#Move On, Jomb!

#Move On, Jomb!
Bab 10 : Modus Lelaki



...PENDEKATAN...


...#Pengertian dan Perhatian...


...“Melihatmu tersenyum adalah sebuah keharusan untuk dipertahankan.” ...


...—Riziq...


...“Cukup mudah membuatku terluka; melihat orang kita sayangi tersakiti.” ...


...—Mahesa...


...•••...


Kejadian seminggu lalu benar-benar membuat Riziq harus di opname. Bosan sudah menjelma menjadi kebiasaan, tapi akhirnya terkikis oleh kehadiran anak Basupati yang sering membesuknya. Dunia ini memang sempit. Belum genap sebulan, sejak Riziq menjadi orang yang membesuk Bagas, kini dirinya yang terbaring bak orang lemah di atas brankar rumah sakit.


Ruang inap Riziq sudah ramai oleh celetukan dan guyonan dari anak Basupati, juga sikap jahil dari mereka menjadi suasana pelipur lara bagi Riziq.


Mamanya datang, setelah sepuluh menit sejak kedatangan anak Basupati. Mereka menyambutnya dengan hangat.


“Eh, Tante Juli makin glowing aja,” ucap Gibran dengan tengilnya.


Gara di sampingnya menginjak kaki Gibran, membuat empunya merintih kesakitan. “Gak sopan sama orang tua, inget umur Gib.” Gara mengikuti anak Basupati yang lain; menyalimi Tante Julia. “Gimana Tante kabarnya? Duh, repot-repot bawa makanan segala,” guyonnya sambil memamerkan giginya yang berderet rapi.


Tante Julia tersenyum senang karena anaknya dikelilingi oleh orang-orang yang begitu menyayanginya. “Baik, Gara. Mami kamu sendiri, baik?” Julia memberikan camilan yang sengaja dia bawa—karena Riziq memberitahukannya tentang kedatangan temannya—diambil alih oleh Gara yang sangat girang.


“Kalau gitu, Tante pamit dulu ya. Nitip Riziq,” pamitnya. Julia menatap nanar pada Riziq, dia mengusap-usap rambut anaknya dengan sayang. “Cepet sembuh ya.”


Setelah Julia keluar dari ruang inapnya, anak Basupati langsung heboh. Terutama Alki yang sudah menyantap piza buatan Mama Riziq yang sangat enak.


“Wah, parah, Riz. Lo nanti tinggal buat kedai aja, gih. Masakan camilan nyokap lo gokil, parah,” ujar Alki penuh semangat.


Pangan yang berasal dari negara Italia; dengan bentuk bundar sedang, terbuat dari terigu, telur dengan toping keju, sosis, saus dan mayones di atasnya adalah makanan yang sudah tidak asing lagi bagi Wildan ataupun Azriel. Tapi karena piza satu ini dibuatkan khusus oleh Mama Riziq, mereka tidak menampik bahwa piza buatan Tante Julia adalah yang terbaik daripada piza brand yang sedang trend di kalangan pencinta junk food.


“Piza Mama lo enak, terima kasih dari gue.” Walaupun mengucapkan kalimat yang panjang, wajah Azriel saat mengatakannya hanya datar-datar saja, tidak ada kesan bahwa makanan itu benar-benar enak.


“Thank's Riz, Mama lo pengertian.” Dibandingkan dengan Azriel, reaksi dari Wildan, lebih terlihat manusiawi. Dia tersenyum tipis di akhir kalimatnya—bahkan terlihat eye smile—diujung matanya.


Saat Riziq akan menyahut, Faris lebih dulu menyelanya. “Sering-sering deh lo sakit Riz, biar Mama lo sering ngasih camilan gini, hehe.”


Semua orang yang ada di sana, melotot pada Faris yang dengan tenangnya memakan piza dengan mulut yang masih penuh oleh kunyahan piza.


“Gak boleh ngomong gitu, Ris. Ucapan itu doa,” tegur Bagas mengingatkan. Bagas sudah terlihat lebih baik meskipun harus rutin check up setiap seminggu dua kali.


Aldo menganggut setuju. “Ho'oh, lo jangan bicara ngaco.”


“Aelah, serius banget. Gue cuma berjanda kali. Ya, kan, Riz?” tanya Faris sambil menaikturunkan alisnya pada Riziq.


Alki menoyor kepala Faris dengan tangan kirinya. “Bercanda, Sueb. Berjanda mah buat cewek, lo mah calon duda-duda.”


“Sialan lo, Ki!” maki Faris yang semakin mengundang gelak tawa dari anak Basupati yang lain.


Jabatannya saja sebagai wakil ketua, tapi kelakuannya benar-benar bobrok. Dasar Faris.


Bagas sudah berdiri di samping Riziq yang tengah mengamati sahabatnya dalam diam. Memang dalam urusan seperti ini, hanya mereka berdua yang lebih sering menjadi pendiam. “Jangan terlalu dipikirkan, nanti juga semua masalah ini akan selesai. Lo siapin aja prioritas masalah yang akan lo selesaikan satu-satu,” ujar Bagas.


Riziq berdehem pelan. Dia membuang napasnya, lalu melirik pada Bagas. “Lo udah kasih bingkisan itu buat Aul, kan?” tanyanya pelan.


Acungan jempol dari Bagas membuat Riziq merasa lebih baik. Jika dia tidak sedang di opname, sudah dipastikan sejak kemarin-kemarin dia akan menjenguk Aul yang sedang sakit.


“Padahal lo aja lagi sakit, tapi masih segitu perhatiannya ke Aul, so sweet sih ...,” goda Gibran yang tidak sengaja menguping pembicaraan Riziq dengan Bagas.


Riziq mendengkus, sementara itu anak Basupati lainnya; dipelopori oleh Gara, terus saja mengorek informasi tentang perbincangan Riziq tadi.


“Gosip apaan nih, nimbrung!” sahut Gara cepat.


“Bukan apa-apa, sana kembali sibuk lagi lo pada!” elak Riziq.


Dia sudah memberikan isyarat pada Bagas untuk tidak membeberkannya pada yang lainnya. Tapi sepertinya Bagas sedang terkena sindrom tidak peka dan terlalu manut pada Azriel.


“Kenapa Riziq?” tanya Azriel pada Bagas, dia memang sedikit penasaran dengan pembicaraan Bagas dan Riziq, hanya karena dia mendengar bahwa Riziq sedang mendekati perempuan.


Dia hanya antisipasi, jika mereka akan menyukai orang yang sama.


“Dia kasih bingkisan ke Aul karena kata si Halifah, Aul udah seminggu ini sakit,” jelas Bagas yang membuat siulan menggoda pada Riziq. Bahkan Wildan pun menyunggingkan senyuman, walaupun sangat singkat dengan sekian sekon.


“Bingkisan apaan Riz?” timpal Aldo.


“Tsk, kepo lo pada,” amuknya menahan malu, tapi tetap menjawab pertanyaan dari Aldo. “Cuma ngasih novel, coklat sama minuman yang warnanya hijau gitu. Dah, lah!” tutupnya.


Riziq mengedikan bahunya. “Asalkan dia bahagia dan lihat senyumnya terbit, gue sih gak masalah. Karena senyumnya pantas buat dipertahanin.”


“BUCIIINN!” ujar mereka serempak, mengejek Riziq.


Sementara Riziq hanya tersenyum melihat respon dari sahabatnya. “Suka-suka gue lah. Daripada lo kebanyakan micin!” balasnya.


...•••...


“Gimana? Lo udah hacker akun lambe tura itu?” tanya Mahesa pada Michael.


Bukan hal besar bagi anak jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) untuk memberantas akun seseorang. Bahkan jika Michael punya niat saja untuk membobol ATM, sudah dipastikan geng Devil's akan melimpah kekayaannya. Tapi meskipun begitu, mereka tidak akan pernah melakukan kecurangan, kecuali di saat terdesak. Manusiawi.


Karena dunia ini sangat kejam, bagi orang-orang yang lemah dan tidak mempunyai kekuasaan.


Michael masih berkutat dengan layar monitor dari komputernya yang masih menyala di jam sekitaran sepuluh malam, ditemani oleh tujuh sahabatnya—mereka sedang berada di rumah Tristan—yang merupakan salah satu basecamp mereka.


“Duduk, Sa. Santai aja, percaya sama Michael, dia ahlinya,” ujar Romi menenangkan Mahesa.


Adipati berteriak nyaring, membuat Tristan melotot pada laki-laki itu. “Diem, Sat!”


Adipati berjalan ke arah Mahesa, dia menjelaskan tentang anak SMK Bratajaya yang membesar-besarkan masalah Riziq yang dirumorkan dikeroyok oleh anak Geng Devil's.


“Wah, pengkhianat ini!” maki Mahesa. Dia mengepalkan tangannya, kulit kecoklatannya bersemu merah karena menahan amarah. Urat-urat pada lehernya pun sudah terlihat mengeras.


“Siapa yang nyebarin info itu?” tanya Mahesa pada Adipati.


“Gue gak tahu, tapi parah!”


“Padahal kita-kita gak ngeroyok si Riziq, cuma emang posisi kita saat itu ada di sana. Lihat duel Mahes sama Riziq, gue yakin yang nyebarin fitnah ini cewek,” sungut Romi berapi-api.


Adipati menganggut setuju. “Bener kata Emak gue, cewek tuh banyak mulutnya!”


Situasi yang awalnya dingin karena berita miring yang dijelaskan oleh Adipati, mendadak seperti acara hiburan. Kelakar membahana dari suara khas laki-laki menggema di kamar Tristan. Bahkan laki-laki yang menjabat sebagai Ketua Geng Devil's pun ikut mematut senyum sambil menggelengkan kepalanya.


“Sial! Mesum lu!” maki Michael sembari melemparkan gumpalan kertas pada Adipati.


Mahesa menyambar kunci motornya dengan terburu-buru, bahkan teriakan dari sahabatnya tidak dia gubris sama sekali. Pikirannya kacau, bukan karena berita yang disampaikan oleh Adipati, melainkan karena pesan dari mamanya yang mengatakan tentang keadaan Aul yang semakin parah.


‘Esa, pulang! Aul pingsan dan kebetulan keluarga Om Aryan sama Papa kamu lagi ada diluar kota karena urusan bisnis! Cepet pulang, bantu Bunda!’


Mahesa menggeram kesal, mengapa pula Tante Aura dan Om Aryan malah pergi saat anak mereka sedang sakit! Memang tiga hari belakangan ini, penyakit Aul sudah berangsur membaik. Bahkan dokter Pandu sudah membicarakan, bahwa esok hari Aul dapat kembali ke sekolah.


Tapi mendadak sekali, penyakit Aul yang awalnya sudah jinak, malah kembali lagi.


Mahesa tidak fokus saat berkendara, yang ada dipikirannya hanya ada tentang keadaan Aul. Dia bahkan hampir menabrak seorang perempuan yang hendak menyeberangi jalan.


“Woi, minggir tuli! Jalan pake mata!” pekiknya.


Mahesa tidak tahu bahwa orang yang tadi diteriakinya adalah orang yang baru saja membantu seorang nenek-nenek yang kesulitan menyeberangi jalan.


“Dasar tukang ugal-ugalan! Di mana-mana jalan itu pake kaki, bukan mata! Bedebah!” rutuk perempuan tersebut sambil melihat motor sport Mahesa yang sudah berada jauh dari pandangan matanya.


“Tapi ... suaranya kaya kenal. Siapa ya?” Dia menimang-nimang, tapi otaknya tidak seencer otak Einstein dalam mengingat sesuatu. “Ah, bodo amat! Lagian gue bukan anak SMA, tapi anak teknik! Gak usah libatin Einstein segala, ribet!”


...••• ...


Melihat Rara yang wajahnya sudah sembab dan air mata yang merembes ke mana-mana, membuat hati Mahesa terasa mencelos. Satu orang yang disayangi saja sudah membuatnya merasakan kesakitan yang luar biasa, di tambah dengan seorang wanita yang sangat berarti di hidupnya dirundung kesedihan, membuat seorang Mahesa merasa bahwa dirinya adalah orang lemah; di depan orang yang disayanginya.


“Bunda tenang ya, Esa mau ambil kunci mobil dulu, Bunda tetap bersama Aul dulu ya?” pinta Mahesa saat Rara meneleponnya.


Sebenarnya butuh waktu empat puluh menit yang Mahesa pangkas menjadi dua puluh menit hingga akhirnya sampai di depan rumahnya.


Saking terburu-buru, Mahesa sempat menjatuhkan sebuah amplop berwarna hijau muda dalam laci lemarinya. Mahesa memungut kertas amplop tersebut dengan mengernyitkan alisnya.


Deg!


Setelah melihat judul penerima serta pengirim surat tersebut, membuat rahang Mahesa kembali mengeras. Dia meletakkan dengan asal amplop tersebut dalam laci lemarinya—hingga tidak sadar bahwa amplop tersebut terjatuh—ke bawah kolong lemari.


Selain rasa sesak karena melihat Rara yang menangis, napas Mahesa kempas-kempis saat menjalankan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Sesekali, Mahesa melirik Aul yang terus merintih kesakitan pada bagian perutnya.


Rara berusaha menenangkan Aul yang selalu mengeluhkan hal yang sama, sakit perut.


Mahesa hampir saja memukul setirnya karena merasa menyesakkan melihat Aul dan mamanya dalam kondisi seperti sekarang.


“Ini semua pasti karena es krim yang di makan Aul.” Saat membopong Aul ke dalam mobil, selintas Mahesa melihat bungkus es krim yang tergeletak di atas nakas. Lagian orang bodoh mana yang memberikan es krim pada orang yang sakit.


“Emang gila tuh orang!” umpat Mahesa dengan tatapan nyalang menatap ke arah jalan.