di depannya. Riziq mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan ke arah gudang, basecamp Basupati.
“Biasa anak Devil's buat ulah.”