
...PENERIMAAN...
...#Berdamai dengan masa lalu...
...“Berharap untuk lupa, nyatanya terkenang selalu dalam jiwa.” ...
...•••...
Satu yang yang paling dibenci Aul saat datang ke rumah sakit adalah; suntikan. Jarum yang berukuran kecil, tipis juga sangat menyeramkan itu, kini tertancap pada punggung tangan kirinya. Aul mendengkus keras. Selalu berakhir seperti ini. Seandainya dia jadi dokter, maka dengan senang hati, dia rela menyuntikkan jarum kecil itu pada banyak orang, asalkan jangan dirinya sendiri.
Egois, memang perlu. Bahkan terkadang saking kita fokus untuk membahagiakan orang lain dan menjaga perasaannya, kita melupakan orang yang paling berhak mendapatkan kedua hal tersebut dari kita; membahagiakan diri sendiri dan menjaga perasaan sejak dini.
Patah hati mengajarkan kita untuk semakin berani melindungi perasaan, kegagalan mengajarkan kita untuk bangkit menuju kesuksesan. Banyak hal yang telah Tuhan berikan pada kita. Hanya saja, hal manis itu terkadang tertutup oleh sesuatu yang tidak pernah kita sangka-sangka.
“Aul, Mama sama Papa udah bilang sama kamu, makan teratur! Jangan biasakan minum es krim sebelum makan! Kamu itu ya, jadi anak perempuan kok, susah banget di atur ....” Serentetan omelan yang terlontar dari bibir ceriwis Aura lewat video call hanya berdenging di telinga Aul.
Pola omelannya selalu sama dan berujung pada larangan ini-itu. Ini memang karena kelalaiannya, tapi orang sakit tidak membutuhkan omelan sama sekali. Hanya butuh ketenangan.
“Kamu dengar itu Aul?” tanya Aura. Aul hanya berdehem sebagai jawaban.
Riak wajah Aura tampak murung. “Maaf karena Mama sama Papa gak ada di sana, apalagi sekarang Papa kamu lagi rapat.”
Aul menampilkan senyum kecut. “Gak usah repot-repot, Ma. Aul gak kenapa-napa.”
“Tapi saat itu Papamu kalut banget karena mendengar berita kamu yang di bawa ke rumah sakit, dia bahkan udah beli tiket untuk kepulangannya. Tapi Mama cegah, Mama gak mau pekerjaannya terbengkalai dan waktu cuti yang Papa kamu ambil kemarin-kemarin terus saja menunggak.”
Aul manggut-manggut saja, dia tak acuh. Biarlah dia sendiri seperti ini. Paling tidak telinganya terselamatkan dari omelan yang panjang lebar dari orang tuanya. Aul paling malas jika harus dilarang ini-itu.
Suara pintu yang berdecit akhirnya menyelematkan Aul. “Ma, Aul tutup dulu ya, ada temen yang jenguk nih.”
Senyumnya merekah saat melihat Mahesa membawakan minuman kesukaannya, dia menggoyang-goyangkan minuman tersebut di depan Aul, menggodanya.
Aul mengerucutkan bibirnya, dia kesal jika diolok-olok seperti anak kecil. “Ya udah ingat pesan Mama, kamu jangan lupa makan, jangan minum-minuman sembarang. Lekas sembuh ya, Sayang.” Aura akhirnya memutuskan panggilan video berdurasi tiga puluh menit itu.
“Huftt ... leganya ....” Aul menyunggingkan senyumnya pada orang yang sedang menjenguknya.
“Dari Tante Aura?” Aul menganggut pelan.
Tangan Aul terulur, meminta sesuatu yang tadi dipamerkan oleh Mahesa padanya. Mahesa mencibir tingkah Aul yang kekanak-kanakan, tapi tak urung tetap memberikan sekotak susu UHT rasa coconut delight.
“Makasih loh.” Aul menerimanya dengan senang hati, lalu menyeruputnya dengan khidmat.
Karena waktu jadwal sarapan, Aul berniat mogok makan. Dia tak suka sarapan bubur, tapi diharuskan untuk menjauhi makanan dan minuman yang disukanya. Apalagi Aul harus menelan nasi encer tawar, bubur khas rumah sakit. Jelas-jelas Aul menolak untuk memakannya.
Jadilah dia membuat perjanjian dengan Mahesa—Aul akan menghabiskan buburnya, asalkan Mahesa memberikannya minuman kesukaannya—hal itu akhirnya terkabul juga.
Mahesa duduk di kursi dekat brankar, dia meraih tangan kanan Aul yang tidak terkena infus, menggenggam sekaligus mengusapnya lembut. “Lo udah gak sakit kan?”
Aul menggeleng, masih menyeruput minumannya. Sesekali dia menggigit ujung sedotannya, kebiasaan.
Mahesa terus memandangi Aul, yang di tatap pun merasa risih. “Mau?” tawarnya.
“Ogah, banget!” tolak Mahesa.
“Lagian bocil banget sih, pake digigit segala sedotannya,” lanjut Mahesa, mencibir.
Aul mengolok-oloknya dengan meniru gerakan bibir Mahesa tanpa suara. “Sengaja, biar gak minta, haha.”
Mendengar Aul yang tertawa, Mahesa menjadi lebih lega. Setidaknya pemandangan, di mana dia melihat Aul merintih kesakitan tidak kembali dilihatnya.
Kenop pintu ruangan inapnya bergerak, pertanda akan kedatangan tamu. Aul melepaskan gigitannya pada sedotan, menoleh pada Mahesa.
“Lo ajak siapa ke sini, Sa?”
“Gue sendiri.”
“Terus yang dateng, siapa?”
“Mana gue tahu, sahabat gila lo kali,” sahutnya asal.
“Namanya Kaila kalau lo lupa.”
“Bodo amat lah! Kali aja itu malaikat yang salah alamat dan mampir ke kamar lo.”
Kening Aul mengernyit. “Buat apa malaikat ke kamar inap gue?”
“Nyabut nyawa kali.”
Aul berdecak karena jawaban Mahesa yang terdengar mengesalkan. Dia melempar bekas sekotak susu UHT yang sudah kosong pada Mahesa, tapi dengan tangkasnya sampah itu berhasil Mahesa tangkap.
Benar saja, seseorang yang datang dan berdiri di ambang pintu adalah malaikat maut bagi Aul.
Mahesa menghela napasnya, Aul memegangi tangan Mahesa, hampir mencekalnya kuat-kuat.
Irlan berdiri di ambang pintu, bersama seorang perempuan yang tingginya sebatas bahu. Mereka sama-sama tersenyum ke arah Aul tanpa merasa bersalah sekalipun.
Setiap langkah Irlan mendekatinya, semakin sesak saja Aul menahan napasnya.
“Halo, Mbak. Saya Nazmi.”
Jika saja di sisinya ada batu yang dapat dia jangkau, sudah Aul pastikan batu itu mendarat tepat pada wajah perempuan bernama Nazmi itu.
“Gue gak setua itu buat dipanggil Mbak-mbak, ya!” tegas Aul dengan wajah masam.
Nazmi meringis, sedangkan Irlan tersenyum kaku di samping Nazmi. Berbeda dengan Mahesa yang menahan tawanya untuk tidak keluar.
“Mbak-mbak ...,” oloknya pada Aul yang sudah membeliak padanya.
“ESA! DIAM LO!”
Hilang sudah sikap tenang seorang Hana Aulia di depan mantannya dan gebetan mantannya.
Sial! Maki Aul dalam hati.
...•••...
Basupati sedang berkumpul seperti biasa di rumah Wildan yang sepi; hanya ada para ART, tukang kebun dan sopir pribadi yang berada di rumahnya. Sehingga, rumah Wildan akan ramai saat sahabatnya berkumpul di rumahnya dan itu tidak Wildan permasalahkan, selagi tidak mengusik ruangan privasinya.
“Orang keren datang!” Suara Faris dengan tingkah narsisnya yang tinggi membuat sahabatnya hanya bisa mendengkus ke arahnya.
Faris menghampiri mereka semua dan langsung merangkul Riziq. “Oh, boy!” serunya.
Faris mendorong tubuh Riziq hingga membuatnya terjungkal. “Nama keren gini, dipanggil Fayes, herman gue!” sungutnya sebal.
Riziq hendak memakinya, tapi Aldo lebih dulu mempelototinya. Seakan-akan tahu bahwa Riziq hendak melemparkan kata-kata kasar lainnya.
“ONCOM!” makinya, teringat masakan ibunya sebelum berangkat ke rumah Wildan.
Gibran dan Gara sedang heboh menggosipkan seorang perempuan yang menjadi salah satu follower di akun Instagram milik Gibran Mahardika.
“Beuh, parah, glowing!” pekiknya.
Gara mengangguk setuju. “Gila, itu matanya katarak kali. Jempolnya juga kayanya kegedean pas follow akun lo, gak sengaja,” cibirnya tidak terima. Karena perempuan itu mem-follow semua akun anak Basupati, minus dirinya.
“Mana ada cecan jempolnya gede!” Gibran menggeplak kepala Gara. “Sirik lo kaya human!”
“Gue emang human, ******!”
Alki yang mengintip ponsel Gibran, menampilkan akun Instagram milik ‘Salsa Nabila’ sambil mengunyah keripik kentang yang di dekapnya.
“Itu mantannya Riziq, kan?” celetuk Alki.
Alki lalu meneriaki Riziq. “Riz! Kemari ...”
“APAAN?”
Alki memasukan satu keripik kentang, menguyahnya. “Ayo lari-lari~” candanya sambil menyanyikan lagu lawas anak-anak.
“Heh, serius lo, ini mantannya Riziq?!” tanya Gibran yang masih terperangah.
Wajah mulus, kulit pucat dengan bibir semu merah ini, sangat mustahil menjadi mantan seorang bucin seperti Riziq!
Alki menganggukan kepala. Gara ikut menimbrung. “Si Bucin itu bisa putus juga? Rada manusiawi sih.” Gara menggelengkan kepala, masih tidak percaya bahwa orang seperti Riziq pernah punya mantan kekasih.
“Lo kira gue apaan, huh!” omel Riziq pada Gara. Lalu melirik pada Alki. “Apaan, Ki?” tanyanya dengan kening berkerut.
“Tuh mantan lo direbutin para pedofil.”
“Hah, mantan yang mana?”
“Emang lo punya berapa mantan gitu? Satu kan?” Riziq mengangguk sebagai jawaban.
Alki menunjuk pada Gara dan Gibran yang memelas pada Riziq untuk mendekatkan mereka pada orang yang bernama Salsa itu.
“Gue kira mantan gebetan,” gumam Riziq pelan.
“Lo serius bisa pacaran sama cewek ini Riz?” tanya Gara sambil menunjukkan foto selfi perempuan itu pada Riziq.
“Hm ....”
“Lo beneran jadian sama dia? Terus lo udah move on gitu? Cewek cakep gini, bro! Parah, lo gak bilang-bilang,” heran Gibran.
Riziq mendelik. “Buat apa gue bilang-bilang, cuma masa lalu.”
“Terus-terus ...,” desak Gara, meminta penjelasan lebih.
“Terus apaan oy!” amuknya. “Dia cuma masa lalu. Udah lewat, kadaluarsa!”
Seringai jahil muncul pada wajah tengil Faris yang sudah ikut menimpali. “Yakin hati lo bilang kalau lo udah move on?”
“Ya iyalah udah!” Riziq mencomot beberapa keripik kentang dalam toples yang masih dikuasai ole Alki, lalu duduk bersila di samping Faris.
“Come on, bro! Bahagia itu gak harus tentang bersama perempuan. Lagipula, masa lalu itu cuma sekilas. Jangan dibiarkan jadi beban buat pikiran lo, tapi biarin kaya air,” ujar Riziq sok bijak.
Gibran menepuk-nepuk punggung Riziq dengan keras, Riziq tersedak, tapi Gibran tersenyum bangga padanya. “Ininih anak didikan gue. Ternyata gak sia-sia gue buka padepokan buat lo kan, Riz?”
Setelah meneguk minum, Riziq memelototinya. “Bacot lo!”
“Lo ... bagus, udah move on dari masa lalu, salut gue.” Bagas mengikuti gaya Gibran yang menepuk-nepuk punggung Riziq.
Gara tak mau ketinggalan, dia pun ikut serta. “Tingkatkan, Riz! Jangan kaya Mas Bos!” sindirnya pada orang yang sedang sibuk dengan ponselnya.
“Denger itu, Riel?” timpal Wildan.
Azriel berdecap acap kali. “Berisik!”
Gibran tergelak. “Lucu gitu lihat Mas Bos sama Pak Bos saling bicara. Uwu anjay!”
Gara sudah terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya, selera humornya memang receh. “Bener banget! Lama-lama jadiin cerita lah, couple goals seorang gay. Pasti laris dipasaran.”
“DIAM!” amuk Wildan dan Azriel bersamaan.
Masih dengan tawa yang berderai. “Ngomongnya barengan gitu, so sweet parah!”
“Mau tanding di mana, Gar?” tanya Azriel dengan wajah tenang, namun tatapannya tajam kepada Gara.
Wildan ikut menimpali, “halaman belakang kosong tuh,” unjuknya.
Gara mengatupkan bibirnya. Tak lama kemudian, dia kembali bersuara. “Ampun, Mas Bos, Pak Bos. Suerr bercanda!” ujarnya sungguh-sungguh.
Mana mau Gara pulang-pulang hanya menyisakan tulang yang sudah lunak karena berduel dengan Wildan dan Azriel. Dia masih sayang nyawanya.
...•••...
Aul masih diam mendengarkan penuturan Irlan. Mereka berada di taman rumah sakit dengan Mahesa dan Nazmi, memberikan mereka privasi untuk berbincang empat mata.
Semilir angin sore memainkan rambut Aul yang tidak diikatnya. Aul memilin jemarinya sambil terus menundukkan kepala. Dia berusaha menahan tangis karena pengakuan dari Irlan.
“Nazmi itu adik gue, itu salah satu yang membuat kita salah paham dulu.”
Penantian selama dua tahun akhirnya terbayarkan sudah oleh penjelasan dari Irlan bersamaan dengan senja yang mulai terlihat. Tergelincirnya matahari di arah timur, menampilkan lukisan langit bersamaan dengan goresan awan yang tercipta, bersatu padu.
Hatinya dilanda kebingungan, setelah mendapatkan penjelasan tentang hancurnya hubungannya dulu, lantas, apa yang Aul inginkan?
Jika dulu dia menghujat Irlan karena kediaman laki-laki itu yang berselingkuh dan enggan menjelaskan padanya tentang alasan laki-laki itu menerima keputusan berakhirnya hubungan mereka. Bahkan, saat menghujat laki-laki itu, Aul masih sempat berharap padanya.
Meskipun merasa bahwa sudah melupakannya, tapi nyatanya perasaan itu masih terpatri pada jiwanya.
Ada hal yang mengganjal darinya. “Lalu ... kenapa baru sekarang?” tanya Aul dengan suara parau.