#Move On, Jomb!

#Move On, Jomb!
Bab 25 ; Move on, Guys!



...Bagian VI...


...PROSES MOVE ON ...


...#Menjauhkan diri dari kenangan mantan...


...“Kamu layaknya dua ujung mata pisau, bisa menyilap mata sehingga dapat mengoyak sanubari.”...


...•••...


Seperti orang patah hati pada umumnya, lingkar hitam sekaligus mata sembab yang Aul sembunyikan lewat kacamata hitam yang sengaja dipakainya tidak luput dari pengamatan Mahesa terhadapnya.


Mahesa memicingkan matanya, bibirnya menahan diri untuk tidak menyemburkan tawa. Sedangkan Aul, mendelik tajam pada Mahesa.


“Apa lihat-lihat!” desis Aul, sambil mengacungkan tangan kiri yang terkepal ke depan wajah Mahesa.


Dengan cueknya Mahesa memasukkan tangannya ke saku celana dan bersandar pada motor yang diparkiran di halaman rumah Aul. “Tuh mata abis kena tonjok?” sindirnya.


“Ini namanya di tonjok!” Aul tanpa ragu meninju perut Mahesa dan membuatnya meringis kesakitan.


“Tahi lo!” umpat Mahesa.


Aul tersenyum menyeringai, dia menarik paksa Mahesa untuk segera menjalankan motornya. “Cepet, Sa! Gue gak mau sampai telat!” titahnya.


Mahesa menstarter motornya, setelah memastikan Aul duduk dibelakangnya dengan benar, baru lah Mahesa menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi. Aul protes sepanjang jalan, dia memaki, memukul bahu dan bahkan beberapa kali mencubit lengan Mahesa supaya berkendara dengan kecepatan normal.


“ESAAA!! JANGAN NGEBUT! KALAU MAU MATI GAK USAH BAWA-BAWA GUE, ELAH!!”


“HUAA, PELANIN BAWA MOTORNYA, BAMBANG!!”


“JANGAN MAIN-MAIN SAMA MALAIKAT MAUT, ESA!! PELANIN!”


Mahesa tersenyum simpul saat melihat lewat spion motornya wajah panik Aul. “Katanya takut telat.”


Dugh!


“Tapi gak usah ngebut juga kali!” semprot Aul.


“Keselamatan itu yang utama, telat yang kedua!” lanjut Aul sambil membenarkan posisi ranselnya.


Mahesa hanya manggut-manggut paham, dia mulai melambatkan laju motor. Aul kembali memukul bahu Mahesa cukup keras, hingga membuat laki-laki itu mengeluh sakit.


“Apa lagi?!” tanya Mahesa.


“TAPI GAK USAH PELAN KAYA SIPUT JUGA, ESAAA!!” pekik Aul. Dia greget dengan Mahesa yang sangat menyebalkan hari ini.


“Aelah salah mulu,” gerutu Mahesa.


Mata Aul membeliak. “Emang ya, cowok itu salah, menyebalkan, ngeselin,  pokoknya bodoamat lah!” sahut Aul menggebu-gebu.


Tak terasa, sepanjang jalan saat Aul terus menceritakan tentang kesalahan laki-laki, Mahesa semakin menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan Aul.


Tepat ketika Aul turun dari motor Mahesa yang telah sampai di depan gerbang SMK Bratajaya, Mahesa menahan pergelangan tangan Aul.


Aul menoleh pada Mahesa dengan kening berkerut. “Kenapa?”


“Lo yang kenapa?” tanya balik Mahesa dengan serius.


Aul sedikit tersentak kaget, Mahesa tidak biasanya berkata seperti itu. Aul hanya menggeleng pelan. “Gak apa-apa.”


Mahesa berdecak kesal saat Aul mengeluarkan kalimat klasik yang sering dijadikan perempuan untuk beralasan. “Gue gak bakalan lepasin lo sampai lo jujur sama gue.”


Kali ini mata Aul benar-benar membulat. “Apa-apaan sih, Sa!” Aul berusaha melepaskan cekalan tangan Mahesa pada pergelangan tangannya, namun nihil.


Aul menatap Mahesa cukup lama, memelas supaya Mahesa mau melepaskannya. “Lepasin, Sa ... udah banyak yang lewat tuh,” lirihnya pelan. Aul juga sungkan dengan murid SMK Bratajaya yang melirik ke arahnya. Membuat keramaian di pagi hari, tentu bukan hal yang menyenangkan. Bahkan sebagian dari mereka yang sudah tahu identitas Mahesa pun turut terbelalak kaget karena melihat tindakan Mahesa terhadap Aul, yang notabene-nya adalah salah satu perempuan yang dekat dengan rivalnya, Riziq.


Terlebih saat ini jantung Aul rasanya berdetak di luar kendalinya. Hatinya mencelos, seiring dengan Riziq yang berjalan ke arahnya. Hanya sekilas saja, mata mereka saling bertubrukan. Selebihnya, Riziq yang menghentikan pandangannya. Dia berjalan cuek lewatinya. Bahkan Aul sempat menahan napas dan mencengkeram erat tangan Mahesa.


Tanpa Aul sadari, dua orang yang berasal dari dua kubu geng yang berbeda itu saling pandang dengan arti yang hanya mereka pahami satu sama lain.


“Hufttt ...” Aul membuang napasnya dengan kasar. Mahesa meliriknya sekilas. Sebelah tangannya mengusap rambut Aul dengan lembut.


Aul terkejut, dia menengadah. Dia cukup tertegun dengan wajah Mahesa yang tersenyum ke arahnya. Senyumnya bukan menyiratkan kejahilan ataupun tatapan tengil yang biasanya Aul lihat. Senyum yang terpatri itu, terlihat tulus. Mata Mahesa ikut menyipit dan lengkungan senyumnya semakin melebar saat—tanpa sadar—Aul ikut tersenyum tipis.


“Udah sana, belajar! Jangan bucin terus. Nanti gak bakalan gue jemput!” titah Mahesa.


Sontak membuat Aul mendelik padanya. “Lo yang harusnya belajar! Bolos mulu!”


Mahesa tertawa pelan, dia menarik tangannya dari kepala Aul. Lalu, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Aul yang sudah tegang.


“Eh, kok?!”


Aul berusaha mengambil ponselnya. Tapi Mahesa berhasil menjauhkannya. Aul berdecak kesal.


“Kembaliin, Esaaa!” pekik Aul.


Bukannya mengembalikan, Mahesa mengutak-atik ponsel Aul, hingga urusannya selesai, baru lah Mahesa mengembalikannya pada Aul.


“Nih!”


Aul melihat ponselnya, membuka beberapa aplikasi dan tidak menemukan kejanggalan satu pun. “Ngapain aja, sih?” tanyanya curiga.


Mahesa mengacuhkan Aul dan bersiap untuk pergi dari kawasan SMK Bratajaya.


Aul tidak membiarkan Mahesa pergi begitu saja. Dia menarik ransel yang dipakai Mahesa dan membuatnya hampir terjungkal.


Mahesa membuka kaca helm full face-nya, menatap Aul dengan bingung. “Kenapa lagi?”


“Lo apain ponsel gue?”


“Ngebuang hal yang seharusnya hilang.”


Tepat ketika berkata demikian, motor Mahesa meninggalkan Aul yang masih termagu di tempatnya.


“Dasar aneh, gaje!” gerutu Aul.


...•••...


Lorong Jurusan Listrik dan Otomotif sedang ramai oleh murid SMK Bratajaya yang menghabiskan waktu istirahatnya, terutama kaum laki-laki. Salah satu objek yang menarik perhatiannya adalah interaksi Mella dengan Alki yang tak jauh dari sisi lapangan upacara.


Aul yang hanya melihatnya dari kejauhan ikut tersenyum geli saat melihat kelakuan Alki yang mencium pipi Mella di tempat umum, juga pekikan Mella karena malu.


“Mereka pasangan yang lucu ya?” celetuk Aul tiba-tiba.


Kaila memutarkan bola matanya. Dia tahu, bahwa suasana hati Aul sedang tidak baik-baik saja. Aul sendiri sudah menceritakan duduk permasalahannya dengan Riziq pada Kaila saat free class tadi.


“Udah lah, Aul. Hidup ini gak akan berhenti meskipun lo kehilangan orang kaya Riziq,” sahut Kaila.


Aul melirik sekilas pada Kaila. Dia membuang napas sejenak. “Tapi tetep aja sulit, La. Lo gak tahu sih,” keluh Aul.


Kaila mengajak Aul untuk duduk sebentar di teras UKS. Mereka duduk bersisian.


Tangan Kaila terjulur di depan Aul. “Kenapa sih, La?” tanya Aul karena heran.


“Siniin ponsel lo!”


Alis Aul terangkat sebelah, tapi tetap memberikan ponselnya pada Kaila. Dia percaya bahwa sahabatnya itu tidak akan berlaku macam-macam pada ponsel miliknya.


“Buat apaan sih?” Aul ikut mengintip ke arah Kaila yang fokus dengan kegiatan mengutak-atik ponsel keluaran tahun lalu itu.


Kini giliran Kaila yang dibuat heran oleh Aul. Setelah memastikannya sendiri, tetap saja hasilnya sama. Kaila menoleh sepenuhnya pada Aul.


“Lo beneran udah move on?”


Mulut Aul sedikit terbuka. Dia segera menggeleng. “Aneh aja! Lo tahu sendiri segalau gimana gue kemarin!” jelas Aul sambil berkacak pinggang.


“Tapi seriusan deh, gue salut sama lo!” ungkap Kaila. Dia takjub dengan lakon yang Aul perbuat. Bertindak seperti seseorang yang belum move on, tapi ternyata sudah move on.


Kaila berdecap acap kali. Dia menghiraukan kening Aul yang mengernyit heran. “Pokoknya kalau lo move on, jangan lupa cerita-cerita sama gue ya!” ujarnya bersemangat.


Aul terpaksa merebut paksa ponselnya dari tangan Kaila dan mengantonginya dalam saku rok yang Aul pakai.


“Hari ini lo sama kaya Mahesa, aneh sekaligus gaje!” tutur Aul dengan kesal.


...•••...


Karena ketidaksinkronan antara hati dan pikiran yang tengah melanda Aul saat ini, rambut panjangnya yang basah karena telah selesai keramas, menjadi berantakan. Sangat mirip dengan makanan manis berupa 'rambut nenek' berwarna merah muda yang sering dibelinya sewaktu kecil.


“Aghhh ... bodoamat! Gue harus move on, gak boleh nangis terus!” Kata-kata tersebut selalu Aul ucapkan, layaknya amunisi semangat yang membuat Aul optimis bisa move on.


Tapi sejemang kemudian, air matanya tiba-tiba mengalir tanpa bisa Aul cegah. Aul memaki diri karena terlalu lemah atas ingatannya tentang Riziq yang berputar dalam kepalanya. Layaknya sebuah rekaman video yang telah usang, lalu ditampilkan dengan sengaja.


Tangisan Aul terdengar lirih dan menyayat kalbu. Hingga membuatnya terguguk dalam pilu. Air matanya tumpah ruah, tanpa bisa dia cegah.


Aul meringkuk di atas kasurnya, membiarkan matanya sembab semalam suntuk dan bantalnya yang basah oleh air mata. Tanpa Aul tahu, di balik jendela kamar Aul yang cukup luas, berdiri satu orang laki-laki yang turut merasakan sakitnya perasaan yang Aul rasakan.


“Lo perempuan hebat, gue percaya itu,” gumamnya lirih.