#Move On, Jomb!

#Move On, Jomb!
Bab 17 : Jealous banget! Tahu gak, sih?!



...PACARAN...


...#Kecemburuan...


...“Adakalanya sisi egoisku meminta untuk tidak membuatmu terluka, tapi nyatanya yang aku lakukan adalah menyakitimu.”...


...•...•...


Di lain hari, saat melihat orang yang kita kasihi bersama-sama dengan orang yang paling membuat kita resah, karena berpotensi membuat pasangan kita teralihkan padanya. Memang rasanya sukar untuk dijelaskan, overthinking, bahkan cenderung menyimpulkan sendiri dan tidak mau mendengarkan penjelasan, karena hati sudah tertutup oleh api kecemburuan.


Awalnya, Aul tidak mau memiliki perasaan tersebut terhadap Riziq. Karena baginya, membebaskan pasangan itu merupakan salah satu cara agar pasangan kita bisa bertahan dengan kita, tidak dikekang. Tapi lain halnya dengan Riziq.


Aul masih ingat dengan jelas perkataan Riziq minggu kemarin, setelah mereka pulang dari acara date.


“Aul, kenapa kamu gak larang aku ini-itu kaya aku yang bersikap kaya gitu ke kamu?”


Saat itu Aul hanya mengedikkan bahunya, sambil berucap santai, “karena aku mau membuat kamu merasa nyaman dengan tidak adanya kekangan. Karena setahuku, banyak pasangan yang tidak lama hubungannya, hanya karena merasa tidak nyaman dikekang.”


“Kamu merasa tidak nyaman saat aku melarangmu?”


“Tidak juga, aku tidak keberatan sama sekali. Apalagi jika hal tersebut tidak merugikan diriku sendiri.”


Riziq membawa salah satu lengan Aul, menggenggamnya. “Dan itu pula yang aku mau dari kamu, Aul.”


“Hah? Apa? Mau ... gimana?” tanya Aul beruntun. Dia hanya memastikan bahwa telinganya masih berfungsi dengan baik.


“Aku mau kamu larang aku,” ujar Riziq dengan serius.


Aul menatap Riziq dengan ragu, mencari kebohongan dalam kata-katanya melalui mata laki-laki tersebut. Namun yang Aul temukan, hanya binar penuh pengharapan di sana.


“Kamu yakin? Emang kenapa?” Aul meragu, dia takut. Setelah dia bersikap egois seperti itu, Riziq akan pergi meninggalkannya.


“Karena itu tandanya kamu egois terhadapku dan aku senang mengetahuinya.”


Jangan tanyakan keadaan Aul saat ini, wajahnya sudah merona karena malu. Dia bahkan harus menggigit bibir bawahnya, menahan senyum untuk tidak terus mengembang. Jika saja bukan dalam keadaan ramai seperti di cafe saat ini, Aul pastikan bahwa dirinya akan memeluk Riziq duluan.


Rasa senang begitu membuncah di dalam dada. Dia membalas menjawat lengan Riziq tak kalah erat sembari mengulum senyumnya. “Kalau gitu, kita mulai dari kamu yang jangan dekat-dekat dengan perempuan lain, bisa?”


Riziq membalas senyumnya dengan senyum yang akan Aul ingat selalu. “Tentu, Tuan Putri.”


Aul mendengkus menahan tawanya. “Apaan sih, lebay!” dia melempari Riziq dengan gumpalan tisu yang sengaja dia ambil, menutupi rasa malu pada wajahnya yang sudah memerah.


Riziq tertawa pelan, ternyata menggoda kekasihnya sendiri sungguh menyenangkan. “Kamu sungguh menggemaskan, Aul,” ujarnya. Dia mencubit kedua pipi Aul saking gemasnya.


Aul merasa pipinya akan bengkak saja, jika membiarkan Riziq terus mencubit pipinya seenaknya. Dia menepis lengan Riziq. “Lwashin ih!” ucapnya tak beraturan.


Riziq pun menurutinya, dia mendapatkan hadiah dari Aul berupa cubitan semut pada lengan kanannya. “Aul, berhenti...”


“Rasain tuh!”


Tiba-tiba sebuah panggilan dari ponsel milik Aul berbunyi, ternyata ada Mahesa yang meneleponnya.


“Aku angkat panggilan dari Esa dulu ... boleh?”


Terjadi hening begitu lama, Aul merasa Riziq menahan amarah padanya. Dia menunggu dengan harap-harap cemas.


“Boleh.”


Aul pun akhirnya menjawab panggilan dari Mahesa. Durasinya cukup singkat, karena Aul merasa tidak nyaman dengan pandangan Riziq padanya. Seolah-olah dia akan dimakan hidup-hidup.


Panggilan tersebut selesai pada menit ke sepuluh. Riziq mendadak mengulurkan tangannya. Sebelah alis Aul terangkat, karena tidak mengerti.


“Ponsel,” pinta Riziq.


Aul memberikan ponselnya, walaupun dia sendiri tidak mengerti mengapa Riziq berbuat demikian. Hingga sebuah kalimat tanya dari Riziq, membuatnya gelagapan.


“Kenapa nama kontak gue di sebut ‘DL'?”


Aul tersenyum kaku, dia memijat pelipisnya. Takut salah menjawab.


“Itu karena ....”


“Karena apa?” desak Riziq sambil menahan senyum karena melihat ekspresi bingung dari Aul.


“Mengapa semua tentang gadisnya terlihat menggemaskan,” pikir Riziq.


Aul meneguk salivanya susah payah. Dia yakin bahwa wajahnya sudah merah, malu. Lalu Aul menghela napas sebelum menjawab. “DL itu ... artinya Don't Lumer,” jelasnya. Aul langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.


“Maksudnya?”


Aul menatap Riziq, dia mengembungkan pipinya. Kadangkala, Riziq sungguh tidak peka.


“Itu artinya aku kasih nama panggilan kesayangan buat kamu, masa kamu gak tahu sih!”


Wajah cemberut dari Aul membuat Riziq terkekeh. Dia berlagak tidak paham. “Kalau emang gitu, kenapa?”


“Aish ... emang seharunya aku gak usah baper deh sama kamu,” pasrahnya.


Riziq tergelak, dia mengacak-acak rambut Aul. Tentu saja itu membuat Aul melotot tajam padanya. “ISH, JANGAN DIBERANTAKIN NAPA!” Aul kembali merapihkan rambutnya yang tergerai, ada sebuah penjepit rambut yang menyangga poninya.


“Susah tahu dibenerinnya,” sambung Aul sambil mengerucutkan bibirnya.


Lalu Riziq ikut membetulkan rambut Aul. Dari jarak sedekat ini, Aul dapat menikmati dengan jelas; wajah Riziq yang tenang, deru napasnya, hingga wangi parfum manly khas laki-laki.


Aul menahan napas sekejap. Tatapannya tidak teralihkan dari setiap pahatan yang diberikan oleh Tuhan pada Riziq. “Kamu lihatinnya kaya orang yang mau makan aja, Aul.”


Aul tersentak, dia memalingkan mukanya. Riziq habis-habisan menggodanya. Bahkan hingga mereka sudah pulang pun, Riziq masih sempat mengolok-oloknya.


Aul tertawa hambar mengingat kejadian tersebut. Jelas-jelas sekarang dia melihat Riziq yang sedang terlihat begitu akrab dengan Gaila. Padahal biasanya, laki-laki itu suka mengacuhkannya.


“Apa bener ya, apa kata orang. Kalau laki-laki udah mendapatkan seorang gadis incarannya, perlahan-lahan perasaan laki-laki itu akan berubah?” gumamnya tanpa sadar.


“Dan secepat ini, kah, perubahannya?”


Aul menghela napas gusar, dia termenung sambil memandang punggung Riziq dan Gaila yang berjalan menuju Kantor Administrasi.


“Ngelamunin apaan hayo!” seru Kaila mengagetkannya.


Kaila justru terkekeh pelan, dia merangkul bahu Aul dan menuntun gadis itu untuk segera masuk ke ruang praktikum.


“Udah jangan dilihatin terus kalau itu beresiko buat lo sakit hati, tinggal tanyain aja langsung ke si Riziq. Jangan overthinking loh!” ujar Kaila sok bijak.


“Apaan sih, La. So tahu,” cibir Aul.


“Yee... dikasih tahu malah bandel.” Kaila memandang Aul dengan serius, sedangkan Aul menunggu dengan sabar perkataan Kaila yang selanjutnya.


“Ternyata lo emang bener-bener bocil ya,” ledeknya, lalu Kaila mendahului Aul yang mencak-mencak sebal.


“KAILA FEBRILIANI!”


...•••...


Gedung Aula SMK Bratajaya dialih fungsikan sebagai rumah sakit perawatan pertama secara mendadak. Karena besar ruangan UKS tidak dapat menampung jumlah korban siswa maupun guru-guru, hingga warga sekolah, yang menjadi korban aksi sewenang-wenang anak Tohpati.


Dalam hati, Aul mendesis kasar. Dia sangat iba pada para korban yang terkena luka-luka ringan, meski demikian, pihak sekolah digemparkan kembali oleh berita terlukanya salah satu anggota geng Tohpati dikarenakan anak Basupati. Tentu saja berita tersebut sampai pada telinga Bu Tuti—kepala BP/BK— serta Pak Halimin.


Kesembilan orang itu dipanggil oleh kepala sekolah melalui pengeras suara, hal tersebut kembali membuat huru-hara murid SMK Bratajaya. Aul sendiri tidak tahu bagaimana nasib anak Basupati, karena dia dan anak PMR lainnya sedang menangani warga sekolah yang terkena luka-luka ringan akibat serangan mendadak si sekolahnya.


“Semoga mereka baik-baik saja,” gumam Aul.


Lalu Aul mendengar suara dari para perempuan yang sedang bergosip di dekatnya. “Gue denger anak Tohpati yang dipukulin itu, babak belur sama anak Basupati, bener gak, sih?”


“Setahu gue, anak Basupati gak bakalan mulai duluan kalau mereka gak diganggu dulu deh.”


“Tapi anak Tohpati juga gak bakalan berbuat kaya gini ke kita kalau kita gak mulai duluan.”


“Bener juga, eh ... tapi karena penyerangan diam-diam ini, kira-kira ada andil dari anak Devil's gak sih?”


“Bisa jadi, tapi gak tahu deh takut salah.”


Karena kesal, Aul menekan kuat-kuat pada luka yang berada pada tangan kiri Akmal.


“Aul, pelan-pelan!” tegur Akmal. Dia merintih kesakitan karena Aul terlalu kuat menekan luka pada tangannya akibat menahan kayu yang di lemparkan padanya secara diam-diam.


“Sori, Mal.”


Netranya mengerjap pelan, saat tidak sengaja menangkap siluet seseorang yang duduk membelakanginya, sedang diobati oleh Gaila. Napas Aul memburu lagi. Dia merasa dongkol.


Bahkan dari jarak sepuluh meter pun, dia tahu bahwa punggung orang yang membelakanginya adalah milik Riziq.


“AUL, LO MAU NYIKSA GUE YA!” pekik Akmal.


Aul menolehkan kepalanya pada Akmal dan menatap laki-laki itu dengan tajam. “Padahal niatnya gue mau nyiksa sahabat lo itu!” desisnya tajam.


“Tapi sayangnya gak bisa. Dia udah terlanjur diobatin sama ‘orang lain’ jadi gue gak bisa siksa dia.” Aul menekankan kata orang lain, supaya Akmal mengerti maksudnya.


Kening Akmal berkerut, detik berikutnya dia tahu penyebab Aul bersikap beringas padanya. “Ck, Riziq sialan! Jadi gue yang kena batunya kan!” gerutunya.


“Lo kalau cemburu serem banget, Aul. Gue jadi lihat—duh ... iya-iya, ampun!”


Aul kesal. Dia akhirnya meninggalkan Akmal yang masih merintih kesakitan, tapi wajahnya yang sekarang sudah lebih baik daripada sebelumnya, saat belum diobati sama sekali.


...•••...


...Flashback on...


Ternyata ancaman dari Tohpati bukan hanya omong kosong belaka, Wildan pun dibuat pusing karena adanya oknum yang memalsukan berita terlukanya salah satu anggota Tohpati dikarenakan anak Basupati.


Setelah mendapatkan waktu yang diberikan oleh Pak Halimin, yang meminta bukti bahwa anak Basupati tidak bersalah, kini mereka keluar dari ruangan Kepala Sekolah dengan wajah-wajah yang sedikit memar, karena terkena beberapa pukulan saat mengamankan SMK Bratajaya saat terjadi penyerangan.


“Wajah gue jadi bonyok gini, kira-kira tambah keren gak sih?” tanya Faris tiba-tiba.


Anggota Basupati lainnya memutarkan bola matanya dengan jengah.


“Jangan narsis gitu, muka lo udah paling bonyok gitu masih aja bacot,” jelas Aldo.


Alki menyeringai. “Makan tuh memar!” ejeknya.


Sementara sahabatnya sedang berguyon, Riziq berdiri di ambang pintu Aula. Dia melihat Aul yang sedang mengobati Akmal. Sisi egoisnya menyuruh dia untuk menghajar Akmal saat ini juga dan memperingatkan pada laki-laki itu bahwa Aul adalah miliknya.


Tapi apa yang dilakukannya adalah sebaliknya. Saat dia melihat Gaila berdiri tidak jauh dari Ilham yang sedang mengobati murid lainnya, Riziq menggeret Gaila dan berusaha sedekat mungkin dengan Aul, meskipun harus membelakanginya.


“Cepet obatin gue!” titahnya dengan tegas.


Wajah Gaila diliputi kebingungan, wajah Riziq memang terdapat sedikit luka pada bagian pelipis dan pipi laki-laki tersebut.


“Cepet!” paksanya lagi.


Flashback off


Hatinya masih bergemuruh karena rasa cemburu terhadap Aul. Sedangkan sahabatnya sudah memencar untuk segera mendapatkan pertolongan pertama mereka.


Gaila mengobatinya dengan telaten, bahkan dia bersusah payah membuat jantungnya agar tetap tenang. Dia tidak ingin terpergok sedang gugup oleh Riziq.


Riziq sempat melihat ekspresi kesal dari Aul saat dia melihat ke arah pantulan cermin yang berada di dekatnya. Senyumnya menyeringai, setidaknya Akmal mendapatkan pelajaran meskipun bukan berasal darinya. Setelah melihat Aul berjalan menjauh dengan raut cemberutnya, baru lah Riziq tiba-tiba berdiri.


“Thank's,” ujarnya singkat.


Gaila hendak meraih tangan Riziq, tapi laki-laki itu sudah berjalan untuk mengejar ke mana Aul pergi tadi. Senyumnya memudar saat dirinya paham alasan Riziq bersikap demikian.


“Ternyata gue hanya dijadiin pelampiasan ya?” Netranya memandang sendu ke arah tempat Riziq menghilang di balik pintu Aula.


Sebuah tangan bertengger pada bahunya, Gaila menoleh. “Bisa gak sih, sehari aja, lo gak usah galau karena laki-laki itu?”


Gaila terkekeh pelan, dia sendiri tidak tahu. “Entahlah, lama-lama gue juga mau berhenti. Tapi sulit sekali buat mengendalikan perasaan,” keluhnya.


Laki-laki di sampingnya mendengkus menahan tawa. “Dasar bucin, gue aduin ke Papi lo ya? Kalau ternyata anaknya itu sering galau hanya karena laki-laki. Kali aja Papi lo berbuat sesuatu sama Riziq.”


“GAK BOLEH!!” Gaila menatap dengan nyalang wajah Ilham yang terlihat menyebalkan saat berkata demikian.


“Lo tuh apa-apa aduin Papi mulu, heran gue. Udah lah, ini masalah gue. Jangan ikut campur!” peringatnya. Lalu pergi meninggalkan Ilham yang memandang punggung Gaila dengan perasaan kalut.


Ilham mengacaukan tatanan rambutnya sendiri. “Agh ... kenapa gue paling gak bisa lihat dia sedih!” gerutunya.