#Move On, Jomb!

#Move On, Jomb!
Bab 30 : Good bye, Mr. Ex!



...PROSES MOVE ON...


...#Berhenti berharap dan jangan takut membuka hati (lagi)...


...“Teruntuk kamu yang sabar menunggu...


...Janganlah lengah dan mengeluh...


...Sebab kebahagianmu perlu direngkuh...


...Oleh kamu yang mau...


...Berjuang, berdoa, sangatlah perlu...


...Serta tawakal haruslah mampu.”...


...•••...


Salah satu cara menikmati masa luangnya, kala matahari sedang malu-malu menyinari bumi adalah dengan melakukan aktivitas yang sukai. Kalau kata Upin Ipin sih, “Kegiatan yang dikerjakan pada saat luang dan memiliki manfaat adalah hobi.”


Aul menerapkan perkataan Upin Ipin yang satu itu dalam kehidupannya, seperti saat ini. Sambil menikmati suasana sepi di lantai dua sebuah kafe yang terletak di perempatan jalan perumahannya. Hanya berjarak dua ratus meter saja dari rumah Aul. Area indoor di kafe, cukup menjadi teman sejati bagi Aul. Keberadaan laptop dengan secangkir matcha latte dan pancake green tea tersaji di atas meja putih yang memiliki ukiran pada sisinya bunga sakura.


Di belakang tempat Aul duduk juga terdapat akuarium yang airnya begitu jernih dan di sisi-sisi akuarium itu terdapat hiasan berupa pohon sakura yang mengapit akuarium itu. Suara gelembung yang terdengar serta angin yang bertiup cukup bersahabat, membuat Aul merasa nyaman. Tangannya dengan lincah mengetikan sepatah dua patah di atas papan keyboard.


“Dah beres!” Aul tersenyum puas ketika apa yang dia ketik di Microsoft Word telah selesai, menghasilkan beribu-ribu kata dalam tiga jam lamanya Aul duduk di sana. Sambil melirik minuman matcha latte yang tinggal setengahnya, Aul mendesah malas. Dia butuh lebih banyak asupan minuman sekarang.


Aul membereskan barang-barangnya dan berniat memesan minumannya lagi dan menikmati sisa waktunya di lantai utama kafe tersebut.


Antrian di kafe itu sedang ramai, hingga mau tak mau Aul pun ikut mengantri di baris kesembilan. Aul menunggu cukup lama untuk mendapatkan gilirannya, tapi itu sebanding dengan cita rasa yang akan dia dapatkan ketika menyesap matcha latte-nya.


...•••...


Satu hal yang paling menyebalkan daripada Aul marah padanya sehingga membuatnya kebingungan mencari solusi agar perempuan itu mau memaafkannya, padahal dia saja belum tahu duduk permasalahannya, adalah ketika harus terjebak bersama dengan seseorang yang sangat merepotkan dalam waktu lama tanpa bisa menolaknya.


Karena jika saja dia menolaknya, maka nasib kehidupan seseorang dipertaruhkan di sini. Seorang psikopat akan lebih membahayakan daripada pelaku kejahatan lainnya. Mereka bisa memanipulasi orang lain dengan cerita-ceritanya dan bisa juga menghancurkan nyawa seseorang dengan begitu mudahnya. Setidaknya itu lah yang dia deskripsikan bagi perempuan manja yang terus saja mengapit lengannya.


“Untung cewek, kalo cowok, udah gue sleding nih anak,” rutuk Riziq dalam hati.


Riziq mendengus keras-keras, tapi yang dia dapatkan adalah senyuman lebar dari Gaila yang sebenarnya membuat Riziq enek melihatnya.


“Santai aja, Riz. Nikmati.” Gaila dengan seenaknya saja memaksa Riziq untuk menemaninya di sebuah kafe yang saat ini sedang viral dikalangan remaja seusia mereka.


Gaila semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Riziq ketika tiba di kafe yang dia maksud. “Anggap aja ini kencan kita yang selanjutnya!” katanya dengan girang.


Riziq mencibir pelan. Tapi rupanya masih sempat terdengar oleh Gaila. “Kita gak akan pernah kencan, ini cuma menemani dengan terpaksa.”


Kuku cantik berwarna merah terang milik Gaila menggores lengan Riziq. Tidak kentara memang, hanya menimbulkan goresan panjang berwarna keputihan, tapi cukup merasa perih saat dia melihat wajah seorang perempuan yang begitu dia hafal berada di depan matanya. Perempuan itu diam sambil memandang ke arahnya.


Riziq hanya bisa tersenyum getir, dalam hatinya, Riziq selalu menyumpahi Gaila atas tindakannya yang entah kenapa selalu didukung oleh semesta yang mempermainkan hidupnya. Dia mempercepat langkahnya, sehingga Gaila pun mengikuti irama langkahnya.


Riziq melirik sekilas pada salah satu gambar minuman hijau yang dilukiskan di salah satu sudut tembok kafe itu. Senyumnya mengembang sempurna saat ingatannya mengarah pada tatapan perempuan penyuka warna hijau itu padanya tadi. Dia tersenyum simpul pada Riziq, padahal Riziq juga tahu bahwa ada beban berat yang sedang perempuan itu tutupi dengan senyuman ramahnya.


“Semoga kamu baik-baik aja, Aul.”


Aul mengamati dari kejauhan punggung Riziq dan Gaila yang sedang mengantri pesanan mereka, melihat Gaila yang berada di sisi Riziq membuat lengkungan pada bibir Aul terbit seketika.


Ungkapan “Pantas.” Melekat pada keserasian sepasang sejoli itu. Aul menundukkan kepalanya sambil mengaduk-aduk pelan minuman kesukaannya yang terasa nano-nano. Tawar sekaligus terlalu manis. Padahal biasanya, lidah Aul dapat menerima cita rasa matcha latte dalam tubuhnya, tapi mendadak tubuhnya merasa mual. Untuk itu, Aul menggeser minuman yang dipesannya agar sedikit menjauh darinya.


“Gak sakit, tapi kenapa ngaruh ke mood gue sih!” keluh Aul.


Tidak ingin larut dalam kebimbangan, Aul memutuskan untuk mengecek ponselnya. Rupanya ada banyak notifikasi dari berbagai media sosial yang Aul miliki. Hingga Aul tak sadar, bahwa sudah ada orang yang duduk di seberang mejanya, sampai akhirnya orang itu merebut ponsel Aul.


Aul hampir saja memekik keras, saat ditatapnya Mahesa yang duduk tenang di hadapannya. “Ngagetin banget sih!” omel Aul.


Mahesa hanya cengengesan. Dan tanpa berdosanya, Mahesa malah menyeruput minuman matcha latte milik Aul. “Hambar rasanya,” komentarnya kemudian.


Aul membeliak, dia merebut kembali minumannya dari Mahesa. “Ya udah, makanya jangan diminum! Tuh minum aja kopi pahit lo!” Aul berdecih saat melihat minuman yang dipesan oleh Mahesa adalah racikan kopi berkafein tinggi dan memiliki rasa yang pahit.


“Butuh yang manis-manis biar gak terlalu pahit,” cetus Mahesa setelah menyesap kopinya.


Aul memutarkan bola matanya. “Siapa suruh pesen minuman-minuman pahit kaya gitu.”


“Karena kita juga harus merasakan dulu pahitnya kehidupan, baru setelah itu kita bisa merasakan manisnya kesabaran,” nasihat Mahesa.


Aul mencebikkan bibirnya, dia menginjak kaki Mahesa yang berada di bawah meja. “Sok bijak, jomblo!”


“Eh, gue bukan jomblo lagi ya!” protes Mahesa yang diam-diam membuat rasa penasaran Aul meningkat.


“Lah, tumben? Biasanya juga bangga dengan gelar jomblo itu,” cibir Aul.


Mahesa menganggut membenarkan. “Setidaknya dulu sih gitu.” Lalu tatapan Mahesa sedikit berbinar saat menceritakan tentang perempuan yang amat dikasihnya itu. “Setidaknya gue sebagai laki-laki harus memberi dia kepastian. Udah terlalu sering gue kasih kode sih, tapi doi gak peka-peka,” curhat Mahesa.


Aul tergelak. Ternyata masih saja tersisa kaumnya yang tidak peka. “Makan tuh, peka!” Aul melemparkan segumpal tisu pada Mahesa.


Mahesa malah menahan tangan Aul. Aul mencoba melepaskan tangannya dari tangan Mahesa yang menahannya. Tapi rasa canggung itu Aul rasakan saat Mahesa menatapnya dengan tatapan aneh? Aul menggeleng pelan, imaginasinya terlalu membuat Aul lupa daratan tempat dia berpijak.


“Kalo misalkan gue jujur sama dia tentang perasaan gue, menurut lo gimana?”


Jantung Aul semakin berdetak tidak karuan. Hati dan pikirannya mulai berspesifikasi atas kemungkinan yang terjadi.


Mungkinkah ini saatnya dia melepaskan perasaannya pada Riziq dan memberikannya pada orang lain? Pada sahabat laki-lakinya, kah? Aul tengah bingung dengan pergulatan batinnya, sampai akhirnya Mahesa melepaskan tangannya dari tangan Aul, membuatnya menjadi lebih rileks.


“Ya ... itu sih, terserah lo aja.”


Aul mengerjapkan matanya. “Hah? Apaan?”


“Terserah lo mau terima gue atau gak, tapi gue gak terima penolakan,” tutur Mahesa sambil menyeruput lagi minuman milik Aul.


Aul berdeham singkat untuk mengurangi rasa gugupnya. “Apa ini saatnya yang tepat buat gue bilang 'Goodbye, Mr. Ex?' di sini?”


Mahesa menatapnya dengan intens. “Kalo bisa sekarang, kenapa gak?” tantangnya diakhiri dengan senyum menyeringai yang entah kenapa selalu terlihat menarik di mata Aul saat melihatnya.


“Deal!” putusnya dengan mantap.